Velyn Love

Velyn Love
Memang tak pantas


__ADS_3

"Tolongin gue!" teriak Angelita seraya menangis pada teman-temannya yang masih sibuk menonton dan menyadari jika Valdo telah pergi bersama Velyn. Mereka berdua segera menghampiri Angelita yang kini tengah terduduk dengan darah yang mengalir deras di sela-sela kakinya.


"Lo juga sih Ngel, udah dibilangin jangan main kasar sama tuh cewek, sekarang lo jadi kaya gini kan" tegur salah satu teman Angelita yang kini mencoba membopong wanita itu yang masih menangis seraya memegangi perutnya.


"Gue nggak terima! ini semua gara-gara Velyn! kalo sampek anak gue kenapa-kenapa, gue bakal laporin dia ke polisi!" bahkan Angelita masih saja tidak tau malu. Sudah banyak yang menjadi saksi bisu kejadian yang ia alami, dan itu berasal darinya. Tapi lihatlah sekarang pelaku malah mau melaporkan korban.


Sedikit rasa simpati dari orang-orang pun sekarang sudah hilang akibat kelakuannya. Yang ada malah sumpah serapah dan hinaan dari mahasiswa lain yang kini menatapnya dengan pandangan jijik.


"Sumpah ya! baru kali ini gue liat cewek kaya gitu"


"Dia yang bikin gara-gara, dia juga yang pura-pura jadi korban. Semua orang juga udah liat kali kelakuan dia kaya apa"


"Niatnya sih cari simpati, sayangnya yang ada semua orang jadi tambah jijik!"


Cacian dan juga gunjingan yang diinginkan Angelita terlontar untuk Velyn kini malah berbalik padanya. Kata-kata itu seolah membuat dirinya semakin emosi saat ini.


"Tuh kan Ngel, gue bilang juga apa?"


"Diem lo! cepet bawa gue ke rumah sakit, terus bilang ke Andra kalo gue pendarahan gara-gara Velyn itu" ucap kasar Angelita dengan amarahnya yang tersisa saat ia mencoba untuk berjalan dengan kedua temannya.

__ADS_1


***


"Aduh kak sakit!" teriakan kecil dari Velyn yang kini mengaduh kesakitan itu membuat Valdo menghentikan aktivitasnya sejenak saat ia mencoba untuk mengobati luka Velyn yang terdapat di bagian pundaknya.


Sejujurnya amarah Valdo belum juga reda kala mengingat kejadian yang dialami Velyn barusan. Entah mengapa sejak kemarin, ia selalu memikirkan hal yang tidak-tidak yang akan terjadi jika Velyn masuk kuliah lagi. Sehingga Valdo memutuskan untuk membayar mata-matanya yang kebetulan satu kampus dengan Velyn. Untung saja mata-mata itu memberitahu Valdo tentang apa yang terjadi hari ini. Dan tentunya penyebab kenapa Velyn bisa sampai dibully seperti kemarin.


"Maaf, aku bakal pelan-pelan kok sayang" ujar Valdo pelan seraya menatap pundak Velyn yang terbuka akibat luka yang didapat dari cakaran wanita gila itu.


"Maafin aku Lyn, aku terlambat. Kalau aja aku datang tepat waktu, mungkin semua ini nggak akan pernah terjadi" kata Valdo seraya memasang perban pada pundak Velyn dan menutupnya kembali.


Saat ini mereka berada di rumah, sebenarnya Valdo tadi ingin segera mengobati luka Velyn. Tapi mengingat sikon, Valdo berpikir bahwa lebih baik menjauhkan Velyn dari kata-kata yang tidak diinginkan nantinya.


"Makasih kakak udah bantu aku. Kenapa kakak ada disana? kakak tau darimana kalau aku dalam bahaya?" pertanyaan itu membuat Valdo berubah ekspresi seketika. Mau bagaimanapun juga tidak etis rasanya jika ia menyembunyikan rencananya. Lagipula tidak ada alasan lain yang dapat terpikirkan olehnya kali ini. Lebih baik Valdo jujur dan mengatakan segalanya, daripada nanti Velyn malah curiga padanya.


"Maafin aku, tapi aku terpaksa mata-matain kamu. Aku masih nggak tega kamu kuliah tanpa pengawasan. Aku takut kejadian kemarin bakal terulang lagi, dan sekarang semua udah terbukti. Sekali lagi maafin aku sayang" Valdo kemudian mengecup punggung tangan Velyn. Ia tak ingin Velyn tersinggung. Jika bisa, bahkan Valdo ingin membuntuti Velyn dan menjaganya setiap waktu.


"Aku tau Lyn, aku udah tau segalanya kenapa kamu sampai dibully habis-habisan kaya gitu. Akar dari semua ini adalah Andra kan?" Velyn mengerutkan keningnya. Habislah sudah dirinya kali ini. Bukannya Velyn ingin melindungi Andra, tapi ia hanya tak ingin orang yang tidak bersalah terkena imbasnya.


"Kenapa kamu nggak bilang sama aku? kenapa kamu nggak terbuka? atau kamu masih cin-" belum sempat Valdo melanjutkan kata-katanya. Telunjuk Velyn kinj menutup mulut Valdo dengan lembut, membuat pria itu terdiam seribu bahasa.

__ADS_1


"Aku udah nggak ada hubungan apa-apa lagi sama dia kak. Perasaan aku sama dia pun juga udah menghilang. Nggak pantes rasanya kalau aku masih punya rasa sama mantan aku, sedangkan aku udah punya suami. Itu semua cuma gosip" Velyn menghentikan kata-katanya sejenak. Ia beralih menyentuh punggung tangan suaminya seolah memberikan penjelasan dari dalam lubuk hatinya. Seolah tidak ingin Valdo salah paham akan perasaannya.


"Aku diam karena aku tau bukan Andra penyebab masalah itu. Sedangkan aku sama Andra udah lama putus, tapi gosip itu baru nyebar kemarin. Aku nggak mau kakak bikin orang yang nggak bersalah ngalamin kerugian yang seharusnya nggak ia terima. Bukan ada maksud lainnya" Velyn berkata lembut dengan penuh perasaan. Valdo sedikit tersenyum mendengar penuturannya. Jadi saat ini siapa yang mengisi hati Velyn? bukankah Velyn tadi mencoba menjelaskannya agar Valdo tidak salah paham. Apa itu artinya? Velyn?.


"Kamu udah cinta sama aku?" pertanyaan itu sontak membuat Velyn terdiam seribu bahasa. Ia melepaskan genggamannya jadi punggung tangan Valdo dan mengalihkan pandangannya. Enggan untuk menatap kedua mata itu yang begitu antusias dan penuh harap padanya.


"Lyn? kalo kamu nggak cinta sama aku, kenapa kamu coba jelasin itu semua? kalau kamu nggak cinta sama Andra, lantas siapa yang kamu cintai? jawab aku Lyn?" pertanyaan Andra begitu menggebu. Ia begitu tak sabar mendengar kata-kata yang terlontar dari mulut Velyn agar ia mengatakan hal yang sebenarnya. Sekaligus mengatakan isi hatinya yang terdalam.


"Maaf" kata itu seolah membuat ulasan senyum di pipi Valdo yang terukir kini mengendur. Beribu pertanyaan dan juga harapannya tadi harus ia pendam bersamaan dengan ekspresi Velyn yang begitu datar tanpa perasaan.


"Bukan berarti kalau aku udah nggak cinta lagi sama Andra aku juga bakalan cinta sama kamu kak. Aku hilangin perasaan ini cuma sebatas menghargai hubungan kita" Velyn mengerjabkan matanya seraya menunduk. Gadis itu begitu takut melihat pandangan Valdo yang kini tak dapat ditebak olehnya.


Entah kesal, kecewa maupun sedih. Velyn benar-benar tak punya daya untuk melihat bagaimana reaksi Valdo selanjutnya. Velyn hanya bisa merutuki hatinya yang berbohong demi kebahagiaan Valdo. Ia tak mau pria ini terlalu berharap padanya.


"Maafin aku kak, aku nggak pantes dapetin cinta dari kamu. Aku juga nggak pantes berharap ke kamu. Kamu terlalu sempurna buat aku kak Valdo, dan aku nggak akan bisa jadi pendamping kamu seterusnya" gumam Velyn dalam hatinya seraya memejamkan matanya erat-erat.


Tanpa Velyn sadari, tangan Valdo kini bergerak membelai rambut panjang Velyn. Memberikan dirinya ketenangan yang Valdo rasakan saat tangan Velyn mulai gemetar. Meskipun Valdo kecewa, tapi ia juga takkan melukai orang yang ia cintai.


"Aku nggak akan maksa kamu kok sayang. Mungkin cukup aku yang cinta sama kamu, kamu nggak perlu, karena aku emang nggak pantes buat kamu cintai. Aku udah berulangkali jahat sama kamu. Dan mungkin ini hukuman yang harusnya aku terima, karena aku udah berulangkali sia-siain orang yang paling berharga dalam hidup aku" kata-kata Valdo yang seperti itu membuat hati Velyn semakin teriris. Bukan itu maksud Velyn sesungguhnya. Ia tidak menginginkan ini, andai saja ego Velyn lebih kuat lagi, maka ia takkan segan untuk mengatakan perasaannya yang sesungguhnya.

__ADS_1


__ADS_2