
"Aku nggak mau sama tante! aku pengen ketemu mama!" teriak Nino saat ia sedang berada dirumah Lisa dengan Marni pengasuhnya.
"Tapi aku ini mama kamu Nino, mama kandung
kamu! Velyn itu cuma ibu tiri kamu!"
"Nggak mau! pokoknya Nio cuma mau sama mama Pelin huuu" rengek bocah kecil itu seraya masih menangis dan mencoba untuk keluar dari rumah tersebut. Marni hanya mampu terdiam setelah sedari tadi ia mencoba untuk membawa Nino pergi namun ia malah dibentak habis-habisan oleh Lisa.
Namun ada rasa tidak tega ketika Nino seperti memohon padanya, rasanya ia juga ikut sakit saat Nino kecil itu menangis tanpa henti dan memeluk lututnya.
"Den Nino, nanti ya kita pulangnya, mama den Nino masih pengen main lagi"
"Nio nggak mau mbak Malni, Nio cuma mau sama mama dan papa, Nio nggak mau sama tante jahat" Lisa memutar bola matanya seraya menyentuh keningnya frustasi.
"Kalo mau pulang, pulang sana! mama udah capek ya mbujuk kamu buat nurut sama mama terus!."
***
Velyn tertawa girang saat ia dibonceng mesra oleh Valdo menggunakan sepeda gunung. Kali ini sebelum mereka pulang ke rumah, Valdo ingin mengajak Velyn untuk bersantai ditempat persinggahannya dulu sewaktu bolos kuliah.
Velyn memeluk leher Valdo kala sang suami membawa mereka ke area perbukitan yang tidak terlalu curam. Di sisi kiri terdapat danau yang luas dan indah, serta di sisi kanan terdapat taman bunga yang bermekaran, tempat ini memang seringkali dipakai untuk piknik oleh para penduduk kota pada waktu akhir pekan, karena memiliki hamparan luas dan berbagai pemandangan indah serta hawa sejuk yang tidak bisa ditemukan di kota.
Valdo menghentikan sepedanya, Velyn pun beranjak turun dan menatap indahnya danau yang membentang dihadapannya. Wanita itu kemudian duduk disebuah kursi panjang yang sepertinya memang disediakan untuk pengunjung disana.
"Pemandangannya indah ya mas"
"Heum, kamu suka?"
__ADS_1
"Suka banget, makasih ya mas" Valdo beralih duduk mendekat pada Velyn, tanpa aba-aba pria itu kemudian mengecup pipi Velyn seraya merangkul bahu sang istri.
"Kenapa harus makasih, apapun yang kamu minta pasti bakal aku kasih tanpa kamu bilang sekalipun" wajah Velyn merona dibuatnya, ia menggeleng seraya menatap Valdo yang kini tampak serius menatapnya.
"Yeee, itu namanya aku nggak minta kalo aku nggak bilang"
"Terus apa dong?"
"Ego kamu"
"Ego ku adalah kebahagiaan kamu sayang" Velyn mengerutkan keningnya seraya memukul pelan dada bidang Valdo.
"Gombal!" celetuk Velyn setelah wajahnya merona akibat rayuan maut dari sang suami.
"Ya gimana dong, aku kalo terlanjur cinta itu apapun bakal aku kasih"
"Kamu cemburu ya?" Velyn menggeleng seraya membuang muka, ia kemudian menutupi pipinya yang terlihat merah merona bak tomat dari pandangan Valdo.
"Eng-enggak, ngapain aku cemburu. Dia kan… istri kamu" senyuman kemenangan kini terpancar di wajah Valdo yang amat tampan itu. Velyn melirik Valdo yang masih tersenyum menatapnya.
"Apa sih mas?"
"Bilang aja kalo cemburu" Valdo semakin mendekatkan wajahnya pada Velyn saat wanita itu mengarahkan pandangan tak percaya pada dirinya.
"Enggak kok" Velyn seketika berdiri dari duduknya, ia menatap hamparan danau yang begitu tenang dihadapannya. Matahari hampir mendekat ketengah pepohonan hutan di ujung danau tersebut. Serta hawa sepi tanpa ada satu orangpun selain mereka berdua disana.
Valdo memang sengaja mengajak Velyn untuk jalan-jalan sore di danau itu, karena jam segini pasti tidak akan ada orang yang mau datang ke tempat ini. Padahal melihat matahari terbenam disini adalah hal yang paling indah ia lihat semenjak kuliah duli bersama teman-temannya.
__ADS_1
Melihat Velyn yang sepertinya agak kesal membuat Valdo tertawa kecil tanpa bersuara. Valdo yakin, Velyn pasti cemburu oleh Lisa. Padahal itu hanyalah masa lalunya, tidak ada hubungannya dengan kehidupan mereka di masa seperti saat ini.
"Sayang, istriku" Velyn masih tak bergeming walaupun ia sendiri bisa mendengar suara Valdo yang tengah menggodanya itu. Tanpa aba-aba, Valdo segera memeluk pinggang Velyn dari belakang seraya mengecup pundak Velyn yang masih terlapisi jaket jeans berwarna pink.
Entah mengapa dipanggil istri oleh suaminya sendiri membuat Velyn menjadi lebih sensitif, apalagi Valdo tidak pernah memanggil Velyn seperti itu. Hari ini adalah hari membahagiakan bagi Velyn, karena setelah sekian lama pernikahan mereka yang
hampir menginjak satu tahun, hubungan mereka semakin lama semakin mesra saja.
Valdo meraih jemari Velyn dan mengecupnya dari belakang, ia menghirup aroma parfum strawberry yang digunakan oleh istrinya. Begitu manis di indera penciumannya, seperti penampilan Velyn yang seperti saat ini. Begitu menawan seperti biasanya.
"Aku cinta sama kamu" ujar Valdo seraya membalikkan tubuh Velyn membuat wanita itu tersenyum dan menatap pria tampan dihadapannya. Yang tak lain dan tak bukan adalah suaminya sendiri. Valdo yang sudah Velyn anggap sebagai kakak waktu kecil, Valdo yang seperti idola baginya saat ia mulai menginjak dewasa, dan Valdo yang diam-diam membuat Velyn jatuh cinta meskipun itu hanya khayalan semata. Kali ini, detik ini, impian itu seolah terwujud menjadi satu dalam angan-angan yang sebelumnya takut untuk Velyn bayangkan.
"Aku juga cinta kamu mas Valdo" sedetik kemudian raut wajah Valdo yang semula tersenyum, kini semakin terlihat jelas senyuman itu. Senyum bahagia saat setelah Velyn mengutarakan perasaannya yang sekian lama ia takut untuk mengungkapkannya. Valdo meraih tengkuk Velyn, ia memeluk Velyn erat dalam bahagia yang tidak terkira olehnya.
"Makasih sayang, makasih karena kamu udah ngasih aku kesempatan buat memperbaiki semuanya, dan ngasih harapan tentang perasaan aku. Aku janji Velyn, aku nggak akan sia-siakan kamu lagi. Kamu istriku, kamu belahan jiwa ku, aku bakal jaga kamu, lindungi kamu, dan selalu mencintai kamu selamanya" Velyn terharu dengan kata-kata Valdo barusan. Hanya dengan mengungkapkan apa yang ia rasakan seperti mengubah dunianya menjadi semakin lebih indah dari sebelumnya. Velyn masih tenggelam dalam pelukan Valdo, ia tersenyum di dalam hangatnya perasaan bahagia yang begitu mendalam.
Valdo merenggangkan pelukannya, ia hendak mendorong tubuh Velyn agar mereka saling berhadapan. Namun Velyn menghentikannya, ia ingin sedikit lagi merasakan hangatnya pelukan Valdo.
"Sebentar mas, aku pengen… dipeluk lebih lama lagi" suara Velyn tampak bergetar, membuat Valdo tersenyum dibuatnya.
"Oke" Velyn mempererat pelukan mereka, membuat Valdo mengecup puncak kepala wanita dihadapannya seraya memejamkan matanya erat-erat.
Matahari terbenam di atas cakrawala seolah menjadi saksi, berseminya cinta mereka yang seolah bermekaran ditempat itu.
"Aku sayang kamu mas, aku…"
"Heum?"
__ADS_1
"A-ada sesuatu yang harus aku kasih tau, aku harap kamu masih terima aku apa adanya" Valdo mengernyit, saat ini posisi mereka masih berpelukan, dengan jemari Velyn yang masih erat memeluknya.