Velyn Love

Velyn Love
Vonis


__ADS_3

"Nyonya, biar saya aja yang naruh di gudang. Lenih baik nyonya istirahat dulu aja" ujar Santi yang tiba-tiba meraih foto yang dibawa Velyn membuat gadis itu mengangguk seraya tersenyum kearah Santi.


Santi tau senyuman itu bukan senyum ketulusan. Ada binar kesedihan di mata nyonya Velyn. Tapi setiap kali Santi merasa kasihan, ia sendiri merasa tidak berguna karena tidak dapat melakukan apa-apa untuk nyonyanya.


Velyn melangkahkan kakinya, niatnya yang tadi hendak mengerjakan tugas kini urung akibat kejadian pagi yang membuat moodnya menjadi buruk.


***


"Rega, ayah butuh salinan dari berkas ini" kata Rahardian yang kini berdiri dihadapan meja Rega yang tengah fokus pada layar monitor dihadapannya.


"Iya yah" ujar Rega seraya mengetik proposal yang sama dengan dokumen yang diberikan ayahnya.


Pandangan Rahardian yang semula jelas, kini entah mengapa berubah menjadi buram. Rasanya kepalanya amat berat ketika hendak menahan tubuhnya. Pria paruh baya itu mencoba untuk menahan tubuhnya agar tidak ambruk. Namun kekuatannya seolah tidak kuat untuk menahan tubuhnya yang kini lemah dan akhirnya terjatuh.


"Ayah!" teriak Rega seraya bangkit dan mencoba menolong ayahnya yang kini sudah tidak sadarkan diri.


Setelah setengah jam Rega menunggu kini hadirlah sang bunda yang datang bersama Velyn disampingnya. Tampak kakak kandung Velyn tengah menunggu diruang tunggu tepat dimana Rahardian masih dirawat di dalam sana.


"Kak Rega!"


"Nak, gimana keadaan ayahmu?!"


Suara khawatir dari kedua ibu dan anak itu saling bergantian menanyakan kabar tentang Rahardian yang kini masih ditangani oleh dokter di dalam sana.


"Bunda, tenang, ayah pasti baik-baik aja kok. Lyn kamu juga jangan gegabah gitu" Velyn buru-buru mengintip sang ayah dari balik pintu kaca. Ia melihat keadaan ayahnya yang sudah tidak sadarkan diri, ditangani oleh seorang dokter dan dua suster yang memberikan suntikan padanya.


Velyn menutup mulutnya, air matanya meleleh begitu saja melihat sang ayah yang kini terbaring tak berdaya.

__ADS_1


"Lyn, kita harus sabar sayang" kata bunda seraya menyentuh punggung Velyn membuat gadis itu membalikkan tubuhnya seraya memeluk tubuh bundanya erat-erat.


"Kenapa bun! kenapa harus ayah yang ngalamin ini semua"


"Sabar sayang, semuanya pasti ada hikmahnya. Yang penting kita berdoa sama-sama supaya ayah cepet sembuh dari penyakitnya" Velyn semakin mengeratkan pelukannya. Velyn takut, mengingat penyakitnya yang sama dengan sang ayah.


Ia takut jika bundanya akan semakin sedih nantinya. Velyn memejamkan matanya erat-erat. Ia hanya berharap semoga waktu dapat berbaik hati padanya.


Suara terbukanya pintu membuat ibu dan anak itu saling melepaskan pelukan, termasuk Rega yang semula duduk dan menunduk kini akhirnya bangkit dan ikut menghadang dokter yang kini keluar dengan pandangan serius.


"Gimana keadaan ayah dok? ayah nggak apa-apa kan? pasti penyakitnya bisa disembuhkan kan?" Velyn mencoba menahan air matanya agar tidak meleleh keluar lagi.


Sedangkan bunda hanya bisa mengusap lembut punggung Velyn seraya menahan tangisnya.


"Dok, apapun yang terjadi, selamatkan ayah saya. Saya bakal bayar berapapun biayanya" sambung Rega membuat dokter itu menggeleng seraya menghela nafasnya.


"Kurang ajar!" Rega mencoba untuk meraih kerah dokter yang kini dihadang oleh bunda yang mendorong tubuh putranya itu.


"Bun! ayah nggak mungkin kan! dokter itu pasti bohong! jangan main-main dokter dengan nyawa ayah saya!" teriak Rega dengan penuh emosi membuat Velyn menarik lengan kakaknya.


"Rega! hentikan nak! kamu keterlaluan. Ini rumah sakit Rega, jangan buat keributan" tegur bundanya membuat Rega mengacak rambutnya seraya terjatuh dan berjongkok. Velyn yang melihat kakaknya begitu rapuh kini hanya bisa menggenggam jemarinya erat-erat. Saling memberikan kekuatan meskipun kenyataannya hatinya juga begitu amat sakit.


"Maafkan anak saya dok, dia emosi"


"Tidak apa-apa, saya tau dan paham. Saya akan melakukan semaksimal mungkin untuk menyelamatkan dan memperpanjang usianya. Kita tidak bisa berbuat apa-apa jika sudah waktunya, tapi Tuhan punya rencana terbaik disetiap doa yang kita haturkan" sambung dokter membuat Malia mengangguk seraya memejamkan matanya dan menangis.


Malia beralih duduk diruang tunggu seraya memijit pelipisnya.

__ADS_1


***


"Lyn, lebih baik kamu pulang dulu aja ya nak. Pasti Valdo khawatir kalo kamu nggak ada dirumah" tutur bundanya yang kini baru saja memperhatikan arloji ditangannya seraya menepuk pundak Velyn yang terbaring dan tertidur di atas sofa.


Velyn mengucek matanya, ia menatap sang ayah yang masih sama tak sadarkan diri seperti sebelumnya.


"Tapi bunda, ayah?"


"Biar bunda dan kakakmu yang jagain ayah. Ingat lo, kamu udah punya suami sekarang. Kamu jangan lupa sama tugas-tugas kamu sebagai seorang istri. Ingatkan apa yang bunda bilang sebelum kamu menikah?" bagaimana Velyn bisa lupa. Semuanya yang dikatakan bundanya dan keyakinan Velyn pada Valdo kini berubah total dari sebelumnya.


Andaikan bundanya tau jika putri satu-satunya ini pernah mendapat kekerasan dalam lingkup rumah tangga yang orangtuanya atur. Pasti bunda sangat sedih nantinya. Velyn sebenarnya bukan hanya melindungi harga diri suaminya, tapi ia juga memikirkan perasaan bundanya lebih dari apapun.


"Kok bengong sayang? ayo nak, kamu harus pulang sebelum malam semakin larut" ujar bundanya membuat Velyn mengangguk seraya bangkit.


"Nak, jangan lupa salam dari bunda buat suami kamu. Kalo nanti Valdo tanya bilang aja kalau ayah baik-baik aja. Kasihan kalau dia nanti kepikiran" ujar bunda seraya melepas kepergian Velyn dari balik pintu membuat Velyn mengangguk seraya mencium punggung tangan bundanya.


Kalau saja bunda tau apa yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan rumah tangganya. Valdo juga takkan perduli dengan apa yang dialami ayahnya maupun kepergiannya seharian ini yang is pedulikan hanyalah Lisa.


Velyn hanya bisa melangkah dengan langkah kakinya yang berat. Ingin ia kembali saja dan menemani bunda serta Rega untuk menunggui ayahnya. Mengingat dirinya juga tidak dihargai keberadaannya dirumah untuk apa Velyn memberitahu pada Valdo.


Velyn memejamkan matanya seraya berjalan menjauh dari ruang ayahnya. Ia mengingat kembali kata-kata dokter yang membuat hatinya kembali ngilu.


"Saya hanya bisa memvonis bahwa kehidupan beliau tidak akan sampai satu tahun kedepan."


Seseorang tidak bisa menebak umur, termasuk umur Velyn yang berbasib sama seperti ayahnya. Velyn menangis dalam diam, is keluar dari rumah sakit seraya memegang lengannya.


"Maafin Velyn bunda, Velyn nggak bisa cerita yang sebenarnya. Velyn takut bunda tambah menderita karena Velyn. Cepat atau lambat Velyn akan bercerai dengan kak Valdo, dan setelah itu harapan Velyn untuk hidup tidak akan lama lagi" gumam Velyn seraya memeluk tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2