
Velyn POV.
Makan siang telah berakhir, dan aku segera bergegas untuk mendekati meja kasir untuk membayar makan siang kami.
Tak ku perduli kan tatapan matanya yang menjurus padaku juga senyuman yang ramah itu untukku. Awalnya aku merasa kesal padanya karena sikapnya yang sok kenal dan sok perhatian, namun meskipun begitu dia juga telah menyelamatkan ku dari ulah Randy dan Dino.
"berapa semua mbak?"
Tanyaku pada sang kasir yang kini fokus memeriksa layar monitor dihadapannya.
"meja nomor lima belas, dua frappuccino ice dan dua ayam bakar saus barbeque"
Ujar kasir itu memastikan, dan membuat aku mengangguk. Tak lama kemudian sang kasir menarik bon dan memberikan padaku, namun sebelum aku mengambil bon itu, seseorang dari belakang menarik kertas dan berkata...
"biar saya saja yang bayar"
Aku hanya diam menatapnya, bukannya dia tadi yang bilang aku yang harus bayar? kenapa dia sekarang malah bilang begitu? huhhh sungguh aku pun tak mengerti sifat dia sebenarnya.
Aku masih tak bisa melepaskan pandangan ku darinya. Perlahan tangannya meraih dompet yang berada disaku celananya, pria itu dengan gesit meraih beberapa lembar uang berwarna merah disana dan segera mengulurkan pada tukang kasir.
Kulihat mata wanita kasir itu menatap intens dengan senyum malu menerima uang dari pak Andra.
Siapa sih yang bisa nolak pesona pak Andra Prasetya. Seorang dosen muda wajah tampan juga kelembutan yang hakiki.
Lain dengan ku, aku memiliki harapan untuk masa depan yang ku tata rapi dalam hidupku. Hidup dengan keluarga yang harmonis juga keutuhan keluarga yang terjamin membuat ku selektif dalam memilih pasangan, bukan hanya modal kaya, mapan dan juga tampan.
Tapi kepribadiannya yang mampu menerima ku apa adanya, mampu membuatku terpikat oleh kharismanya meskipun wajah dan juga latar belakangnya biasa-biasa saja, itu tak menjadi suatu masalah untukku.
Setelah membayar makanan tadi, pak Andra meraih lenganku dan menarikku keluar dari restoran tersebut. Dapat kudengar suara samar-samar dari sang kasir selepas kami melangkah menjauh dari tempatnya.
"ganteng banget... coba aku yang jadi pacarnya"
Meski aku begitu mendengarnya tapi kulihat orang disamping ku ini diam tanpa berekspresi sama sekali. Mungkin karena ini adalah sesuatu yang biasa untuknya.
Pak Andra membukakan pintu untukku, terlihat senyumnya yang begitu manis ia berikan padaku.
Berulangkali dirinya bersikap seperti itu, namun aku hanya menanggapi datar pada dirinya. Sebenarnya dalam lubuk hatiku yang terdalam aku mulai menyukai senyuman itu, senyuman yang terulas hanya untukku semenjak ia menyelamatkan aku tadi pagi.
Namun aku bukanlah gadis gampangan dengan menyukai seseorang hanya dengan diberikan senyuman.
"kenapa bapak yang bayar, tadi katanya nyuruh saya yang bayar"
Ucap ku ditengah kecanggungan yang kurasakan didalam mobilnya.
"saya hanya bercanda Lyn, hehehe"
Ucapnya dan kubalas dengan anggukan.
__ADS_1
Mungkin dia bosan aku cuekin terus, tapi setidaknya aku bisa bernafas lebih lega karena dia tidak lagi bersikap manis yang membuatku semakin takut untuk berharap.
"Lyn... kamu beneran nggak punya pacar?"
Tanyanya membuat ku tersentak, baru saja aku menghembuskan nafasku dengan lega, namun ternyata ia tak menyerah dengan membuka suara perihal masalah status ku.
"nggak punya dan nggak pernah"
Ucapku, kali ini sambil meliriknya.
Dia tersenyum kearah ku tanpa melepas pandangannya dari jalanan didepannya.
"oh ya... ??jadi nggak apa-apa dong kalo saya minta nomor kamu?"
Dia tiba-tiba menanyakan nomor ku, hemmm apa nggak salah nih. Jangan-jangan ada udang dibalik rempeyek nih.
"buat apa pak?"
Tanyaku lagi yang kini menatapnya dengan pandangan bertanya.
"bisa nggak, nggak usah manggil saya pak kalo diluar... kita itu seumuran"
Ucapnya yang membuat ku membulatkan mata. Tak ku sangka orang ini yang biasanya jaim dan terkesan cool bisa narsis seperti ini. Apa jangan-jangan habis makan ayam bakar, otaknya jadi ikutan gosong?
"Lyn... kok diem?"
Aku terperanjat kala dirinya menepuk punggung tangan ku dengan lembut.
"saya kan sudah bilang, nggak usah manggil pak..."
"terus apa dong"
Tanyaku yang menyimpan segudang pertanyaan dikepala ku.
"panggil Andra aja"
Aku tertegun menatapnya dengan tatapan heran.
"An... dra"
Ucapku kaku, membuatnya sedikit menahan tawanya.
Bisa ditebak bahwa kali ini aku masih diam tanpa ekspresi seperti sebelumnya. Entah apa yang ia tertawakan, disekeliling kami tidak ada yang melawak bahkan ember dijalanan pun masih utuh dan terjual dengan bebas meskipun tampak bocor. Hemmm nggak ada hubungannya sih, cuma heran aja, apa cobak yang lucu?
"nah gitu dong"
Ucapnya sambil melayangkan senyuman itu lagi. Untung aja ekspresi ku ini bisa diatur, kalo enggak bisa kaya orang gila aku senyum-senyum sendiri. Terlebih orang ini pasti puas jika mahakaryanya yang mampu membuat orang sedingin ku bisa tersenyum lepas.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, jalanan yang cukup lengang membuat perjalanan kami lancar dan kini sampai didepan rumahku. Rumah besar dengan pekarangan bunga didepannya.
"terimakasih pak Andra,"
Ucapku padanya.
"apa?"
Ia mulai mengingatkan ku untuk memanggilnya dengan namanya saja dan akupun paham dengan maksudnya.
"maaf... Andra"
Ucapku dan dibalas senyuman merekah darinya.
Aku hendak melepas seat belt yang tepat berada di pinggang ku, namun aku terkejut kala sebuah tangan mencoba untuk menahan jemariku. Aku menatap orang itu, bisa ditebak bahwa yang kali ini juga menatap kedua bola mataku adalah Andra.
Aku masih terdiam, menunggu suaranya yang tak kunjung keluar dari bibirnya.
"ehem.."
Aku berdehem, memberikan dirinya jeda untuk mengatur nafasnya dan juga pandangannya yang ia alihkan dari mataku.
"kenapa Ndra?"
Ucapku tanpa ragu untuk mencoba mengakrabi nya.
"eng... enggak apa-apa"
Ucapnya dengan gugup. Tak perduli dengan apa yang ia lakukan, aku pun segera melepaskan seat belt yang belum sempat aku lepaskan dari tempatnya.
"Velyn... boleh pinjam ponsel kamu?"
Pertanyaan itu membuatku yang selesai membuka seat belt menaikkan sebelah alisku. Meskipun tampaknya mencurigakan aku tidak bisa menolak, mengingat apa yang ia lakukan hari ini untukku.
Aku mengambil ponsel yang berada ditas kecil dan memberikan pada Andra. Terlihat wajahnya yang tersenyum menang membuatku memutar bola mata malas menunggunya.
"ini adalah nomor saya, dan saya juga sudah menyimpan nomor kamu... saya harap kita bisa berteman untuk seterusnya"
Ucapnya yang membuatku mengangguk tak perduli. Segera ku raih ponsel itu kembali, dan aku bergegas keluar dari mobilnya, meninggalkan Andra yang masih tersenyum ramah sepeninggal ku.
Beberapa langkah ketika aku hendak menuju rumah, aku menghentikan langkahku untuk mengatakan sesuatu yang hampir aku lupakan sebelumnya.
Aku kembali, dengan langkah gugup dan tangan yang mengepal kuat. Sejujurnya aku malu untuk mengatakannya, tapi bagaimanapun juga ini adalah tanggung jawab ku.
"Andra... terimakasih"
Ujar ku yang dibalas senyuman tanpa mengalihkan pandangannya dariku.
__ADS_1
Aku membalikkan tubuh ku lagi, dan segera berlari kedalam rumah tanpa memperdulikan tatapannya yang enggan ia alihkan terhadap ku.
Velyn POV end.