Velyn Love

Velyn Love
Dimana Velyn?


__ADS_3

Andra melirik buku diatas nakas. Buku yang kini tergeletak dengan ketebalannya yang hampir seperti kamus saja. Ia tak sabar untuk memberikannya pada Velyn hari ini. Pria itu membetulkan dasinya tepat didepan kaca yang memantulkan bayangan Andra yang begitu tampan dengan rambutnya yang sengaja ia tata rapi seperti biasanya.


Ia berjalan pelan seraya meraih buku tebal itu, memasukkannya kedalam tas yang sehari-hari menjadi teman kerjanya. Fikiran pria itu masih melayang, mengingat kebersamaannya bersama dengan Velyn semalam, tak hanya semalam bahkan hari-hari sebelumnya membuat hatinya semakin berdebar tatakala mengingat pandangan gadis itu yang begitu cantik setiap harinya.


Setelah dirinya siap, Andra segera menaiki mobilnya. Semalaman ia tak dapat menghubungi Velyn, ditelfon nomornya sedang tidak aktif, dan di chat saja hanya menampilkan satu centang abu mungkin saja ponselnya mati dan lupa untuk ia hidupkan. Tapi tak apa, ia sudah berjanji untuk mengantar jemput dirinya setiap hari, maka sudah seharusnya Andra menghampiri sampai kerumahnya.


Sebelum pria itu menjalankan mobilnya, ia berulangkali mengecek keadaan buku bersampul putih yang memang sengaja untuk mengejutkan gadis tercintanya itu. Ia ingin membuktikan bagaimana penantian dan juga cintanya yang tulus lewat buku tebal itu.


Ketika matanya mendongak Valdo baru sadar ternyata matahari sudah mulai meninggi. Ia menatap arloji dan segera mengendarai mobil berwarna hitam tersebut.


Tak butuh waktu lama, hanya sekitar 15 menit ia akhirnya sampai disebuah rumah dengan pekarangan yang indah, pria itu keluar dari mobilnya. Ia mengamati gerbang rumah tersebut yang terkunci, hal yang sama juga ia lihat lewat pintu kayu bercat putih yang tak jauh dari gerbang tersebut. Ia merasa janggal, beberapa kali Andra memencet bel dibalik pagar itu, namun sayangnya tak kunjung ada balasan dari dalam. Jangankan balasan, tanda-tanda ada orang saja sepertinya tidak ada.


Andra meraih ponsel yang berdaya di saku celananya. Ia mencoba untuk menelfon gadis itu, memang tersambung namun Velyn tak kunjung mengangkat panggilannya. Andra semakin bimbang, sesekali ia melirik rumah itu yang begitu sepi dan ia memutuskan untuk segera berangkat mengingat jam sudah semakin siang.


Mungkin saja Velyn sudah berangkat, pikir hati kecil Andra yang sedikit kecewa. Namun beberapa kali ia berusaha untuk menghela nafas, mencoba untuk berfikir positif akan gadisnya. Bisa jadi Velyn tidak membawa ponselnya, ada alasan lainnya atau apalah, tapi yang jelas kali ini ia harus sampai dikampus untuk memeriksanya sendiri.


Sesampainya di kampus untung saja dirinya belum terlambat, yang ada ia hendak memeriksa sendiri absen Velyn hari ini. Kebetulan pagi ini adalah jamnya untuk mengisi materi di kelas Ekonomi jurusan Velyn berada. Andra meneliti setiap mahasiswa yang hadir, namun tatapannya berubah menjadi kecewa tatkala bangku Velyn kosong.

__ADS_1


"Selamat pagi semuanya"


"Pagi pak" ujar semua mahasiswa yang kini tengah menyapanya. Andra kini bersiap untuk mengisi materi, beberapa mahasiswi terlihat mencuri pandang dirinya lalu tersenyum, beberapa dari yang lain malah dengan berani menatapnya dengan senyuman penuh arti.


Andra menghela nafas lelahnya, meskipun pemandangan ini memang sudah biasa baginya tapi rasa tak nyaman terus menyelimuti hatinya tatkala gadis pujaannya yang tak kunjung datang. Atau memang Velyn sengaja tak masuk hari ini, fikiran pria itu semakin kacau saja.


***


Jam istirahat telah tiba, wajah Andra yang semula semangat dan tersenyum lebar kini mendadak murung dengan tatapannya yang datar. Tak seperti biasanya, Andra yang selalu tenang dan selalu menunjukkan kewibawaannya kini berubah menjadi sosok yang dingin dan terlihat banyak fikiran.


Langkah kakinya tegas, ia melepaskan kacamatanya tatkala dirinya telah sampai diruang dosen. Pria itu berfikir sejenak, sesekali ia mengecek ponselnya yang ternyata membuat dirinya berulang kali kecewa dibuatnya.


Andra melangkahkan kakinya, keluar dari ruangannya. Ia melangkah menuju perpustakaan, namun siapa sangka, sebelum dirinya masuk ia melihat salah satu sahabat Velyn yang biasanya bersamanya. Siapa lagi kalau bukan Oca, gadis tomboi dengan topi yang selalu menghiasi kepalanya itu tengah kesusahan membawa beberapa tumpukan jajan dari kantin. Dengan segera Andra menghampiri gadis itu membuat Oca terkejut setengah mati oleh keberadaannya yang tiba-tiba.


"Pak, pak Andra?" nyaris saja gadis itu menjatuhkan tumpukan jajannya jika saja Valdo tidak segera menahan lengannya. Hal itu membuat Oca tersenyum sendiri seraya menahan wajahnya yang kini memerah.


"Oca, boleh saya ngobrol sama kamu sebentar?" pertanyaan itu membuat hati Oca bergetar. Bahkan kini dirinya mengigit bibir bawahnya dan menunduk menahan senyuman yang sedari tadi membuat hatinya berbunga-bunga.

__ADS_1


"Ca? kamu nggak mau ya?" ulang Andra membuat Oca langsung mengangkat pandangannya dan menatap Andra dengan semangat.


"Mau kok! mau banget" ujar Oca penuh semangat membuat Andra menaikkan sebelah alisnya.


Setelah menemukan tempat yang tepat yaitu di gazebo taman, gadis itu menawarkan beberapa camilannya pada Andra.


"Pak Andra mau?" tawar Oca yang kini dibalas gelengan oleh pria itu yang kini mulai mencoba untuk menghela nafasnya.


"Sudah, kamu saja yang makan" jawab Andra yang kini tersenyum ramah pada sahabat Velyn itu yang kini masih terlihat senyumannya yang begitu girang kala menatap mata Andra.


"Sebenarnya ada yang ingin saya tanyakan ke kamu" kata Andra yang membuat Oca kini mengigit roti dihadapannya dan mengangguk antusias.


"Apa pak? saya bakal jawab kok, apapun pertanyaan bapak saya bakal jawab sejujur-jujurnya" ujar Oca yang dengan cepat menelan roti miliknya itu. Sesekali ia juga menelan salivanya tatkala dirinya membayangkan tubuh atletis Andra yang kini tertutup oleh kemeja.


Jika saja Velyn melihat kelakuan sahabatnya yang seolah menggoda pacarnya itu pasti dirinya sudah disemprot habis-habisan. Oca memang begitu, ia begitu mengagumi sosok Andra yang penuh pesona bagi setiap mahasiswi, jangankan mahasiswi, para ibu-ibu dan bocil yang ada diluaran sana pasti juga akan menelan salivanya tatakala berdekatan dengan Andra.


Kali ini Oca tengah menatap mata Andra dengan mematung, ia bahkan tak sadar jika mulutnya menganga sedari tadi, bahkan tangannya yang digunakannya sebagai topangan seperti mati rasa saja.

__ADS_1


Andra yang melihat Oca hanya bisa memelototkan matanya. Jika saja bukan demi Velyn, dirinya pasti memilih lari daripada melihat tatapan aneh dari Oca. Oca memang terbiasa seperti itu, sifatnya spontan, tidak pandai menjaga imege didepan orang yang disukainya. Ia bahkan tak bisa menutupi kekurangannya yang teledor itu saat didepan Andra sekalipun.


__ADS_2