
26
"Ayah" suara bergetar Velyn disela bacaan surah Yasin oleh orang-orang yang melayat dirumahnya. Pelukan hangat dan menenangkan dari bunda serta kedua sahabatnya Dirabdan Christyn berhasil membuat Velyn sedikit lebih tenang dari sebelumnya, meskipun ia harus meratapi kesedihan karena ditinggalkan oleh orang yang paling ia sayangi.
Lain halnya dengan Rega yang masih mengurung diri dikamar, ia menyentuh frame foto keluarga mereka, tangisannya mengalir begitu saja saat mengingat ayahnya yang telah tiada. Rega juga amat kehilangan, tidak menyangka akan hal yang begitu besar yang akan menimpa keluarganya. Ditambah lagi tanggung jawab yang harus ia emban untuk melindungi adik dan juga ibunya.
"*Rega, kalau nanti ada apa-apa sama ayah, papa titip adik dan bundamu ya?"
"Ayah ngomong apa sih? ayah pasti bakal sembuh kok, yang penting ayah makan yang teratur, dan minum obat. Bunda sama Velyn pasti nggak akan suka kalau ayah bilang kaya gitu*"
Bayang pesan yang tersirat untuknya masih teringat jelas dalam pikirannya. Rega terisak, ia menangis sejadi-jadinya meskipun tiada yang tau akan kelemahannya saat ini. Yang pasti, ia takkan menunjukkan kelemahannya pada keluarganya. Hal itu hanya akan memperburuk keadaan nantinya.
Setelah selesai meluapkan emosinya, Rega keluar dari kamar dan menatap Velyn yang masih bertahan meluapkan air mata. Sama halnya dengan bunda yang kini menguatkan putrinya karena kesedihan yang mendalam akan kehilangan sosok ayah yang sangat menyayangi keluarga ini.
Rega menghela nafasnya yang masih terasa bergetar, hatinya rapuh namun berbeda dengan ekspresinya yang masih menunjukkan bahwa ia baik-baik saja. Rega hendak mendekat pada kedua wanita itu, namun langkahnya terhenti saat Gaisan datang dan menepuk pundaknya.
"Rega"
"Om?"
"Om turut berdukacita, maaf karena om belum sempat njenguk ayah kamu waktu berobat ke Singapura" Rega hanya mengangguk dan tersenyum. Walau bagaimanapun juga Gaisan adalah sahabat ayahnya, sekaligus mertua Velyn. Meskipun Rega amat tidak suka dengan Valdo tapi tidak mengubah rasa hormatnya pada Gaisan yang sudah ia anggap sebagai ayahnya sendiri.
"Enggak apa-apa kok om, Rega tau kok om pasti juga sibuk" Gaisan tersenyum, namun setitik air mata jatuh disudut matanya. Ia merasa bersalah sekali, bagaimana ia bisa menghadapi Velyn yang notabenenya telah diceraikan oleh putranya. Sedangkan dari sikap Rega terlihat jelas jika Velyn pastinya belum menceritakan apa yang sudah terjadi padanya. Ditambah lagi dengan ayah wanita yang sudah ia anggap sebagai putrinya sendiri itu kini sudah tiada. Mungkin Gaisan tidak bisa berkata-kata selain matanya yang semakin memerah dan menangis dari balik kacamatanya.
"Om, jangan sedih" kata Rega seraya menepuk pundak Gaisan yang terlihat bergetar dihadapannya. Rega juga memahami perasaan Gaisan juga pasti sama dengan perasaannya sekarang. Karena bagaimanapun, ayah adalah sosok pria yang berjasa dalam kesuksesan sahabatnya itu.
"Nggak apa-apa om, sekarang ayah nggak akan sakit lagi, ayah udah tenang disana" ucap Rega tambah membuat hati Gaisan merasa bersalah lagi. Bagaimana bisa tenang jika kenyataannya putrinya sendiri ternyata sudah bercerai dari laki-laki pilihannya. Gaisan yakin Rahadian pasti kecewa dengan situasi ini. Sedangkan pria itu tidak bisa berbuat apa-apa untuk membahagiakan putrinya.
Ditengah pelukan sang ibu Velyn menghela nafas lelahnya, lelah menangis sampai ia lupa dengan keadaannya sendiri. Wanita itu tanpa sengaja menatap Gaisan yang kini berdiri disebelah Rega. Mata Velyn membulat saat mata mereka tak sengaja bertemu. Velyn langsung mengalihkan pandangannya pada yang lain, meskipun ia sendiri tak bisa menghindarinya namun tak bisa dipungkiri bahwa ia akan lepas dari Valdo begitu saja. Velyn melirik Gaisan lagi, dan Gaisan pun memberikan ekspresi seperti menyayangkan apa yang sudah terjadi.
Velyn tau ini semua bukanlah salah mantan mertuanya itu, tapi disaat ini penting baginya untuk tidak membahas apa yang telah terjadi padanya. dihari yang penuh duka dan bahkan ia tak sanggup menerima tidak etis rasanya ia mengungkapkan kebenaran atas perceraiannya.
***
Setelah prosesi pemakaman selesai, kini akhirnya Velyn beserta keluarganya harus rela mengikhlaskan kepergian Rahadian. Satu persatu orang yang hadir di pemakaman itupun melangkah pergi, terkecuali Velyn, Rega, Malia dan Gaisan.
"Lyn, maaf banget ya, kita harus balik dulu. Soalnya jadwal kuliah siang" ujar Christyn seolah tak enak hati dengan sahabatnya y5masih menitikkan air mata itu. Velyn hanya mampu tersenyum dan mengangguk.
"Iya Lyn, maaf banget ya. Nanti kalau kita udah selesai kita bakal balik lagi nemuin lo kok" tambah Dira membuat Velyn merasa beruntung memiliki sahabat seperti kedua perempuan yang kini berada disampingnya itu. Velyn memeluk dua sahabatnya itu, ada rasa tenang dan damai disana.
"Nggak apa-apa kok temen-temen, kalian udah datang ke pemakaman ayah gue aja, gue udah seneng banget. Makasih ya"
"He'em yang sabar ya Lyn, kita turut berdukacita" Velyn hanya mengangguk pada Dira dan mempersilahkan mereka berdua untuk pergi. Toh saat mereka datang itu cukup membuktikan bahwa mereka adalah teman yang bisa diharapkan.
Seiring doa yang dipanjatkan oleh mereka berlalu, kini Rega merangkul bahu wanita itu dan mengajaknya untuk kembali ke kediaman mereka. Pasalnya sudah seperempat jam mereka bertahan di depan batu nisan itu dengan uraian air mata yang pastinya melelahkan untuk kedua orang yang kini menjadi keluarga Rega tanpa didampingi ayahnya.
"Ayo pulang Lyn?" ajak Rega seraya tersenyum pada adiknya membuat Velyn mengangguk dan segera bangkit untuk mengikuti langkah Rega bersama Gaisan dan Malia.
"Maaf karena Valdo tidak bisa hadir" ujar Gaisan ditengah langkah mereka berjalan. Entah mengapa jantung Velyn berpacu lebih cepat ketika pembahasan itu di mulai, apalagi nama pria itu yang sepertinya sudah lama tidak ia dengar dari mulut orang lain.
"Nggak apa-apa San, Velyn juga udah cerita kalau Valdo memang ada pekerjaan di luar negeri dan kita juga sengaja nggak ngabari karena takut tiba-tiba dia pulang dengan keadaan panik" ujar Malia membuat Gaisan menatap Velyn yang tengah meliriknya dengan ekspresi amat bersalah.
"Iya om, nggak apa-apa kok. Lagian sudah ada om Isan yang mewakili, apalagi Valdo baru berangkat satu hari sebelum ayah meninggal. Daripada nanti kerjaannya malah nggak beres, iya kan Lyn?" tanya Rega yang membuat Velyn mengangguk seraya tersenyum kaku. Sejauh ini mungkin Velyn akan tetap merahasiakannya setelah masa berkabung selesai. Menceritakan hal itu disaat seperti ini malah akan membuat keluarganya bertambah sedih lagi. Padahal sejujurnya, dalam hati Velyn ia benar-benar bingung harus bercerita dari mana?, ia bingung harus memulai darimana ketika ia bicara nanti?.
Velyn juga masih bimbang akan penyakitnya serta bayi yang kini berada dalam kandungannya. Disaat seperti ini berita duka harus Velyn pikul dengan kenyataan pahit akan perceraiannya. Hidup Velyn seperti tidak lagi memiliki kebahagiaan yang semestinya, masalah datang bertubi-tubi menghampirinya. Namun dengan adanya kekuatan dari keluarganya, dan juga kehidupan baru yang akan ia wujudkan, itu saja sudah cukup untuk membuat hatinya terobati sedikit.
__ADS_1
Velyn yang kini sudah sampai dirumah duduk di balkon dengan pandangannya yang kosong. Ia mengingat setiap detik ketika Velyn menikmati udara luar dan ayahnya yang duduk menemaninya setiap pagi dan sore. Kini pria itu telah meninggalkannya, jauh dari tempatnya berpijak.
"Ayah, makasih udah jadi ayah terbaik buat Velyn, makasih karena ayah, Velyn jadi sekuat dan setegar ini" gumam Velyn dalam linangan air mata yang tak bisa ia bendung sendirian. Kini tiada lagi penyemangat seperti ayahnya, yang membela Velyn disaat bunda memarahinya. Meskipun pilihan dari ayahnya ketika menjodohkannya dengan Valdo kini mengalami kegagalan, namun dari situ Velyn bisa belajar bagaimana mencintai seseorang lewat status yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan. Bahkan kini tumbuh kehidupan baru dalam hubungan yang sudah retak itu. Velyn sadar, semua yang ia miliki juga tidak selamanya bisa ia genggam, karena apa yang ia punya hanya titipan Tuhan termasuk kebahagiaan yang pernah ia rasakan.
***
27
"Velyn?" suara barito dari belakang tubuh Velyn, membuat wanita itu tersadar dari lamunan yang membuat hati Velyn penuh sesak. Wanita itu segera menghapus jejak air matanya seraya tersenyum pada pria yang kini tiba-tiba berdiri disamping kursi kosong didekatnya.
"Boleh om duduk disini?"
"Silahkan" ucap lirih Velyn pada Gaisan yang kini mengangguk seraya menjamah kursi kayu peninggalan ayah Velyn itu. Gaisan tau apa yang Velyn alami selama ini, begitu berat sampai ia tak bisa berkata, melihat Velyn yang begitu lemah membuat Gaisan tak tega sekaligus bangga dengan putri sahabatnya satu itu. Perempuan yang begitu hebat, ia masih bertahan bangkit dan berpura-pura tersenyum meskipun perasaannya begitu hancur dengan apa yang ia alami.
"Lyn, om cuma mau ngucapin minta maaf yang sebesar-besarnya atas nama Valdo"
"Om nggak salah kok, om jangan minta maaf. Memang sudah takdirnya kami berpisah" gumam Velyn dengan suara sumbangnya yang terdengar begitu perih usai menangis dalam kelam. Gaisan menghela nafas beratnya, ia melirik wanita itu yang masih terdiam dengan pandangan kosong meskipun dihatinya begitu banyak beban yang ia tanggung.
"Tetap saja, Valdo itu anak om. Dan dia terhitung masih ada ikatan dengan om yang telah menjodohkan kamu dengan dia. Maafin om, Velyn. Om sangat menyesal dengan apa yang terjadi" Velyn mengerti apa yang dimaksud Gaisan. Jika saja ia berada di posisi Gaisan pasti Velyn juga akan melakukan hal yang sama. Meskipun secara pribadi Gaisan tidak melakukan kesalahan apapun. Hal itu bisa ia pahami dalam sisi seorang ayah sekaligus keluarga satu-satunya.
"Nggak apa-apa om, lagian semuanya juga sudah terjadi dan nggak ada yang perlu disesali. Mungkin ini memang jalan yang terbaik dan demi kebahagiaan kak Valdo"
"Om bangga sama kamu nak" ujar Gaisan dengan penuh kasih sayang yang terlihat jelas dari ekspresi juga terdengar dari tutur katanya.
"Kamu adalah wanita kuat, om nggak nyangka kamu bisa lewati ini Velyn. Dan ketika om lihat kamu rapuh, om jadi semakin bersalah" Velyn hanya tersenyum kaku, jika saja bukan karena bayi yang ada dalam kandungannya, mungkin ia tak tau lagi harus bagaimana. Velyn mungkin juga takkan mampu bertahan karena semangat hidupnya semakin berkurang. Namun karena adanya kehidupan baru dari dalam tubuhnya, ia mampu melewati tantangan yang amat sulit dalam hidupnya.
"Om Isan nggak perlu merasa kaya gitu, karena jujur Velyn pribadi nggak pernah menyalahkan om Isan atas apa yang Velyn alami selama ini. Tapi om, Velyn boleh tanya sesuatu?" tanya Velyn yang kini menatap pria paruh baya itu dengan ekspresi serius dan bersungguh-sungguh.
"Om bakal jawab sesuai apa yang om ketahui" Velyn mengangguk seraya bangkit dari duduknya, ia menyentuh pinggiran sisi balkon seraya merenung dan sesekali menatap langit. Entah mengapa, antara yakin dan tak yakin, tapi Velyn ingin sekali mengajukan pertanyaan itu meskipun sejujurnya itu sangat mengganggunya.
"Kenapa Om Isan menculik Lisa, bukannya kak Valdo dan Lisa sudah hidup menyendiri dan bahagia? tapi kenapa Om merencanakan ini semua?. Velyn yakin om punya alasan sendiri kan? dan melihat sifat kak Valdo, om juga nggak mungkin bertindak gegabah bukan?"
***
Tujuh hari sudah berlalu semenjak hari dimana masa berkabung itu, Velyn juga masih enggan untuk masuk kuliah karena tak ingin keluar rumah dulu untuk sementara waktu. Sedangkan Rega kembali ke perusahaan meskipun hanya beberapa jam dalam sehari. Bagi mereka berkumpul dengan keluarga dan memanfaatkan waktu bersama adalah hal penting sebelum mereka menjalani kesibukan masing-masing.
Namun setelah tujuh hari terlewat begitu saja, Velyn menyadari bahwa dirinya harus bangkit kembali dan menjalankan harinya seperti biasa. Wanita itu meraih tasnya seraya turun untuk sarapan bersama Bunda dan kakaknya. Meskipun dihatinya masih ada rasa tidak nyaman karena menyembunyikan hal besar, tapi tetao saja Velyn belum siap karena bayang-bayang ayahnya masih samar-samar terpikirkan.
"Met pagi bun" senyum Velyn terulas seraya menarik selembar roti tawar dihadapannya dan mengoleskannya pada selai kacang kesukaannya. Bunda tersenyum dan memberikan bubur kacang gijau untuk Velyn.
"Pagi juga, nih bunda udah bikinin khusus buat kamu" ujar bunda membuat Velyn bersemangat dan segera menyambar mangkok yang dibawa bundanya tersebut. Tanpa sadar Velyn melupakan roti yang sudah dilapisi selai kacang oada piring dihadapannya membuat Malia menggerutu.
"Rotinya di makan dulu, kamu nih kalo liat makanan lain makanan yang dipegang suka dilupain" omel bunda membuat Velyn menghela nafasnya seraya meraih roti itu dan melahapnya segera. Sudah menjadi kebiasaan dan juga hobi bunda yang selalu mengingatkan Velyn tentang tata krama dan juga apapun yang ia lakukan. Hal itu membuat bunda tertawa kecil seraya menatap putri cantiknya itu dengan tatapan mata yang sulit diartikan.
"Anak bunda satu ini ternyata masih suka diingetin ya. Kalau kamu dirumah sama Valdo masa mama harus ikut, supaya bisa ngingetin kamu terus" Velyn hanya terdiam seraya meraih mangkok berisi bubur kacang hijau dihadapannya. Velyn memanyunkan bibirnya. Mungkin saja Velyn sudah kehilangan kata-kata lagi untuk berbohong pada bundanya. Karena kalau saja Velyn mengucapkan sesuatu dan memberikan pendapat, membuat Velyn tambah semakin merasa bersalah lagi.
"Tau ah, pokoknya Velyn mau makan bubur dulu" ujarnya seraya menyuapkan sesendok bubur itu kedalam mulutnya. Namun tanpa disangkanya sebelum menelan habis bubur itu, perut Velyn seperti mual, ia pun berlari kearah kamar mandi dan mengeluarkan semua isi makanannya.
"Hoekk hoekk! uhuk uhuk"
"Lyn? kamu kenapa?" tanya bunda membuat Velyn hanya mampu menggeleng dan membersihkan mulutnya dengan tisu disampingnya. Velyn segera menyiram kloset dan segera menutupnya. Ia menghadap bundanya dan menghela nafas untuk menghilangkan rasa mualnya yang masih terasa sampai saat ini.
"Kamu baik-baik aja kan?"
"Nggak apa-apa kon bun, Velyn cuma nggak enak badan aja. Mungkin masuk angin" ucap Velyn seraya melangkah keluar dan kembali ke meja makan untuk meraih tasnya. Velyn menyentuh lembut perutnya ia membalikkan tubuhnya dan menatap sang bunda yang terlihat sedikit khawatir itu. Wajar saja, karena selama ayah meninggal Velyn menjadi kurang memperhatikan kesehatannya.
__ADS_1
"Kamu beneran mau masuk kuliah hari ini? kamu pucat banget lo Lyn?" Velyn menggeleng, ia tersenyum pada bunda untuk menenangkan perasaan sang ibu yang kini tengah dirundung kekhawatiran. Bahkan rasanya hati Malia masih saja tak tega melihat putrinya yang madih jauh dari suaminya.
Bagaimanapun juga hal itu pasti berdampak psikologis bagi Velyn, wanita itu tersenyum walaupun sebenernya hatinya amat terluka, belum lagi kenyataan bahwa bunda dan kakaknya sendiri tidak terbuka dengan keadaan ayah yang sudah di penghujungnya. Mungkin saja Velyn juga merasa kecewa meskipun tidak menunjukkan rasa kesalnya.
"Beneran nggak apa-apa kok bun, lagian udah seminggu juga Velyn nggak masuk kuliah, sudah banyak pelajaran yang Velyn lewatkan" Velyn meraih jemari bundanya dan menciumnya sebagai tanda perpisahan.
"Dah bun, Velyn berangkat dulu"
"Iya nak, hati-hati dijalan" ujar Malia seraya menyentuh dadanya yang amat sesak melihat Velyn seperti manusia tanpa nyawa. Kehangatan yang sebelumnya ada kini seperti hilang entah kemana. Wanita itu hanya berharap jika pernikahan yang dijalani oleh gadis kecilnya mampu membuatnya bahagia selamanya.
***
28
Velyn meraih berkas yang ada didepan matanya, ia menandatangani beberapa prosedur untuk keluar dari kampus yang baru setengah tahun ia masuki. Jemari lentiknya menyentuh pena itu tanpa beban, ia menuliskan beberapa alasan untuk tidak melanjutkan kuliahnya lagi.
"Kamu yakin tidak mau melanjutkan pendidikan ini?" tanya kepala rektor pada wanita yang kini telah selesai menuliskan beberapa kalimat untuk memperkuat keputusannya. Tentu saja siapapun akan terheran-heran dengan apa yang Velyn lakukan, terlebih nilai mata kuliahnya pada bidang bisnis manajemennya begitu sempurna.
"Yakin pak, ini sudah keputusan akhir saya" ujar Velyn seraya menyerahkan berkas itu pada ketua rektor dihadapannya. Velyn kemudian bangkit, disusul oleh kepala rektor yang menyalaminya dengan ekspresi sedikit keberatan. Namun bagaimana lagi, Velyn juga punya hak untuk hidupnya sendiri termasuk pendidikannya.
"Terimakasih pak, kalau begitu saya pamit dulu" ujar Velyn setelah usai memenuhi prosedur keluar dari kampus. Kini dirinya sudah tidak terbebani lagi dengan biaya kuliah, yang terpenting baginya kini adalah kehidupan yang baru bersama dengan anak yang dikandungnya.
Velyn menutup pintu ruang rektor setelah ia berpamitan tadi, mungkin langkah awalnya menuju lembaran baru sudah tertata mulai dari sekarang. Jika saja kampus yang dipilihkan Valdo tidak semahal kampusnya dulu, mungkin saja Velyn masih sanggup untuk membiayai hidupnya sendiri. Namun daripada itu semua Velyn lebih bersyukur lagi karena saat ini langkahnya harus ia belokkan.
Lirikan dan juga bisikan dari orang-orang disekitar Velyn tak membuat langkahnya goyah, ia lebih baik menatap ke depan seraya menegarkan hatinya. Bersabar, mungkin hal itu sudah sering ia lalui untuk beberapa kali dalam waktu singkat. Ia kuat dalam perceraian dan masalah penyakit yang ia hadapi, juga anak yang akan lahir tanpa ayah, sedangkan ayahnya juga baru saja meninggal. Sekarang gunjingan dan tatapan sinis itu seperti tidak ada apa-apanya daripada itu semua.
"Velyn?!" suara bersamaan dari kedua sahabatnya membuat Velyn menghentikan langkahnya sekaligus membalikkan tubuhnya saat Dira dan Christyn berhenti dari berlari untuk menyusul wanita itu dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Kalian?" Velyn sempat tidak menyangka jika kedua sahabatnya itu akan mengejarnya sampai sejauh ini, padahal ia sendiri juga tidak memberitahukan masalah keluarnya ia dari kampus. Tapi siapa sangka, melihat ekspresi kedua gadis dihadapannya bisa ditebak jika mereka mengetahui sesuatu.
"Lo mau kemana Lyn? kenapa lo putus kuliah? lo mau pindah ya?" tanya Dira dengan perasaan yang bercampur aduk dan rasa yang mengganggu. Sebenarnya ia juga tidak percaya dengan adanya gosip yang sudah tersebar, gosip jahat jika Velyn keluar dari kampus karena tidak kuat menahan malu saat terbukti menjadi pelakor. Tentu saja Dira dan Christyn tidak percaya akan hal itu, ia bahkan membereskan satu persatu dari mereka yang tidak tau apa-apa tentang sahabatnya itu.
"Gue nggak kemana-mana kok, gue cuma capek aja. Semenjak bokap meninggal gue jadi hilang semangat, selain itu gue juga mau bantuin kak Rega buat ngembangin bisnisnya"
"Tapi kenapa harus keluar segala sih Lyn, kan lo bisa sambil kerja" tukas Christyn yang tidak terima akan kepergian Velyn secara mendadak.
"Udahlah guys, ini udah jadi keputusan gue, mau lo berdua bujuk gue buat balik, gue juga nggak akan semudah itu nurutin apa kata kalian. Yang paling tau tentang diri gue itu kalian berdua, gue harap kalian menghargai keputusan gue, dan apapun yang gue lakuin selalu ada alasannya" jelas Velyn pada kedua sahabatnya itu yang saling melirik satu sama lain. Velyn memang tidak ingin larut dalam kesedihan, juga tidak ingin meninggalkan satu kenangan pun dari Valdo dalam kehidupannya sehari-hari, termasuk kampus ini. Selain menjadi kenangan akan tanggungjawabnya sebagai suami, Valdo juga membelanya mati-matian didepan teman-temannya dulu. Tidak ada alasan lain agar Velyn bisa membuat teman-temannya mengerti, tapi ini satu-satunya cara agar kedua sahabatnya paham dengan situasi rumit yang ia alami saat ini.
"Gue paham kok apa yang lo alami sekarang, seharusnya kita ngertiin lo ya? ujar Christyn yang merasa bersalah akan pertanyaannya yang gegabah sehingga membuat Velyn tidak nyaman. Jujur saja Velyn bukan orang yang seperti itu, tapi ia sudah muak dengan tempat ini yang dipenuhi mahasiswa sok suci yang suka menghakimi dirinya. Memangnya mereka tau apa tentang Velyn? mereka tidak tau apa yang sebenarnya terjadi, tapi seolah mereka menjadi orang bijak yang paling benar dan suci.
"Iya Lyn, kita kaya gini cuma khawatir aja, karena tiba-tiba lo nggak ngabari kita dan langsung ngurus surat keluar tiba-tiba" sahut Dira yang membuat Velyn tersenyum dan mengangguk. Velyn tau saja apa yang mereka rasakan, wajar saja mereka khawatir padanya atau menghalanginya untuk keluar dari kampus ini.
"Nggak apa-apa kok, lagian kita kan tetep bakal jadi sahabat, gue juga nggak akan pindah kemanapun. Kapanpun kalian mau gue selalu siap kok buat hang out bareng"
"beneran ya?" sahut mereka bersama-sama membuat Velyn mengangguk seraya tersenyum, mereka berdua langsung memeluk Velyn bersamaan. Rasa haru yang Velyn rasakan kini bercampur aduk menjadi satu. Baru kali ini ia merasakan sahabat yang sesungguhnya, mereka memikul Velyn tanpa beban, bahkan tanpa ragu membela dirinya saat semua orang menjatuhkannya.
Velyn amat bahagia, ia yang dulunya ditusuk sari belakang oleh sahabatnya sendiri kini perlahan bisa mendapatkan sahabat yang mau menghargai dan setia terhadapnya. Bahkan mereka selalu ada untuk Velyn.
***
Malia yang kini tengah bersih-bersih rumah mendapati kamar Velyn yang amat kotor dan banyak sekali baju yang tertumpuk didalam keranjang baju. Malia menggeleng seraya mendekati keranjang yang terdapat diujung lemari. Wanita itu meraih semua baju Velyn tanpa terkecuali, namun ketika ia hendak pergi, langkahnya terhenti, ia melihat meja belajar Velyn yang amat berantakan dengan buku-buku yang berserakan dan kemudian mendekatinya. Wanita itu meletakkan baju Velyn didalam keranjang baju lagi, ia meraih beberapa buku dan menumpuknya dengan rapi.
"Velyn Velyn, meja belajar aja sampek berantakan kaya gini" gumam Malia seraya membersihkan alat tulis dan juga buku novel yang tertumpuk dihadapannya. Tak sengaja ketika ia hendak memindahkan novel kesukaan Velyn, wanita itu terkejut saat sebuah amplop berwarna coklat terjatuh dari meja. la meraih amplop tipis tersebut, alisnya berkerut seraya memperhatikannya dengan penuh penasaran. Perlahan Malia membuka amplop tersebut dan menarik kertas yang mencurigakan disana. Wanita itu pun membaca dengan seksama seraya matanya membulat akibat terkejut dengan apa yang ia ketahui. Malia memundurkan langkahnya tanpa sadar, ia terduduk di ranjang seraya menahan air matanya yang hendak terjatuh.
"Apa? Velyn dan Valdo?" tak kuasa air mata itupun terjatuh begitu saja, wanita itu terisak seraya menutup mulutnya tak percaya. Ia masih tak percaya dengan Velyn yang tidak terbuka bahkan menyembunyikan hal sebesar ini pada dirinya.
__ADS_1