Velyn Love

Velyn Love
Sambutan dari Nino


__ADS_3

"Gue liat tas keluaran channel lo kemarin di mall"


"Oh ya? mau liat dong keluaran terbarunya kaya gimana?" Dira dan Christyn saling berbincang ditengah mereka hendak keluar dari kantor. Christyn mengeluarkan ponselnya seraya memperlihatkan foto tas yang ia temukan beberapa waktu lalu.


"Bagus banget, hang out yuk! sekalian ajak Velyn. Kebetulan ada barang yang mau gue beli"


"Boleh"


"Hey, tungguin gue dong" tiba-tiba saja Velyn yang datang dari belakang membuat kedua sahabat itu menyenggol satu sama lain. Memperhatikan


gerak-gerik Velyn yang nampak amat ceria. Velyn yang diperhatikan seperti itu merasa bingung, ia mengangkat sebelah alisnya seraya menggandeng tangan Dira yang saat ini terkekeh bersama Christyn.


"Kalian kenapa sih? ada yang lucu ya?"


"Enggak, kayanya lagi ada yang kasmaran deh" celetuk Christyn membuat Dira melirik Velyn dengan tatapannya yang seolah menggoda.


"Hah?"


"Iya nih, kayanya ada yang udah baikan sama suaminya"


"Kalian apaan sih, jangan ngomong yang aneh-aneh deh" kini Velyn merasa dipojokkan saja. Namun karena kedua temannya itu hobi sekali menggoda, kini pipinya menjadi bersemu merah mengingat kegiatan dirinya dengan sang suami di kantornya tadi.


"Gue liat pak Valdo keluar dari kantor lo siang tadi, untung gue belum masuk, coba kalo gue tiba-tiba nongol, bisa mati gue diteror sama suami lo" bisik Christyn yang membuat mata Velyn membulat dibuatnya. Begitupun juga Dira yang baru tau kabar dari sang sahabat.

__ADS_1


"Kok lo nggak ngasih tau gue sih Chris, gue jadi kudet kan"


"Apaan sih, nggak usah ngegosip yang aneh-aneh deh"


"Nggak apa-apa kali Lyn, lagian lo itu juga cantik, siapa sih yang nggak mau sama lo. Gila sih kalo suami lo sampe nyia-nyiain cewek secantik dan sebaik lo" Velyn semakin tersipu mendengar pujian dari Dira, baginya ia biasa saja. Apalagi kalau kedua temannya ini tau bagaimana rupanya dulu saat masih sekolah menengah pertama. Velyn yakin mereka juga takkan percaya dengan wajah buruk rupa yang dibenci oleh Valdo.


"Lyn? lo kenapa? bukannya tadi lo seneng ya? kok tiba-tiba murung gitu?" tanya Christyn yang menyadari ekspresi Velyn tampak berubah dari sebelumnya.


Belum sempat wanita itu menjawab, tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti didepan mereka, membuat ketiganya terdiam dan menatap mobil berwarna hitam itu.


"Guys, kayanya gue harus duluan deh daa"


"Iya Lyn hati-hati dijalan ya"


Velyn kemudian masuk kedalam mobil Valdo, ia melemparkan senyum manisnya seraya memakai sabuk pengaman. Tak sengaja ia menatap Valdo yang menatap lekat dirinya, seolah mengagumi wajahnya yang indah.


"Mas, kenapa?" tanya Velyn seraya tersenyum pada sang suami membuat Valdo mendekatkan wajahnya. Namun sedetik kemudian, setelah Velyn dengan polosnya berkata demikian Valdo kemudian memundurkan tubuhnya lagi, ia menatap Velyn lamat-lamat seraya menyandarkan kepalanya pada setir mobil.


"Aku pernah janji bakal bawa kamu nyusul ayah ke Singapura"


"Maksud mas, kita bakal nyusul ayah? kapan mas?" seru Velyn penuh semangat. Bagaimana tidak, saat bulan lalu ia menelfon sang bunda, keadaan ayahnya semakin membaik, membuat semangat Velyn untuk cepat sembuh bertambah. Ditambah lagi kerinduannya yang tak terbendung lagi terhadap keluarganya.


"Dua minggu lagi. Kamu selesaikan studi kamu, dan mas bakal selesaikan urusan perceraian mas" ucap Valdo membuat senyum Velyn mengembang, bahkan tanpa sadar kini Velyn buru-buru melepas sabuk pengaman seraya memeluk sang suami.

__ADS_1


"Makasih" Velyn memejamkan matanya, menikmati aroma parfum Valdo yang begitu khas untuknya.


"Aku bakal nunggu hari itu datang" Valdo membalas pelukan Velyn, ia mengecup puncak kepala wanita itu seraya tersenyum senang.


Dari kejauhan seorang pria menatap kemesraan mereka, pria itu hanya mampu menyentuh dadanya yang amat sakit melihat pemandangan yang seharusnya umum ia lihat. Namun, sukar bagi Adrian menerimanya karena hatinya begitu terluka.


"Semoga bahagia Lyn, meskipun kamu nggak tau betapa sakitnya hatiku ketika liat kamu mesra sama suami kamu sendiri" bagi Adrian, cukuplah dirinya yang tau tentang perasaannya. Ia tak mau siapapun tau tentang perasaan yang tak seharusnya dimiliki olehnya. Adrian juga sadar, ia tak mungkin bisa membahagiakan wanita itu. Adrian memang tak pantas mendapatkan wanita baik-baik, ia sudah rusak dari awal dan tak ingin memiliki cinta sejati. Baginya dengan mencintai dalam diam sudah cukup, tak perduli yang ia cintai berbalik mencintainya atau tidak.


***


"Mama... papa....!" suara kecil itu datang dari dalam rumah setelah Velyn dan Valdo melangkah melalui ambang pintu. Mereka bahkan disambut riang oleh sang putra yang membuat hati keduanya tambah bahagia.


Velyn tersenyum kearah Nino yang kini merentangkan kedua tangannya, begitupun dengan Velyn yang menyambut kedua tangan tersebut lalu memeluknya dengan erat. Entah mengapa melihat Velyn dan Nino seperti ini membuat hati Valdo menjadi semakin sejuk. Namun disisi lain, ia masih begitu menyesal akan perbuatannya dulu, sebelum ia benar-benar jatuh cinta pada wanita yang kini memeluk anaknya.


Rasanya meskipun Velyn sudah memaafkannya, namun rasa bersalah itu masih saja menghantui pikirannya. Apalagi sempat terjadi kesalahpahaman yang membuat hati Velyn pasti tambah tersiksa. Valdo kini mulai ikut membungkuk, ia mengusap kepala Nino seraya tersenyum pada Velyn.


"Mama, papa, Nio pengen cekolah. Nio pengen kaya Ladit, punya temen banyak"


"Oh ya, Radit yang tetangga kita itu? memangnya Nino tau darimana kalau dia udah sekolah?" tanya Velyn yang kini mulai menanggapi ocehan dari sang putra.


"Tadi Ladit kecini ma, Ladit celita cendili. Ayo ma, pa, Nio juga pengen cekolah. Boleh ya?" mata menggemaskan itu bahkan membuat hati Velyn tak dapat menolak keinginan sang anak. Velyn menoleh Valdo yang ada dibelakangnya, ia mengisyaratkan sesuatu lewat matanya. Ia tau, meskipun Velyn bukanlah ibu kandung Nino, tapi ia sangat menyayangi anak itu.


"Oke, besok kita berangkat ke sekolah Radit sama-sama ya, tapi ingat pesan papa. Jangan nakal disekolah" binar mata Nino yang amat bahagia membuat senyum Velyn mengembang.

__ADS_1


"Asyik! akhilnya Nio cekolah juga"


__ADS_2