Velyn Love

Velyn Love
Masih terasa


__ADS_3

Setelah kejadian tadi pagi, Santi berinisiatif untuk membawa Velyn ke rumah sakit. Untung saja ia tepat waktu membawa Velyn, jika tidak entah apa yang akan terjadi pada majikannya. Velyn yang masih ditangani oleh dokter begitu terlihat lemas dan begitu pucat. Santi bahkan tidak tega melihat Velyn yang hanya bisa terdiam tanpa ekspresi. Mungkin wanita itu terlalu berat memikirkan berbagai masalahnya, belum lagi ayahnya yang masih dirawat dan belum mendapatkan kabar sampai sekarang.


"Mbak Santi!" panggil Velyn saat ia keluar dari ruangan tersebut, hal itu membuat Santi sedikit terkejut namun juga lega karena Velyn akhirnya baik-baik saja.


"Alhamdulillah, nyonya baik-baik aja"


"Maaf saya bikin mbak Santi khawatir" senyum tipis Velyn terulas di bibirnya yang masih terlihat amat pucat. Mungkin karena kehilangan banyak darah membuat wanita itu lemah seperti saat ini.


"Nggak apa-apa kok Nyonya, saya lega nyonya Velyn nggak apa-apa" Velyn kemudian beralih untuk melangkah dan mengajak Santi untuk pulang. Hari ini Velyn tidak jadi untuk berangkat ke kampus, ia mengubah rencananya untuk masak saja dirumah.


Bahan-bahan cupcakes yang sudah dipersiapkan oleh Santi kini siap di olah oleh Velyn. Lagipula tidak ada yang bisa dikerjakan lagi olehnya selain memasak. Velyn memulai untuk memakai celemek, ia kemudian segera mencampur tepung dan telur serta mentega yang sudah dicairkan.


Meskipun Santi beberapa kali melarang Velyn untuk beraktivitas dan menyuruhnya untuk istirahat saja namun Velyn tetap gigih dengan pergelangan tangannya yang masih di perban itu. Velyn akan melakukan kegiatan agar ia tidak bosan serta sedikit demi sedikit melupakan masalahnya.


Setelah semua bahan tercampur rata kini Velyn siap memasukkannya ke dalam cetakan lalu memasukkannya kedalam oven. Santi yang melihatnya dari jauh hanya bisa mengawasi Velyn, ia takut Velyn akan melakukan suatu hal yang membahayakannya lagi.


Velyn tersenyum setelah adonannya masuk semua kedalam oven. Rasanya sudah lama sekali ia tidak membuat kue seperti ini. Biasanya ia sibuk dengan tugasnya dan melayani Valdo. Tapi kali ini Velyn melepaskan semuanya, ia melupakan bebannya untuk sementara. Setidaknya Velyn tidak merasa sedih lagi.


"Ada yang bisa saya bantu Nyonya?" tanya Santi yang terlihat tidak enak hati membiarkan Velyn bekerja sendiri.


"Nggak perlu mbak Santi, kan tadi saya bilang mbak Santi istirahat aja, saya bisa sendiri kok"


"Tapi nyonya-"


"Mbak Santi nggak usah takut saya bakal ngelakuin yang aneh-aneh, saya nggak akan kaya tadi pagi kok" seolah mengerti apa yang Santi pikirkan, kini Santi sedikit merasa lebih lega. Velyn juga tidak mau melakukan hal bodoh seperti tadi pagi. Bagaimanapun Valdo juga tidak akan datang, namun Velyn merasa sedikit tenang ketika semalam ia bermimpi tentang pria itu.


Velyn beralih duduk di kursi makan, ia menyangga dagunya dengan sebelah tangan. Pikiran Valdo melayang, ia benar-benar kesepian saat ini. Semenjak kejadian waktu itu, Valdo benar-benar tidak pernah mau mengangkat telponnya. Padahal sejujurnya Velyn ingin mendapat sedikit kabar darinya.


Setelah suara denting oven berbunyi, Velyn kemudian bangkit dan mengecek kuenya yang ternyata telah mengembang dengan sempurna. Cupcakes rasa coklat kesukaannya dan Rega. Velyn segera menaruh cupcakes tersebut di meja makan, ia kemudian menghias sebagian cupcakes dengan springkles, dan sebagian lagi menggunakan choco chips.


Velyn ingat ketika ia hendak membawakan cupcakes untuk Rega, dan saat itu ada Valdo yang menjemputnya atas permintaan dari papa. Setelah Velyn menyuguhkan lima potong cupcakes itu, Valdo menghabiskan semuanya dan menyisakan satu. Velyn terkekeh mengingat kejadian itu. Kalau diingat Valdo waktu itu masih begitu dingin terhadapnya. Bahkan Velyn sempat ketakutan ketika menghadapi lelaki itu. Tapi dibandingkan sekarang keadaannya jauh berbeda dengan yang dulu. Valdo bahkan dengan terang-terangan meminta perhatian lebih dan manja terhadapnya.


Tanpa sengaja Velyn menatap jemari manisnya yang tersemat cincin pernikahan mereka. Rasa rindu itu kembali menyelimuti, dibandingkan dengan perasaannya bukankah perasaan Valdo lebih terluka ketika mengetahui kebenaran bahwa istrinya sendiri telah sengaja merencanakan suatu kehancuran dalam kebahagiaannya.


Velyn menghela nafas, ia menata cupcakes yang sudah jadi itu kedalam sebuah kotak mika transparan. Tampak cantik dan menarik, jika saja Valdo dan Nino ada disini, pasti mereka akan berebut kue yang dibuat olehnya itu.


Tiba-tiba saja Velyn terpikirkan sesuatu, ia tersenyum seraya segera mengambil tasnya dengan membawa beberapa cupcakes yang telah ia buat. Namun sayangnya ia terlalu terburu-buru hingga membuat lukanya terbuka. Velyn meringis kesakitan, ia buru-buru menutup luka tersebut seadanya. Lagipula tidak ada waktu lagi, waktu istirahat Valdo pasti akan segera berakhir jika wanita itu tidak segera bergegas ke kantor.


Setelah beberapa saat perjalanan dari rumah sampai kantor Velyn akhirnya sampai juga ditempat tujuan. Wanita itu tersenyum lega, setelah seminggu berlalu ia tidak melihat wajah orang yang paling dia cintai, tapi kini saatnya ia melepaskan kerinduan itu.


Velyn hanya berharap semoga Valdo tidak menolaknya, ia berharap semoga pria itu mau diajak berdamai dan menjalani rutinitas sehari-hari seperti dulu. Semoga saja, dengan adanya cupcakes yang buat dengan penuh cinta dan susah payah itu membuahkan hasil manis di akhir. Bagi Velyn seminggu adalah waktu yang cukup lama untuk berpisah dari Valdo.


"Silahkan tunggu sebentar ya" Velyn mengangguk saat ia di persilahkan duduk oleh petugas administrasi. Wanita itupun menunggu dilobi seraya masih menjinjing tote bag miliknya.


"Velyn! kamu kesini? ada apa?" tanya Adrian tiba-tiba seraya menghampiri Velyn yang tengah duduk di ujung lobi.


Sejujurnya Velyn sudah berfikir keras tentang alasannya untuk bertemu dengan Valdo. Namun sedikitpun Velyn tidak menemukan alasan yang pas untuk bertemu dengan suaminya. Velyn enggan untuk mengaku jika dia istrinya, pasti orang-orang akan menertawakannya nanti jika ia tiba-tiba datang sebagai nyonya Valdo. Siapa juga yang akan percaya dengan wanita yang pernah magang di perusahaan tempat suaminya bekerja dan kini tiba-tiba datang mengaku sebagai istrinya.


"Eh Ian, aku pengen ngobrol sebentar sama kamu. Kamu ada waktu?" Adrian mengangguk seraya tersenyum pada temannya satu itu. Teman? bahkan Adrian sendiri tidak pernah tau apa status mereka sebenarnya.


"Kamu mau ngomong apa Lyn?" tanya Adrian pada Velyn yang sudah berada di kantor general manager. Velyn mengusap lembut kedua lututnya, ia kemudian menurunkan tote bag dari lengannya dan memberikan kotak berwarna biru untuk Adrian.


"Nih buat kamu?"


"Apaan nih?"


"Cupcakes" senyum Velyn mengembang saat Adrian tersenyum dan menatap kue itu dengan antusias. Namun Velyn masih berdiam dengan matanya yang melihat-lihat kantor Adrian yang berbeda dari sebelumnya.


"Makasih ya, pasti enak. Kamu bikin sendiri?" Velyn mengangguk seraya tersenyum pada pria tampan satu itu.


Padahal Velyn yakin sekali kantor general manager dan ada meja khusus untuk asistennya, lengkap dengan komputer dan perangkat lainnya. Tapi ketika masuk kedalam sini ruangan Adrian jadi terasa lebih luas dari sebelumnya.


"Yan?"


"Heum?"


"Kayanya kantor kamu jadi beda dari sebelumnya deh?" tiba-tiba saja Adrian yang meminum secangkir kopi mendadak menyemburkan minuman yang telah disesapnya itu dan tidak sengaja mengenai berkas-berkas dibawahnya.


"Aduh!"


"Kamu kenapa Yan? nggak apa-apa kan?" tanya Velyn yang segera bangkit dari duduknya melihat Adrian yang seperti panik karena pertanyaannya tadi. Adrian segera menyisihkan beberapa file penting di mejanya, ia menggeleng seraya tersenyum kikuk pada Velyn.


"Eh, kamu kesini ada urusan apa ya?" tanya Adrian yang mengalihkan pembicaraan mereka, membuat Velyn mengangkat sebelah alisnya.


"Sebenarnya...."


***

__ADS_1


Setelah suara dentingan lift terdengar kini Adrian membenahi jasnya. Velyn melirik pria disampingnya itu seraya mengikutinya melangkah dari belakang. Kalau dilihat-lihat Adrian tampan juga, pria yang hangat dan sudah menginjak dewasa, sangat disayangkan kalau pria ini belum juga menikah sampai sekarang.


"Velyn, aku antar sampai sini ya?" Velyn mengerjabkan matanya seraya terkejut saat Adrian tiba-tiba membalikkan tubuhnya seraya menatapnya dengan sebelah alis yang terangkat.


"Eh! i iya" Velyn amat malu sekali saat ia ketahuan mengamati Adrian dengan pandangan kagumnya. Velyn sudah menduga pasti Adrian peka, namun ia memilih diam daripada membuat! suasananya lebih canggung dari sebelumnya.


Velyn menggeleng seraya melupakan hal yang memalukan tadi. Ia beralih fokus pada tote bag yang ia bawa seraya melangkah pasti. Untungnya asisten Valdo yang berjaga diluar seperti biasanya tidak ada, jadi Velyn bisa dikatakan aman untuk menemui suaminya sendiri.


Senyum terulas di wajah Velyn, ia berharap akan diberikan kesempatan. Ia hanya ingin memperbaiki hubungan mereka, jika saja waktu bisa diulang kembali Velyn tidak akan mau menutupi apapun dari suaminya. Karena apapun yang disembunyikan dari sebuah hubungan, akan menjadi boomerang ketika salah satu pihak salah paham.


Velyn mengetuk pintu untuk waktu yang lama, namun tidak ada jawaban sama sekali. Namun setelah lima menit berlalu, tiba-tiba suara Valdo dati dalam sana terdengar memerintahkannya untuk masuk. Tak ambil pusing Velyn pun segera menekan gagang pintu seraya tersenyum pada pria yang kini masih fokus dengan pekerjaannya. Pria tampan dihadapan Velyn yang tengah memakai kacamata kerjanya. Velyn amat merindukan pria itu, pertengkaran mereka yang terjadi kemarin seolah mimpi baginya saat tatapan mereka bertemu.


Entah mengapa mata Velyn semakin berkaca saat Valdo tiba-tiba bangkit dan mendekat kearahnya. Velyn pun ikut mendekat, ia menyentuh jas Valdo dan mencoba untuk tersenyum seperti biasanya.


"Mas!"


"Kenapa kamu bisa ada disini? siapa yang biarin kamu masuk ha?" tangan Velyn yang tadinya menyentuh jas Valdo ditepis olehnya. Tanpa sengaja ia melihat perban yang menutupi pergelangan tangan Velyn. Namun Valdo menggeleng seraya mendorong Velyn untuk segera keluar dari kantornya.


"Mas aku cuma mau damai sama kamu, aku nggak mau kita berantem terus. Aku bahkan bikinin kamu-"


"Sstt! keluar sekarang" Velyn terdiam seribu kata saat Valdo dengan terang-terangan mengusirnya. Tenggorokan Velyn tercekat, hatinya amat perih dan luka disana terbuka kembali. Velyn hanya mampu menunduk saat Valdo mendorongnya keluar dari kantornya.


"Mas, ini-" sebelum Valdo menutup pintu Velyn sempat menyodorkan tote bag tersebut, namun jangankan menanggapinya, pintu itupun tertutup sempurna oleh Valdo yang tiba-tiba mengernyit seraya menatapnya tidak suka.


"Valdo! siapa sih?"


"Bukan siapa-siapa, cuma asisten aku aja tadi"


Suara seorang wanita yang diyakini oleh Velyn berada didalam sana. Suara itu terdengar samar-samar membuat Velyn terkejut, ia masih tak percaya jika Valdo seperti itu. Tangan Velyn bergerak hendak membuka pintu itu, ditambah air matanya yang mengalir entah dari kapan. Ia mencoba untuk tegar dan hendak memergoki mereka berdua.


"Kayaknya kamu emosi gitu? bentar aku bakal tegur dia kalau kerjanya enggak becus!" tiba-tiba saja ketika Lisa hendak mendekat kearah pintu Valdo menarik lengannya, ia mendekatkan bibirnya pada bibir Lisa. Dan disaat yang bersamaan, Velyn membuka pintu itu. Betapa terkejutnya ia melihat suaminya sendiri hendak melakukan sesuatu terhadap wanita lain. Wanita itu ia yakini adalah Lisa. Valdo pun ikut terkejut tatkala mendapat tatapan kecewa dari istrinya itu. Namun Velyn tak memperdulikannya, ia menutup pintu itu kembali dan berlari pergi dari sana.


"Loh Lyn? kok cepet banget?" Velyn berjalan cepat tanpa menghiraukan pertanyaan Adrian. Tangisannya pecah begitu ia mengingat kejadian tadi. Wanita mana yang tidak terluka ketika suaminya sendiri mencium wanita lain didepan matanya. Velyn terisak didalam lift, ia beberapa kali menyeka air matanya seraya memegang tote bag nya erat-erat.


Sedangkan Adrian yang merasa aneh dengan sikap Velyn kini menghela nafas sejenak. Ia segera pergi kearah kantor Valdo untuk melihat apa yang sebenarnya Velyn alami. Namun belum sempat ia bertanya pada sahabatnya, tiba-tiba saja ia terkejut bukan main saat Lisa memeluk tubuh Valdo.


Sekarang Adrian mengerti, ini semua pasti yang membuat Velyn sedih hingga pergi tanpa mengucapkan pamit padanya. Adrian benar-benar kecewa, sekarang yang ia pikirkan hanyalah Velyn. Bagaimana perasaannya, dan apakah ia akan baik-baik saja. Tanpa sengaja Adrian melihat tetesan darah dibawah lantai depan lift. Ia buru-buru memencet tombol lift dihadapannya namun tak kunjung terbuka, Adrian buru-buru berlari menuju tangga darurat, ia berlari dari lantai lima belas untuk menyusul Velyn yang kini entah bagaimana keadaannya.


Dengan panik setelah Adrian sudah sampai di lantai paling bawah, ia menatap halaman depan kantor. Ia tak menemukan seseorang pun disana, Adrian mengacak rambutnya. Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi membuat pria itu buru-buru mengangkat panggilan dengan wajah gelisah serta raut khawatir yang menyelimuti.


"Halo pak Ian, sekarang anda ditunggu klien"


"Tapi pak, anda sudah janji-"


"Batalkan atau saya pecat kamu!" kata Adrian lantang seraya mematikan ponselnya. Ia mencari keberadaan Velyn, Adrian berlari kearah jalan raya didepannya, kalau-kalau saja wanita itu masih berada disekitar sini.


Dan benar saja perkiraannya, wanita yang ia cari kini duduk di halte tak jauh dari tempatnya berdiri. Wanita yang menangis itu, entah mengapa membuat hati Adrian ikut sakit. Pria itu berjalan mendekat, semakin dekat bahkan isakan Velyn semakin terdengar jelas di indera pendengarannya.


"Velyn?" Velyn mengangkat pandangannya, melihat kesedihan Velyn yang seperti itu membuat hati Adrian terenyuh. Bahkan sebelumnya tangisan wanita itu tak pernah sepedih ini.


"Adrian!" Velyn kemudian memeluk tubuh Adrian, ia refleks melakukan itu karena begitu sedih dengan apa yang Valdo lakukan padanya.


"Udah, tenangin diri kamu dulu" Velyn mengangguk seraya melepaskan pelukannya dari tubuh Adrian.


***


Valdo menghela nafasnya beberapa kali saat ia mengemudi dengan kecepatan sedang membelah jalanan ibukota. Pikirannya melayang memikirkan kejadian siang tadi yang membuat hatinya resah sampai saat ini. Padahal bukan niatnya untuk mengusir Velyn dari kantornya siang tadi, hanya saja akan menimbulkan masalah jika Lisa tau akan keberadaannya.


Walau bagaimanapun Valdo sudah berjanji untuk tidak akan meninggalkan Lisa. Tapi melihat Velyn yang menangis karena perbuatannya sungguh membuat hatinya terluka. Valdo bahkan tidak bisa tenang memikirkan bagaimana keadaan Velyn saat ini, bahkan luka ditangan Velyn seperti menjadi bayang-bayang gelap dalam hatinya.


Setelah kemarin malam ia datang kembali untuk pulang mengambil beberapa bajunya, ia tak sengaja melihat Velyn memegang silet dan hendak menyayat pergelangan tangannya. Disaat itulah Valdo menyadari pasti beban Velyn begitu berat menjalani hari-hari tanpa dirinya. Velyn yang Valdo kenal tidak serapuh itu, Valdo ikut sakit melihat Velyn menangis dalam pelukannya. Bahkan Valdo sempat membawanya ke atas ranjang seraya memeluk tubuh wanita itu dengan lembut sebelum ia pergi.


Namun siapa sangka jika Velyn akan meneruskan apa yang tidak masuk akal untuk dirinya sendiri. Wajahnya bahkan terlihat pucat dan tubuhnya terlihat semakin kurus saja.


Saat ini Valdo mengalami dilema besar, seperti buah simalakama yang datang secara tiba-tiba. Keyakinan hati untuk memantapkan diri pada seorang Velyn tiba-tiba goyah dalam suatu kebenaran yang membuatnya kecewa. Entah mengapa, kini bahkan Valdo mulai berpikir untuk berdamai dengan masa lalunya. Toh, ia juga pernah melakukan hal yang membuat Velyn sengsara.


Tapi jika itu terjadi, akankah Valdo akan menceraikan Velyn? atau malah mempertahankannya seerat mungkin. Valdo benar-benar tidak bisa memutuskan secara sepihak siapa yang akan dia pilih. Yang ia yakini pasti Velyn masih ada dalam hatinya sampai detik ini. Sedangkan ia sudah terlanjur mengucap janji pada sang istri.


"Do, kamu mikirin apa? kok dari tadi ngelamun mulu" tanya Lisa tiba-tiba memecah keheningan. Valdo menggeleng seraya mengerjabkan matanya beberapa kali. Pikirannya kalut oleh masalah yang terjadi. Walau bagaimanapun ia juga tidak akan mendua, ia takut tidak adil dalam membagi cinta.


"Enggak, bukan apa-apa kok"


"Kamu yakin? kok muka kamu keliatan pucat gitu? kamu sakit ya?"


"Aku nggak sakit, cuma kecapekan aja" elaknya dengan halus seraya tersenyum pada sang istri.


"Terus... kita jadi makan malam kan? ini kan malam Minggu" Valdo menyentuh pangkal hidungnya yang mancung itu seraya berpikir. Rasanya tidak tepat sekali ketika membawa pikirannya yang kacau untuk makan malam.

__ADS_1


"Lain kali aja ya Lis, aku lagi nggak mood nih. Aku capek"


"Tapi kan ini malam Minggu Do, kamu udah janji kan bakal bawa aku jalan-jalan tiap malam Minggu. Kamu juga bilang bakal buka hati kamu lagi buat aku"


"Lis! kamu bisa nggak sih ngertiin aku. Coba kamu itu kaya Velyn, kamu itu nggak bisa ya nggak mengedepankan ego kamu!" bentak Valdo dengan suara lantangnya membuat Lisa menghela nafas seraya menatap Valdo dengan mata yang berkaca.


"Aku emang nggak sama kaya Velyn kamu Do, aku bukan Velyn yang terbaik kamu itu!. Aku Lisa!. Kamu bisa nggak sih nggak usah ngebandingin aku sama dia?! sakit!" bentak Lisa tak kalah emosi. Mendengar ucapan Lisa barusan membuat Valdo merasa amat bersalah. Bagaimana bisa ia dengan sengaja menyebutkan nama Velyn dihadapan istrinya, bahkan sampai membanding-bandingkannya dengan Velyn.


Valdo hanya terlalu kalut saja, ia terlalu memikirkan masalahnya yang tak kunjung mencapai solusi yang tepat dan terbaik untuk diselesaikan.


"Maafin aku Lis, aku tau aku salah. Kalo itu yang kamu mau, kita jalan-jalan sekarang"


"Udah nggak usah, aku mau pulang aja! aku udah terlanjur sakit hati"


"Lisa jangan gitu dong, aku cuma banyak pikiran aja tadi. Kita jalan-jalan ya?" Lisa hanya mampu memutar bola matanya kesal tanpa memandang Valdo. Terlihat jelas jika ia amat marah dengan apa yang Valdo katakan tadi.


***


"Sebenarnya tangan kamu kenapa Lyn? kok sampai luka kaya gini?" tanya Adrian yang tengah berlutut seraya membalut luka Velyn yang terbuka. Namun bukan mendapatkan jawaban kini Velyn malah terlihat makin terdiam dengan matanya yang berkaca-kaca.


Meskipun Velyn hanya membisu, tapi bukan berarti Adrian tidak peka. Semua kelemahan yang Velyn alami tidak lain dan tidak bukan pasti berhubungan dengan suaminya. Dilihat dari apa yang Velyn rasakan, pasti masalah yang ia hadapi begitu berat.


"Makasih ya" ucap Velyn setelah pergelangan tangannya sudah dibalut sempurna oleh lelaki yang kini mengangguk dan mengambil duduk disampingnya.


"Nih, pakek" kata Adrian seraya menyodorkan sapu tangan pada wanita yang kini menatapnya dengan nanar.


"Kali ini nggak perlu dibalikin lagi lo, aku nggak semiskin itu buat kehilangan sapu tangan, apalagi kalau bermanfaat buat hapus air mata kamu" Velyn memanyunkan bibirnya seraya menyeka air matanya dengan sapu tangan dari pria yang duduk disampingnya.


"Thanks ya Yan"


"Heum" suasana mendadak hening, dengan Velyn yang berkelut pada pikirannya sendiri, sedangkan Adrian yang berpikir keras untuk memulai pembicaraan agar suasananya mencair.


Adrian juga tidak ingin membahas masalah Velyn, lebih baik baginya untuk menghindari pertanyaan maupun perbincangan itu. Ia takut jika Velyn semakin sedih nantinya.


"Lyn"


"Iya?"


"Kamu tau nggak gimana caranya masukin gajah kedalam kulkas?" Velyn menaikkan sebelah alisnya, ia menggeleng seraya bergumam.


"Gajah? masuk kulkas, ya nggak bisa lah"


"Bisa kok"


"Caranya?"


"Nih ya, aku kasih tau. Pertama-tama buka kulkasnya terus masukin gajahnya" Velyn menggeleng seraya mengerutkan keningnya. Ia semakin tak mengerti dengan apa yang dikatakan Adrian barusan.


"Mana bisa, gajah kan gede"


"Emang aku bilang ukuran gajahnya segede apa?" Velyn terkekeh mendengar gurauan dari Adrian, ia memukul pelan pundak pria itu membuat Adrian ikut tertawa karena keadaan sudah mulai mencair.


"Dasar kamu ya!"


"Nah gitu dong senyum" Velyn kini mulai tersenyum kembali, meskipun rasa sedihnya tidak mudah hilang begitu saja, namun dengan adanya Adrian disisinya ia jadi merasa lebih tenang daripada sebelumnya.


"Makasih ya Yan"


"Buat?"


"Karena kamu yang ada buat aku, aku jadi lupa sama masalah aku" Adrian mengangguk, ia amat bersyukur jika itu menjadi hiburan bagi Velyn ketika ia dilandasi masalah dalam pernikahannya.


Meskipun Adrian menyimpan rasa pada Velyn, namun tidak mudah baginya untuk menyimpan perasaan itu sendiri. Apalagi Velyn sudah berkeluarga dengan sahabatnya sendiri, Adrian tidak berhak untuk mengambil kesempatan itu walaupun ia mau.


Sebaliknya, ia bahkan merasa tidak pantas jika bersanding dengan wanita sempurna seperti Velyn. Wanita yang begitu baik hati dan selalu ceria, tidak pantas dengan dirinya yang selalu bermain perempuan di clun malam untuk menemaninya.


"Yan, ini buat kamu" Velyn menyodorkan kotak mika transparan yang tercetak jelas cupcakes didalamnya. Ia tersenyum seraya menerima kue pemberian Velyn itu. Mungkin Velyn hendak memberikannya pada Valdo, tapi karena hal itu tidak memungkinkan untuk dilakukannya maka ia menarik kembali keinginannya itu.


"Kan tadi udah?"


"Imbalan buat kamu karena kamu udah mau hibur aku" Adrian mengangguk, ia kemudian membuka kotak mika tersebut dan menatap lamat-lamat cupcake yang berada ditangan. Cupcakes berwarna coklat dengan springkles diatasnya, benar-benar manis, semanis pembuatnya.


"Pasti enak"


"Makanya cobain!" perintah Velyn seraya menyuapi Adrian yang masih membeku menatap!


Velyn yang tersenyum kearahnya. Adrian tersenyum dan segera menelan cupcakes itu dengan sekali kunyah. Begitu enak meskipun kenyataannya Adrian tidak pernah menyukai makanan manis sebelumnya, apalagi rasa coklat.

__ADS_1


Kehidupannya terlalu pahit untuk merasakan kehangatan, ia lebih suka meminum arak dan sampanye yang menemani malam minggunya setiap saat. Tapi berbeda dengan sore ini, langit senja berwarna jingga seolah menjadi saksi ketika Adrian mulai menyukai makanan manis setelah sekian lama.


"Gimana? enak nggak?" Adrian mengangguk seraya tersenyum. Senyum tulus nan bahagia yang sudah lama tidak pernah ia rasakan. Senyum yang tidak hanya ketika ia mendapatkan kepuasan dan juga kemenangan, tapi ini tentang kebahagiaan.


__ADS_2