
Jantung Velyn berdetak tak karuan, bagaimana tidak, ini pertama kali dalam seumur hidupnya dirinya menabrak seseorang. Meskipun dirinya bukanlah pelaku utama, tapi rasanya sangat takut sekali membayangkan bagaimana konsekuensinya nanti.
"Tenang ya Lyn, papa udah hubungi asisten kepercayaan papa, sebentar lagi pasti datang kok" ujar Gaisan yang kini tengah menunggu seseorang untuk datang dimana tempat kejadian perkara. Sebelumnya Gaisan ingin mengajak Velyn pergi saja, ia hanya takut nantinya seseorang memergoki mereka dan Velyn juga ikut terkena imbasnya.
Namun karena jalanan cukup sepi, dan malam semakin larut, untungnya semua aman terkendali. Velyn sebenarnya tak tega, ia ingin segera membawa wanita itu kerumah sakit saja, wanita yang kini terkapar dengan tubuhnya yang bersimbah darah dan tidak sadarkan diri. Tapi karena permintaan mertuanya, ia juga takut dan memilih untuk menurut saja.
Lima menit berlalu, akhirnya seseorang yang dipanggil Gaisan muncul juga. Pria itu buru-buru turun dari mobil termasuk Gaisan yang kini segera menghampiri pria berjaket kulit yang kini menggendong wanita itu ala bridal style.
Entah apa yang mereka katakan saat ini, namun Velyn benar-benar ketakutan di dalam mobil. Melihat wanita itu bersimbah darah di area kepalanya membuat Velyn berfikir kesana kemari.
Setelah mereka selesai berbincang, Gaisan buru-buru naik ke mobil lagi. Ia segera menyalakan mobilnya dan menancap gas dengan kencang.
"Jangan khawatir Lyn, dia cuma pingsan aja, kamu nggak usah mikirin hal ini. Ini semua juga salah papa, kamu nggak ada sangkut pautnya sama kecelakaan ini" ujar Gaisan yang kini mencoba menenangkan Velyn. Tampaknya Gaisan memang mengerti situasi Velyn saat ini, bisa dilihat dari tangannya yang bergetar dan wajahnya yang pucat pasi. Sangat bisa ditebak jika Velyn benar-benar ketakutan.
"Tapi om-"
"Eh! Kamu kan udah jadi menantu saya kok masih panggil om sih, panggil papa dong" seru Gaisan membuat Velyn agak tenang, meskipun tidak bisa menghentikan perasaannya yang bercampur aduk saat ini.
"Udah, nggak usah difikirin, besok papa bakal urus semuanya. Papa bakal jenguk dia, dan ngasih ganti rugi, sekalian ngucapin minta maaf. Papa yang bakal tanggungjawab semuanya, kamu nggak usah ikut-ikutan. Oh ya, jangan kasih tau Valdo ya Lyn, papa takut kalau dia khawatir nantinya" Velyn membulatkan matanya menatap Gaisan. Rasanya ia kini mulai lega karena jaminan dari Gaisan yang mengatakan demikian tadi. Velyn tersenyum tipis, lagipula apa yang dikatakan Gaisan juga tidak salah.
Orang tadi yang berlari ketengah jalan sendiri, bukan mereka yang menabraknya. Tapi jika diingat-ingat lagi, kasihan juga wanita itu. Velyn merasa tak tega, walau bagaimanapun ia juga adalah saksi dalam peristiwa tersebut.
__ADS_1
"Pa, boleh nggak kalo besok Velyn ikut papa kerumah sakit buat jenguk dia. Velyn juga khawatir"
"Nggak perlu Lyn, papa bakal panggil polisi juga buat menyelesaikan masalah ini. Papa nggak mau kamu terlibat, di tempat peristiwa tadi pasti ada cctv-nya. Daripada nanti ada apa-apa lebih baik papa nyerahin diri ke polisi dan ngasih tau semuanya. Tenang aja, ada bukti kok, papa nggak bakalan kenapa-kenapa" perkataan Gaisan membuat Velyn tenang. Ia merasa lega karena semuanya sudah ditangani oleh Gaisan. Tapi tetap saja ia belum tau bagaimana keadaan wanita itu.
"Iya pa, tapi aku juga pengen tau kabar dia besok papa jangan lupa kabari aku ya" ucap Velyn pada papa mertuanya itu yang kini menyunggingkan senyum ramah dan menenangkan Velyn.
***
Setelah sampai di rumah besar milik Valdo kini Gaisan membantu menantunya menurunkan koper besar yang berada di bagasi.
"Makasih pa, biar Velyn aja yang bawa kedalam. Oh ya kak Valdo mana?" tanya Velyn sekali lagi membuat Gaisan menuntun Velyn untuk masuk. Namun lagi-lagi perasaan Velyn benar-benar tidak enak.
Belum sempat Velyn berhenti dari langkahnya tiba-tiba saja Valdo kini melangkah dari lantai atas dengan pandangan datar. ia menatap sang ayah dan Velyn bergantian dan mengabaikannya begitu saja hendak kembali.
"Valdo! kamu mau kemana? bantuin istri kamu buat bawa barangnya" perintah Gaisan membuat Valdo berhenti dan akhirnya menghela nafas seraya melangkah untuk turun.
Entah mengapa Velyn merasa atmosfer di dalam rumah ini berubah seketika saat melihat raut wajah Valdo yang terlihat berbeda. Ada aura kebencian pada matanya, ditambah lagi kini pakaian Valdo terlihat lusuh, hanya memakai kemeja putih dan celana panjang yang ia kenakan pada waktu akad tadi.
Hati Velyn benar-benar tidak nyaman, ia ingat akan pandangan mata ini yang pernah menjurus padanya pada saat dirinya menggendong Nino sewaktu di taman. Kini pandangan itu kembali lagi, seolah mengunci Velyn dan membuatnya seperti terancam.
"Ayo, ikut aku" kata Valdo yang kini membawa koper Velyn untuk naik keatas. Velyn mengangkat pandangannya, ia beralih menatap Gaisan yang kini tersenyum padanya.
__ADS_1
"Kamu yang kerasan ya disini, mungkin Valdo lagi kecapean aja" tutur Gaisan membuat Velyn mengangguk lemah seraya mengekor pada Valdo yang kini melangkah keatas.
Setelah itu Gaisan kemudian melangkah keluar dengan helaan nafas beratnya. Ia hanya berharap semoga Valdo tidak melakukan hal apapun terhadap Velyn mengingat masalah hari ini yang membuatnya juga agak terkejut.
Setelah sampai di kamar, Valdo meletakkan koper Velyn begitu saja seraya duduk di tepi ranjang berhiaskan kelopak bunga mawar yang membentuk hati ditengahnya.
Velyn masuk, ia sempat tertegun dengan kamar Valdo yang begitu besar. Ia juga terkagum-kagum akan interior kamar ini yang begitu mewah. Tapi rasa kagumnya kini seolah hilang begitu saja kala Valdo menatapnya tajam.
"Kak sebenarnya-"
"Mandi dulu aja, aku ada urusan bentar. Tuh kamar mandinya" tunjuk Valdo pada kamar mandi dibelakangnya membuat Velyn menghentikan perkataannya dan seketika mengangguk.
Valdo kemudian bangkit, ia keluar dari kamarnya seraya membanting pintu cukup keras membuat Velyn tersentak. Hati Velyn begitu sakit, ia kemudian masuk kedalam kamar mandi dengan langkah lunglainya.
Begitu banyak peristiwa yang ia alami di hari bahagianya. Velyn menatap dirinya didepan cermin kamar mandi yang memantulkan wajahnya yang kini tampak pucat dengan bibirnya yang sedikit membiru. Ia ingat betapa hari ini begitu menyakitkan untuknya, belum lagi kenyataan laporan medis yang membuat Velyn tambah terpukul.
Velyn menyentuh hidungnya yang kini meneteskan darah segar dari sana. Ia menyalakan air dari kran wastafel dibawahnya seraya membersihkannya secepat mungkin.
Velyn memerosotkan tubuhnya diatas lantai. Ia menatap langit-langit kamar mandi seraya memegangi kepalanya yang begitu pening.
"Maafin aku kak, aku datang dengan ketidaksempurnaan ku. Aku takut kak Valdo akan benci sama aku lagi kaya dulu" tangis Velyn pecah bersamaan dengan darah segar yang masih mengalir dari dalam lubang hidungnya.
__ADS_1