Velyn Love

Velyn Love
Masalah serius


__ADS_3

Brakkkk


Suara keras gebrakan dari meja ruang dosen membuat seisi ruangan senyap tanpa bersuara. Begitupun pimpinan universitas yang kini sudah dihadang oleh Valdo. Setelah Velyn masih saja tidak sadarkan diri dan malah masuk ruang ICU kesabaran Valdo sudah hilang begitu saja. Ia menatap setiap dosen yang hanya bisa menunduk seraya tak berani menatap pandangan dari Valdo yang kini tiba-tiba datang dan marah-marah terhadap mereka.


Bagaimana tidak marah kalau istri dari penyumbang besar di kampus ini diperlakukan secara tidak baik. Kepala rektor saja bahkan tidak mau mengambil resiko jika Valdo mencabut aliran dana dari perusahaannya untuk kampus ini.


"Saya tidak mau tau, tidak ada yang boleh memperlakukan istri saya seperti ini! saya tidak terima ya! kalian boleh menyamaratakan dia dengan mahasiswa lain, tapi apa yang sudah dialami istri saya, tidak akan pernah saya maafkan!" kata Valdo menggebu seraya masih menatap tajam kepala rektor yang kini menghela nafasnya seraya berdehem dan ikut bangkit menenangkan Valdo yang sudah dimakan emosi.


"Tolong duduk sebentar pak Valdo, kita bisa bicarakan baik-baik" Valdo kemudian menurut, ia menelisik setiap mata para dosen termasuk Andra yang kini duduk diujung seraya terdiam dan ikut berselisih melalui tatapan tajamnya.


Yang Andra pikirkan saat ini adalah bagaimana keadaan Velyn dan mengapa hal itu bisa sampai terjadi. Jika saja Andra melihat Velyn duluan di toilet, maka ia juga akan melakukan hal yang sama. Sejujurnya ia juga terkejut melihat Valdo tiba-tiba datang, bahkan ia juga tak menyangka jika pria licik ini ternyata adalah salah satu penyumbang dana terbesar di universitas ini.


"Apa yang akan pak rektor lakukan untuk mempertanggungjawabkan kejadian ini? apa kalian tidak punya peraturan?"

__ADS_1


"Sabar dulu pak Valdo, kami masih akan mempertimbangkan, soal para mahasiswa yang membully istri anda, kami akan memberikan mereka pelajaran" Valdo menatap tajam kepala rektor itu, pria yang kira-kira seumuran dengan papanya, namun Valdo bisa hilang hormat jika kesabarannya sampai habis seperti sekarang ini.


"Istri saya hampir meninggal pak! dan kalian masih mau mempertimbangkan? mempertimbangkan apa ha?! saya tidak mau tau, DO semua mahasiswa yang telah menyakiti istri saya, dan sekalian usut tuntas permasalahan ini! kalau tidak, bukan hanya kehilangan dana, tapi hukum yang akan berbicara" mata semua dosen beserta kepala rektor itu pun membelalak dibuatnya. Valdo benar-benar nekat kali ini. Demi istri yang paling dia cintai, ia sampai melakukan hal yang seekstrem itu.


Sebenarnya kepala rektor dan sebagian dosen sudah mengetahui akar permasalahannya. Itu semua karena gosip yang beredar soal pernikahan Andra yang menyebabkan mahasiswa tidak terima. Namun sayangnya, melihat reaksi Valdo yang begitu termakan amarah, mereka tak berani menyinggung Andra yang memang menjadi salah satu bagian didalamnya. Bisa-bisa bukan hanya mahasiswa saja yang terlibat, tapi kampus juga akan terseret masalah ini nantinya.


"Baiklah pak, sesuai yang anda minta, kami akan mengeluarkan mahasiswa yang telah membully istri bapak. Mohon tunggu informasi dari kami, besok saya jamin, dengan adanya barang bukti mereka pasti tidak akan masuk kuliah lagi mulai besok" kata kepala rektor membuat Valdo bangkit dan tersenyum sinis.


"Saya harap bapak tidak hanya bicara saja, saya tunggu kabarnya" ujar Valdo seraya melangkah pergi dengan tatapan menakutkannya membuat seisi ruangan hanya bisa terdiam seraya menghela nafas mereka masing-masing.


Velyn menggeliat saat ia merasakan cahaya putih menerpa matanya. Gadis itu kini perlahan membuka matanya seraya menelisik seisi ruangan yang dipenuhi bau obat-obatan, tak lupa ia juga ternyata dipakaikan selang oksigen yang melingkar di lubang hidungnya.


Velyn melirik pria yang kini terlihat tertidur disebelahnya, pria yang duduk disamping bangsal sambil memegang erat jemarinya yang telah diberikan infus dipunggung tangannya. Velyn tersenyum, ia mengingat kembali kejadian pahit yang ia alami saat sebelum dirinya terjatuh dan tak sadarkan diri.

__ADS_1


Apakah Valdo yang menolongnya? Velyn mencoba untuk menyentuh pucuk rambut Valdo yang terlihat begitu hitam legam. Pria yang benar-benar ia cintai ini apakah sekarang benar-benar mencintainya?. Sudah seminggu berlalu, namun Velyn masih saja tidak percaya. Bayangannya begitu sulit untuk menemukan kebahagiaan yang mana itu berada didepan matanya.


"Sayang, udah bangun ya? gimana keadaan kamu? ada yang sakit? kamu butuh apa?" tanya Valdo saat menyadari Velyn ternyata sudah siuman dan terlihat tersenyum padanya. Velyn menggeleng, ia tersenyum seraya menatap Valdo yang kini begitu khawatir padanya.


"Kenapa aku bisa sampai disini kak?" tanya Velyn dengan lemah membuat Valdo mengacak rambutnya dan kini mengecup punggung tangan gadis itu dengan lembut.


"Waktu kita telfonan tadi siang aku khawatir sama suara kamu dan tiba-tiba ponsel kamu mati. Aku langsung ninggalin kerjaan aku buat liat keadaan kamu di kampus" Valdo menceritakan kejadian tadi dengan matanya yang begitu teduh, amarahnya seperti tak terelakkan kala mengingat kejadian nahas yang hampir mencelakai hidup Velyn.


"Aku nggak akan biarin kamu disakiti Velyn, aku bakal hukum setiap orang yang udah tega buat nyakitin kamu" Velyn membeku dibuatnya, ia kini hendak bangkit dan dibantu oleh Valdo yang mengangkat tubuhnya, membantu Velyn untuk berubah posisi.


"Velyn, kamu-" belum sempat Valdo menyelesaikan perkataannya tiba-tiba dengan air mata yang mengalir gadis itu memeluk erat tubuh Valdo. Ia benar-benar tak berdaya saat kejadian itu, ia dituduh, semua orang mencelanya. Namun hanya Valdo yang berani datang dan menyelamatkannya. Kalau saja Valdo tidak bergerak cepat, entah bagaimana nadib Velyn nantinya. Diguyur air es dan dikurung didalam toilet.


"Makasih kak Valdo, aku bener-bener takut. Aku-" Valdo mengelus punggung Velyn, memberikannya kenyamanan serta mengecup punggungnya yang kini terlapisi baju rumah sakit.

__ADS_1


"Sayang, aku ada disini kok, aku ada buat kamu. Kamu tenang ya, mulai sekarang nggak akan ada yang bisa nyakitin kamu lagi" Velyn mengangguk, perlahan ia melepaskan pelukannya dari Valdo dan menunduk. Valdo yang mengerti akan hal itu menghapus jejak air mata Velyn. Tangannya yang masih bergetar itu digenggamnya dengan erat seraya mengecup keningnya.


"Aku sayang sama kamu Lyn" Velyn hanya bisa menunduk seraya membuang muka. Ia melirik Valdo yang terlihat amat tulus dengan senyum diwajahnya. Jantung Velyn berdetak tak karuan melihat senyum itu, rasanya ia begitu nyaman diperlakukan lembut oleh Valdo.


__ADS_2