
Wajah Valdo terlihat ditekuk sedari pagi tadi. Sedangkan Velyn hanya mampu menahan tawanya agar tidak kelepasan begitu saja. Padahal Valdo memang sedang ingin, sudah seminggu lamanya mereka tidak melakukan itu, karena tugas Velyn yang selalu menumpuk.
Sedangkan ketika kesempatannya tiba, ia malah harus kecewa dengan kedatangan tamu yang tak di undang. Pantas saja beberapa hari ini Velyn selalu terlihat emosi. Ternyata itu adalah sebuah tanda-tanda.
Valdo menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang tinggi universitas Velyn yang baru. Ia menoleh kearah istrinya yang kini meliriknya dengan tawa yang ia tahan sedari tadi.
"Ngapain kamu senyum-senyum kaya gitu? Velyn menggeleng, ia kemudian beralih mendekat kearah Valdo dan mengecup pipinya sekilas.
"Kamu lucu deh kalo lagi ngambek" kata Velyn dengan senyuman penuh kemenangan membuat Valdo tambah kesal saja. Namun bukan Velyn namanya jika tidak membalas perbuatan Valdo yang selalu berbuat jahil padanya.
Velyn memeluk lengan suaminya, ia menggesekkan dadanya di lengan Valdo.
"Mas, sabar ya, nanti kalau aku udah bersih aku janji deh bakalan nebus utang aku" bisik Velyn dengan menggoda seraya mengelus-elus dada bidang Valdo yang tertutupi jas kantornya.
Valdo benar-benar tidak tahan lagi, andai saja Velyn tau. Kalau hari ini ia tidak datang bulan, maka Valdo pasti akan membawanya ke hotel saat ini juga. Pasalnya adiknya benar-benar cepat bereaksi saat Velyn bertingkah seperti ini.
Valdo tersenyum, ia mengecup sekilas bibir Velyn san beralih mencium keningnya. Istrinya ini benar-benar pintar sekali menggoda disaat Valdo tidak berdaya.
"Beneran ya? kalo kamu lupa aku tagih tiap hari selama seminggu nanti" Velyn membulatkan matanya. Ia terpaksa harus mengangguk pasrah seraya melepaskan pelukannya dari tubuh Valdo.
"Aku mau masuk dulu ya mas, kamu hati-hati dijalan" ujar Velyn kemudian meraih jemari Valdo dan mengecup punggung tangannya. Setelah Velyn keluar dari mobil dan tak lupa melambaikan tangannya, Valdo menjadi semakin terkekeh.
Ia kemudian menjalankan mobilnya lagi, menginjak gas mobilnya dengan kecepatan sedang menyusuri jalanan ibukota.
***
Setelah sampai di kantornya, Valdo kini sudah disibukkan dengan tumpukan file dihadapannya. Tak lupa temannya satu itu kini tengah fokus juga mengerjakan pekerjaan kantor yang selalu menjadi hidangannya setiap hari.
__ADS_1
"Gimana soal mantan istri lo itu?" sela Adrian tiba-tiba membuat pergerakan Valdo terhenti. Ia menatap Adrian dengan malas. Bukannya Adrian sudah mengetahui bahwa dirinya tidak mau berpisah dengan istri barunya. Kenapa rasanya Adrian sengaja mengungkit masalah Lisa padanya?.
"Lo amnesia atau gimana sih, bukannya lo udah tau kalau gue udah mutusin buat cerai sama Lisa setelah dia ketemu, dan bakal mertahanin istri gue" Adrian berdecak seperti meremehkan keputusan Valdo. Bukan apa-apa, tapi Adrian sendiri merasa kalau Valdo itu plin plan. Tadinya dia ingin kembali dengan Lisa, sekarang dia malah tak ingin berpisah dengan istrinya.
Adrian hanya takut jika Lisa sudah berada didepan matanya, ia malah tak mau melepaskannya.
"Sebenarnya gue udah tau sejak lama dimana keberadaan Lisa. Tapi karena lo yang minta buat berhenti, ya gue stop dong! secara bosnya kan elu" Valdo membulatkan matanya. Tangannya yang semula hendak mengetik komputer dihadapannya kini terhenti seketika saat Adrian juga menatapnya dengan pandangan penuh arti.
"Kalo gitu, gue mau lo lepasin dia."
***
Velyn kini tengah sibuk berkutat dengan buku dan juga laptopnya ketika di kelas. Setelah mata kuliah selesai, ia memang sengaja mencicil tugas dari dosen yang memang begitu amat banyak, daripada nanti dia kuwalahan sendiri.
"Lyn, ke kantin yuk! lo nggak laper emang?" ajak teman sebangku Velyn yang bernama Dira. Sebenarnya sih perut Velyn memang minta diisi sedari tadi, tapi ia masih memberatkan tugasnya yang satu ini.
"Emang ya kalo jadi anak baru itu nggak bisa santai. Gue dulu juga gitu, tapi kalo lo nggak makan, nanti lo bisa sakit Lyn" Velyn menghela nafasnya. Memang sih jika dilihat, Velyn sendiri yang terlalu serius dengan tugas ini. Bahkan yang lainnya terlihat santai saja. Maklum saja, Velyn memang anak baru, ia memang belum pernah mengerjakan tugas sebanyak ini sebelumnya.
"Oke, gue mau ikut, tapi bentar aja ya" Dira tersenyum mengembang. Ia kemudian mengajak Velyn untuk keluar seraya bercerita tentang kampus besar ini sepanjang mereka berjalan kearah kantin.
Setelah sampai kantin, Dira dan Velyn hendak mencari tempat duduk. Namun tatapan Dira beralih pada segerombolan gadis yang tak asing baginya.
"Eh, itu ada temen-temen sekelas kita yang lain tuh. Gabung yuk!" ajak Dira seraya menggandeng jemari Velyn dan mengajaknya duduk di meja yang tersisa dua itu.
"Boleh gabung nggak?" tanya Dira membuat ketiga gadis itu mengangguk seraya tersenyum mempersilahkan Dira dan Velyn untuk duduk.
"Boleh kok, duduk aja" kata gadis berkacamata yang bernama Nadia, sedangkan dua temannya lagi bernama Lala dan Cristyn. Mereka memang sudah saling mengenal sebelumnya, termasuk Velyn. Namun karena Velyn jarang bergaul, ia tidak dekat dengan mereka bertiga termasuk Dira.
__ADS_1
"Eh gimana, katanya minggu depan kita bakal mulai magang lo" seru Cristyn membuat keempat temannya itu menatap kearahnya. Memang jurusan bisnis manajemen di semester ini akan melakukan kegiatan magang.
Tak tanggung-tanggung, kampus bahkan bekerja sama dengan perusahaan besar untuk menunjukkan bakat para mahasiswanya yang dituntut disiplin dan cerdas.
"Kalo gue sih pengennya masuk di perusahaan IT, dari dulu gue suka komputer gitu" seru Nadia seraya menyeruput jus jeruk yang berada ditangannya.
"Yakin lo?" tanya Lala dengan pandangannya yang sedikit ragu itu membuat Nadia membulatkan matanya.
"Kalo gue berharap itu di aminin kek La, ya namanya juga pengen" tukas Nadia seraya mengerucutkan bibirnya sebal. Memang sih sebagai mahasiswa mereka tidak berhak memilih perusahaan mana yang hendak mereka masuki. Semua keputusan dipilih secara acak dan itu sudah keputusan yang mutlak, sekalipun ingin pindah dan menukarnya dengan mahasiswa lain itupun akan sangat sulit.
"Eh btw, salah satu perusahaan yang ditunjuk itu punya alumni kampus ini juga loh" seru Dira yang kini mulai menimbrung obrolan mereka yang tiada habisnya itu.
"Eh iya loh, katanya gitu. Masih muda udah mimpin perusahaan segede itu, gue sih mimpi dulu" sahut Lala seraya memainkan anak rambutnya yang panjang itu.
"Mudah-mudahan deh, gue bisa ketemu langsung sama tuh alumni. Katanya masih muda loh, ganteng pula" mendengar teman-temannya berceloteh ria seperti itu, Velyn hanya mampu menggeleng seraya meraih jus yang tadi ia pesan sebelum duduk di meja ini.
Ternyata berkumpul dengan para mahasiswa lain membuatnya bosan saja. Maklum lah, dari dulu Velyn memang tipe wanita yang introvert. Dia tidak terlalu suka bergaul dengan banyak orang. Menyendiri baginya adalah solusi utama dalam mencari ketenangan.
"Kalo Velyn, kira-kira lo berharap masuk perusahaan mana?" tanya Cristyn seraya menatap Velyn yang tengah asik memakan burger dan mengunyahnya perlahan. Ia menatap mata yang lainnya yang sepertinya menatapnya dengan penasaran.
"Anak baru mah bisa apa, gue pasrah aja, mau masuk perusahaan bagus ataupun biasa aja gue terima kok" kata Velyn santai seraya menyantap makanannya lagi.
"Jangan merendah gitu dong Lyn, meskipun lo anak baru, nggak mungkin lo ditaruh di departemen ataupun di perusahaan yang biasa" ujar Dira menyemangati.
"Iya Lyn. Lagian ya, kita itu dipilih karena kemampuan" tambah Lala membuat Velyn hanya mengangguk seraya tersenyum. Sejujurnya Velyn menyadari jika dirinya tidak pandai-pandai amat. Berharap pun juga tidak perlu, karena niat Velyn hanya untuk belajar. Mau dimana pun nantinya ia ditempatkan Velyn pasti akan memenuhi tugasnya dengan baik.
"Udahlah santai aja, lagian ini kan cuma magang, bukan kerja beneran, kita nggak di gaji juga. Yang penting tuh tunjukkin kemampuan, bukan dimana kita bakal diterima. Gue yakin kok, perusahaan biasa atau kecil nggak bakal bikin kita nggak sukses nanti" tutur Velyn seraya meneguk jusnya lagi
__ADS_1