Velyn Love

Velyn Love
Lamaran Andra


__ADS_3

"Jadi gimana dok kondisi Velyn?" tanya pria satu itu yang kini tengah duduk seraya menggenggam jemari wanita disampingnya. Jujur saja Velyn sudah lelah jika tiap bulan harus kontrol dan membeli obat setiap bulan sekali. Tapi apalah daya jika Andra yang memintanya, ini juga demi kebaikannya.


"Ah sebentar ya dok, ehm Ndra aku mau ke toilet dulu ya" Andra tersenyum dan mengangguk, setelah itu Velyn langsung bangkit dan keluar dari ruangan itu.


Langkah kakinya mendekat kearah toilet yang berada diujung koridor, lalu masuk kedalam toilet wanita. Beberapa menit kemudian ia keluar dan berhenti di kaca cermin wastafel dihadapan. Velyn membuka kran dan mencuci wajahnya. Rasa segar dan dingin merambat di lapisan kulit wajahnya, meski ia merasa bugar kembali tapi tak menampik rasa lelah dan bosannya ia tiap kali kembali ke rumah sakit ini dan hanya mendapat wejangan juga obat-obatan yang tiap hari membuat Velyn muak.


"Velyn! Velyn kan?!" suara seorang perempuan muda membuat mata Velyn membelalak menatap tajam perempuan yang kini merengkuhnya.


"Velyn lo selama ini kemana aja? kok nggak ada kabar tiga tahun ini? gue kira lo pindah ke New York seterusnya" kata Dira yang kini melepaskan pelukannya dari sang sahabat. Velyn hanya mampu tersenyum tipis dan terdiam mendengar suara Dira yang terdengar parau. Ia juga sangat merindukan Dira dan Christyn, tapi karena keadaannya dulu tidak memungkinkan Velyn lebih fokus pada pengobatannya pasca operasi. Sekarang Velyn hanya bimbang, bingung dan dilema saat bertemu sahabatnya seperti saat ini.


"Gue kangen sama lo Dira"


"Gue juga Lyn, gue sama Christyn hampir gila tau nggak cari-cari kabar lo, tanya-tanya soal lo ke kerabat lo, tapi hasilnya nihil. Lo sebenarnya kenapa sih Lyn? ada yang lo sembunyiin ya dari kita?" Velyn menggigit bibir bawahnya, mau beralasan bagaimanapun juga pasti Dira juga tidak akan percaya jika dirinya baik-baik saja, tapi jika ia bercerita yang sebenarnya pastilah kedua sahabatnya akan syok nantinya.


"Banyak yang terjadi sama gue Dir, ceritanya panjang. Gue nggak bisa cerita disini"


"Gimana kalau kita ketemuan di luar aja besok? kebetulan gue sama Christyn free nih."


***


Jemari Velyn men-scroll layar ponselnya ke atas dan kebawah. Ia tengah duduk bersanding dengan Andra di atas kap mobil, mereka kini tengah berada disebuah bukit yang pernah mereka sambangi dulu saat pacaran. Bukit yang indah ketika malam hari, namun terlihat sejuk ketika sore hari seperti saat ini.


"Ndra, liat deh bagus ya cincinnya?" Andra melirik gambar cincin yang ditunjukkan oleh Velyn padanya. Cincin dengan berbentuk renda dan ukiran kupu-kupu ditengahnya begitu cantik dan elegan.


"Bagus, cantik" ujarnya membuat Velyn memanyunkan bibirnya.


"Kamu mau ya? aku beliin?"


"Ah nggak usah, aku bisa beli sendiri" ujar Velyn yang kini menghela nafasnya lalu mematikan ponsel kemudian turun dari kap mobil untuk melihat pemandangan disekelilingnya. Padahal Velyn berkata demikian untuk memberi tanda pada Andra agar lelaki itu lekas melamarnya, namun apa yang Velyn harapkan malah membuat dirinya badmood seperti saat ini


"Kamu ingat nggak sayang, malam kita ada disini waktu kita masih pacaran dulu" ujar Andra tiba-tiba yang menyusul Velyn turun. Velyn hanya terdiam dan merenung, pikirannya kembali ditahun-tahun ia menghabiskan hari-harinya yang singkat bersama Andra. Malam yang indah bertabur bintang dengan pemandangan kota di malam hari terbentang didepan matanya.


Malam itulah saat terakhir Velyn menemui Andra dan memutuskan hubungan mereka berdua keesokan harinya. Nyeri terasa di hati Velyn saat ia menyadari betapa sakit hati Andra kala itu, membuat pria itu memilih jalan yang salah karena terlanjur kecewa padanya. Tanpa sadar mata Velyn berkaca, dengan satu tetes air mata yang perlahan jatuh dan mengenai pipi putihnya.

__ADS_1


"I'm so sorry" hanya itu yang dapat Velyn ucapkan meski dengan suaranya yang parau dan serak, membuat Andra membulatkan matanya dan menyentuh kedua pundak Velyn lalu menatap matanya.


"Hey Why? You didn't do anything wrong Velyn" mata Andra menatap kedua bola mata Velyn yang masih bergetar, mengingat masa lalu kelam yang membuat kehidupan Andra hancur sampai berkeping-keping. Seharusnya cukup hidup Velyn yang rusak, tidak semestinya takdir Andra juga ikut mengalami kepahitan seperti apa yang ia alami. Bayang-bayang rasa bersalah itu selalu menghantui pikirannya.


"Tapi karena aku Ndra, itu semua karena aku"


"Kamu nggak pernah tau apa yang terjadi kan? kita waktu itu bener-bener ngerasain satu hal yang sama. So it's not your fault if the future doesn't match what you think." Andra memeluk tubuh Velyn yang terasa bergetar, rasanya ia juga ikut merasa bersalah karena perbuatan yang ia lakukan murni atas dasar keinginannya sendiri. Seharusnya ia yang harus berjuang, namun ia memilih untuk melepaskan dan melampiaskannya pada orang lain. Meski saat ini tinggal hanya penyesalan, namun Andra ingin memperbaiki semuanya.


"Lyn" Andra merenggangkan pelukannya, ia kemudian meraih kotak beludru dari saku celananya lalu berlutut dihadapan Velyn yang masih terlihat menunduk dengan matanya yang merah sembab.


"Will you marry me?"


"Tapi papa kamu?-"


"Aku nggak butuh persetujuan siapapun, yang aku mau persetujuan dari kamu. Aku ingin menghabiskan hidupku, menikmati hari-hari tua ku cuma sama kamu. Sepanjang kita berjalan, kita pasti akan dihantui kenangan masa lalu yang menyakitkan. Tapi kita hidup untuk masa yang akan datang, masa lalu hanya sekedar bentuk pembelajaran, agar kedepannya kita bisa lebih baik lagi" Andra kemudian membuka kotak beludru itu, ia kemudian meraih kalung yang berada di dalam kotak tersebut lalu mengantongi kotaknya kembali. Velyn hanya diam membatu, ia tak tau harus mengatakan apa, namun yang jelas hatinya berbunga-bunga melihat Andra secara gentle memakaikannya kalung bermata berlian yang sudah dipersiapkan olehnya.


"Aku nggak mau ada kata penolakan, pokoknya kamu harus jadi nyonya Andra tahun ini" Velyn tersenyum dengan setitik air mata menetes di sudut matanya, ia kemudian membalikkan tubuhnya lalu ambruk dan memeluk Andra erat-erat. Velyn masih terisak meski ia tak bisa membendung detak jantungnya yang kian berdetak semakin kencang disela-sela perasaannya yang amat tak bisa dibayangkan sebelumnya. Andra kemudian membalas pelukan itu dengan begitu hangat serta membuat Velyn semakin nyaman.


***


"Menikmati hari-hari tua ku bersamamu..."


Satu kata itu sempat terbayang oleh pikiran Velyn setelah ia meminum obatnya seperti biasa. Meski ia sudah menemukan jalan hidup selanjutnya, tapi ia masih dihantui perasaan itu. Apakah Velyn bisa bertahan hingga tua bersama Andra?. Seharusnya Andra sudah tau, meski Velyn berobat kesana kemari, bahkan sampai menjelajah dunia sekalipun, penyakit didalam tubuhnya masih tersisa hingga sekarang dan kapanpun Velyn bisa saja pergi meninggalkan Andra untuk kesekian kalinya.


"Velyn! udah ditunggu Andra tuh dibawah" teriak Malia yang mengetuk pintu kamar wanita itu membuatnya beranjak dan bergerak kearah kamar mandi.


"I-iya ma" balasnya lalu gadis itu segera meraih handuk dan masuk kedalam kamar mandi tersebut.


"Besok kita nginep di hotel yuk!" Velyn yang selesai menyikat giginya kini menatap pantulan wajahnya didepan cermin wastafel. Wanita itu membelalak seraya berkumur untuk menghilangkan busa yang masih tersisa didalam mulutnya. Baru saja Velyn ingat bahwa Andra mengajaknya untuk menginap di hotel malam ini. Velyn menepuk jidatnya saat ia menyadari janjinya kemarin dengan Andra. Pikiran Velyn melayang kemana-mana, bahkan ia tak bisa berpikir sesaat, bagaimana bisa ia dengan mudahnya menyetujui permintaan Andra seperti itu. Semoga saja Andra tidak memuji hal aneh tentang dirinya nanti. Pikir Velyn seraya memejamkan matanya erat-erat.


"Gimana kabar papa kamu Ndra?"


"Baik tante" kata Andra seraya menyesap kopi yang sediakan oleh Malia.

__ADS_1


"Jangan kaku-kaku sama papa kamu. Walau begitu, beliau kan keluarga kamu satu-satunya" Andra hanya mengangguk canggung seraya tersenyum tipis. Meski papanya sudah minta maaf berulang kali dan merestui hubungan nya dengan Velyn, tetap saja Andra madih takut memberikan Velyn luka dari keluarganya.


"Mungkin saya masih belum siap membuka hati lagi tante"


"Tante paham, gimana kepercayaan yang dibangun oleh papa kamu sekarang diruntuhkan sendiri oleh beliau. Tapi jangan sampai kamu menyesal nantinya ya?" Andra amat mengerti apa yang dikatakan calon mertuanya padanya, tentu saja pengalamannya saat almarhum Om Rahadian yang meninggal tanpa sempat berjumpa dengan Velyn untuk terakhir kalinya. Andra juga tidak ingin hal itu terjadi pada dirinya, ia juga berniat untuk bersikap legowo daripada harus bersitegang pada ayahnya sendiri. Apalagi kesalahan Antonio kemarin dalam menilai sesuatu membuatnya kecewa. Ya, meski Andra mengetahui bagaimana cara licik Valdo untuk membuat Velyn dengannya batal menikah, namun itu justru membuat cinta mereka lebih kuat.


"Saya sudah mikirin itu kok tante, gimanapun juga kalau nggak ada papa saya juga nggak mungkin lahir ke dunia" Malia tersenyum bangga, pemikiran yang Andra buat begitu dewasa meski ia masih sedikit keberatan. Namun dengan begitu rasanya ia lega bisa membantu keluarga putrinya nanti utuh seperti sedia kala.


"Bagus, tante pasti dukung kamu kok. Tante doakan semoga nggak ada lagi kesalahpahaman diantara kalian ya"


"Ma!" sura dari arah anak tangga membuat keduanya menoleh, menatap Velyn yang kini sudah melangkah kearah mereka dengan tas selempang ditangannya. Rambutnya sebahu yang terurai dengan baju rajut serta celana mini sepaha membuat Andra menatap lekat wanita yang hendak menjadi istrinya itu. Tinggal menghitung hari saja, dan semuanya akan sesuai dengan keinginan terpendamnya.


"Andra, sorry ya lama"


"Nggak apa-apa kok, aku juga ngobrol sama tante" Andra kemudian bangkit dan tersenyum pada Malia yang kini ikut bangkit lalu membalas senyumnya.


"Ya udah tante, saya izin bawa putri tante dulu ya" ujar pria itu lalu mencium punggung tangan calon mertuanya itu dengan satu kecupan membuat hati Malia tersentuh, disusul oleh Velyn yang kini memberikan salamnya. Setelah itu mereka berjalan keluar, meninggalkan Malia yang termangu, menatap punggung mereka yang berjalan beriringan semakin menjauh. Sesaat Malia tersadar, memori luka yang membekas pada hatinya saat putrinya disakiti oleh pria pilihannya sendiri. Kini semua sudah berlalu, pria yang akan mendampinginya sangat jauh lebih baik dari pria itu. Malia amat bersyukur, jika dulu ia tidak menghalangi niat Andra, mungkin Velyn tidak akan pernah mengalami kepahitan seperti ini.


......................


Sorry to all readers.


Maaf ya semua karena author Hiatus lama bgt, tapi jujur setelah melahirkan author memang super sibuk sama urusan rumah apalagi anak yang udah mulai aktif-aktifmya...


Maunya author pengen sekalian ditamatin aja, karena bagaimanapun episodenya tinggal dikit terus end...


but everything is not as easy as i thought 🥺


jadi terpaksa author pending dulu sampai waktu author bener-bener luang...


Terimakasih yang udah setia baca meskipun keadaan author kaya gini, author banyak-banyak minta maaf karena mungkin banyak yang bakal kecewa...


but I love you guys... semoga hari kalian selalu menyenangkan ✍️

__ADS_1


__ADS_2