
"Oh jadi ini toh yang namanya Velyn, si cewek jahat yang udah selingkuh dari pak Andra dan lebih milih nikah sama duda kaya" gadis yang entah darimana asalnya itu tiba-tiba duduk tak jauh dari gazebo tepat dimana Velyn duduk.
Jarak mereka memang bersebrangan, namun sayangnya Velyn tidak memperhatikan. Ia fokus pada buku yang ia baca serta musik pop yang ia dengarkan lewat earphone yang menempel ditelinganya.
Tiga gadis itu sepertinya hendak memancing emosi Velyn yang kini tampak tenang-tenang saja. Salah satu diantara gadis itu ada sosok yang tak asing bagi Velyn. Siapa lagi kalau bukan Angelita, dirinya bahkan hanya terkekeh mendengar ocehan dari temannya. Seperti sengaja memancing emosi dari gadis yang kini menyandarkan punggungnya seraya mengambil kimbab disampingnya.
"Ngel, untung ya pak Andra cepet-cepet nikahin lo, kalo nggak pasti dia cuma diporoti doang sama tuh cewek!" sahut gadis yang berada disebelah kanan Angelita yang saat inj menatap Velyn dengan pandangan benci.
"Lagian tuh cewek nggak cantik-cantik amat, masih cantikan elo deh kemana-mana, heran gue, kok bisa pak Andra suka sama dia"
"Kalo gue sih perawatan yah, beda sama cewek yang biasanya pakek susuk. Untung suami gue langsung sadar, gue jadi kasihan deh sama om om yang mau aja nikahin dia" celetuk Angelita saat dirinya mulai geram ketika Velyn hanya diam saja, dan bahkan saat ini gadis itu malah semakin santai dengan memakan kimbab yang ia bawa.
Kedua teman Angelita saling senggol dan memberikan kode. Sepertinya gadis itu memang sedang tidak mendengar apa yang mereka bicarakan, atau malah Velyn sengaja hendak membuat ketiga ciwi-ciwi itu kesal.
Bukannya berhasil membuat Velyn kesal, kini Angelita malahan yang semakin geram. Tangannya mengepal kuat seraya menoleh kearah kedua temannya yang masih bingung hendak melakukan apa. Tapi rasanya kesabaran Angelita sudah tidak bisa ditolerir lagi. Angelita bangkit dan membiarkan kedua temannya itu berbisik satu sama lain.
"Gila! si Angelita mau ngapain sih tuh?! udah dibilang jangan sampek bikin gara-gara sama tuh cewek, tetep aja nekat!"
"Ssst, kita mending cari aman aja. Kalau cuma disuruh nyindir sih gue oke-oke aja tapi kalo bertindak kaya dia, gue mah ogah!" bisik satu teman Angelita lagi yang kini hanya bisa menatap langkah kaki wanita itu yang semakin cepat melangkah kearah Velyn.
Velyn yang tengah asik membaca bukunya seraya menikmati lagu yang ia dengarkan lewat earphone ditelinganya, kini tersentak kala buku yang ia baca tiba-tiba saja ditarik oleh sosok wanita yang ia kenal.
__ADS_1
Velyn mengernyitkan keningnya, ia menatap Angelita yang kini menatap tajam dirinya. Velyn semakin bingung, apalagi nafas Angelita yang memburu akibat termakan emosi sejak tadi.
"Ada apa ya?" tanya Velyn seraya melepaskan earphone-nya. Sial! ternyata Velyn dari tadi memakai earphone, pantas saja emosinya tidak terpancing. Angelita yang mengetahui hal itu kini semakin dibuat kesal saja.
"Lo budek apa gimana sih?! dasar cewek muna! cewek nggak tau diri!" suara Angelita semakin meninggi kala Velyn menampilkan wajah tanpa dosanya itu. Rasanya Angelita benar-benar emosi saat ini, ia menarik lengan Velyn hingga gadis itu bangkit.
Angelita menarik lengan Velyn dan mendorongnya ditengah-tengah taman. Tepat dimana banyak para mahasiswa berkumpul dan benar saja, banyak sekali diantara mereka yang memperhatikan keduanya.
Mereka bahkan tak sungkan untuk mengambil ponsel dan menyalakan kamera saat Velyn mulai bangkit dan hendak pergi saja dari tempat itu.
"Lo mau kemana Lyn? lo takut kalau kedok lo selama ini kebongkar didepan banyak orang?" Velyn mengernyit, kedok?, kedok apa yang dimaksud Angelita saja ia tidak paham. Sebenarnya apa yang akan dilakukan Angelita kali ini?.
Velyn menghentikan langkahnya seraya menatap Angelita dengan pandangan bertanya. Namun melihat pandangan sok polos gadis ini malahan membuat Angelita semakin ingin cepat-cepat mempermalukan gadis ini mumpung semua mata mengitari mereka.
"Aku nggak perduli kok Ngel, mau kamu ngomong apa? mau orang lain nilai aku kayak gimana. Yang jelas aku nggak pernah sedikitpun buat ngejar-ngejar suami kamu! kalau kamu mau malu-maluin aku, kamu cuma buang-buang waktu aja kalau cuma teriak-teriak dan nggak ada bukti. Bukannya bikin aku malu, tapi tanpa sadar kamu malahan yang mempermalukan diri sendiri" Velyn tersenyum sinis seraya membalikkan tubuhnya. Menatap setiap orang yang kini hanya bisa berbisik dan memaki dibelakangnya.
Ada yang pro dan ada yang kontra terhadapnya, ada juga yang mencari aman dengan diam-diam hanya merekam. Velyn sekarang tak perduli, ia memilih untuk pergi dari kerumunan yang membuatnya jengah itu.
Namun tak berhenti disitu, Angelita yang terlihat semakin emosi kini melangkah menyusul Velyn. Dia tidak terima, niatnya ingin mempermalukan Velyn kini berbalik padanya. Angelita menarik rambut Velyn, membuat gadis itu mengaduh kesakitan.
"Lo gila ya Ngel! lepasin rambut gue!" Angelita bahkan tak menggubris perkataan Velyn. Ia masih sibuk menjambak rambut Velyn ditengah kerumunan para mahasiswa yang enggan memisahkan keduanya. Yang ada malahan mereka memasang kamera masing-masing.
__ADS_1
Angelita memang sengaja menarik dan menjambak rambut Velyn yang kini sudah berada dibawahnya. Ia mencakar tubuh Velyn yang kini hanya terdiam dan menunduk. Jika nanti Velyn membalas, Angelita akan pura-pura sakit perut dan mengatakan bahwa bayinya butuh pertolongan. Dan siapa yang akhirnya disalahkan? tentunya Velyn.
"Stop Ngel!" Velyn masih berjongkok seraya menutupi wajahnya, namun Angelita dengan kejam malah menarik rambutnya hingga Velyn terpaksa berdiri karena paksaan dari Angelita.
"Kenapa? lo nggak mau lawan gue ha? lo takut? kalo gitu gue bakal ngerusak wajah lo Lyn!" Angelita mengeluarkan gunting dari dalam saku celananya, tangannya hendak melayangkan gunting itu pada pipi mulus Velyn. Namun siapa sangka, kini tangannya malah dicekal oleh seseorang dari arah belakang dan menarik tangannya dengan cepat.
"Lo mau apain istri gue ha?!"
Plakkkkk
Satu tamparan keras mendarat di pipi Angelita membuat Velyn membulatkan matanya tak percaya. Kenapa Valdo ada disini?.
"Lepasin istri gue brengsek!" tangan Valdo menarik lengan Angelita dan mendorongnya dengan kencang membuat wanita itu terjatuh dan merasakan sakit diperutnya.
"Kak Valdo!" Velyn menangis di dekapan Valdo, ia merasa takut. Rambut Velyn yang semula berantakan kini dirapihkan oleh pria itu dan menatap Angelita dengan kebencian.
"Anakku!" Angelita menangis dan meronta, sedangkan tidak ada yang berani menolongnya. Karena kedatangan Valdo membuat banyak orang terkejut. Ditambah lagi banyak sekali gadis yang mengagumi sosoknya. Tampan dan gagah, mereka seperti tidak lagi menggubris keadaan Angelita yang kini masih menangis dan meraung minta pertolongan.
Ini semua juga salahnya, ia telah menganiaya Velyn di depan umum tanpa berpikir panjang. Ditambah lagi tadi Angelita menghina suami Velyn yang ia kira sebagai om om. Nyatanya suami Velyn begitu gagah dan masih muda, berbeda dengan ekspetasi dirinya.
Valdo menatap tajam pria yang diam-diam merekam kejadian itu, sambil menggandeng tangan Velyn, Valdo kemudian meraih ponsel yang dibawanya dan mengeluarkan banyak sekali uang berwarna merah dari dalam sakunya.
__ADS_1
"Ponsel lo, gue beli!" ucap tegas Valdo seraya melangkahkan kakinya untuk pergi dan berhenti sebentar untuk menggendong tubuh Velyn ala bridal style. Membuat gadis itu terperanjat dan memejamkan matanya.