Velyn Love

Velyn Love
Tanpa kabar


__ADS_3

Setelah mempersiapkan koper untuk keperluan Valdo selama tiga hari kedepan, Velyn kini segera turun dan hendak mempersiapkan sarapan yang sudah ia tinggal sejak setengah jam lalu.


Namun langkahnya tiba-tiba terhenti kala ia dikejutkan oleh kehadiran Valdo yang hampir menabrak tubuh Velyn. Membuat wanita itu tersentak dan hampir terjatuh jika lengan Valdo tidak segera menangkapnya.


"Hati-hati sayang" senyum terulas dibibir Valdo saat mengetahui istrinya jatuh dalam pelukannya. Velyn hanya mampu menahan semburat merah dipipinya. Ia menunduk, malu akan kecerobohannya barusan.


"Maaf mas, aku nggak sengaja" Velyn segera bangkit dari pelukan Valdo. Ia sedikit memundurkan tubuhnya seraya menyembunyikan wajahnya.


"Aku-aku udah siapin koper kamu, kalau ada yang kurang, nanti aku beresin lagi" Valdo menyeringai, ia menarik tubuh Velyn dalam pelukannya membuat gadis itu hanya mampu membulatkan matanya seraya tak sengaja menyentuh dada bidang Valdo dari balik kemeja maroon-nya.


"Aku pasti bakal kangen banget sama kamu sayang"


"Aku juga mas, aku pasti bakal kangen banget sama kamu" gumam Valdo dalam hatinya seraya menatap kedua netra hitam milik Valdo yang begitu indah. Seandainya Velyn berani, seandainya Velyn bisa menaikkan sedikit ego-nya, ia pasti akan terang-terangan mengatakannya.


"Mas, jangan sampai telat makan ya, vitamin kamu udah aku siapin di koper, dan-"


"Sssttt" Valdo menyentuh bibir Velyn menggunakan jari telunjuknya. Membuat Velyn terdiam dan menghentikan perkataannya. Tatapan memabukkan itu membuat hati Velyn luluh, Velyn benar-benar menyadari jika hatinya memang milik Valdo seutuhnya.


Valdo menyatukan wajah mereka, menatap lekat wajah Velyn dengan seksama. Begitu cantik dan indah. Valdo berharap Velyn lah bidadarinya di dunia dan di surga.


Valdo mengecup bibir Velyn begitu lama, ia ingin merasakan kehangatan dan manisnya bibir mungil yang menjadi candu baginya.

__ADS_1


"Tunggu aku ya sayang, ingat harus belajar banyak-banyak. Jangan nakal ya selama aku tinggal?" Velyn mengangguk, ia tersenyum seraya menggigit bibir bawahnya.


"Jangan lupa kabari aku kalo udah nyampe di hotel nanti ya mas" Valdo mengangguk, ia sebenarnya tau jika Velyn juga pasti akan merindukannya. Terlihat dari caranya bicara, caranya memperhatikan setiap detail dari apa yang Velyn persiapkan untuknya.


***


Malam sudah mulai larut, namun kabar dari Valdo tak kunjung Velyn terima. Bahkan pesan singkat saja tidak dibalas olehnya. Velyn menatap langit-langit kamarnya, ia meraih guling disampingnya seraya memiringkan tubuhnya, menatap bayangan Valdo yang tidur disampingnya.


Rasanya Velyn begitu khawatir, beberapakali ia melirik layar ponselnya, memastikan centang satu abu dalam pesannya berubah menjadi centang dua biru. Pikiran Velyn amat kacau kali ini, seharusnya Valdo sudah sampai sejak siang tadi. Mengingat perjalanan hanya memakan waktu dua sampai tiga jam saja.


"Mas Valdo, kamu dimana sih?!" gumam Velyn seraya menghapus jejak air matanya ditengah kekhawatirannya yang begitu melanda hati dan jiwanya.


Setelah semalaman Velyn bergelut dengan pikirannya sendiri, kini ia harus terbangun dengan lingkar hitam dan kantung mata yang menebal. Setiap jam bahkan Velyn menunggu pesan maupun panggilan yang Valdo janjikan. Nyatanya semua itu hanyalah khayalannya semata.


Sedikit kecewa juga rasa khawatir bercampur aduk menjadi satu dalam hatinya. Batin Velyn tersiksa. Sebenarnya kemana Valdo pergi? benarkah ia lupa untuk menghubungi Velyn. Padahal sebelumnya Valdo benar-benar bersikap manis padanya.


***


Sudah dua hari ini Velyn menjalani harinya tanpa semangat. Telepon yang tidak tersambung, pesan yang tak kunjung terbuka, dan kabarnya yang ia tanyakan pada kantor juga tidak membuahkan hasil.


Tiap malam Velyn yang selalu belajar demi nilai magangnya nanti, termasuk mengerjakan tugas yang menumpuk kini menjadi tidak semangat lagi. Tatapannya hanya menjurus pada ponselnya.

__ADS_1


Tiap pagi, siang, sore dan malam, Velyn selalu rajin mengirimkan pesan untuk Valdo. Meskipun tidak terkirim dan terlihat centang satu abu, namun Velyn tak menyerah. Ia tanpa lelah mengirimkan pesan itu dengan harapan agar Valdo mengetahui bahwa dirinya amat mengkhawatirkan suaminya satu itu.


Sampai tiga hari berlalu, seharusnya Valdo sudah pulang dari pekerjaannya. Tiga hari berlalu tanpa kabar daro orang yang Velyn cintai membuat harinya seolah berhenti dan tak ada daya.


Kini mata Velyn terpejam, ia menikmati rasa lelahnya, kurang tidur dan kurang makan. Semuanya berpengaruh dalam hari-harinya. Termasuk saat Velyn kini yang tengah duduk di bangkunya seraya membuka laptop dan mulai mengetik tugas-tugasnya.


"Lyn? lo ada masalah ya? cerita dong, kok dari kemarin murung gitu" tegur Dira yang kini tiba-tiba duduk dihadapan Velyn seraya memperhatikan mata panda Velyn yang semakin tercetak jelas disana.


Dira bisa melihat kesedihan dan juga kelemahan yang Velyn miliki. Rasanya ia tak tega jika melihat Velyn yang tidak mau makan tiap istirahat siang menjelang. Hidup Velyn di kampus selain mengikuti mata kuliah, ia hanya menatap layar laptopnya atau sekedar membuka buku dan membacanya.


Sudah tiga hari lamanya Velyn berubah menjadi sosok yang selalu murung dan pendiam. Meskipun sebenarnya wanita dihadapannya itu memanglah pendiam, namun ini bukan seperti Velyn yang biasanya.


"Gue nggak apa-apa kok Dir, gue lagi nggak mood aja" terang Velyn membuat mata Dira menyipit. Bagaimana Dira bisa percaya jika Velyn saja seolah menutupi keadaannya. Dira, meskipun bukan siapa-siapa Velyn, bahkan tidak dekat dengannya, namun sejujurnya ia adalah tipe teman yang peka dan perduli.


"Kalo lo nggak mau cerita nggak apa-apa kok, tapi lo juga harus ingat. Masalah kalo dipendem sendiri juga nggak bakalan selesai" tutur Dira membuat Velyn mengulum bibirnya. Matanya terlihat berkaca saat ini. Memang semenjak ditinggal oleh keluarganya ke Singapura, tidak ada lagi tempat bagi Velyn untuk melepaskan keluh kesah. Ia hanya bisa menahan perasaannya dan berpura-pura bahagia jika berada dihadapan Nino.


Tapi kali ini, tatapan Dira seperti memberikannya kesempatan untuk melepaskan beban yang ada. Velyn akhirnya tak kuasa, ia seperti terjatuh dalam lubang keputus asaan akan perasaannya terhadap Valdo.


Perlahan air mata Velyn terjatuh bersamaan dengan isakannya. Ia menutup laptop dihadapannya seraya mencoba untuk menyeka air matanya meskipun hasilnya percuma. Meskipun ia tau akan menangis lagi dan lagi.


Dira menatap Velyn dengan iba, ia memeluk tubuh Velyn yang rapuh itu dan didekapnya. Meskipun Dira sendiri tidak tahu masalah apa yang dialami Velyn. Tapi melihat temannya satu ini menderita Dira juga ikut tersiksa.

__ADS_1


Rasanya perasaan Velyn bercampur aduk menjadi satu. Antara khawatir, bimbang, sedih dan kecewa. Sejujurnya ia hanya butuh satu kabar dari suaminya itu saja. Mengetahui bahwa Valdo baik-baik saja dengan sekali kabar saja pastilah Velyn tidak akan merasa sesakit ini.


__ADS_2