
Rambut ya g disanggul dengan pernak-pernik bunga serta mutiara menghiasi rambut Mega yang kini tengah tersenyum pada pantulan dirinya didepan cermin. Ia tidak menyangka hari ini akan datang juga, setelah apa yang ia lewati bersama pria pujaannya kini ia akhirnya mendapatkan kebahagiaan yang ia tunggu-tunggu seumur hidupnya. Makeup natural soft dengan bibir berwarna peach membuat wanita itu tak henti-hentinya tersenyum penuh kebahagiaan di hari resepsinya kali ini.
Ya, setelah Mega dan Rega resmi menikah secara hukum kini tinggal resepsi pernikahan mereka yang akan diadakan oleh keluarga Mega. Pesta diselenggarakan dengan sederhana, tentu saja karena mereka menghargai keadaan Velyn yang berada di luar negeri untuk menjalani serangkaian pengobatan. Meskipun begitu Mega sudah amat bahagia karena mamanya menyetujui hubungan mereka yang tiba-tiba tanpa meminta restu terlebih dahulu. Awalnya mama kesal, namun setelah Mega menjelaskan situasi yang terjadi mama mulai mengerti posisi Mega yang kala itu benar-benar ingin terlepas dari Devan.
Rencana Mega dimulai saat mereka melakukan hubungan intim pertama kali. Saat Rega memberikan cincin pada wanita itu dan Mega langsung mengajak Rega untuk menikah secara siri keesokan harinya. Tentu saja acara berjalan lancar karena mendapat bantuan dan dukungan dari Malia. Mega hanya ingin terikat agar Devan tidak lagi memiliki hak untuk meneruskan pernikahan konyol itu. Awalnya Mega ragu dengan rencananya sendiri, namun dengan keteguhan hatinya ia pasti akan meyakinkan mamanya jika Devan sudah sepenuhnya pergi dari hidupnya.
Tapi siapa sangka, hal yang seharusnya Mega usahakan malah begitu mudah terlaksana akibat Devan yang mau mempermalukannya didepan Indri. Tentu saja Indri membela anaknya sendiri serta mendepak Devan yang sudah keterlaluan memperlakukan anaknya seenak hati.
"Yaampun anak mama cantik banget" ujar mama yang tiba-tiba masuk tanpa permisi serta membangunkan lamunan Mega yang tengah melambung tinggi. Mega masih duduk di meja rias dengan menatap mama dari balik pantulan cermin dihadapannya. Wanita itu bangkit dan menatap mamanya lamat-lamat.
"Makasih ya ma" kata Mega yang kini memeluk mamanya dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Hey sayang, jangan gitu dong. Nanti kalau makeup kamu luntur gimana" ujar mama yang tanpa sadar mengeluarkan suara sumbang dan menitikkan air mata haru. Padahal selama ini Mega sudah tinggal dengan Rega, namun karena acara ini adalah acara terakhir, juga terakhir kali Mega sering berkunjung ke rumah.
"Maafin kesalahan Calista selama ini ya ma"
"Jangan nangis dong sayang, mama kan jadi sedih" kata mama melepas pelukan mereka dengan isakan yang tak dapat ia tahan. Mata Mega, mata yang sama yang dimiliki mendiang suaminya, hari ini pun akan meninggalkannya untuk memulai lembaran baru. Bagi Indri hal itu adalah hal yang menyedihkan juga membahagiakan bagi seorang ibu melepas satu-satunya putri yang ia miliki selama ini.
Mega menghapus jejak air matanya perlahan, ia takut untuk menghapus riasan yang belum sempat ditunjukkan pada Rega. Ia menatap mamanya lamat-lamat, wajah ibu yang selalu ada untuknya, mendukungnya juga selalu berada disampingnya meski dirinya sendiri juga amat pilu.
"Ingat selalu pesan mama ya nak. Layani suami kamu baik-baik, harus sabar kalau ada masalah besar maupun kecil. Mama selalu ndukung kamu nak, semoga kamu bahagia ya Calista" Mega mengangguk dan sekali lagi memeluk erat mamanya. Tak sadar akan kebersamaan mereka, sebuah ketukan membuat Mega dan Mama tersentak. Mereka menyeka air mata mereka yang baru saja menangis meski hanya beberapa tetes haru.
"Udah siap sayang" pria berjas peach dan dengan kemeja serta dasi senada membuat wanita itu tersenyum dan menyambut jemari Rega yang hendak menyambutnya. Gaun pesta couple dengan setelan milik Rega membuat mereka amat serasi ketika bersanding. Mama kemudian tersenyum dan mengangguk, mempersilahkan Rega untuk menggandeng putrinya menuju acara pesta.
Cantik dan tampan, mungkin itu yang orang lain pikirkan saat Rega dan Mega turun dari lantai atas menuju acara. Semua terpukau dengan kehadiran bintang utama malam ini. Meski acara sederhana dan hanya mengundang beberapa kerabat dan teman terdekat namun hal itu sama sekali tidak penting bagi Mega. Yang paling utama adalah ia ingin menunjukkan pada dunia bahwa Rega hanyalah miliknya.
__ADS_1
Rega menuntun istrinya menuruni anak tangga, mereka disambut oleh teman-temannya dan juga staf kantor yang datang pada acara kali ini.
"Kamu cantik Mega" bisik pria itu seraya menatap Mega dalam-dalam saat setelah mereka berada dibawah. Mega tersenyum bahagia dan menatap suaminya dengan kebahagian yang tiada tara.
"Kamu juga tampan. Makasih ya Ga"
"Enggak, justru aku yang makasih sama kamu, makasih karena kamu udah nerima aku lagi meskipun aku udah nyakitin kamu" Mega tersenyum ia kemudian menatap para hadirin yang datang lalu memberikan selamat kepada mereka berdua.
***
Seminggu berlalu, dan Rega telah mengirimkan banyak sekali dokumentasi pernikahannya pada adiknya tercinta. Velyn yang kini berbaring di kamar seraya menggulir foto pernikahan Rega dan Mega hanya mampu tersenyum dan bangga kepada kakaknya. Meskipun ia tidak ikut andil dalam acara membahagiakan tersebut, tapi ia cukup senang melihat kedua pasangan itu kini bisa bersatu.
"Makan dulu yuk Lyn" ujar seorang pria yang tiba-tiba masuk kedalam kamar seraya membawa mangkuk bubur untuk wanita yang kini melirik Andra. Pria itu kemudian duduk ditepi ranjang dan menaruh nampan berisi makanan dan minuman.
"Ini, foto pernikahan kak Rega. Rasanya sedih deh, disaat momen bahagia kak Rega keadaan aku malah kaya gini. Gimana pun juga aku kan pengen ada disana" Andra tersenyum seraya mengaduk bubur yang berada di mangkuk, ia kemudian memberikan satu suapan bubur untuk wanita yang kini menyeletuk tentang apa yang ada di benaknya.
"Sabar ya, untung-untungan aja lo kalau Rega mau nikah. Kalau nggak nikah sekarang belum tentu dia mau nikah di masa yang akan datang" Velyn mengerutkan keningnya, ia menerima suapan dari Andra seraya menatap pria itu dengan matanya yang membulat seolah tidak paham dengan apa yang Andra katakan.
"Maksudnya? kak Rega sebelumnya nggak ada rencana buat nikah gitu?" dengan entengnya Andra mengangguk seraya mencoba untuk menyuapi wanita itu lagi yang masih menatap Andra dengan pandangan bertanya seperti sebelumnya. Seolah tidak tahu apa-apa dan hanya menunggu apa yang hendak dikatakan pria yang kini menaikkan sebelah alisnya.
Andra menghela nafas, ia kemudian menceritakan semua problematika yang dialami pasangan itu. Velyn terdiam seraya menyimak cerita yang diungkapkan oleh pria itu, meski hati Velyn sesekali terganggu karena ia paham kesalahan dari kakaknya, namun sedikit demi sedikit Velyn mulai paham dengan apa yang sebenarnya Rega alami. Kebimbangan Rega, juga keadaan keluarganya yang amat rumit sehingga muncul ketakutan untuk membina keluarga baru saat keluarganya sendiri tertimpa musibah.
"Aku jadi ngerasa bersalah, seharusnya udah dari dulu kak Rega bahagia. Pantes aja kak Mega minta putus, kalo aku jadi dia aku juga nggak mau digantung begitu"
"Bagi aku kamu bukan beban, malahan Rega pasti bakal nyesel seumur hidup kalau nggak bisa menjadi yang terbaik buat sandaran keluarga. Apalagi posisi dia anak tertua laki-laki, tanggungjawab nya besar" Velyn menatap Andra yang kini tersenyum padanya. Pria dewasa yang kini ada dihadapannya semakin mempesona setiap harinya. Entah Velyn harus merasa beruntung atau malah bersalah. Karena Andra adalah laki-laki yang baik dan sempurna, sedangkan dia hanyalah perempuan yang sudah ditinggalkan serta sakit-sakitan.
__ADS_1
"Lyn?!" mata Andra yang membulat membuat Velyn mengerutkan keningnya, bertanya.
"Kamu mimisan? kita ke rumah sakit yuk" Velyn segera mengelap bagian bawah hidungnya. Ia begitu terkejut saat darah semakin mengalir banyak dan jatuh di bajunya. Velyn menatap tajam jemarinya saat ia tanpa sengaja terbatuk dan mengeluarkan darah yang sangat banyak membuat Andra semakin ketakutan dengan tubuhnya yang bergetar.
"A-Andra"
"Velyn!" kepala Velyn terasa amat berat, pandangannya berputar dalam sekejap. Tubuhnya ambruk lalu dengan cepat Andra menopangnya. Andra mengguncang tubuh wanita itu yang amat lemah, namun tak ada respon sama sekali.
"Lyn, bangun" Andra memanggil namanya beberapa kali ditengah kepanikan yang terjadi. Namun yang ada Velyn tidak bergerak sama sekali dengan darahnya yang sudah mengucur dan menodai baju miliknya. Tangisan Andra pecah seketika, ia kemudian membopong tubuh wanita itu dan membawanya keluar dari apartemen.
Velyn kini sudah berada di ruangan intensif, ia yang melirik cahaya lampu diatasnya dalam keadaan setengah sadar baru menyadari akan keberadaannya yang telah berada di rumah sakit. Selang oksigen dipasangkan di wajahnya, tubuhnya terasa amat sakit merasakan beberapa suntikan dari dokter yang berulang kali memberikannya obat yang berbeda. Velyn ingin berteriak sekencang mungkin, namun sayangnya ia seolah tidak bisa mengeluarkan suara dari dalam tenggorokannya. Tubuhnya mati rasa dalam sekejap dan hanya bisa meneteskan air mata seolah memberikan pertanda bahwa ia amat kesakitan dengan apa yang dialaminya.
Dari balik pintu itu mata yang memerah dan tubuh lemas Andra tidak lagi dapat ia sembunyikan. Ketakutannya menjadi lebih besar untuk kemungkinan terburuk dalam hidupnya. Andra menangis, ia memukul kepalanya sendiri saat mengingat obat-obatan yang diminum oleh Velyn terbuang sia-sia dibawah kolong kamar wanita itu.
Velyn ternyata tidak pernah meminum obatnya, obat untuk mensterilkan kandungannya dalam mempercepat proses penyembuhan kanker dalam tubuhnya. Andra benar-benar amat menyesal dengan apa yang terjadi, sekarang semuanya sudah terlambat, seolah apa yang ada didepannya adalah sebuah hukuman untuknya.
"Padahal aku udah janji bakal lindungi kamu, tapi ternyata aku benarkah nggak berguna sama sekali. Maafin aku Velyn, maaf" tiba-tiba ingatan Andra kembali saat mereka berbaring bersama di ranjang, meskipun tak melakukan apa-apa dan hanya memeluk tubuh kurus wanita itu, Andra benar amat bahagia karena orang yang paling ia cintai berada disisinya.
Tapi kenangan yang muncul dalam sekejap itu seolah lemyap karena keadaan Velyn yang kini tengah tak sadarkan diri dari balik pintu tersebut.
__________________________________________________
Sedikit curahan hati dari author buat readers ku tersayang...
Maaf banget yang udah menanti-nanti novel ini buat up, tpi author ngulur-ngulur terus, karena jujur author bener-bener udah repot bgt. Seperti yang kalian tau, author sekarang udah jadi mom ya, apalagi si kecil udah mulai aktif-aktifnya, jadi author harus memprioritaskan si baby dulu. Barangkali readers ada yang berstatus ibu pasti paham apa yang author alami 🥺. Jadi, mohon pengertian dan juga kesabarannya ya dari kalian, semoga kalian tetep setia baca walaupun si author selalu mengecewakan para readers semua ðŸ˜ðŸ˜
__ADS_1