
"Assalamualaikum" suara lembut Velyn disusul dengan pintu rumah Oca yang terbuka, membuat gadis dengan aksen tomboi itu buru-buru bangkit dan menghampiri sahabatnya yang kini tengah tersenyum kearahnya seraya memberikan bungkusan pada Oca.
"Walaikumsalam. Darimana aja lo? udah dibilang jangan kemana-mana, masih aja kabur" Velyn meringis mendengarnya ia buru-buru duduk dan meletakkan bungkusan berisi gado-gado itu diatas meja ruang tamu dan mendaratkan bokongnya di sofa.
"Sorry ya, kakak gue ngajakin ketemuan, nggak mungkin juga gue nolak, gue kira lo pulang sore jadi ya udah, nggak perlu ngabarin dulu" Oca menghela nafasnya seraya memutar bola matanya.
Sedangkan Velyn hanya bisa terkekeh melihat tatapan Oca yang begitu kesal. Sahabatnya ini benar-benar protektif sekali padanya, padahal Velyn hanya keluar sebentar, tidak sampai satu jam. Bahkan keadaannya pun sudah membaik dan kembali pulih, hitung-hitung menghirup udara segar setelah tiga hari lamanya terkurung dirumah sakit.
"Gue tadi ketemu suami lo"
"Hah?! dimana?" tanya Velyn seraya membulatkan matanya, agak terkejut dengan pernyataan Oca padanya. Dahinya mengernyit serta pandangannya yang merasa amat ketakutan kala mengingat bayangan Valdo yang ada di kepalanya.
"Di kampus nanyain lo. Tapi lo tenang aja Lyn, gue nggak bakal ngasih tau keberadaan lo kok" Velyn menghela nafas lega kala Oca ternyata tidak mengatakan perihal tentangnya. Meskipun begitu, Oca juga paham akan ekspresi Velyn yang baru saja begitu cemas dan ketakutan. Terlihat sekali trauma yang ia alami selama ini.
"Gue juga nggak bisa cerita apapun ke kak Rega Ca, gue nggak mau nambah beban keluarga gue"
"Gue tau kok Lyn, selama lo masih aman disini lo juga jangan sering-sering keluar. Gue takut suami lo itu ngajak pulang dan ngelakuin yang nggak-nggak ke lo."
Velyn menyandarkan punggungnya di sofa. Kepalanya terasa berat dan pening mengingat masalahnya yang semakin lama semakin rumit saja. Velyn tau, kabur dari suami adalah hal yang dilarang bahkan akan dilaknat oleh Tuhan jika membuat sang suami sampai murka.
__ADS_1
Namun Velyn juga butuh perlindungan diri, ia juga tidak mau disiksa lagi. Apalagi status mereka saat ini sudah hampir berada diambang kehancuran.
***
Velyn kini tengah bersantai dan duduk diatas ranjang Oca, sedangkan Oca kini tengah memotong kukunya yang semakin memanjang. Terlihat sekali ekspresi Velyn yang begitu bosan dan sesekali menghela nafas panjang.
Membayangkan tinggal di rumah seperti ini sendirian pasti Oca sangat bosan. Meskipun Oca terlihat santai dan cuek, tapi ia juga bisa merasakan perasaan pahit yang dialami sahabatnya itu.
"Ca, gimana keadaan mama lo?" tanya Velyn tiba-tiba membuat Oca menghentikan aktivitasnya sejenak seraya menatap Velyn dengan dahi yang berkerut.
"Lo tau sendiri kan gue paling males bahas dia"
"Tapi beliau itu ibu kandung lo Ca" Oca menghela nafasnya. Memang sebanyak apapun Velyn menasihatinya perihal mamanya takkan bisa menghapus luka yang diberikan oleh orangtuanya padanya.
Dari situlah kepribadian manis Oca berubah. Untungnya masih ada papa yang selalu mendukungnya meskipun akhirnya papanya menikah lagi, dan Oca memutuskan untuk tinggal sendiri. Sedangkan nasib mamanya, mungkin sekarang masih menjadi kupu-kupu malam dan mencampakkan kehadiran Oca.
"Hidup gue itu nggak sesempurna keluarga lo Lyn. Siapa sih yang nggak mau punya keluarga rukun kaya lo. Gue tuh iri Lyn sama lo" kata Oca dengan blak-blakan. Beginilah ketika Velyn membahas soal mama Oca pasti sahabatnya itu selalu membanding-bandingkan antara kehidupannya dan kehidupan dirinya. Padahal yang terjadi saat ini, nyatanya kehidupan Velyn lebih parah dari yang dialaminya.
"Ca, kehidupan itu nggak ada yang sempurna. Emang lo lupa sama masalah antara gue sama kak Valdo. Belum lagi masalah ayah yang udah divonis kematiannya. Dibanding kehidupan lo yang masih bisa lo tata, kehidupan gue lebih hancur daripada yang lo kira Ca" perkataan Velyn seperti membelah hatinya. Apa yang dikatakan Velyn memang benar. Tidak ada kehidupan yang sempurna begitupun dengan kehidupannya.
__ADS_1
Oca melangkah mendekat, ia ikut bersimpuh diatas ranjang lalu kemudian merentangkan tubuhnya diatas kasur yang empuk itu.
"Lo bener Lyn, mungkin kalo gue jadi lo, gue jggak bakalan sekuat lo. Kali aja gue bakal bunuh diri" Velyn mengerutkan keningnya. Meskipun ia tidak mencoba untuk bunuh diri, namun akhirnya Velyn cepat atau lambat akan menemui ajalnya. Itu pasti, apalagi cinta yang ia harapkan, kehidupan yang ia inginkan tidak akan terwujud sebelum kematiannya datang.
Velyn menghela nafasnya, ia kemudian ikut merebahkan tubuhnya. Mensejajarkan posisinya untuk tidur bersebelahan dengan Oca.
"Kalo misalkan gue mati, lo bakal ngapain Ca?" tanya Velyn dengan polosnya membuat Oca buru-buru bangun dan menatap tajam manik mata Velyn yang kini terlihat heran akan tingkahnya.
"Heh! lo ngomong apaan sih?! ngaco! awas lo kalo lo sampek ngomongin soal mati, gue tonjok lo!" kata Oca seraya menunjuk wajah Velyn yang kini beralih duduk dan memeluk lututnya.
"Ya bukan gitu Ca, tapi kan umur nggak ada yang tau. Lagian gue cuma nanya, elo dulu kan yang bahas bunuh diri duluan"
"Yaelah, itu gue cuma bercanda kali Lyn. Masa gue mau bunuh diri beneran. Ya kali! baik gue bunuh dulu tuh si Valdo kalo gue jadi lo" kata Oca seraya meringis membuat Velyn menahan tawanya.
"Gue juga nggak mau kali mati konyol, bunuh diri gara-gara suami gue ngelakuin kaya gitu. Mending gue minta cerai" lanjut Oca membuat Velyn hanya bisa manggut-manggut saja.
Sederhana sekali baginya untuk mengatakan 'cerai'. Padahal bagi Velyn, itu adalah keputusan besar ditengah pernikahan. Siapapun tidak akan menginginkan perceraian ditengah harmonisnya hubungan, lain halnya jika memang kedua belah pihak tidak bisa melanjutkan hubungan karena sesuatu hal yang sudah tidak bisa diganggu gugat.
"Nikah itu satu kali seumur hidup Ca, setelah cerai status kita pun udah beda sekalipun masih perawan. Dan bukan cuma itu, kehidupan pernikahan itu bukan main-main" Velyn memang bodoh jika ia berharap akan mempertahankan pernikahannya. Tapi setidaknya ia ingin Valdo tidak menceraikannya terlebih dahulu sebelum ajalnya tiba.
__ADS_1
Sisi lain, ia juga ingin terbebas dari Valdo. Hanya saja hati kecilnya seperti menolak dengan ringkas keputusan itu. Velyn hanya mengikuti alur, kata hati dan pikirannya mungkin berbeda. Namun keyakinannya tidak akan berubah.
"Lyn, gue tau kok masalah lo itu nggak sederhana. Tapi Valdo nggak pantes buat lo perjuangin."