Velyn Love

Velyn Love
Sepihak


__ADS_3

"Apa?!" Valdo melepaskan jemarinya dari pundak Velyn, ia menatap wanita yang begitu ia cintai itu dengan tatapan nanar yang begitu tak menyangka dengan kenyataan kejam yang ia terima.


Valdo benar-benar bingung, ia menatap Velyn dan Lisa dengan bergantian. Sedangkan Velyn hendak menyentuh jemari Valdo yang tadinya sengaja dilepas dari pundaknya. Namun dengan cepat Valdo menghempaskan tangan Velyn.


"Mas!"


"Jangan sentuh aku!" ujar Valdo dengan tatapan amarah di matanya. Pria itu kemudian berlari ke lantai atas meninggalkan Velyn yang terisak, ia kemudian berlari menyusul Valdo yang kini masuk kedalam kamar mereka.


"Mas! dengerin penjelasan aku dulu mas, aku punya alasan" Velyn tercengang melihat koper yang sudah dikeluarkan Valdo dari dalam lemari dan mengisinya dengan baju-baju seadanya miliknya. Valdo bahkan tidak menggubris apa yang dikatakan Velyn meskipun ia punya sesuatu yang harus dijelaskan.


"Mas, kamu mau kemana?" Velyn menyentuh lengan Valdo dan menghentikannya untuk menutup kopernya, namun Valdo malah dengan kasar mendorong tubuh Velyn hingga membuat wanita itu mundur beberapa langkah dari tubuhnya.


"Aku ternyata salah nilai kamu Lyn! aku nggak nyangka ternyata dalang dibalik menderitanya aku dan anak aku itu orang yang paling aku cintai saat ini!. kamu anggap hati aku ini apa Velyn?!" Velyn hanya mampu terisak, ini semua tidak seperti apa yang Valdo pikirkan. Tapi ini memang salahnya, menempati posisi yang seharusnya bukan miliknya. Meskipun Velyn menceritakan yang sebenarnya, bukankah akan menjadi boomerang untuknya, hal itu malah membuat Valdo semakin tak percaya. Kecuali jika Velyn menceritakan segalanya dari awal.


"Aku-aku" Valdo hendak melayangkan tangannya pada Velyn, namun tangannya malah dengan sengaja ia belokkan pada kaca dibelakang tubuh Velyn.


"Mas Valdo!" Valdo segera menjauh sebelum Velyn menyentuh tangan Valdo lagi. Tatapannya pun beralih pada Valdo yang kini terlihat frustasi dengan matanya yang berkaca-kaca.


"Gara-gara kamu, Nino kehilangan kasih sayang ibu kandungnya! gara-gara kamu, aku hampir kehilangan semangat hidup. Tapi kamu dengan enaknya ngerencanain ini semua dan mainin perasaan aku!" Velyn terduduk lemas saat Valdo dengan cepat menarik kopernya dan membiarkan dirinya menangis tersedu-sedu.


Velyn merutuki kebodohannya, ia masih tak menyangka jika Lisa tiba-tiba datang dan mengatakan segalanya pada Valdo. Meskipun apa yang dikatakannya tidak sepenuhnya benar, tapi dari awal memang Velyn lah yang salah. Ia dengan sengaja menutupi kebenaran bahwa Gaisan yang selama ini menyembunyikan Lisa. Bahkan ia tau penderitaan Valdo dan Lisa yang dipisahkan secara paksa demi membuat dirinya bersama dengan pria yang sudah bersuami. Namun begitu jahatnya Velyn, ia telah mengabaikannya demi membuat keluarganya tidak khawatir dengan hubungannya dan Valdo. Meskipun dijelaskan pun, Velyn tau tidak akan ada gunanya. Valdo malah akan menganggapnya egois.


***


Tok tok tok


Suara ketika dari kamar Velyn terdengar dari balik pintu, membuat Velyn yang masih membuka matanya dengan pandangan nanar enggan untuk menanggapi. Perasaannya masih kacau balau, bahkan semalaman ia tak bisa tidur sama sekali, hingga membuat lingkar hitam di matanya terlihat jelas.


"Nyonya, sarapannya sudah siap, den Nino juga sudah nunggu di bawah" ujar Santi dari luar kamar sembari mengetuk pintu Velyn. Sebenarnya Santi sendiri juh


tidak mengerti bahkan mengetahui penyebab kedua pasangan yang harmonis itu tiba-tiba bertengkar lagi. Ditambah Valdo sampai keluar dari rumah, Santi hanya khawatir jika saja Valdo melakukan kekerasan lagi pada Velyn. Namun untunglah itu semua tidak terjadi.


Setelah sibuk dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba saja Velyn keluar dari kamarnya membuat Santi sedikit terkejut. Namun Santi juga sedikit khawatir akan keadaan Velyn yang terlihat tidak bersemangat sama sekali. Untungnya, masih ada Nino yang mampu membuat Velyn mau makan meskipun sebenarnya ia tidak bernafsu sama sekali.


Bahkan kegiatan kampusnya tidak berjalan dengan baik. Tidak seperti biasanya, Velyn yang ceria kini menjadi pendiam. Selama istirahat pun wanita itu berdiam di kamar mandi seraya menangis.


Saat Velyn di kelas pun wanita itu hanya terdiam dalam lamunan, ia bahkan tak mendengar satu patah katapun dari dosen. Sedang dua sahabatnya yang duduk dibelakang hanya mampu memberikan kode bertanya. Pasalnya Velyn sedikit tertutup dengan masalah pribadinya.


"Lyn, pulang bareng yuk!" ajak Dira yang tiba-tiba menyentuh pundak Velyn dari belakang, Velyn pun tersenyum. Nampak terlihat jelas wajah Velyn yang lebih pucat dari biasanya, bahkan lingkar hitam dibawah matanya terlihat begitu jelas saat Dira mendekat.


"Maaf ya, gue harus jemput anak gue"


"Tapi Lyn, kita udah nggak lama makan bareng loh, kumpul yuk sekali-kali" Velyn menghela nafasnya seraya melambai pada taksi yang mendekat kearahnya. Seketika taksi itupun terhenti tepat dihadapan Velyn yang kini masih memaaang senyum tak biasa pada Dira.


"Sorry ya, gue ada urusan. Lain kali aja ya?" Velyn kemudian masuk kedalam taksi dan mengabaikan Dira yang masih menatapnya dengan pandangan penuh kekhawatiran.


Sedangkan di dalam taksi, wanita itu kembali meneteskan air matanya lalu menyekanya dengan segera. Entah apa yang akan dilakukan Valdo setelah ini, mungkin ia akan membatalkan sidang perceraian dengan Lisa siang ini.


Waktu bergulir semakin cepat, membuat kenyataan yang sebelumnya membahagiakan kini bak roda berputar 180 derajat dari sebelumnya. Kemarin bahkan Valdo dan Velyn masih bersama, hubungan suami istri yang Velyn harapkan dan Velyn impikan akhirnya bisa sejauh ini. Serta kebahagiaan yang menyertai juga perhatian dan sikap Valdo yang mau menerimanya bahkan mencintainya, kini hilang secepat jentikan jari.


Apalagi keluarganya sedang tidak berada disisinya. Velyn begitu kesepian, jika tidak ada Nino maka kehidupannya akan sangat hampa.


Setelah beberapa menit menaiki taksi, kini ia pun turun dari dalam mobil itu, menyebrang jalan dan menatap taman kanak-kanak yang sudah berhamburan para balita yang berlarian bersama orang tua mereka. Velyn berjalan perlahan seraya menengok kanan kiri untuk mencari keberadaan putranya. Namun siapa sangka, Nino telah bergandengan tangan dengan wanita yang seketika membuat hatinya tak nyaman.


"Mama!" ujar Nino bersemangat seraya menatap Velyn dengan penuh kegembiraan. Namun kegembiraan itu seolah hanya sementara tatkala Lisa semakin mengeratkan pegangan ditangannya.


"Nino!"


"Lepasin tante, aku mau pulang sama mama"


"Nino, tadi kan papa sudah telepon kamu suruh pulang bareng tante. Kamu ingat kan kita mau jalan-jalan?" kata Lisa dengan nada kencang seolah sengaja membuat Velyn semakin terpuruk. Bahkan jika dilihat pun Velyn tidak mengeluarkan reaksi apapun selain diam menatap dirinya dengan datar.

__ADS_1


"Kalo papa jalan-jalan sama tante mama juga halus ikut dong!"


"Tapi papa kamu bilang cuma kita bertiga" sahut Lisa membuat Velyn masih bertahan terdiam tanpa kata.


"Nggak mau, pokoknya mama juga harus ikut! ikut ya ma!" mohon Nino pada Velyn, membuat Lisa memutar bola matanya.


"Boleh kok kalo mama kamu mau" sahut Lisa dengan nada sombong seraya menatap Velyn dengan pandangan sinis. Jika Velyn ikut pasti Valdo juga tidak ingin melihatnya dulu. Bagaimanapun yang dikatakan Valdo semalam memang benar, ia adalah perebutan suami orang yang membuat keluarga bahagia menjadi kacau.


Velyn tidak ingin lagi mengacau, apalagi setelah pertengkaran mereka semalam, kecil kemungkinan Valdo tidak akan marah dan emosi padanya. Velyn takut ia akan bertengkar dengan Valdo didepan anak kecil.


Tanpa ragu Velyn pun menggeleng, ia menatap Nino dengan raut wajah tanpa beban. Tersenyum seperti biasa meskipun hatinya amat perih dan terluka.


"Kamu pergi aja sayang, mama lagi sibuk, lain kali ya?" Velyn lalu membalikkan tubuhnya, ia bahkan tak menatap Nino yang begitu berharap akan dirinya. Meskipun begitu Nino juga tak bisa mengejar mamanya, perintah dari papanya tidak bisa diabaikan begitu saja.


Meskipun langkah Velyn begitu berat, tangis pecah saat ia mulai berjalan. Ia melambaikan tangan pada taksi lalu menaikinya. Ia ingin sekali dekat dengan keluarganya, setidaknya meskipun ia tidak akan menumpahkan penderitaannya pada mereka, namun setidaknya ada kekuatan yang merangkulnya. Entah mengapa rasanya Velyn seperti sendiri saat ini, hampa hidupnya tanpa ada orang yang mau memeluknya.


"Makasih ya pak!" ucap Velyn ketika ia sudah sampai dirumahnya. Rumah yang seharusnya menjadi tempat terhangat untuknya kembali sejauh apapun ia pergi, kini seolah kosong tanpa manusia satupun.


Seharusnya bukan Valdo yang pergi, melainkan dirinya. Bagaimanapun rumah ini adalah rumah milik Valdo, sedangkan Velyn hanya menumpang dan menjadi seorang pengganti.


***


"Do, kamu mau makan apa? mau steak atau spaghetti?" tanya Lisa yang kini duduk bersebelahan dengan Nino disebuah restoran roof top. Pandangan pria itu kosong menatap meja penuh makanan dihadapannya. Entah apa yang lelaki itu pikirkan, Lisa mencoba untuk menebak namun gagal. Ataukah Valdo masih memikirkan Velyn.


Padahal Lisa sudah memikirkannya semalaman agar mereka bisa mempunyai waktu bersama. Lisa hanya ingin membangun keakraban diantara orang tua kandung dan anak mereka, namun siapa sangka Valdo yang awalnya setuju untuk makan bersama tiba-tiba sja berubah mood menjadi dingin.


"Valdo?" Valdo mengangkat pandangannya, ia menatap Lisa yang sepertinya terlihat kesal dengan lamunan Valdo yang tiba-tiba terfikirkan oleh masalahnya beberapa hari yang lalu.


Ia pikir membatalkan perceraiannya adalah sebuah solusi yang tepat untuk membuat hidupnya terasa lebih baik. Valdo mencoba untuk membuka hati kembali pada Lisa, bahkan ia tinggal ditempat istri pertamanya itu semenjak kejadian tempo hari lalu. Ia tidak ingin membuat drama ini semakin berkepanjangan dan membuat seseorang yang tidak berdosa menjadi korban. Namun apalah daya, ia juga manusia biasa, ia tidak bisa mengendalikan perasaannya pada hati terdalamnya untuk orang yang paling ia cinta. Dan posisi itu masih berpegang teguh pada Velyn seorang. Setelah apa yang dilakukan wanita itu, Valdo juga tidak dapat menghilangkan bayang-bayang Velyn dalam pikirannya.


"Kamu masih mikirin Vel-"


"Jangan sebut namanya" gumam Valdo dengan tatapan membunuhnya membuat Lisa menghela nafas berat seraya menatap Nino yang sepertinya tak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan.


"Maafin aku Lis, aku butuh waktu. Tapi aku bakal coba buat ngulang semuanya dari awal" gumam Valdo membuat Lisa menghela nafas seraya membalikkan tubuhnya untuk menatap Valdo dan juga putra mereka.


"Aku nggak berharap banyak dari kamu Do, aku cuma pengen ngasih keluarga untuh buat anak aku. Aku nggak mau dia kehilangan sosok ibu lagi. Aku memaklumi kamu kalau kamu belum bisa ngelupain dia, karena dari awal aku memang salah"


"Jangan ngomong itu lagi, kamu itu korban Lis. Kamu bahkan nggak pengen kejadian itu terjadi"


"Aku tau" Valdo kemudian bangkit dan mendorong kedua pundak Lisa untuk duduk kembali, namun melihat ayahnya melakukan hal itu pada wanita lain membuat Lisa mendapatkan tatapan tajam dari Nino.


"Aku mau steak, kamu suapi aku ya?" pinta Valdo dengan lembut dan senyuman setelah membujuk Lisa untuk kembali ke kursinya. Lisa pun menurut, ia kemudian memotong kan steak untuk suaminya dan menyuapi Valdo dengan tatapan bahagia.


"Kenapa tante sama papa suap-suapan?" tanya Nino polos membuat Lisa menghentikan gerakan tangannya yang hendak menyuapi Valdo lagi. Memangnya apa salah Lisa menyuapi suami sendiri? bahkan ia dipanggil tante oleh anak kandungnya. Padahal Lisa tidak pernah melakukan kejahatan sama sekali, ia hanya melakukan kewajibannya dan dengan mudahnya orang lain yang mengambil posisi itu. Mendadak wajah wanita itu berubah murung ketika Nino berkata demikian. Hati ibu mana yang tidak terluka jika anak kandungnya sendiri tidak pernah mengakui dirinya, bahkan sampai berani menyinggung untuk berjauhan dengan Valdo.


"Nino, jangan panggil tante lagi ya, panggil mama" begitu kata Valdo setelah dirinya melihat ekspresi Lisa yang begitu sedih dengan perkataan Nino yang polos itu.


"Tapi dia kan bukan mama Nio pa!"


"Kata siapa dia bukan mama Nino? justru tante itu adalah mama kandung Nino, mama yang ngelahirin Nino" Nino hanya mampu menunduk, ia pun melepaskan sendok yang tadinya ia pakai untuk makan. Nino urung untuk melanjutkan makanannya yang tengah bersisa. Biasanya pasti dirinya akan disuapi oleh Velyn jika susah makan seperti sekarang. Tapi siapa sangka Lisa pun juga tak dapat membujuknya. Bagi Nino sendiri, ia lebih menyayangi Velyn dan mengakuinya sebagai ibu kandung daripada Lisa.


"Nggak perlu dipaksain, dengan gini aku jadi tau kalau Velyn benar-benar sayang sama anak kita" ucap lemah Lisa membuat hati Valdo bergetar. Padahal sudah tiga hari dirinya tidak bertemu dengan Velyn, namun mendengar namanya saja membuat Valdo ingat akan kesehariannya yang diwarnai wanita itu.


Entah bagaimana kabar Velyn bahkan Valdo tidak pernah mengetahui dan bertanya. Ia hanya masih kecewa dengan apa yang Velyn lakukan. Dipermainkan hatinya itu jauh lebih menyakitkan, atau mungkinkah Velyn memang dendam padanya hingga Valdo diperlakukan seperti itu?.


Di dalam perjalanan pulang dari makan siang keluarga, mereka tampak berkelit dalam pikiran masing-masing. Tak terkecuali Nino dan juga Lisa, tapi apa yang bisa Valdo lakukan? semuanya juga sudah terjadi. Pikirannya berkecamuk, dan sulit untuk mengambil keputusan saat ini. Yang jelas, Valdo tidak akan pernah menceraikan Lisa. Tapi untuk hubungannya dengan Velyn, ia masih akan berpikir banyak. Valdo juga tidak mungkin memiliki dua istri sekaligus, karena ia takut untuk tidak adil. Meskipun sebenarnya ia masih mencintai Velyn, ia juga tidak ingin melepaskan wanita itu begitu saja. Valdo terlalu mencintainya bahkan disaat-saat seperti ini, pikirannya dipenuhi oleh wanita itu.


Sedang apa? bagaimana kabarnya? ia selalu ingin mengetahui apa yang terjadi pada istrinya itu.


"Kita mau langsung pulang aja?"

__ADS_1


"Iya Velyn?" tiba-tiba saja Valdo membulatkan


matanya saat ia menatap Lisa yang kini tiba-tiba berubah menjadi murung. Tanpa disadari Valdo terlalu memikirkan wanita itu hingga tanpa sengaja membuat Lisa terluka.


"Maaf, aku?"


"Nggak apa-apa kok, aku ngerti" bisik Lisa dengan suara lirihnya.


***


Suara dering ponsel Velyn membuat wanita itu mengalihkan pandangannya dari laptop yang berisi materi dari tugas dosen yang membimbingnya. Entah mengapa setelah seminggu, semenjak perginya Valdo dan Nino dari rumah membuat Velyn begitu berharap untuk dihubungi oleh pria itu. Velyn hanya ingin mendengar suaranya sebentar saja, sejujurnya Velyn begitu amat rindu dengan mereka berdua, terlebih dengan Valdo. Namun jika benar pria itu yang menghubunginya, apa yang seharusnya Velyn katakan nanti? apakah Velyn akan diberikan kesempatan untuk mengutarakan maksudnya?.


Velyn menghela nafas, ia menelan saliva saat jemarinya bergerak dan segera mengambil ponselnya dari sebelah kanan laptop yang tak jauh dari pandangannya. Namun harapannya harus pupus ketika papa Valdo yang malah menelfon dirinya. Velyn segera mengangkat panggilan itu seraya menghela nafas lagi.


"Halo pa?"


"Velyn? ada apa ini? kenapa Valdo membatalkan sidang perceraian dengan seminggu yang lalu? ada masalah ya?" Velyn menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sejujurnya ia amat takut untuk menceritakan hal ini pada Gaisan, bagaimanapun dulu Gaisan pernah menculik Lisa dan menyanderanya selama bertahun-tahun. Velyn tau apa yang Gaisan pikirkan adalah untuk kebahagiaan dirinya meskipun itu artinya salah dan tidak dapat dibenarkan. Namun Velyn tidak dapat sembarangan berbicara, masalah sudah menjadi semakin rumit saat ini, Velyn tidak ingin menambahnya lagi..


"Eng-enggak ada kok pa, mas Valdo lagi ada bisnis ke luar kota jadi nggak bisa menghadiri sidang aja. Tapi papa tenang aja, setelah mas Valdo selesai pasti semuanya bakal lancar seperti sebelumnya" harapan Velyn juga begitu. Ia hanya ingin diberikan kesempatan satu kali lagi untuk memperbaiki kesalahannya, walaupun itu bukan murni salahnya. Tapi apa yang dilakukannya memang wajar jika Valdo marah padanya. Velyn hanya berharap semoga ia tidak lantas diceraikan begitu saja. Ia masih begitu mencintai Valdo, ia bahkan begitu menantikan kehidupan yang bahagia dengan pria itu.


Tapi kebahagiaan yang ia miliki beberapa waktu lalu, dengan cepat hilang dalam hitungan beberapa menit saja.


"Iya pa, hem papa juga jaga kesehatan ya" setelah percakapan mereka, Velyn akhirnya mengakhiri obrolan itu. Pikirannya berkelut, memikirkan nasib keluarga kecilnya yang entah harus bagaimana lagi menghadapi situasi sulit semacam ini.


Meskipun Velyn hanya melakukan satu kesalahan dan alasan mengapa tidak segera di maafkan? mungkin karena kesalahan Velyn begitu besar, sehingga Valdo begitu marah ketika mengetahuinya. Velyn pun juga menyesalinya, seharusnya ketika ia tahu untuk yang pertama kalinya ia harusnya bercerita pada suaminya.


Velyn menutup laptopnya, susah payah Velyn melupakan kejadian yang sebenarnya. Tapi tetap juga terfikirkan olehnya. Velyn hanya berharap semoga Valdo datang seperti dalam mimpinya, ia berharap semoga Valdo dapat memberikannya kesempatan bahkan untuk bicara dan menjelaskan.


Velyn terisak dengan suara lirihnya, ia begitu takut untuk kehilangan Valdo. Ia bahkan hendak mengatakan dan jujur tentang penyakitnya, namun sepertinya kesempatan itu tidak dapat ia gunakan dengan semestinya. Velyn meraih ponselnya dan menatap foto kemesraan mereka berdua pada wallpaper layar ponsel.


"Apa mas Valdo bakal ceraiin aku?" tanya Velyn lirih seraya menyeka air matanya yang masih menetes di pipinya. Ia menatap cincin di jemari manisnya, semua ingatan itu seolah berputar menjadi satu. Mengingatkannya akan sosok Valdo yang amat begitu hangat terhadapnya.


"Aku sayang sama mas! aku cinta sama kamu mas! kenapa kamu nggak mau dengerin penjelasan aku dulu? kenapa kamu nggak bisa maafin aku dengan satu kesalahan? sedangkan kamu punya banyak salah dan aku pun selalu maafin kamu?" Velyn menarik rambutnya kebelakang dan menangis tersedu-sedu. Entah mengapa pikirannya menjadi amat kacau dan sudah putus asa. Velyn membuka laci meja belajarnya, ia mengambil silet dan hendak menyayat pembuluh nadinya.


Namun sebelum benda tajam itu menusuk tangannya, tiba-tiba tangan yang lebih besar meraih silet itu, hingga membuat Velyn terkejut.


"Mas Valdo!"


"Kamu ngapain Velyn! kamu mau ngelukain diri kamu sendiri?" pria itu ikut terkejut dengan apa yang hendak Velyn lakukan. Namun Velyn masih menangis dan menunduk, ia benar-benar frustasi dengan keadaan. Tapi dengan adanya Valdo disampingnya, Velyn jadi semakin lebih lega. Velyn segera berhambur kepelukan Valdo, ia memeluk pinggang Valdo dengan erat seraya menangis dengan isakannya yang semakin menjadi.


"Maafin aku mas! aku cuma pengen kamu dengerin penjelasan aku dulu!"


"Aku tau kok, aku maafin kamu sayang" Velyn jadi semakin lebih tenang, ia menghela nafasnya dan menatap wajah Valdo yang begitu teduh seperti biasanya. Pria itu tersenyum padanya dan menyeka air matanya yang mengalir deras. Hati Velyn begitu lega saat ini, ia mengangkat pandangannya lalu berdiri dari duduknya. Velyn kemudian memeluk tubuh Valdo, membuat pria itu tersenyum dan mengelus punggungnya.


"Aku cinta sama kamu mas, aku nggak pengen kehilangan kamu" Valdo mengecup puncak kepala Velyn dan membuatnya tersenyum bahagia. Ia tak menyangka akan semudah ini, tapi ia bersyukur jika Valdo mau mendengarnya.


Namun tiba-tiba saja cahaya menyilaukan membuat wanita itu mengerjabkan matanya, ia melihat cahaya matahari masuk, menyilaukan matanya. Velyn segera bangkit, ia yakin malam itu adalah nyata. Tapi ternyata semuanya hanyalah mimpi. Velyn memukul pelan kepalanya, ia bahkan sempat-sempatnya berjalan ke kasurnya, padahal ia ingat sebelumnya ia masih berada di meja belajar dan duduk di sana.


Velyn menghela nafas beratnya, namun belum sempat ia bangkit dari duduknya, tiba-tiba saja darah seperti mengalir dari lubang hidungnya. Velyn terperanjat, ia buru-buru berlari ke kamar mandi dan segera membersihkannya.


Setelah selesai mandi, wanita itu kemudian melangkah turun. Hari ini ada mata kuliah pagi, tentu saja Velyn harus berangkat sebelum terlambat dan kehabisan bus. Entah mengapa semenjak ditinggal Valdo Velyn merasa nyaman naik bus daripada taksi. Baginya lebih ramai saja, meskipun agak panas dan berdesakan.


Velyn duduk di kursi makan dan menarik roti tawar dihadapannya. Ia pun mengoleskan selai kacang dan melahapnya. Tentunya ia tak selera sebenarnya, bahkan untuk menelan makanan ini ia ingin sekali segera menghabiskannya. Namun Velyn sadar betul bagaimana perjuangan Santi saat menyiapkannya sarapan. Belum lagi beberapa hari lalu Santi begitu khawatir ketika melihat dirinya beberapa hari tak makan karena masalah keluarga yang Velyn hadapi.


"Nyonya ada kuliah pagi ya?" Velyn hanya mengangguk ketika wanita itu mengantarkan beberapa buah untuk disediakan didepan Velyn. Wanita itu pun hanya mengangguk dan tersenyum pada pembantunya satu itu.


Meskipun Velyn jarang mengobrol dengan Santi, tapi Velyn tau hanya Santi saja yang perduli padanya. Velyn mengalihkan pandangannya pada buah dihadapannya, ia mengambil apel dan pisau buah untuk mengupasnya. Namun gerakannya terhenti saat sebelum menggesekkan pisau buah itu pada apel ditangannya.


Tiba-tiba saja Velyn terpikirkan kejadian semalam. Velyn yang tanpa sadar bermimpi dan hendak bunuh diri tiba-tiba saja didatangi oleh Valdo yang menghentikannya untuk melakukan itu. Velyn membulatkan matanya. Tapi ia yakin malam itu bukanlah ilusi, ia seperti melihat Valdo asli. Velyn kemudian perlahan mengarahkan pisau itu pada tangannya dan menyayat pembuluh nadi ditangannya.


Jika itu hanya mimpi, Velyn juga ingin bertemu dengan Valdo. Namun harapan Velyn pupus seketika, saat apa yang ia harapkan tak pernah terjadi. Tangannya yang berlumuran darah kini semakin lama semakin deras membuatnya pusing.

__ADS_1


"Astaga! Nyonya!"


__ADS_2