Velyn Love

Velyn Love
Setelah pagi hingga sore


__ADS_3

Mata Valdo yang semula terpejam kini sedikit demi sedikit terbuka, pria itu menatap seluruh ruangan yang tak asing baginya. Tubuhnya masih terasa lemah tatkala ia hendak bangkit dari tidurnya.


"Kak Valdo udah bangun?" suara itu semakin membangkitkan kesadaran Valdo kala pandangannya kini beralih pada Velyn yang tengah baru saja memgambil handuk di lemari. Velyn buru-buru membantu pergerakan Valdo saat pria itu hendak merubah posisinya untuk duduk.


"Gimana keadaan kakak? udah baikan?" perhatian dari Velyn membuat Valdo tersenyum dan menangkup wajah Velyn meskipun pergerakannya masih begitu lemah.


"Kak, suhu tubuh kakak udah turun, mau aku bantu ke kamar mandi?" Valdo hanya mengangguk, meskipun Velyn masih terlihat begitu dingin, tapi istrinya ini begitu perhatian. Valdo melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 16.00, itu artinya seharian ia hanya bisa berbaring dan Velyn yang merawatnya. Entah mengapa mengingat perhatian dan juga kerja kerasnya seharian dalam merawatnya membuat hati Valdo berbunga. Andai bisa, Valdo ingin sakit saja terus, jika itu bisa membuat hubungan keduanya semakin dekat seperti saat ini.


"Kak? kakak nggak apa-apa kan?" pertanyaan itu membuat Valdo menggeleng. Bagaimanapun juga perasaannya sudah lebih baik daripada pagi tadi. Meskipun tubuhnya amat sangat lemah saat ini, namun ia masih bisa bangkit dengan bantuan Velyn.


Setelah sampai di kamar mandi, Velyn dengan ragu bergerak melepaskan pakaian Valdo satu persatu. Karena badannya masih hangat Velyn memutuskan untuk hanya mengelap tubuh suaminya dengan air hangat.


"Seharian kakak nggak mandi, aku bantu lap aja ya?" Valdo hanya mengangguk dengan senyuman lemahnya. Wajahnya yang terlihat pucat tambah semakin membuat Velyn tak tega saja.


Meskipun agak canggung, Velyn tetap harus melakukannya. Padahal Velyn sudah biasa melihat Valdo yang bertelanjang dada, namun kali ini berbeda, secara langsung ia berinteraksi dengan tubuh Valdo yang begitu atletis itu. Tanpa Valdo sadari, wajah Velyn sudah memerah sejak tadi, tanpa perduli dengan apa yang dirasakannya Velyn terus saja mengelap tubuh Valdo perlahan, membasahi tubuhnya dari bagian dada sampai punggungnya.


"Makasih ya sayang, kamu pasti capek ya ngerawat aku dari pagi sampek sore begini?" tanya Valdo membuat Velyn mengangkat pandangannya, dan mengalihkan pandangannya lagi. Sejujurnya Velyn tidak kuat jika harus menatap mata Valdo itu. Semakin ia menatapnya semakin Velyn berharap lebih padanya. Sedangkan, itu tidak seharusnya dirasakan olehnya.

__ADS_1


"Aku yang seharusnya minta maaf sama kakak, kalau tadi malam aku nggak egois, nggak mungkin kakak bisa sampai demam kayak gini" ujar Velyn seraya masih melanjutkan mengelap tubuh Valdo perlahan.


"Kalau gitu nanti kita tidur seranjang ya?" goda Valdo ditengah fokusnya Velyn saat ini. Namun Velyn hanya menggeleng seraya membuang muka. Ia tak akan termakan oleh godaan Valdo lagi, kali ini Velyn sudah selesai mengelap tubuh Valdo, ia kemudian meraih handuk diatasnya yang tadi ia ambil dari dalam lemari.


"Nggak usah mulai deh, kamu tidur di atas pokoknya. Masih nggak sadar juga ya kalau lagi sakit?" Valdo terkekeh, ternyata istrinya ini kalau sedang kesal bisa marah juga. Dan lihatlah wajahnya yang dingin itu, ingin rasanya Valdo mencium bibirnya agar Velyn menghentikan ekspresi kesalnya.


***


Setelah selesai mengelap tubuh Valdo, Velyn akhirnya masuk lagi kedalam kamar. Ia membawakan bubur dan minuman jahe untuk Valdo yang tengah terduduk dengan wajahnya yang sudah hampir bugar sepenuhnya.


Valdo tersenyum kearah Velyn yang sedang menaruh nampan diatas nakas seraya mengambil posisi duduk untuk berhadapan dengan Valdo. Entah mengapa dari tadi Valdo merasa aneh dengan gelagat Velyn yang begitu cuek dan enggan untuk menatapnya.


Rasanya sedikit aneh saja, karena biasanya Velyn yang berada disisinya selalu membalas senyumnya. Matanya juga selalu mengarah padanya, namun berbeda dengan kali ini. Ketika Velyn hendak menyuapinya, ia hanya mengatakan satu atau hanya dua patah kata saja.


"Ayo makan!" perintah Velyn seraya mencoba untuk menyodorkan sendok berisi bubur itu pada bibir Valdo. Namun siapa sangka, bukannya membuka mulut, Valdo malah meraih lengan Velyn dan menatapnya dengan serius.


Kalau tidak diutarakan maupun ditanyakan hati Valdo jadi tidak tenang nantinya. Dengan menatap dua bola mata Velyn yang terlihat bingung itu Valdo mulai menginterogasinya dengan pandangan yang menelisik.

__ADS_1


"Kamu kenapa sih sayang? kamu marah ya sama aku? atau aku ada salah sama kamu?"


"Maksud kak Valdo apa sih?" tanya Velyn balik membuat Valdo semakin mengerutkan keningnya dan menampilkan mimik wajah ketidakpuasan terhadap pertanyaan balik dari Velyn barusan.


"Kamu itu nggak kaya gini sebelumnya Lyn, kamu itu ramah, penuh senyum. Nggak pernah aku liat kamu kaya gini sebelumnya, sebenernya kamu itu kenapa sayang?" Velyn hanya bisa menunduk saja. Memang kelihatan ya kalau Velyn sebenarnya sedang menghindari Valdo?. Tapi maksud Velyn bukan seperti apa yang Valdo pikirkan. Ia hanya ingin berhenti berharap dan bergantung pada pria satu ini.


Sebenarnya Velyn juga tidak ingin seperti ini, ia lelah jika harus berpura-pura. Tapi entah mengapa, rasanya tiap kali Valdo menatapnya, ia mengingat setiap ucapan Valdo saat pria itu tengah tak sadarkan diri. Nama yang disebutkan olehnya terlalu mengganggu di hati Velyn sampai saat ini.


"Kenapa kamu diem aja? atau kamu sebenarnya capek rawat aku dari pagi? kamu jadi nggak bisa ngapa-ngapain karena aku lagi sakit kaya gini?" Velyn menatap Valdo dengan tajam. Nafasnya memburu seolah ia benar-benar termakan emosi. Memang Valdo pikir Velyn bersikap seperti ini karena merasa terbebani?. Benar-benar pemikiran yang konyol menurutnya.


"Iya! aku emang capek ngurusin kamu seharian! aku capek kak!" kata Velyn seraya meletakkan bubur itu kembali keatas nampan dan bangkit dengan wajahnya yang memerah dan matanya yang berkaca.


Velyn hendak melangkah pergi dengan perasaan kesalnya. Namun belum sempat ia membalikkan tubuhnya, tangannya dengan cepat ditarik oleh Valdo, hingga tubuh Velyn hampir terjatuh jika Valdo tidak secepatnya menahan punggungnya.


Kini posisi Velyn sudah berada dipangkuan Valdo, membuat mata Velyn yang semula hanya berkaca kini perlahan menteskan air mata. Padahal Velyn tidak ingin menangis. Rasanya ia sudah tidak tahan lagi dengan perasaannya yang berkecamuk itu. Velyn benci, ia benci dengan perasaannya pada Valdo.


"Ssstt, maafin aku ya sayang. Maaf banget kalau aku punya salah sama kamu. Aku nggak niat buat ngomong jahat kaya gitu kok, aku cuma bercanda. Kamu jangan nangis ya?" kata Valdo seraya menghapus jejak air mata Velyn.

__ADS_1


__ADS_2