
Semburat warna jingga terlihat dilangit senja ibukota, kini Velyn baru saja pulang dari kegiatannya seharian di kampus. Apalagi hari-hari ini banyak sekali tugas yang harus ia kerjakan. Gadis itu mendengus, ia baru saja diantar oleh ojek online yang sengaja ia pesan.
Semenjak perusahaan keluarganya bangkrut kini Rahardian memilih untuk beristirahat sejenak seraya memulihkan kondisinya yang belum lama ini memburuk. Begitupun juga Velyn, hal besar yang menimpa keluarganya tak membuat ia dengan mudah mengeluh. Baginya kesehatan sang ayah lebih penting daripada segalanya.
Sementara itu perusahaan keluarga masih dibantu oleh sahabat karib sang ayah, siapa lagi kalau bukan Isan. Meskipun sebelumnya hubungan keluarga mereka merenggang tapi Isan tetaplah bersikap baik pada keluarga sahabatnya itu.
Hal itulah yang membuat Velyn menyadari, bahwa seharusnya ia harus mulai belajar mandiri mulai saat ini. Bahkan ia sempat memberhentikan pekerjaan sang supir pribadinya untuk tidak lagi bekerja ditempatnya. Hal itu bukanlah tanpa alasan, tapi ia tak ingin membebani sang ayah yang tengah dilanda keterpurukan.
Ceklek.
Suara terbukanya pintu membuat ruangan tersebut menggema, ia meneliti setiap ujung ruangan yang membuatnya rindu akan kehangatan keluarga.
"Assalamualaikum" ujarnya yang kini mungkin hanya terdengar jangkrik yang samar-samar menertawakannya. Velyn sudah terbiasa semenjak kejadian itu, bundanya memang sering keluar bersama sang ayah untuk mengontrol keadaannya. Gadis itu buru-buru naik ke lantai atas untuk sejenak merebahkan tubuhnya. Ia merasa lelah dengan tugas yang ada, kadangkala ia juga ingin berlibur sejenak dan mereset otaknya yang dipenuhi tugas dari kampusnya.
Mata Velyn mengerjap, jika saja ini malam ia pasti sudah memejamkan matanya tanpa ragu. Sayangnya ia menempati waktu senja, Malia pernah bilang.
"Jangan tidur sore Lyn, nanti kalau kamu kebiasaan tidur sore bisa stress otak kamu."
Begitulah ucapan sang bunda yang tiba-tiba terngiang diingatannya. Memang bundanya selalu mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan mitos maupun norma kesopanan, tapi itulah yang dirindukan Velyn. Meskipun terdengar tidak masuk akal, namun ia memahami begitu pentingnya bertindak disiplin setiap waktu.
Gadis itu menghela nafasnya, ia mulai bosan kali ini, sedangkan hari mulai menggelap. Velyn mengecek ponsel yang berada di tas kecilnya, barangkali ada pesan penting.
Beberapa ada pesan dari grup kampusnya, tak ayal gadis itu begitu lelah, bukan hanya pelajaran di kampus yang menyerang otaknya namun perbincangan dari para teman sekelasnya yang membuat ia tambah gila. Kalau ini mah, mau Velyn tidur sore atau tidak sekalipun fikirannya bisa stres jika memikirkan kuliahnya.
Velyn semakin menggeser pesan chatnya kebawah, kebanyakan yang mengechatnya adalah kakak tingkat maupun teman seangkatannya yang sengaja mengajak untuk PDKT, namun sayangnya Velyn sendiri enggan untuk menanggapi. Ia lebih menikmati kehidupannya saat ini, karena menurutnya memilih pasangan tidaklah mudah baginya.
__ADS_1
Beberapa kali gadis itu menghapus pesan dari orang-orang yang sengaja mengajaknya untuk pacaran. Ia menghapus pesan itu tanpa membukanya dulu, namun tatakala melihat chat dari Andra tiba-tiba saja ia tersentak, matanya membulat.
Diurungkannya niatnya menghapus pesan-pesan itu, kembali ia membuka chat dari Andra yang memang terlihat tengah online. Perlahan Velyn membuka chat itu dan betapa terkejutnya ia membaca chat dari Andra yang hendak menjemputnya untuk makan malam kali ini.
"Aduh, aku lupa, gimana nih?" Velyn bergegas untuk mandi, ia tak menghiraukan chat tersebut. Selesai mandi ia buru-buru untuk mengganti pakaiannya. Setelan celana putih bandatan dan baju merah lengan pendek. Tak tau lagi apa yang ia fikirkan mungkin baru pertamakali ini ia keluar malam dengan seorang pria. Ia tak mau nantinya ayah dan bundanya salah faham jika melihatnya memakai dress atau pakaian yang feminim.
Belum sempat ia menyisir rambutnya Velyn dikejutkan dengan suara ponsel yang berdering. Ia buru-buru mengangkat panggilan itu tanpa memperhatikan siapa yang menelfonnya.
"Halo?"
"Velyn? udah siap? saya jemput ya sekarang?" kata pria tersebut disebrang sana. Velyn terperanjat, ia meletakkan sisirnya tatakala mengamati rambutnya yang begitu banyak rontok. Entah mengapa, hati Velyn seperti sakit, ia masih terdiam dengan tatapannya yang terpaku pada wajahnya didepan cermin.
"Lyn? halo?" suara berat itu tiba-tiba membangunkan lamunannya, ia memilih untuk tetap tenang dan mencoba untuk bersikap biasa.
"Pak, kenapa bapak ngabarin saya mendadak sih, saya baru aja pulang dari kampus" kata Velyn yang kini berubah nada menjadi kesal. Untungnya ia berinisiatif untuk mengecek ponselnya tadi, jika tidak betapa malunya ia jika Andra tiba-tiba datang dan langsung mengajaknya untuk keluar.
"Udah" jawab gadis itu singkat seraya dengan cepat mematikan ponselnya. Hanya dengan mendengar suara Andra yang begitu lembut Velyn seperti melayang dibuatnya. Ia tak tahan meski hanya berbicara lewat telfon saja.
Kini matanya berbinar dengan pipinya yang bersemu merah akibat menahan malunya terhadap Andra yang baru saja menghubunginya.
Velyn bergegas untuk merias diri, ia tak mau terlihat berlebihan jika berjalan dengan Andra, bisa jadi nanti dia yang malah terlihat seperti ingin merayu pria itu. Gadis itu segeralah meraih kuncir rambut hitam diatas meja rias dan mengikat rambutnya, menyisakan poni yang sedikit menutupi alisnya. Velyn membubuhkan sedikit bedak diwajahnya, tak lupa ia juga memoles bibirnya dengan lipstik berwarna peach yang membuat penampilannya tampak natural.
Gadis itu segera keluar dari kamarnya dengan membawa tas kecil yang selalu menjadi teman mainnya. Tak lupa Velyn juga mencoba menghubungi orang tuanya sebelum ia keluar rumah. Takutnya mereka akan berfikir jika anak perempuan mereka hilang malam-malam begini.
Velyn membuka pintu rumahnya dan mencoba untuk keluar, dengan telfon genggam yang kini menempel ditelinganya, bermaksud untuk menelfon bundanya.
__ADS_1
Ceklek.
Namun siapa sangka kini sang bunda bersama ayahnya berada dihadapannya, hendak masuk kedalam rumah. Kebetulan sekali gadis itu hendak keluar dan orang tuanya baru saja sampai.
"Loh Velyn mau kemana?" pertanyaan dari sang ayah membuat Velyn menelan ludahnya. Jika saja ia keluar lebih cepat bisa jadi tak semenegangkan ini menghadapi ayah bundanya.
"Ayah, bunda Velyn ada janji sama temen, Velyn keluar bentar boleh ya?" pertanyaan itu membuat ekspresi bunda dan ayahnya sedikit bingung. Entah mengapa tak biasanya mereka seperti ini. Kadang mereka tanpa basa-basi mengizinkan gadis itu untuk keluar namun tidak boleh kembali pulang diatas jam 9 malam.
"Bun, kenapa?" tanya pada gadis itu yang menatap kedua orangtuanya tengah saling melirik.
"Lyn, sebenarnya, ada yang ingin kami sampaikan sama kamu" perkataan Malia membuat Velyn mengernyitkan keningnya. Sepertinya ada hal serius yang membuat ekspresi ayah dan bundanya seperti berbeda dari biasanya.
"Ada apa bun?" pertanyaan itu membuat Rahardian menggeleng, ia seperti mengisyaratkan sesuatu pada isterinya.
"Nanti aja nak, kamu keluar dulu nggak apa-apa. Besok kita musyawarah sama-sama ya" perkataan sang ayah membuat Velyn semakin penasaran saja. Sebenarnya apa yang disembunyikan orangtuanya pada dirinya, seperti ada hal serius yang membuat wajah mereka tampak khawatir.
"Iya ayah, kalo gitu Velyn mau keluar sebentar ya?" perkataan Velyn yang begitu manis hanya mendapat anggukan kecil dari keduanya.
Velyn kemudian mencium punggung tangan sang ayah dan bundanya bergantian sebelum ia keluar dari rumahnya.
"Assalamualaikum, Velyn berangkat dulu ya" kata Velyn dengan ceria seraya menampakkan senyum cantik diwajahnya.
"Jangan lupa, nggak boleh sampe diatas jam 9 ya" perkataan sang bunda mendapat anggukan dari gadis itu sebelum ia benar-benar melewati kedua orangtuanya keluar dari kediamannya tersebut.
Setelan berlalunya Velyn, Malia dan Rahardian saling melirik. Bahkan fikiran wanita setengah baya itu menerawang mengingat Velyn dengan dosen muda yang kemarin hari menjemputnya.
__ADS_1
"Apa ayah yakin Velyn bakal setuju?" pertanyaan Malia membuat Rahardian mengernyitkan keningnya, namun sedetik kemudian pria itu tersenyum kembali.
"Ayah akan coba bujuk dia bun, pasti dia mau kok, sementara ini kita turuti apa yang dia mau dulu, nanti kita kasih tau kalau dia udah keliatan seneng" perkataan Rahardian memang ada benarnya. Namun yang ia maksud bukanlah perihal bagaimana meyakinkan anaknya, namun bagaimana Velyn bisa menerimanya dengan hati yang lapang nantinya. Malia hanya tersenyum, meski hatinya berkata lain.