
"Aduh sayang, jangan ditarik dong hidung aku" setelah puas mencubit hidung suaminya, Velyn segera bangkit, namun pergerakannya ditahan oleh Valdo sehingga gadis itu masih bertahan dipangkuannya.
"Kak, aku minta maaf, lepasin dong" bujuk Velyn seraya menunjukkan matanya yang membentuk puppy eyes seperti anak kecil saja. Tapi rayuan Velyn sudah tidak mempan lagi baginya. Sekarang yang ada Valdo malah semakin erat memeluk pinggangnya, tak sampai disitu pria itu juga membenamkan wajahnya pada dada Velyn yang terlihat tercetak jelas transparan.
"Kamu yang mulai, dan kamu juga harus tanggungjawab sama apa yang udah kamu perbuat" Velyn mengernyit, ia mengerjabkan matanya kala Valdo seperti sudah sangat bernafsu padanya. Bertanggungjawab? bahkan sepertinya Velyn tidak melakukan apa-apa, kecuali, sesuatu yang memang tidak ia sengaja.
Velyn membulatkan matanya kala Valdo tiba-tiba saja mengangkat bokongnya dan menghadapkan tubuhnya untuk berhadapan dengan Valdo. Namun pikiran Velyn yang terlalu polos pun kini menjadi liar kala ia menyadari jika Valdo semakin berani mengecup bagiannyadan meninggalkan bekas disana. Memberikan sensasi berbeda di setiap aliran darah Velyn yang berdesir.
"Kak, ini diluar, ak-aku" belum sempat Velyn melanjutkan perkataannya, kini Valdo malah menangkup wajah Velyn dan mencium bibirnya dengan ganas. Velyn yang diperlakukan seperti itu hanya mampu memejamkan matanya erat-erat, namun juga sedikit mengimbangi pergerakan Valdo yang amat bernafsu itu.
"Sekarang kamu udah tau kan apa yang aku maksud sama pertanggungjawaban. Jawab aku sayang, kalau sebenarnya kamu juga ingin" ucapan sensual itu terdengar merdu ditelinga Velyn. Serta gigitan kecil ditelinganya bersamaan dengan nafas Valdo yang berhembus membuat jemari Velyn hanya mampu meremas punggung Valdo.
Benarkah mereka akan melakukannya malam ini? sebuah makan malam romantis, gaun transparan yang menunjukkan lekuk tubuhnya, serta kamar hotel yang indah dengan harum aromaterapi yang masih dapat Velyn hirup dari roof top ini.
Astaga! bahkan Velyn baru menyadari itu semua. Kali ini habislah sudah nyawanya, ia bahkan belum mempersiapkan apa-apa untuk melayani Valdo.
Pikiran Velyn yang dipenuhi bayangan liar dan penuh fantasi itu akhirnya menghilang sudah, tergantikan oleh ******* dibibirnya. Velyn hanya bisa mengikuti alur yang diberikan oleh Valdo padanya. Seolah ia sudah rela jika kehormatannya kini diambil oleh sang suami dengan persetujuannya.
Valdo kini beralih bangkit, ia masih menyatukan tubuh mereka, dan menggendong Velyn yang masih menempel pada tubuhnya tanpa melepaskan pagutaannya.
__ADS_1
Ia memberikan Velyn kesempatan sejenak saat Velyn sudah ambruk diatas ranjang. "Udah siap sayang?"
Belum sempat Velyn membalas pertanyaan Valdo, pria itu sepertinya sudah buru-buru membuka kancing kemejanya satu persatu, menampilkan tubuh Valdo yang begitu atletis dan membuat bulu kuduk Velyn berdiri.
Velyn hanya terdiam, sedangkan Valdo sudah tidak sabar untuk menikmati malam pertama mereka. Pria itu dengan ganas merobek gaun transparan yang dikenakan oleh Velyn. Valdo menggerayangi, mengecup serta memberikan kenikmatan padanya.
Velyn mendesah, saat Valdo mulai membuka seluruh pakaian Velyn sekaligus pakaiannya juga. Rasanya Velyn benar-benar malu dan memilih untuk menggigit bibir bawahnya.
"Kamu seksi sayang, sabar ya, ini bakal sakit buat yang pertamakali, tapi setelah itu kamu bakal minta jatah terus kok" bisik Valdo ditengah permainannya yang membara. Valdo ingin Velyn mengenangnya, ia ingin memberikan yang terbaik untuk awal sebelum status gadis Velyn berubah menjadi wanita.
Perlahan Valdo mengulum bibir Velyn dengan lembut, memberikannya sedikit nafas agar Velyn bisa leluasa mengerang dan mendesah. Perlahan Valdo memulainya, terasa hangat, namun seperti ada yang menahannya.
"Kak, sakit" gumam Velyn seraya memejamkan matanya dengan bulir air mata yang keluar dari sudut matanya.
"Sebentar ya sayang, dikit lagi" bisik Valdo membuat Velyn menggigit bibir bawahnya seraya mengangguk. Mempersilahkan Valdo untuk memainkannya sesuai dengan apa yang ia mau, namun tetap dengan kelembutan.
Valdo melirik seprai dibawahnya yang ternyata benar-benar basah dengan darah segar yang mengalir di sana. Valdo tersenyum, ia bangga menjadi yang pertama untuk Velyn. Rasanya miliknya seperti diurut oleh jepitan Velyn yang masih terasa sempit. Namun inilah nikmatnya. Valdo mulai mempermainkannya lagi dengan ritme yang semakin lama semakin cepat, membuat tangisan Velyn yang tadinya pecah kini berubah menjadi desahan dan juga erangan darinya.
Bahkan Velyn mencengkeram bahu Valdo dengan erat, seolah ia menikmati apa yang Valdo lakukan padanya.
__ADS_1
"Kak, ah!"
"Kamu mau bilang apa sayang, heum?" Velyn hanya bisa menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri saat Valdo mulai beraksi dengan meremas bagian tubuhnya yang sensitif.
"Kamu nakal kak!" kesal Velyn seraya disela desahannya. Valdo semakin mempercepat temponya. Bahkan Velyn sampai kuwalahan dibuatnya.
Mereka melakukannya lagi dan lagi, sepertinya Valdo benar-benar belum puas untuk menyiksa Velyn. Rasanya malam ini benar-benar luar biasa. Pinggang Velyn rasanya juga seperti mau patah saja. Valdo benar-benar bernafsu besar. Mereka sampai melakukannya beberapa ronde.
"Makasih ya sayang, aku cinta sama kamu Velyn" gumam Valdo diakhiri miliknya yang masih terbenam dibawah sana. Ia mengecup kening Velyn membuat senyuman gadis itu mengembang disertai anggukan darinya.
Valdo pun ambruk dipelukan Velyn dengan posisi bokong Velyn yang diganjal bantal dengan Valdo yang tengkurap diatas tubuh Velyn. Valdo menarik selimut dan menyelimuti tubuh mereka yang tengah bermandikan keringat.
"Semoga kita bisa cepat bikin adek buat Nino" gumam Valdo ditengah matanya yang terpejam, membuat Velyn tiba-tiba mengerutkan keningnya seraya terkekeh.
Setelah mata Valdo terpejam dengan sempurna, disertai dengan suaranya yang menghilang, Velyn kemudian mengecup rambut Valdo. Ia berbisik sangat pelan, berharap semoga Valdo tidak pernah mendengar apa yang ia katakan.
"Aku juga cinta sama kak Valdo. Makasih kakak udah hadir dalam hidup aku. Makasih buat malam yang luar biasa ini" Velyn kini sudah sepenuhnya menjadi istri Valdo lahir dan batin. Ia bahkan tak menyangka, hatinya dan hati Valdo ternyata memiliki perasaan yang sama.
Velyn memejamkan matanya, ia hanya berharap, jika saja waktu bisa berhenti. Maka ia akan menikmati ini, menikmati kebersamaannya bersama orang yang ia cinta. Tanpa ada rasa keraguan dan ketakutan dalam hatinya.
__ADS_1