
"Makasih ya mas udah mau nurutin permintaan Nino" ujar Velyn seraya berjalan kearah ranjang dan melepaskan tas miliknya. Wanita itu kemudian duduk seraya menatap kearah Valdo yang terlihat melepaskan jasnya.
Buru-buru Velyn bangkit kembali dan membantu suaminya untuk melepaskan jas serta dasi yang mengikat kerah kemejanya.
"Kenapa makasih? Nino itu anak kita, sudah sewajarnya kita ngasih kebahagiaan buat dia" Velyn menghentikan jemarinya yang berkutat pada dasi di leher Valdo. Tak sengaja mata mereka saling bertemu. Mata elang yang selalu membuat dada Velyn berdegup dengan kencang, hidung yang bangir dan bibir tipis yang tiap kali menghisap bibir mungilnya. Mata mereka bertemu, ditambah dengan tatapan Valdo yang hangat pada wanita dihadapannya.
Senyuman Valdo semakin intens, ia mendekatkan wajahnya kearah Velyn, membuat mata Velyn refleks tertutup. Namun tebakan Velyn salah besar, kini Valdo menyentuh puncak kepalanya seraya tertawa renyah.
"Hahaha, kamu kenapa tutup mata?" Velyn yang awalnya menutup mata kini membukanya kembali, pipinya mengembung seperti bakpao seraya memerah. Ia malu sekaligus marah pada Valdo yang baru saja mengerjainya. Alangkah percaya dirinya ia berfikir bahwa Valdo akan menciumnya.
"Mas Valdo!" Velyn mencubit perut Valdo, membuat tawa Valdo semakin pecah, pria itu berlari menghidar dari Velyn yang terlihat kesal kali ini.
"Awas ya kamu mas!"
"Ampun tuan putri, pangeran nggak sengaja" tawa Valdo semakin menjadi setelah ia melihat Velyn semakin sebal dengan tingkahnya. Kini Valdo telah berada disebrang ranjang, mencoba menghindar dari amukan sang istri.
"Mas! kamu jail banget sih. Ahhh!' tiba-tiba saja Velyn tak sengaja terpeleset dan menabrak tubuh Valdo hingga tubuh mereka saling menindih di atas ranjang. Tanpa sadar, Valdo menatap Velyn lamat-lamat, wajah mereka saling berdekatan saat ini, ditambah lagi posisi Velyn yang menindih Valdo.
"Ehemm, ternyata kamu bisa modus juga ya sayang" mata Velyn membulat mendengarnya. Ia kemudian buru-buru bangkit seraya memalingkan mukanya dari Valdo yang terlihat tersenyum bukan main.
"Si-siapa yang modus! nggak sengaja!" Velyn mencoba untuk menghindar, ia melangkah menjauh dari Valdo yang kini duduk di atas ranjang.
__ADS_1
Namun belum sempat wanita itu melangkah pergi, tiba-tiba saja sebuah tangan menarik lengannya. Membuat wanita itu membalikkan tubuhnya menghadap Valdo lagi. Rupanya Valdo ingin bermain-main sebentar dengan istrinya. Sejujurnya, ia juga sangat merindukan Velyn. Selama sebulan ini bahkan Valdo enggan menyentuhnya karena masih merasa bersalah terhadap Velyn. Namun sudah selama ini, setiap kali Velyn berada disisinya, ia selalu tak tahan dan memilih untuk memimpikan Velyn dalam tidurnya saja.
"Mau kemana sayang?"
"Mandi!" jawab Velyn ketus seraya memalingkan wajahnya. Ternyata Velyn masih merasa kesal, ia bahkan tak mau menatap pandangan Valdo yang biasanya membuat pipi Velyn merona.
"Mau mandi bareng?"
"Hah?! enggak ah!" tolak Velyn mentah-mentah membuat lengkung bibir Valdo sedikit
demi sedikit menurun. Valdo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia kemudian menyentuh ujun hidungnya yang bangir itu. Kali ini ia merasa frustasi, bisa-bisanya ia menggoda istrinya sampai marah begini.
"Kalo gitu, aku mau"
***
Suara alarm berdering, membangunkan sosok pria yang kini menggeliat dibawah selimut tanpa mengenakan sehelai kain pun ditubuhnya. Valdo kemudian membuka matanya perlahan, ia membalikkan tubuhnya, menatap sang istri yang kini memeluk erat lengannya.
Begitu melihat Velyn di pagi hari, senyum hangat dari pria dingin itu kembali. Hanya untuk Velyn seorang dan selamanya akan begitu.
Valdo menyentuh pipi Velyn, tubuh Velyn yang polos dibawah selimut yang menjadi satu dengannya membuat ia hanya mampu menelan saliva seraya menahan hasrat yang timbul di pagi hari. Velyn yang awalnya memeluk erat lengan Valdo, kini kemudian membalikkan tubuhnya seraya masih memejamkan matanya. Valdo tau, ia pasti sangat kelelahan semalam.
__ADS_1
Hanya menatap punggung sang istri membuat Valdo tau betapa besar pengorbanan Velyn selama ini. Valdo kemudian memeluk tubuh Velyn dari belakang, ia mencium lembut punggungnya yang polos itu. Betapa bahagianya ia memiliki Velyn yang selalu ada untuknya, bahkan menerima dirinya apa adanya.
Mengingat hal itu, Valdo begitu malu akan dirinya di masa lalu. Ia menyia-nyiakan kesempatan untuk bersama dengan wanita ini, meskipun dulu Velyn memang tidak sempurna seperti saat ini, namun tingkah Valdo terhadapnya memang sangat keterlaluan sekali. Ia bahkan tak henti-hentinya meminta maaf dalam hati saat ia terdiam seraya menatap wanitanya itu.
Tiga jam Kemudian …
Velyn berlari menuruni anak tangga, ia bahkan tak sadar jika dirinya masih mengenakan kimono yang biasa ia pakai untuk tidur di malam hari. Wajahnya penuh dengan kekhawatiran saat ini, bagaimana tidak, jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi, yang artinya Velyn benar-benar terlambat untuk mengikuti mata kuliah pertama setelah hari magangnya berakhir.
"Mbak Santi!" teriak Velyn seraya berlari menuruni anak tangga dan menatap arah dapur yang sepertinya tidak terdapat orang sama sekali. Begitu sepi dan sunyi, padahal biasanya jam segini Santi selalu sibuk untuk bersih-bersih rumah.
Velyn menggerutu dalam hati, bisa-bisanya Valdo juga tidak membangunkannya tadi pagi. Velyn berjalan kesana kemari, ia mencari keberadaan Santi yang sepertinya memang tidak datang hari ini. Velyn yang berjalan kearah kolam renang menghela nafas lelah. Ia harus membolos kali ini, meskipun kenyataannya ia adalah perempuan rajin yang tidak pernah absen jika tidak ada hal yang mendesak.
Velyn yang berdiri di tepi kolam renang mendengus, ia membalikkan tubuhnya. Namun siapa sangka, lantai yang licin membuat pergerakannya tidak seimbang.
"Aaahhhhh!!" tubuhnya bergetar kuat seraya menegang kala ia merasa takut untuk membuka mata. Namun ia merasakan ada seseorang yang menangkap pinggangnya, Velyn membuka matanya ia menatap mata elang milik Valdo yang begitu mempesona. Valdo buru-buru menarik tubuh Velyn kedalam pelukannya, membuat Velyn terkejut. Namun ia tak dapat mengalihkan pandangannya sedikitpun dari mata Valdo.
Jantung Velyn berdetak kencang lagi, mungkin Valdo bahkan bisa mendengar detakan itu sampai-sampai pria itu tersenyum kearah istrinya.
Valdo mendekatkan wajahnya, ia mencondongkan tubuhnya seraya mencium bibir Velyn yang lembut itu. Velyn menyambut dengan hangat, meskipun ia agak terkejut, tapi rasanya nyaman ketika pelukan itu berubah menjadi ciuman panas di pagi hari.
Langkah Lisa tiba-tiba terhenti, kala ia menyaksikan pria dan wanita yang saling bermadu kasih ditepi kolam renang. Ia mengalihkan pandangannya seraya mengepalkan tangannya. Sejujurnya Lisa benar-benar tidak terima, ia masih mencintai lelaki itu, lelaki yang notabenenya masih suami sahnya meskipun mereka akan bercerai nantinya. Mendadak hatinya perih, kelam dalam kenyataan yang pahit. Kebahagiaannya telah direnggut, dan itu bukan akibat ulahnya namun wanita bernama Velyn itu yang membuat hidupnya hancur seperti saat ini.
__ADS_1
"Valdo!" suara lantang itu membuat kegiatan Velyn dan Valdo terhenti. Mereka berdua saling menatap Lisa dan berpandangan satu sama lain. Bahkan kini Velyn amat sangat terkejut akan kehadiran Lisa yang tiba-tiba dan tanpa permisi. Velyn dibuat bingung lagi, ia menunduk menghindari tatapan Valdo yang masih menatap Lisa tanpa henti.