Velyn Love

Velyn Love
Kenyataan yang terungkap


__ADS_3

50


"Kalian ini gimana sih? masa anak saya bisa hilang? enggak niat kerja ya?!" bentak Lisa yang memarahi karyawan yang kini hanya mampu tersenyum seraya menahan emosinya di ubun-ubun.


"Maaf ya bu, tapi kami bekerja bukan untuk menjaga anak ibu. Lagipula ibu dan bapak duduk didepan sana kan? seharusnya kalian lebih berhati-hati lag-"


"Nyolot ya kalo di kasih tau. Anak gue ilang! masa sih ngawasin anak segede itu aja nggak bisa? mata lo kemana?"


"Lisa?! daripada kamu ngomel dan marah-marah kaya gitu yang ada kamu cuma bikin malu. Lebih baik kita cari Nino sama-sama, Nino nggak akan ketemu dengan marah-marah nggak jelas kaya gitu"


"Tapi Do-" Valdo menatap tajam Lisa, membuat wajahnya pucat pasi seketika. Amarah Lisa yang berapi-api tadi kini mulai mereda, berganti dengan rasa kesal karena Valdo membentaknya.


"Maaf ya mbak, mungkin istri saya cuma khawatir aja. Bisa minta tolong beritahu security untuk membuat pengumuman tentang kehilangan anak saya?-" pandangan kesal dari jauh ditunjukkan oleh Riri yang meremas kain baju Oca, membuat gadis itu mencubit lengan Riri dengan kencang.


"Tuh liat muka duanya si Ratna keluar juga kan, huh ngomongnya nggak mau pacaran. Eh ternyata, Aw!"


"Bisa nggak, nggak usah remes baju gue segala, ini belinya pakek duit loh, bukan pakek harta warisan keluarga lo" kesal Oca membuat Riri memanyunkan bibirnya dan mengalihkan pandangannya lagi kearah Valdo dan istrinya itu.


Oca kira perempuan itu adalah pacar Valdo, mengingat lelaki itu baru saja bercerai dengan Velyn. Tapi siapa sangka Valdo akan secepat itu menikah lagi dengan cepat setelah memutuskan untuk menghentikan hubungan pernikahan itu yang masih seumur jagung.


Oca benar-benar tidak menyangka jika semuanya terjadi dengan angannya yang menyumpahi Velyn agar wanita itu tidak pernah bahagia. Hanya karena seorang Andra yang bukan siapa-siapanya, iq mengabaikan ketulusan yang seharusnya ia hargai dan ia jaga selamanya.


"Heh! lo kok malah bengong sih. Mereka lagi cari anaknya tuh. Daripada gitu mending kita bantuin mereka, kasian kan" tatapan penuh curiga dari Oca membuat Riri semakin percaya diri dengan sikapnya. Hanya sebentar, jika tidak bisa memiliki lelaki tampan tapi setidaknya bisa melihat pria itu lebih lama.


Dan benar saja, Riri telah berhasil menyogok Oca lagi, hanya dengan modus mencari keberadaan seorang anak, perempuan itu kini melangkah dengan senang dan bahagia mengikuti Valdo. Dan nasib Oca? entah apa yang harus ia lakukan dengan mengikuti istri Valdo yang galak itu. Oca mengikuti wanita itu dari jauh saja, daripada nanti ia malah di maki habis-habisan seperti Ratna yang menggantikan shift nya tadi. Lagipula mengikuti istri Valdo juga hanya sebagai syarat saja.


"Tenang Ca, demi jatah makan siang seminggu tuntas, lo harus sabar" hela nafas Oca seraya masih menatap punggung wanita itu yang semakin menjauh, namun bukannya malah mencari anaknya wanita itu malah berhenti dan mengobrol asik dengan seseorang yang berpapasan dengannya. Lelaki tinggi tegap asing yang menyentuh punggung istri Valdo dan…


"Astaga, mata gue!" keadaan mall di bagian situ sangat sepi ketika pria itu meremas dada wanita itu dan menarik lengan Lisa kedalam beberapa pinggiran ruko yang kosong. Oca benar-benar terkejut dengan apa yang ia lihat barusan, matanya sudah ternoda dengan pemandangan tindak cabul yang dilakukan oleh mereka. Tapi, tiba-tiba saja Oca terpikirkan akan sesuatu, Oca meraih ponselnya dan semakin mendekat kearah ruko tadi, ia mengendap-endap dengan sangat hati-hati dan merekam kegiatan mereka dengan menyelipkan kamera dari ponselnya seraya berjongkok.


Meskipun Oca tidak tau apa yang keduanya lakukan, tapi suara desahan didalam sana sudah cukup membuktikan bahwa keduanya tengah melakukan hal yang tidak senonoh. Setelah tiga puluh detik berlalu kini Oca menarik ponselnya dan segera mematikan ponselnya lalu memasukkannya kedalam tas.


"Ah ah, gimana permainan aku?"


"Lumayan, apalagi berdiri itu posisi kesukaan aku" Oca menutup mulutnya tak percaya, ia buru-buru kabur dari sana setelah mendapatkan video syur yang membuatnya semakin syok tak terduga.


"Hosh hosh hosh… gila! baru lima menit gue ngikutin udah senam jantung aja gue! ya ampun gue tadi liat apa sih?! mata gue udah nggak perawan anjir!" Oca mengumpat penuh kesal seraya segera keluar dari dalam mall tersebut. Ia sudah tidak perduli lagi dengan perintah Riri yang sesat tak tertandingi itu. Tapi untungnya Oca sudah memiliki bukti di ponselnya itu.


Ia merasa lebih tenang meskipun akhirnya ia sempat lelah karena berlarian agar tidak tertangkap basah oleh Lisa.


***


"Nino, mau ya mama antar ke papa" bujuk Velyn yang tengah berjongkok didepan bocah kecil itu seraya menatapnya penuh harap. Bagaimanapun Nino ingin bersama dengan Velyn, tapi hal itu juga tidak mungkin terjadi. Meskipun Velyn tidak tahan melihat Nino merengek, tapi setidaknya ia akan mencoba untuk membujuknya dulu.


"Enggak!"


"Tapi-"


"Nino!" suara tegas itu membuat hati Velyn seketika ngilu dan menghentikan perkataannya yang hendak melintas dari dalam pikirannya. Suara berat yang tidak bisa ia lupakan sama sekali kini bagai pedang tajam yang menyakiti perasaannya saat ini. Velyn buru-buru bangkit, ia membalikkan tubuhnya tanpa menatap Valdo sedikitpun.


"Ve-Velyn?" suara kedua sahabatnya yang memanggilnya bersamaan membuat wanita itu tak menggubris perkataan mereka dan ia melangkah begitu saja. Nino hendak berjalan mengikuti langkah Velyn, namun lengannya ditahan oleh Valdo yang menatap intens punggung Velyn dari belakang.


"Mama pa! itu mama. Nio mau ikut mama pa"


"Nggak boleh Nino! dia itu bukan mama kamu" meskipun suara itu terdengar samar namun Velyn masih dapat mendengarnya dengan jelas. Velyn terisak, ia berlari kearah lift dan segera turun dari sana tanpa memperdulikan kedua sahabatnya yang kini ikut berlari sangking khawatirnya.


"Velyn tunggu"


"Lyn! tunggu dong!"


Dira dan Christyn saling melirik dan berdecak, mereka menatap Valdo dengan tajam yang kini hanya mampu menghela nafas dan membalikkan tubuhnya tanpa dosa sedikitpun. Mungkin ini yang terbaik untuk mereka, agar Velyn juga dapat melupakannya.


Valdo memang pengecut, ia tak pantas mendapatkan perempuan sebaik Velyn. Kata-kata yang keluar dari mulutnya itu pantas untuk di kutuk. Setidaknya ia tidak perlu menyakiti jika tidak bisa membahagiakan. Namun apa yang harus dilakukan oleh seorang Valdo jika semuanya sudah terlambat untuk diperbaiki.


Kata cerai sudah ia ujarkan dengan lantang dan jelas, seolah tanpa beban dan berpikir dahulu sebelum memutuskannya. Setelah semuanya terungkap, entah apa yang akan dilakukan Valdo pada hatinya yang ngilu.


***


51

__ADS_1


Ceklek


" Velyn, kok udah pulang aja nak? katanya mau-"


"Bun, gimana kalau kita berangkat besok aja?" tanya Velyn tiba-tiba yang kini memasuki rumahnya tanpa memberi salam terlebih dahulu. Permintaan itu sontak membuat Malia terkejut, tapi bagus juga jika lebih cepat. Dengan begitu penyakit Velyn dan juga bayi didalam kandungannya bisa lebih cepat diselamatkan, tapi entah mengapa kerutan di dahi Velyn itu membuat perasaan Malia justru tidak tenang.


"Ada apa nak? kamu habis nangis ya?"


"Enggak kok bunda, Velyn baik-baik aja. Velyn sadar keselamatan Velyn dan juga bayi didalam perut Velyn ini penting. Velyn cuma nggak mau melewatkan prosedur pengobatan yang mampu mengancam kami berdua" Malia menghela nafas, mungkin saja apa yang dikatakan Velyn benar. Mungkin saja ia terpikirkan oleh masa depan anaknya kalau ia tidak bisa selamat dari perjuangan yang mempertaruhkan nyawanya itu. Namun semakin menatap Velyn, semakin Malia ingin menangis saja didepan putrinya satu itu.


"Bisa, kalau gitu bunda bilang ke kakakmu dulu ya, suruh pesan tiket. Kamu istirahat aja dulu"


"Iya, makasih ya bun" Velyn kemudian melangkah menuju kamarnya, setelah menaiki anak tangga, wanita itu kemudian membuka pintu dan masuk kedalam kamarnya yang bernuansa biru itu.


Velyn menghela nafas, ia menutup pintunya erat-erat seraya duduk diatas ranjang seraya melempar tasnya kesembarang tempat. Nyeri di hati Velyn sudah tidak tertahankan lagi, mungkin kalau ia cepat-cepat pergi ia akan melupakan lelaki itu untuk selamanya. Velyn tersenyum, ia tertawa sinis dengan sikap konyol yang ia lakukan setelah mendengar kata-kata menyakitkan dari Valdo.


Padahal Velyn sudah berencana untuk tidak bereaksi jika bertemu dengan Valdo, tapi nyatanya ia tidak bisa membohongi hatinya kalau ia masih menyimpan rasa yang begitu dalam terhadap lelaki itu bahkan sampai saat ini.


Seharusnya ia tidak buru-buru kabur, seharusnya ia menatap matanya dengan tajam dan mengatakan lewat ekspresinya jika ia sudah melupakan apa yang sudah ia berikan pada lelaki itu. Tapi Velyn tidak mampu hanya menatap lelaki itu, mendengar suaranya saja sudah membuat Velyn merinding, takut juga sakit dalam hatinya yang paling dalam.


Dering ponsel Velyn membuat pikirannya buyar seketika, ia buru-buru mengangkat panggilan dari dalam tasnya. "Hallo?"


"Velyn? lo kemana aja sih? kita khawatir tau? lo sekarang ada dimana? biar gue jemput sama Dira" Velyn menyentuh dahinya yang amat pening itu, ia sampai lupa untuk tidak mengabari kedua sahabatnya. Alhasil kedua sahabatnya itu pasti amat khawatir dengannya.


"Gue ada di rumah kok, maaf ya nggak ngabari, gue buru-buru"


"Syukur deh kalo lo udah dirumah, gue sama Dira nyari-nyari lo kemana-mana tau nggak. Tau tuh dimana dia sekarang, bukannya nyariin malah ngilang"


"Hahahaha, aduh maaf banget lo ya kalian jadi kerepotan kaya gini. Gue refleks pengen cepet-cepet balik aja tadi"


"Iya nggak apa-apa kami ngerti kok"


"Oh iya Christ, gue... besok berangkat" Christyn membulatkan matanya, tentu saja gadis di seberang sana pasti syok bukan main. Pasalnya Velyn sudah memberitahu jika akan berangkat Minggu depan, tapi malah berakhir seperti ini. Apalagi liburan Velyn kali ini tidak terhitung libur cepat.


"Hah?! gila lo? kok mendadak banget sih?"


"Ada apa Christ?" Christyn memberikan kode pada Dira agar gadis itu menutup mulutnya dulu. Karena hal ini terjadi mendadak, Dira pasti akan bereaksi yang sama sepertinya.


"Why?"


"Velyn mau berangkat besok"


"What?!"


***


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuat Valdo yang merebahkan tubuhnya kini membuka pintu dengan langkahnya yang lelah. Ia membuka daun pintu tersebut dan nampak Santi yang membawa secarik kertas.


"Ada apa Santi?"


"Ini tuan, saya nemuin laporan dari rumah sakit waktu saya beres-beres kamar tamu. Nggak sengaja surat itu jatuh waktu saya mau gantung baju kebayanya Nyonya-" Santi menghentikan kata-katanya yang hendak terlontar dari mulutnya. Bagaimana bisa ia mengatakan Nyonya Velyn, padahal Velyn juga sudah resmi bercerai dengan Valdo. Valdo menghel nafas lelah, ia meraih kertas itu dan memutar bola matanya. Siapa yang tidak tau kalau Santi akan menyebutkan nama wanita itu.


"Ya sudah kamu pergi sana"


"Baik tuan" Valdo segera masuk kedalam kamar, untung saja Lisa tengah ada janji dengan teman-temannya, jadi secara kebetulan ia tidak akan tau perihal apa yang disampaikan Santi padanya. Termasuk hal mengenai Velyn.


Valdo segera membuka kertas tersebut, ia membacanya dengan seksama seraya mengamati tiap huruf yang tertera disana. Valdo tertegun, tanpa sadar ia menjatuhkan kertas tersebut dan terdiam mematung tanpa ekspresi.


"Ve-Velyn, aku nggak salah baca kan? nggak mungkin Velyn?" mata Valdo memerah, ia segera meraih ponsel yang berada diatas nakas dan menelfon seseorang diseberang sana.


"Bet, cepet jemput gie sekarang. Ini penting" ujar Valdo seraya mengusap kasar wajahnya. Tiba-tiba ia ingat saat ia bertemu dengan Velyn dirumah sakit dan memergokinya keluar dari ruangan dokter spesialis hemologi. Waktu itu Valdo sama sekali tidak penasaran bahkan berniat untuk mengetahui mengapa Velyn masuk kedalam ruangan itu. Pikiran dan hatinya dipenuhi rasa benci dan kesal, ia tidak pernah berpikir


jika Velyn akan mengalami ini.


***


52

__ADS_1


Keesokan harinya…


Valdo memutuskan untuk meminta cuti hari ini, ia kini sudah berada di apartemen miliknya yang sengaja ia beli untuk menghindar dari Lisa. Valdo terduduk di ranjang dengan matanya yang masih tak berkedip sama sekali. Bahkan lingkar hitam dibawah matanya sudah menjadi saksi bahwa ia tidak tidur semalaman.


Suara bel pintu membuat pria itu buru-buru bangun, ia membuka pintu tersebut dan nampaklah Robert juga lelaki yang sudah ia tugaskan beberapa hari lalu untuk menyelidiki sesuatu.


"Masuk!" perintah Valdo membuat keduanya mengangguk dan masuk untuk duduk dituang tamu apartemen. Pria bernama Steven itu kini telah mengeluarkan beberapa berkas dari dalam tasnya dan diletakkan di atas meja.


Entah mengapa suasana hati Valdo kini semakin menegang saat kedua pria dihadapannya saking melirik dan menatap Valdo penuh keyakinan. Seolah apa yang akan dikatakan oleh Steven juga Robert merupakan informasi yang amat menakutkan dalam hidup Valdo.


"Ini pak, hasil tes DNA anda dengan Nino, dan ini hasil pemeriksaan ibu Velyn setelah mendapat informasi dari beberapa orang" Valdo meraih berkas dihadapannya dan membuka kertas tersebut, ia melirik Steven dan menghela nafasnya.


"Lanjutkan, saya butuh penjelasan sambil saya baca data-datanya" Steven melirik Robert yang kini hanya mampu mengangguk seraya meyakinkan hari Steven untuk mengatakan hal apapun yang sudah ia ketahui.


"Seperti yang telah tertera di laporan itu. Anda dan juga Nino, sama sekali tidak memiliki ikatan darah sedikitpun" Valdo menelan ludahnya kasar seraya menatap tajam Robert dan Steven bergantian. Hal itu membuat Steven terdiam sejenak seraya menatap manik mata Valdo yang penuh amarah tanpa celah.


"Maaf-"


"Lanjutkan! kalau belum selesai lanjutkan, saya mau dengar semuanya tanpa mau berkomentar apa-apa" kata Valdo membuat Steven menelan salivanya yang amat berat dan mengganjal di tenggorokannya. Sejujurnya Steven juga amat takut jika saja tiba-tiba Valdo marah dan melakukan sesuatu yang tidak terduga. Namun kegugupan itu ia tepis seketika mengingat profesionalitas yang tertanam dalam dirinya selama ini sebagai seorang detektif.


"Dan, tentan Bu Velyn. Beliau ternyata memiliki riwayat penyakit leukimia seperti mendiang ayahnya. Setelah data-data yang ada kami kumpulkan, Bu Velyn ternyata sudah menderita penyakit tersebut semenjak beliau menginjak sekolah menengah pertama. Semakin lama tubuhnya semakin mengecil, berat badannya turun signifikan dan tidak di rasa. Bahkan beliau baru mengetahui penyakitnya saat hari pertama menikah dengan anda" Valdo menutup mulutnya tak percaya, ia menunduk dengan pandangan lemah dan kosong. Ia sudah menduga bahwa hal itu pasti terjadi, namun Valdo masih berharap jika hal itu hanyalah mimpi, tapi ternyata kenyataan menampar wajah pengecutnya.


"Dan se, sebenarnya Ibu Velyn memakai kontrasepsi karena jika ia hamil itu akan menghambat kesembuhan dan mengancam jiwanya. Awalnya beliau menolak untuk berobat, tapi entah mengapa ditengah-tengah ia mulai mau adan memutuskan untuk bertahan. Tapi setelah itu entah mengapa ibu Velyn memutuskan untuk berhenti mengkonsumsi pil kontrasepsi dan akhirnya beliau positif hamil"


"Apa?!" sontak saja Valdo bangkit dan menatap Steven dengan pandangan tajam juga matanya yang kini semakin memerah. Hamil?, bahkan sebelumnya Valdo mengatakan hal penuh kebencian pada wanita yang amat ia cintai. Tapi hal itu seperti butiran debu saat ia menampar Velyn yang kecewa karenanya. Valdo menceraikannya dengan tanpa berpikir sekalipun. Pasti mengetahui hal bahwa suaminya sendiri menghamili orang lain adalah hal yang amat menyakitkan, makanya ia mengatakan hal demikian agar Valdo merasakan hal yang sama.


"Iya, Bu Velyn mengetahui positif hamil setelah menerima surat cerai dari pengadilan" Valdo terduduk lemas, pikirannya kacau tak menentu. Senyum Velyn tiba-tiba terlintas dibenaknya menambah lara yang luar biasa. Senyuman yang terasa tiada beban itu, adalah bentuk dari seonggokan penyakit dalam raganya juga jiwanya yang meminta agar Valdo memberikan kasih sayang lebih sebelum ia menemui ajal seperti ayahnya.


Valdo terisak, ia tidak perduli terlihat seperti seorang pengecut di hadapan bawahannya sendiri. Tapi apapun yang ia lakukan, apapun bentuk rasa sakitnya ia tak bisa kuat untuk menahannya.


"Pak Valdo? anda tidak apa-apa?"


"Sudah, saya siap mendengarkan segala kenyataan yang ada. Tidak perlu memikirkan perasaan saya" ujar Valdo seraya meraup wajahnya kasar. Meskipun matanya masih memerah, juga tubuhnya yang bergetar, namun ia harus yakin untuk tidak bertindak buru-buru. Ia harus mendengarkan penyelidikan Steven sampai akhir.


"Baiklah, tapi saya juga punya sesuatu yang membuat mungkin perasaan anda jadi tidak nyaman. Ini, silahkan anda lihat" ujar Steven yang kini menyerahkan ponselnya pada Valdo. Valdo meraih ponsel itu dan menemukan file video yang mencurigakan.


"A-apa ini?"


"Video perselingkuhan istri anda dengan teman laki-lakinya semasa SMA" Valdo masih terdiam, ia memutar video itu dan menatap percintaan penuh gairah dari istrinya yang kini tak dapat ia sangka. Valdo masih terdiam, ia menunggu penjelasan dari Steven yang agak ragu dengan apa yang hendak ia katakan.


Valdo melirik Steven, pria itu berdehem seraya mengerahkan secarik kertas lagi pada Valdo. Kertas yang sama, yang diberikan di awal, namun berbeda laporan. Valdo menghela nafas, Steven dan juga Robert sejujurnya tidak bisa membaca apa yang dipikirkan oleh pria satu itu. Tapi yang jelas, hati Valdo tengah berkecamuk dan memikirkan hal gila juga tidak menyangka dengan peristiwa kelam kehidupannya.


"Nama pria itu, Kelvin. Kami melakukan riset dan menemukan bahwa Ibu Lisa ternyata sudah lama berhubungan dengan Kelvin, bahkan setelah menikah dengan anda, ia masih sering bertemu dengan Ibu Lisa di luar. Dan tanpa sengaja, kami juga mempunyai kenalan orang terdekat dari Kelvin, kami meminta bantuan untuk mendapatkan DNA nya dan kami cocokkan dengan DNA Nino, dan hasilnya seperti yang anda lihat. Sembilan puluh delapan koma sembilan persen Nino adalah anak biologis dari Kelvin" Valdo masih terdiam mendengar penjelasan dari Steven, mungkin saja pria itu ragu untuk melanjutkan tapi karena hal ini adalah hal penting maka sebisa mungkin Steven akan mengatakannya meskipun menyakitkan.


"Se-sebenarnya Pak Gaisan sudah mengetahui hubungan terlarang antara Kelvin dengan Ibu Lisa. Dulu yang pergi meninggalkan anda dan Nino adalah Ibu Lisa, beliau pergi dan hidup bersama Kelvin karena waktu itu Kelvin mau membawa anak mereka dan Ibu Lisa untuk hidup bersama setelah mendapatkan pekerjaan" Valdo masih terdiam, wajahnya tertunduk mendengarkan apa yang dikatakan oleh Steven. Namun kata-kata Steven tertahan sejenak untuk menghela nafasnya.


"Mengenai kenapa Ibu Lisa meminta anda untuk bertanggungjawab dan kenapa beliau tidak meminta pertanggungjawaban Kelvin. Itu karena Kelvin tidak mau bertanggungjawab, Kelvin tidak sekaya anda dan ia tidak mempunyai pekerjaan yang mumpuni. Makanya anda di jebak" Valdo mengangkat pandangannya, ia menatap tajam Steven dengan amarah. Namun Steven tidak menghiraukannya. Sudah sepantasnya Valdo marah meskipun tidak dengannya, itu karena kebodohan Valdo sendiri. Kebodohan yang terus ia pelihara sampai saat ini.


"Kalian pernah melakukan hubungan itu saat kelulusan, sesungguhnya itu bukan karena anda melakukannya dalam keadaan mabuk. Tapi anda diberi obat bius dan pingsan seketika. Saat anda sadar, Lisa sudah membuat anda telanjang dan seolah-olah melakukannya dengan anda. Perihal kenapa Pak Gaisan sudah tau, itu karena beliau juga sudah menyelidikinya dari awal. Ibu Lisa memohon pada pak Gaisan untuk kembali pada anda setelah usaha Kelvin bangkrut. Namun Pak Gaisan tidak bisa memaafkan apa yang telah dilakukan oleh mereka. Pak Gaisan kemudian menawarkan sebuah uang setiap bulannya untuk mereka hidup bersama, uang itu bisa digunakan untuk modal usaha juga. Syaratnya mereka berjanji tidak lagi mengganggu anda. Tiga tahun berlalu dan usaha yang mereka tekuni tidak lagi membuahkan hasil, yang ada mereka malah merugi. Itu semua memang sengaja mereka lakukan karena ingin mendapatkan uang yang instan dari Pak Gaisan tanpa bekerja namun akhirnya..."


"*Selama ini saya sudah memenuhi kebutuhan kalian, saya tidak mau kalian terus bergantung pada saya!"


"Tapi kami sudah berusaha om, usaha kami gulung tikar terus!"


"Hey! apa kamu pikir saya ini bodoh haa! kalian itu memang tidak pernah berusaha buat bikin usaha mana ada usaha ynag memang nggak ada dari awal bisa berkembang. Tiga tahun loh?! kalian ngapain aja sama uang yang saya kasih?"


"Om! om sudah janji kan bakal memenuhi kebutuhan kami asalkan kami nggak ganggu anak om lagi" ancam Lisa membuat mata Gaisan memerah dan menatap tajam wanita yang kini memegang erat jemari Kelvin itu.


"Kamu ngancam saya? memangnya kamu ini siapa berani-beraninya ngancam saya? ingat ya? kalau kamu sampai macam-macam, saya bisa aja bikin kamu dan suami haram kamu itu pergi ke neraka*."


"Pak Gaisan sudah lelah ditipu oleh mereka berdua, pada akhirnya beliau tidak lagi mau memberikan uang pada Kelvin juga Ibu Lisa. Tapi ancaman Lisa ternyata bukan hanya sekedar gertakan saja. Lisa ternyata tau tentang renaca pernikahan anda dengan Ibu Velyn, akhirnya beliau memanipulasi seolah-olah Pak Gaisan penyebab dirinya menghilang. Pak Gaisan pun murka, ia menelfon orangnya dan memerintahkan agar Kelvin dan Lisa tidak bergerak sembarangan. Ternyata benar, Pak Gaisan yang dijebak. Pada malam pertama anda, Ibu Lisa sengaja menabrakkan diri pada mobil beliau. Alhasil tanpa sengaja Pak Gaisan menabrak Ibu Lisa-"


"Cukup! saya sudah paham alurnya. Tidak perlu dijelaskan lagi" nafas Valdo memburu, ia meraih jaket dibelakangnya seraya bangkit dan meraih kunci mobilyang berada d gantungan.


"Pak, anda mau kemana?"


"Tempat Velyn!"


"Tapi Ibu Velyn akan berangkat ke Amerika sekitar setengah jam lagi?"

__ADS_1


Deg!


__ADS_2