
*Anakku Andra, gimana kabar kamu nak. Maafin papa ya nak, belum bisa jenguk kamu walau kita sudah lebih dari satu tahun nggak bertemu. Hidup papa sedang tidak baik-baik saja nak, papa masih sering tidur di jalanan, masih sering kelaparan dan kedinginan. Papa harap kamu ngerti keadaan papa dan alasan kenapa papa nggak menemui kamu.
Papa cuma malu bertemu kamu dengan sandal dan baju usang yang sudah tidak layak pakai. Papa takut kamu malu dengan nasib papa yang sekarang ini nak. Sementara kamu ikut mama ya, nanti kalau papa sudah mendapat tempat yang layak, papa pasti akan menjemput kamu*.
Tanpa terasa air mata Andra menetes hanya dengan membacanya. Tiga pucuk surat yang ia baca mengandung perjuangan dari papanya yang jatuh bangun karena ditipu dan tidak mendapat pekerjaan. Hingga papanya tidak mau menikah karena memikirkan Andra yang entah dimana keberadaannya. Meski belum bertemu tapi Andra merasakan kerinduan yang sangat amat ketika membacanya.
Andra menghela nafasnya setelah tangisnya pecah beberapa saat. Pria itu menatap sebuah foto yang diberikan olehnya lalu memeluknya erat.
***
"Lyn, dihabiskan makannya, nanti bantu bunda cuci piring juga" Velyn hanya menghela nafas seraya mengangguk lemah. Entah mengapa pikirannya buntu seketika saat ia mencoba untuk berpikir jernih tentang masalahnya.
Padahal ia sudah tidak ingin lagi berhubungan dengan pria satu itu, tapi entah mengapa mendengar cerita dari Valdo membuatnya ikut miris dan prihatin. Velyn melirik piringannya yang masih terlihat nasi dan lauk yang tersisa akibat pikirannya yang kacau.
"Kenapa ngelamun? ayo bantu bunda" perintah bunda membuat Velyn mengangguk dan membawa piringnya kedapur untuk di cuci olehnya. Velyn mengambil sabun dan juga spons lalu menggosoknya ke piring bekas ia makan tadi. Velyn melirik bundanya yang tengah memotong buah disampingnya seraya terdiam sedari tadi.
"Kapan Andra mau nikahin kamu?" pertanyaan itu sontak saja membuat mata Velyn membulat mendengarnya. Jantungnya berdegup kencang serta pipinya yang memerah tak karuan. Sejenak Velyn mengingat kembali senyuman hangat Andra juga tiap kali pria itu selalu ada untuknya.
"Bun, bunda ngapain sih bahas itu lagi?. Kan aku udah bilang mau fokus sembuh dulu" ujar Velyn asal seraya melirik bundanya yang kini terkekeh menggodanya. Meski begitu, Velyn masih saja malu jika ada yang bertanya padanya perihal pernikahan. Jujur saja, siapa yang tidak mau menikah dengan Andra. Pria sempurna dan mapan, baik hati dan selalu ada untuknya. Tapi untuk saat ini Velyn akan menepis semua itu dulu demi kesembuhannya.
"Ya gimana dong, bunda juga pengen gendong cucu dari kamu juga biar rumah tambah rame. Kamu tau sendiri kan anaknya Rega itu masih umur dua tahun masih kecil buat dibikinin adek-"
"Bunda ngomong apa sih? jangan ngomong yang aneh-aneh ah" Velyn meraih buah apel yang sudah dipotong oleh bunda lalu meninggalkan wanita itu sendiri dengan senyum penuh arti. Menggoda Velyn untuk menikah sama saja mendorong Malia untuk memiliki cucu lagi. Apalagi Andra sudah siap, tinggal disahkan saja semuanya juga sudah beres.
Tapi pemikiran Velyn tidak seperti itu, ia masih harus berjuang melawan penyakitnya. Velyn berjalan kearah kamarnya, ia masuk kedalam dan meraih ponsel yang berada diatas nakas. Jemarinya kemudian menggeser layar ponselnya ke kiri dan ke kanan. Padahal biasanya Andra tidak pernah absen untuk sekedar memberikan ucapan selamat malam padanya tapi kali ini Velyn tidak menemukan satu pesan pun dari pria satu itu. Velyn mencoba untuk menelponnya, tapi setelah sekian menit panggilannya tak kunjung menyambung. Perasaan Velyn kini berubah tak karuan, ia mencoba untuk menghubungi nomor telepon rumah Andra tapi hasil yang ia dapat juga sama.
Malia memindahkan channel televisi didepan matanya seraya masih menikmati buah yang dipotongnya tadi. Tanpa sadar matanya menangkap bayangan Velyn yang keluar dari kamarnya dengan gerakan tergesa. Tentu saja Malia merasa sedikit cemas, pasalnya hari sudah menggelap dan malam juga semakin larut.
"Mau kemana Lyn?"
"Ke tempat Andra sebentar"
"Loh, kok tumben?"
"Velyn buru-buru nih bunda, nanti aja ngomongnya" ujar Velyn yang berjalan cepat ke depan rumah membuat bundanya bangkit dan buru-buru menyusul putrinya yang sudah di jemput oleh taksi. Malia yang hendak mencegah Velyn pun urung saat Velyn dengan cepat masuk kedalam mobil tersebut.
Padahal tidak biasanya Velyn bersikap seperti itu, tapi baru kali ini putrinya amat khawatir karena Andra. Sejujurnya Malia juga sedikit khawatir, tapi ia yakin jika Andra bisa menjaga putrinya dengan baik kalau Velyn pulang terlalu larut nantinya.
"Andra!" sudah berkali-kali Velyn mengetuk maupun memencet bel pintu rumah besar dihadapannya, namun pria itu tak kunjung membukakan pintu untuknya. Meski malam masih menunjukkan pukul sembilan kurang lima belas menit, tapi Velyn amat sangat khawatir dengan keadaan Andra yang tiba-tiba hilang kabar.
Velyn mencoba untuk menelfon, namun hasilnya masih sama seperti sebelumnya. Wanita itupun terduduk lemas didepan teras. Keringatnya bercucuran dengan suaranya yang mulai serak memanggil Andra yang tak ada jawaban dari dalam sana meski Velyn sudah mencoba beberapa kali.
"Velyn?" suara barito itu mengejutkan wanita yang kini berdiri didepan pintu besar itu. Ia membalikkan tubuhnya dan terkejut dengan kehadiran pria yang tiba-tiba sudah berada di sana dengan wajah khawatir sama dengan dirinya.
"Ngapain kamu kesini? kamu ngikutin aku ya?" ujar Velyn dengan nafasnya yang menggebu serta matanya yang memerah akibat cemas dengan keberadaan Andra.
"Aku cuma cemas Lyn"
"Mendingan kamu pergi aja sekarang, tadi siang aku udah bilang kan jangan hubungi aku lagi"
"Lyn, aku antar kamu pulang aja ya. Ini udah malam, dia pasti juga nggak ada dirumah. Kalau dia perduli sama kamu, dia nggak mungkin menghilang gitu aja kan" perkataan Valdo cukup membuat Velyn terkejut, ia membulatkan matanya seraya menatap tajam pria dihadapannya dengan pandangan kesal.
"Sejak kapan kamu ngurusin hidup aku ha?! kamu nggak tau Andra seperti apa, kamu nggak berhak ngomong sesuatu tentang dia"
"Tapi Velyn, aku masih cinta sama kamu. Aku masih pengen kita rujuk dan bersatu seperti dulu" Velyn terdiam sejenak. Ia tidak lagi terkejut meski Valdo mengatakan hal itu, namun matanya tiba-tiba membulat saat pria yang ia tunggu sejak tadi kini tiba di belakang gerbang dan menatap Velyn dan Valdo bergantian. Mata Andra memanas, bersamaan dengan itu Velyn berjalan kearah pria itu dengan senyuman. Namun bukannya Andra yang menyambut pelukannya tapi malah Valdo yang meraih pinggangnya dan membuat mereka berpelukan tanpa Velyn sengaja.
"Aku tau, kamu nggak bakalan bisa nolak aku. Kita ulangi semuanya dari awal ya. Aku pasti bahagiain kamu Lyn" Andra menghela nafasnya, ia menggeleng seraya menatap Velyn yang kini menggeleng dan melepaskan pelukannya dari Valdo. Entah apa yang dipikirkan pria satu itu, yang jelas Andra hanya terdiam seraya melangkah kearah rumahnya.
"Andra, kamu-"
"Kayanya aku udah ganggu momen balikan kalian. Aku minta maaf karena datang diwaktu yang enggak tepat" meski Andra tau Velyn hendak mengatakan sesuatu, tapi ia sengaja memotong apa yang hendak ia katakan. Andra takut hatinya tambah berharap lagi dengan wanita yang ada dihadapannya. Pria itu berjalan mendekat kearah teras rumahnya tanpa berani menatap Velyn yang masih menatapnya dengan pandangan kecewa. Berbeda dengan Velyn yang bingung dan tampak meneteskan air mata, Valdo malah diam-diam tersenyum puas melihat semua kesalahpahaman ini.
__ADS_1
"Ndra! kamu pasti salah paham, aku enggak-"
"Kayanya kamu yang salah paham, aku sama sekali nggak perduli dengan urusan kalian. Mau kalian balikan atau nggak, itu juga nggak ada hubungannya sama aku" Velyn terdiam meski hatinya sangat sakit dengan hebat. Tak kalah dengannya Andra juga merasakan hal yang sama. Berulang kali Andra sudah meyakinkan diri, bahwa ia tidak mau lagi berharap pada wanita yang masih terikat dengan mantan suaminya. Apalagi Andra tidak sesukses Valdo, dan sudah jelas jika Velyn menolaknya kemarin. Untuk apa Andra terlibat dengan wanita yang sama sekali tidak menginginkannya.
"Ndra, dengerin aku dulu. Please!" ujar Velyn mengejar Andra ywng hendak masuk kedalam rumah dengan wajah kecewa dan raut yang tidak dapat dijelaskan lagi.
"Pulang Velyn!"
"Apa?" Velyn meneteskan air matanya saat Andra secara terang-terangan mengusirnya. Ia menatap mata Andra yang masih tak bergeming dan tak mau menatapnya meski Velyn mencoba untuk mendekati pria satu itu.
"Aku bilang pulang!" ucap Andra dengan suara lantangnya dan pria itupun masuk lalu mengunci pintu dari dalam. Andra meneteskan air matanya, ia menjatuhkan tubuhnya seraya mengacak rambutnya asal. Sakit hatinya tidak terbendung lagi dengan kenyataan dihadapannya. Dulu ia sempat takut jika Velyn pulang dan bertemu suaminya, ia takut jika Velyn akan direbut kembali dan membuat hati Andra hancur berkeping-keping. Tapi ia hanya memiliki satu keyakinan yaitu Velyn pasti akan menjaga hatinya agar tidak goyah. Nyatanya, tidak semudah itu untuk membuat Velyn bertahan dengannya.
"Ndra! buka pintunya Ndra! aku mau ngomong sama kamu!" Velyn masih mencoba mengetuk pintu Andra dengan asal dan kasar. Namun Andra masih tak bergeming meski ia tau apa yang Velyn lakukan. Sekali Velyn kembali kedalam pelukan mantan suaminya, maka Andra akan mundur dan tidak akan pernah mengganggu kehidupan Velyn untuk seterusnya.
"Ndra! kamu denger nggak sih!"
"Velyn! percuma, dia nggak akan pernah bukain pintu ke kamu. Dia itu nggak perduli lagi sama kamu Velyn"
"Diam kamu Valdo! kamu yang buat Andra salah paham. Aku udah bilang kan, aku nggak mau berhubungan dengan kamu lagi. Lebih baik kamu pergi Valdo!"meski Velyn sudah menangis dan berteriak, namun sayangnya Andra tak mendengar sama sekali ucapan Velyn yang amat frustasi itu. Velyn kemudian berlari, ia mengabaikan Valdo yang mengejarnya meski ia tidak ingin bertemu dengan pria satu itu. Velyn keluar dari pagar rumah Andra lalu menelfon seseorang.
"Kak, tolong jemput aku ya. Sekarang"
"Lyn-"
"Valdo, aku udah bilang berkali-kali kan, jangan buntuti aku. Kita udah selesai Valdo, mau kamu menyesal dan kehilangan semuanya itu bukan urusan aku lagi, sekarang yang perlu kamu tahu, aku udah bahagia dan jangan pernah ganggu kehidupan aku lagi" wanita itu sudah lelah berlari, ia hanya ingin mengatakan untuk yang terakhir kalinya siang tadi, tali Velyn tidak menyangka jika Valdo tidak menyerah dan mengikutinya hingga sampai ke tempat Andra.
Velyn sudah muak untuk bicara baik-baik dengan Valdo. Dulu Velyn sudah memberikan seluruh hidup dan waktunya untuk pria dihadapannya, tapi Valdo berulang kali menyakitinya. Meski sekarang Valdo sudah menyesal dan berjanji tidak akan pernah mengulangi kesalahannya, tapi Velyn sudah tidak bisa lagi bersama dengan pria itu untuk selamanya.
"Aku nggak akan nyerah Velyn, aku nggak akan mau kalah dari dosen yang digaji murah itu. Aku ini pengusaha sukses Lyn, aku lebih bisa menjamin apa yang kamu mau daripada dia!"
"Ini bedanya kamu dan Andra, kamu pikir kebahagiaan hanya tentang uang?!. Kamu pikir setelah kamu mendapatkan warisan dan apa yang kamu mau, kamu bisa bahagia? hah" Velyn menghela nafasnya, ia tersenyum dan terkekeh melihat tingkah konyol Valdo yang amat tidak sadar dengan keadaannya yang menyedihkan. Meski sudah ditimpa musibah dan segalanya tapi Valdo tidak paham dengan situasi menggelikan yang ia alami semenjak kejadian tiga tahun lalu.
"Lyn"
Tin tin!
Suara bel mobil membuat Velyn buru-buru masuk kedalam mobil yang di setir oleh seorang wanita. Velyn buru-buru masuk dan mengabaikan Valdo yang diam membisu tanpa bisa mengatakan apapun pada wanita yang baru saja mengatakan segala hal padanya. Valdo masih terdiam sepeninggal Velyn, ia tertunduk seraya melangkah kearah mobilnya dengan pandangan suram tanpa dapat berkata-kata.
Valdo yang hendak masuk kedalam mobil, kini menghentikan langkahnya saat tiba-tiba Andra keluar dari dalam ruamh besar itu dengan menyeret koper. Tampak mobil yang memang sepertinya sengaja berhenti didepan rumah Andra membuat pria itu terdiam dan seorang pria keluar dari dalam mobil tersebut.
"Pak Anton!" gumam Valdo dengan suaranya yang berbisik lirih seraya terkejut melihat kliennya kemarin malam.
"Ayo masuk Ndra!" ujar Anton pada pria itu dengan senyum penuh kebahagiaan hingga membuat Valdo masih terdiam jauh dari pandangan keduanya. Valdo hendak masuk kedalam mobil, namun urung saat ia sengaja memperhatikan keduanya yang seperti bersikap kenal dekat satu sama lain.
"Sini papa bantu bawa kopernya"
"Nggak perlu pa, Andra bisa sendiri. Seharusnya papa nggak perlu repot-repot jemput Andra" Anton langsung tersenyum seraya menepuk punggung putranya. Bagiamana Anton tidak bahagia jika putranya sudah sedewasa ini setelah bertahun-tahun mereka tidak bertemu dan akhirnya Andra mau tinggal bersamanya.
Hal itu tentu saja membuat Valdo terkejut bukan main, matanya membuka sempurna dengan wajahnya yang pucat pasi mendengar pria paruh baya yang ia hormati selama ini adalah ayah kandung Andra. Berulangkali Valdo berpikir keras, tidak mungkin Andra adalah putra Anton, karena selama ini Anton dikenal belum pernah menikah sama sekali.
"Kamu dewasa banget ya Andra. Papa bangga banget sama kamu" Andra tersenyum canggung, meski mereka sudah lama tidak bertemu tapi terlihat jelas jika papa ingin membangun keakraban lagi bersama Andra. Seharusnya hari ini adalah hari yang membahagiakan untuknya, tapi mengingat hal yang terjadi beberapa waktu lalu membuat pikiran Andra kacau setelah Velyn menerima permintaan Valdo untuk kembali ke pelukannya. Jika saja Velyn tidak datang ke rumahnya dan terjadi hal yang mengejutkan seperti tadi, Andra pasti akan memberitahu wanita itu tentang semua yang terjadi padanya. Mulai dari bertemu papanya juga kepindahannya yang mendadak seperti saat ini.
"Ndra? kok kayanya kamu nggak senang papa jemput kaya gini? atau kamu pengen tinggal sendiri-"
"Pa, nggak apa-apa kok. Andra cuma banyak pikiran aja" sudah amat lama Andra tidak pernah berkumpul dengan papa, dan ini untuk pertamakali nya setelah sekian lama. Meski kehidupan Andra penuh cobaan dan lika-liku kehidupan, serta ia pernah gagal dalam hal pernikahan tapi setidaknya ia harus menutupi permasalahannya dulu, lalu nanti ia pasti akan terbuka jika keadaan sudah membaik.
***
Suara dering telepon membuat pria yang tengah asyik menonton bola itu menaruh kerupuk di toples yang ia bawa dan segera mengangkat panggilan yang terpampang jelas nama Andra. Pria itu bangkit dan bersiap untuk bicara dengan sahabatnya yang tumben sekali menelfon di jam seperti ini.
"Halo Ndra?"
__ADS_1
"Hah?! serius! gila! parah lo nggak cerita ke gue" ujar pria itu dengan nada sedikit kesal.
"Yodah, awas aja lo ya main rahasia-rahasiaan sama gue. Nanti kirimin alamatnya. Oke oke, bye!" Rega menghela nafasnya, ia kemudian menaruh ponselnya lagi dan hendak kembali ke sofa namun langkahnya tiba-tiba terhenti saat melihat Velyn yang berdiri dihadapannya membuat bulu kuduk Rega berdiri dan terkejut saking kagetnya.
"Heh! ngagetin aja! ngapain kamu ada disini?" tanya Rega pada wanita satu itu yang menatap datar kakaknya. Memang setelah Mega menjemputnya tadi Velyn memabg sengaja tidak menemui Rega terlebih dahulu untuk menginap dirumahnya. Baginya rumah kakaknya ya seperti rumah Velyn sendiri. Tapi siapa yang sangka jika Rega akan sekaget itu melihatnya berkeliaran malam-malam seperti saat ini.
"Andra ngomong apa sama kakak?"
"Anak ini, aku tanya kok malah balik nanya. Ngapain disini sih? ngagetin aja, kaya anak setan tau nggak!" meski Velyn sendiri malas meladeni kakaknya yang super mengesalkan, tapi yang paling penting adalah informasi dari Andra. Bukan hanya penasaran lagi dengan kabar dari pria itu, tapi Velyn tentu saja sangat khawatir dengan apa yang terjadi padanya.
"Aku mau nginep, suntuk dirumah. Ya udah sih tinggal jawab aja, Andra ngomong apa ke kakak?"
"Halah, kamu kaya nggak tau aja. Pasti kamu yang lebih dulu tau daripada aku ya kan?" Velyn madih saja tak mengerti dengan apa yang dikatakan Rega. Tapi mendengar apa yang Rega katakan cukup membuatnya tahu jika Andra pasti mengalami sesuatu hal. Suara chat yang masuk ke ponsel Rega membuat pria itu hendak meraih ponselnya.
"Nah, panjang umur, itu pasti dari An-"
"Apaan sih!" ujar Velyn seraya segera meraih ponsel kakaknya dan betapa terkejutnya ia membaca alamat rumah yang diberikan pada Rega beserta foto Andra bersama pria paruh baya. Belum sampai disitu rasa terkejut Velyn sampai ia menemukan kata-kata jika itu adalah Andra dan ayah kandungnya.
"Alah masa bodo ah. Kamu pasti juga udah tau kabar itu duluan dari Andra. Aku mau lanjut nonton bola dulu" ujar Rega tak perduli dan langsung duduk lagi untuk melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda.
Velyn yang membaca chat tersebut langsung berjalan menjauh dari Rega, ia masih membawa ponsel Rega ditangannya lalu masuk kedalam kamar yang khusus diperuntukan untuknya selama tinggal di rumah kakaknya. Velyn mengunci pintu kamarnya rapat-rapat, ia beralih menatap layar ponsel Rega yang terlihat jelas foto Andra bersama papanya.
Padahal ada hal sepenting ini dan Andra merahasiakan padanya. Entah mengapa hati Velyn terasa sakit dan miris melihat semua yang terjadi. Meski itu memang salahnya dari awal karena ia sudah membuka jalan bagi Valdo untuk memperjuangkannya kembali serta membuat pria yang berharga untuknya salah paham padanya.
Velyn mencoba menguatkan hatinya, sudah berulangkali ia menghubungi Andra lewat ponselnya tapi Andra dengan sengaja menolak panggilan itu. Dengan cepat Velyn segera membuat panggilan lewat ponsel Rega ditangannya. Kesempatan tidak akan pernah datang dua kali bukan? dan wanita itu juga tidak mau menyia-nyiakannya meski hanya menjelaskan beberapa kata.
"Halo Ga" suara Andra yang masuk ke telinga Velyn membuat hatinya bergetar. Wajahnya merona meski ia tidak bisa melihat sendiri betapa merahnya pipinya saat ini. Tapi Velyn yakin, ia amat merindukan pria yang kini mencoba berbicara padanya.
"Ndra, ini aku"
"Velyn!"
"Please jangan di tutup Ndra, aku mau ngomong sama kamu. Please!" entah mengapa hati Velyn sakit ketika memohon, seolah ia takut jika Andra menjauh lagi darinya, seolah Andra tidak mau lagi mendengar suaranya atau malah Andra tidak mau lagi berhubungan dengannya.
"Ngomong aja Lyn, aku dengerin kok" ujar pria satu itu membuat nafas Velyn menjadi lebih lega dari sebelumnya yang sempat menegang karena suasana yang mendadak canggung.
"Ndra, maafin aku ya. Aku udah bikin kamu salah paham, aku nggak ada hubungan apa-apa lagi dengan Valdo, tadi itu cuma salah paham. Aku mau ketempat kamu karena khawatir, aku-"
"Velyn? kamu nangis?" meski berada ditempat yang berbeda, namun Andra tetap khawatir mendengar suara serak dari wanita diseberang sana yang entah melakukan apa saat ini. Hati Andra ikut sakit dan tersiksa mendengar suara Velyn yang bergetar.
"Aku udah nolak dia Ndra, aku nggak mau berhubungan lagi dengan dia. Tadi aku nggak tau kalau dia buntuti aku sampai ke rumah kamu, aku coba buat ngedeketin kamu setelah kamu sampai, tapi siapa sangka dia ngira aku bakal samperin dia Ndra. Aku kaget, dan aku syok! Andra percaya sama aku ya, aku nggak pernah berpikir buat balikan lagi" meski Velyn menghela nafasnya beberapa kali dan isakannya yang terdengar lirih, namun Andra dapat merasakan bagaimana gugupnya Velyn saat ini.
***
Beberapa gerombol siswi berseragam puti
abu-abu masuk kedalam sebuah Cafe. Cafe yang awalnya sepi, kini mulai ramai karena kehadiran mereka, hal itu membuat Velyn yang kini duduk di seberang para siswi SMA itu sedikit terganggu. Meski begitu, hal itu tidak dapat menghilangkan rasa gugupnya saat ia menunggu seseorang seraya mengecek ponselnya beberapa kali.
Tak lama kemudian seorang pria masuk kedalam Cafe tersebut. Setelan kemeja dan celana panjang resmi serta aura tampan yang tidak bisa membuat perempuan mana pun berpaling, termasuk para siswi yang mulai berbisik dan tersenyum pada Andra yang kini mencari keberadaan Velyn. Mereka saling melirik, tersenyum nakal dan saling bertukar pandangan beberapakali. Jemari yang mengepal erat serta pandangan kesal Velyn menatap Andra yang kini tersenyum lalu melangkahkan kakinya.
"Om-om jaman sekarang ganteng-ganteng ya" bisik salah satu gadis yang duduk tak jauh dari tempat Velyn duduk sehingga ia samar-samar masih bisa mendengar suara itu meski sangat amat pelan. Wajahnya yang awalnya tersenyum sumringah karena kedatangan Andra kini berubah kesal seketika dan menunduk menyembunyikan raut muka masam.
"Udah lama nunggu ya?" tanya pria yang kini duduk dihadapan Velyn dengan senyuman.
"Lumayan" meski perasaannya sedikit kesal tapi Velyn tidak bisa menutupi senyumnya yang mengembang akan kehadiran pria yang kini memasang wajah senyuman yang tidak bisa ia tolak meski ia sedikit kesal dengan sikap Andra yang selalu tebar pesona lewat senyumnya yang mempesona.
"Pacarnya ya?"
"Iya kali, duh padahal masih cantikan gue" bisik mereka lagi yang kali ini dapat didengar dengan jelas oleh Velyn dan Andra. Wanita itu hanya diam membisu, ia tidak menyangkal jika orang lain mengatakan dirinya tidak cantik atau sebagainya. Tubuhnya kurus wajah pucat dan bibir yang kering. Rambut pendek sebahu yang ia gerai, meski rapi tapi tak bisa menyangkal jika saat ini penampakannya bisa dibilang biasa saja. Sedangkan Andra, pria itu begitu bersinar dikalangan manapun.
"Kita pindah aja yuk! kayanya kamu nggak nyaman"
__ADS_1