
Velyn tersenyum hangat seraya meminum frappuccino ditangannya. Begitu hangat, sehangat pemandangan malam yang ia nikmati kali ini. Valdo memang sengaja membawa Velyn ke sebuah cafe dengan gaya roof top. Ia memesan cafe ini dan hanya menyisakan mereka berdua disana.
Velyn yang kini memakai setelan baju rajut berwarna putih dengan rok jeans sampai lutut terlihat seperti wanita manja dari belakang. Rambutnya yang panjang, ditutupi topi rajut yang kontras dengan bajunya membuat Valdo ingin sekali memeluknya dari belakang.
Benar saja, setelah Valdo mengambil kopi pesanan yang ia ambil dari waiters, pria itu meletakkan kopinya tak jauh dari meja tempat Velyn berdiri. Valdo segera memeluk istrinya dari belakang, seraya menikmati pemandangan indah yang terhampar dihadapan mereka.
"Mas, kamu-"
"Kamu cantik banget sayang, aku bahagia banget bisa selalu deket sama kamu kayak gini? gimana sama tempatnya? kamu suka?" Velyn tersenyum, ia mengangguk seraya menikmati semilir angin yang berhembus menerpa pori-pori kulitnya.
Perlakuan Valdo begitu manis, membuat Velyn begitu nyaman dengan sentuhan yang diberikan olehnya. Menurutnya ini adalah hal yang terindah yang diberikan Valdo untuknya. Sebuah tempat untuk menikmati pemandangan malam, bahkan Valdo sampai rela mengeluarkan uang banyak untuk menyewa satu cafe hanya demi menyenangkannya.
"Indah banget mas pemandangannya, makasih kamu udah bawa aku kesini" gumam Velyn membuat pria itu mencium leher Velyn dengan satu kecupan lembut, membuat Velyn menggelinjang kegelian.
Kali ini, ia tak lagi sungkan dan malu untuk memanggil Valdo dengan sebutan mas. Velyn bahkan baru menyadari jika panggilan mas membuat hubungan keduanya semakin mesra saja.
"Semenjak malam itu, aku tau kalau kamu pasti suka liat pemandangan malam kaya gini. Aku akan bawa kamu ketempat kaya gini lebih sering kalau itu buat kamu seneng" Velyn membalikkan tubuhnya, ia meletakkan frappuccino yang ia pegang tadi di meja sebelahnya.
Velyn kini mengalungkan tangannya dileher suaminya, ia tersenyum manis sekali membuat Valdo menarik dagunya dan mencium bibirnya sekilas.
"Mau sebanyak apa kamu coba buat bahagiain aku ha? kamu izinin aku buat jadi istri terbaik buat kamu aja aku udah bahagia" Valdo menyatukan keningnya pada kening Velyn. Suasana ini, takkan pernah ia lupakan sepanjang hidupnya. Rasanya ia amat bahagia berada di sisi Velyn.
__ADS_1
Ia hanya berharap semoga hati Velyn bisa secepatnya terbuka, menerimanya dengan cinta sederhana.
"Kamu udah jadi istri terbaik buat aku sayang, jangan pergi Velyn. Aku akan bahagiakan kamu sampai akhir hayat ku. Aku janji" kata Valdo seraya menyentuh wajah Velyn dengan satu tangannya. Keningnya masih menempel dengan sebelah tangannya yang lain menggenggam jemari Velyn.
Velyn mengernyit, ia menggeleng seraya melepaskan semua ikatan Valdo darinya. Ia sedikit mendorong tubuh Valdo membuat pria itu menatapnya dengan sedikit rasa kecewa.
"Aku-aku nggak bisa mas"
"Kamu bisa sayang, kamu mampu. Kita udah lewatin ini, aku bahagia dan aku yakin kamu juga" nafas Valdo memburu, ia mencoba meraih jemari Velyn dan mengecupnya. Namun sayangnya Velyn buru-buru menariknya lagi.
"Setelah semua yang kita lewati, apalagi yang kamu takuti sayang? apa kamu nggak liat keseriusan di mata aku? Velyn!" Valdo sudah tidak kuat lagi, ia benar-benar ingin memiliki Velyn seutuhnya. Ia ingin perasaan Velyn juga sama dengannya.
Valdo meraih kedua lengan Velyn, ia mencengkramnya seraya menatap Velyn dalam-dalam.
"Kamu nyakitin aku mas" gumam Velyn seraya melepaskan cengkeraman Valdo dari lengannya. Valdo mengacak rambutnya seraya menatap Velyn yang hanya bisa menunduk tanpa mengatakan satu patah kata pun.
"Aku, aku mau pulang mas" sejujurnya ia tak suka dengan keadaan ini. Velyn juga tersiksa. Setiap kali membahasnya, Velyn selalu mengingat hal yang amat menghantuinya. Andai saja Valdo tau, yang Velyn maksud tidak seperti itu. Hatinya juga milik Valdo.
***
Semenjak pembahasan tadi, sepanjang perjalanan Valdo hanya terdiam tanpa mau memandang Velyn. Bahkan kebiasaan Valdo yang biasanya menggandeng jemari Velyn setelah keluar dari mobil kini berubah menjadi Valdo yang melangkah cepat mendahuluinya.
__ADS_1
Bahkan saat mereka tidur seranjang, biasanya Valdo selalu memberikan gombalan dan juga pelukan manja sebelum mata mereka saling terpejam. Saat ini yang terjadi justru kebalikannya. Valdo tidur dengan memunggungi Velyn. Hatinya sakit sekali, mengingat penolakan yang Velyn berikan untuknya.
Begitupun juga Velyn, tangannya yang hendak menyentuh punggung pria itu kini ia urungkan. Velyn menatap langit-langit kamar seraya menghembuskan nafasnya yang terasa sesak. Matanya kini memerah, berkaca-kaca seolah hendak mengeluarkan isinya.
Apalagi yang harus ia lakukan? Velyn juga terpaksa. Mau diobati seperti apapun, penyakitnya tidak akan kalah darinya. Velyn terisak, ia memelankan isakannya agar Valdo tidak mendengarnya menangis.
Valdo berhak mendapatkan wanita yang sempurna. Meskipun perasaan Velyn akan sakit nantinya, tapi ia hanya berharap Valdo bahagia. Velyn bukanlah orang yang egois.
"Maafin aku mas Valdo. Maaf karena udah ngecewain kamu. Tapi setelah semuanya berakhir nanti, kamu akan tau maksud aku. Aku cuma pengen kamu bahagia mas, karena aku cinta banget sama kamu."
Velyn menutup mulutnya seraya menghapus jejak air matanya yang berlinang. Biarkan ini jadi kesedihan Valdo sementara, daripada nanti dia akan kecewa selamanya.
Jangan kira ketika Valdo memunggungi Velyn ia tak mendengar isakannya yang begitu kecil. Sejujurnya Valdo ingin sekali memeluk istrinya. Ingin mengucapkan satu kalimat maaf agar Velyn bisa kembali ceria.
Valdo membalikkan tubuhnya, ia kini menghadap punggung Velyn yang masih terlihat bergetar. Tuhan! Valdo benar-benar tidak tahan. Ia sangat mencintai Velyn. Bahkan ketika melihat dan sadar akan tangisan Velyn, Valdo amat tak tega dan ingin memeluknya.
Valdo begitu terluka melihat Velyn menangis seperti itu. Ini juga salahnya. Valdo terlalu memaksa Velyn hingga wanita ini terkejut. Valdo menghela nafasnya. Ia kemudian semakin mendekat kearah punggung istrinya dan mendekapnya, membuat getaran dipunggung Velyn terhenti seketika.
"Maaf, aku salah Velyn. Seharusnya aku nggak maksa kamu. Seharusnya aku ngasih kamu hak, buat mau cinta sama aku atau enggak. Kamu jangan nangis lagi ya" bujuk Valdo membuat Velyn mengangguk seraya menghapus jejak air matanya.
Kini akhirnya Valdo bisa bernafas lega. Meskipun hatinya teramat sakit, tapi setidaknya Velyn tidak lagi merasa sedih aksn perlakuannya.
__ADS_1
Jika diingat lagi, Valdo memang pantas mendapatkannya. Dulu ia menyiksa Velyn dan memakinya dengan kasar. Hanya tidak mendapatkan cintanya namun bisa memiliki raganya, seharusnya Valdo masih bisa bersyukur. Setidaknya mata kebencian yang inginkan dulu dari dalam diri Velyn tidak benar-benar Velyn rasakan sampai saat ini.
"Aku cinta sama kamu Lyn, selamat malam"