Velyn Love

Velyn Love
Tidur diluar


__ADS_3

Velyn duduk disebuah halte tepat di seberang rumah sakit. Namun gadis itu bangkit, ia memutuskan untuk tidak pulang terlebih dahulu. Pulang? bahkan Velyn seperti tidak punya tempat berlindung saat ini. Rumah yang seharusnya dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya kini berbanding terbalik dengan apa yang ia alami dan Velyn tidak memiliki itu.


Velyn berjalan menuju taman terdekat, ia memilih duduk di bangku panjang tepat di sisi jalan. Pikirannya melayang, mengingat setiap masalah yang terjadi padanya akhir-akhir ini.


Matanya terpejam sesaat seraya menggenggam erat tali tas yang kini ia bawa. Velyn selalu yakin, kepahitan yang terjadi saat ini akan membuahkan hasil yang sempurna suatu saat nanti. Tapi keyakinan itu seolah menepis semua harapan dan juga kekuatan Velyn.


Apa yang perlu ia perjuangkan? ketika penyakitnya sudah didiagnosa, dan kenyataan bahwa suaminya sendiri tidak pernah mencintainya serta keadaan sang ayah yang membuat hatinya tambah sakit. Kini masa depannya tidak hanya hilang, namun sudah pergi menjauh sebelum Velyn datang untuk mendekat.


Tidak perlu berjuang, karena pada akhirnya sayap Velyn juga akan patah. Terjatuh dan terhempas dari bayang-bayang kebahagiaan yang tak mungkin ia miliki.


Velyn menangis sesenggukan, air matanya meleleh begitu saja seolah menumpahkan segala beban yang ia rasa.


Karma apa sebenarnya yang menghantuinya, bahkan sampai detik ini pun gadis itu tidak pernah menyakiti siapapun. Namun siapa sangka semuanya seolah membuat Velyn menjadi semakin terpuruk seperti ini.


"Lo nangis?" suara pria asing membuat gadis itu buru-buru menghapus jejak air matanya. Ia mendongak menatap pria yang kini menatapnya intens seraya mengambil duduk disamping Velyn meskipun agak berjarak, tapi Velyn dapat mencium aroma mentol yang menyeruak melalui hidungnya.


"Eng-enggak kok" tukas Velyn seraya membuang muka. Velyn malu sendiri dibuatnya, susah payah ia mencari tempat sepi untuk menyembunyikan air mata seraya kesedihannya. Namun semenjak ada pria yang duduk disampingnya ini membuatnya hanya bisa menyeka air mata dan membuang jauh-jauh perasaan sedihnya.


"Nih ambil, kayanya lo butuh deh" ujar pria itu seraya memberikan sapu tangan yang ia keluarkan dari dalam jaketnya.


"Makasih" Velyn buru-buru meraih saputangan yang diberikan pria asing itu kemudian mengelap wajahnya seraya mulai tersenyum kembali.


Velyn enggan menatapnya, apalagi malam semakin larut. Statusnya adalah sebagai istri orang jadi sebisa mungkin ia harus melindungi diri.

__ADS_1


"Lo ada masalah ya?" tanya pria itu seraya menatap Velyn yang kini sedikit melirik pria asing disampingnya dan mengalihkan pandangannya lagi. Velyn memang gugup, apalagi dengan orang yang belum pernah ia kenal sebelumnya.


"Setiap orang pasti punya masalah kan, tergantung bisa atau nggak ngadepinnya" pria itu tersenyum miring seraya menahan tawa mendengar ungkapan hati Velyn yang terdengar putus asa. Membuat Velyn mengernyit seraya menelisik pria yang kini menahan tawanya untuk kesekian kalinya.


"Kenapa ketawa? ada yang salah dari omongan aku?"


"Bukan tergantung bisa atau nggak ngadepinnya, tapi mau atau nggak. Nyerah sama jatuh itu beda-beda tipis loh. Kalo nyerah itu sama aja lo udah pasrah nggak mau bangkit, kalau jatuh lo bisa aja bangkit kapanpun lo mau tergantung semangat hidup lo aja" sambung pria itu membuat mata Velyn menengadah. Menatap langit berbintang seraya tersenyum.


Ia paham, pria disampingnya ini mengatakan demikian untuk menghiburnya. Tapi Velyn tidak mempunyai apa yang dinamakan semangat hidup. Tujuannya pada masa depan sudah hilang semenjak kenyataan menenggelamkannya.


"Semua orang berjuang pasti ada tujuan dan juga motivasi kan? tapi adakalanya seseorang nggak punya semangat hidup karena emang dia udah nggak punya apa-apa dan nggak punya siapa-siapa" Velyn kemudian bangkit, ia menggenggam erat saputangan yang kini masih berada di genggamannya. Hatinya merasa lega mengatakan demikian meskipun orang yang berada disampingnya ini tidak tau menahu akan permasalahannya. Meskipun Velyn sendiri juga tidak mengenal maupun tau tentang asal muasal dari pria yang kini seolah memberikan semangat untuknya.


Velyn hendak melangkah, namun lengannya dicekal erat oleh seseorang yang kini berada dibelakangnya.


"Enggak kok, nggak sama sekali. Aku malah berterima kasih sama kata-kata kamu tadi, ucapan kamu buat aku sadar dan membuka hati. Meskipun nggak bisa bikin kenyataan berubah" Velyn melangkahkan kakinya kembali dan memunggungi pria itu untuk berjalan kearah lain.


Namun pria itu buru-buru bangkit dan berteriak.


"Adrian, nama gue Andrian" teriaknya membuat Velyn berbalik dan tersenyum kearahnya.


"Aku Velyn, salam kenal ya" balas Velyn seraya tersenyum dan mendapat anggukan dari pria asing itu.


***

__ADS_1


Velyn melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam rumah. Jam sudah menunjukkan pukul 20.00, seharusnya belum larut untuk pulang saat ini.


Velyn membuka pintu dihadapannya, namun ketika ia menariknya ia tak dapat membukanya. Sial! pasti sudah di kunci. Batin Velyn seraya menggerutu. Padahal biasanya jika Valdo belum pulang pintu juga belum terkunci.


Beberapa kali Velyn mengetuk pintu dan memencet bel didepannya, namun hasilnya nihil. Baik Santi maupun Valdo tiada yang keluar sama sekali.


Velyn tau ini pasti kerjaan Valdo, melihat mobil Valdo sudah terparkir di halaman membuat Velyn yakin jika Valdo sengaja melakukannya.


Velyn tidak menyerah, ia menggedor-gedor pintu seraya memanggil nama Valdo berulangkali.


"Kak Valdo! buka pintunya kak! aku mau masuk. Kak Valdo!" berulangkali Velyn mengetuk pintu tersebut namun ia akhirnya menyerah saat tangannya mulai melemah.


Velyn benar-benar tidak mengerti dengan apa yang dilakukan Valdo. Belum cukupkah ia menyiksa Velyn sampai harus mengunci pintu rumah dan membiarkan Velyn tidur diluar.


Velyn menghela nafasnya, ia memerosotkan tubuhnya seraya memeluk lututnya. Mencoba menghangatkan tubuhnya semampunya meskipun hasilnya percuma. Velyn hanya bisa menyandarkan tubuhnya di badan pintu.


Matanya hendak meneteskan air mata, namun ia urungkan. Sudah cukup Velyn menangis hari ini. Apapun yang terjadi ia juga takkan menyerah. Lagipula ia hanya bisa menunggu dimana waktunya akan habis tak tersisa.


Velyn menenggelamkan wajahnya diantara lutut dan kedua tangannya. Meskipun dingin menerpa kulitnya, rasa sakit menjalar di seluruh tubuhnya, namun gadis itu tetap memejamkan matanya. Seolah semua rasa sakit yang ia rasa ia lupakan begitu saja. Bahkan tidak sebanding dengan sakit yang ia terima.


"Kamu harus kuat Lyn, jangan nyerah cuma karena Valdo. Kamu harus bisa!" gumam Velyn menyemangati diri. Namun sedetik kemudian lampu diatasnya tiba-tiba mati, membuatnya berteriak seraya memejamkan matanya erat-erat karena ketakutan.


"Aahhhh!"

__ADS_1


__ADS_2