
"Aku disini Lyn, kamu boleh tumpahin semuanya, kalo kamu mau marah, kamu bisa lampiaskan itu semua ke aku, asalkan hati kamu bisa lega."
Velyn menggigit bibir bawahnya, seharian ini Velyn sibuk mencari kos-kosan kesana kemari, bersamaan dengan itu ia juga mencari pekerjaan paruh waktu untuk memenuhi kebutuhan selama dirinya kuliah. Namun siapa sangka, ketika sampai rumah, pembicaraan bunda dan Valdo tentang ayah membuat Velyn mau tak mau harus terpaksa menguping pembicaraan itu saat namanya disebutkan. Dan benar saja, kala Velyn mendengarnya ada ribuan bahkan jutaan petir seperti menyambar hatinya.
Velyn tak kuasa, ia bahkan tak menyangka jika keluarganya sendiri bahkan menyembunyikan hal seberat ini. Velyn mencoba untuk menghentikan tangisannya, namun sialnya ia tak bisa. Rasanya hatinya ikit hancur bersamaan dengan Valdo yang kini berbaring dibelakangnya seraya memeluk erat tubuhnya.
Ini kah yang disebut simpati tanpa perasaan?. Velyn sudah pernah merasakannya. Kehangatan dan juga perasaan perduli dari Valdo hanyalah kepalsuan. Velyn tak ingin terbawa suasana, meskipun hatinya sedikit merasa nyaman, namun pikirannya menolak semua perlakuan halus dari suaminya itu.
"Pergi kak! jangan sentuh aku! aku benci sama kamu kak Valdo!" kata Velyn seraya bangkit dan menjauh dari Valdo yang kini tiba-tiba terduduk seraya menghentikan gerakan Velyn yang memberontak padanya. Namun Valdo sadar betul, saat ini bukan saatnya membiarkan Velyn sendiri.
Valdo buru-buru meraih tubuh Velyn dan memeluknya erat. Ia tak ingin Velyn memberontak dan melawan lagi. Valdo menahan air matanya yang terasa hendak terjatuh ketika melihat gadis ini mengusirnya. Hatinya begitu sesak dan menolak, ditambah lagi luka yang dirasakannya, entah mengapa Valdo merasakannya juga.
Velyn yang awalnya memberontak, kini perlahan-lahan mulai lelah dengan usahanya yang tak kunjung berhasil. Raungan juga tangisan histerisnya tak diindahkan sama sekali oleh pria yang kink semakin erat memeluknya.
__ADS_1
"Aku nggak mau sama kamu kak Valdo! aku capek!, aku capek kamu mainin. Aku capek ngeladeni kepura-puraan kamu yang sok simpati itu ke aku! aku mohon kak, lepasin aku, bebasin aku kak. Kamu pasti senengkan liat aku menderita, mulai sekarang kamu nggak perlu capek-capek muak sama aku tiap hari. Aku mau kita cerai!" perkataan Velyn seperti menyayat hati Valdo yang terdalam. Jadi, Velyn berpikir bahwa ini semua hanyalah pura-pura? entah mengapa hati Valdo begitu sakit mendengar apa yang Velyn katakan tadi.
Bukan maksud Valdo seperti itu. Jangankan melihat Velyn menderita, mendengar isakan dan juga tangisan gadis itu saja rasanya Valdo begitu merasa bersalah. Valdo menyesal, tanpa sadar ia menambah kesengsaraan Velyn begitu saja. Perlahan ia mengingat kejahatan apa yang ia lakukan pada istrinya ini. Lihat sekarang, bahkan Velyn sampai dengan terang-terangan meminta cerai padanya.
Tuhan memang adil, kini Valdo benar-benar merasa bersalah. Saat apa yang diinginkannya dulu terjadi saat ini, membiarkan Velyn pergi dan menjauh dengan sendirinya. Namun ketika semuanya telah terjadi, Valdo malahan merasa tak rela. Ia ingin menebus segala perasaan bersalahnya.
"Velyn, kamu tenang ya, kita bicarain ini baik-baik. Aku nggak bakal ninggalin kamu kayak gini. Aku bener-bener perduli sama kamu, disaat kayak gini, aku nggak mau cerai" Velyn menutup mulutnya. Ia seperti tak bisa menolak pelukan erat dari Valdo yang membuatnya semakin terjatuh dalam bayangannya.
Jika saja ini nyata, mungkin Velyn akan sangat bahagia. Perlakuan lembut Valdo benar-benar seperti suami yang menyayangi istrinya. Namun pikiran Velyn kembali dibuat kecewa. Cepat atau lambat, mau Velyn yang meminta atau Valdo yang mengajukannya, ia pasti akan bercerai.
Valdo memberikan perasaannya yang terdalam, sampai ia pun tak sadar jika bibir Velyn begitu manis untuknya. Velyn tak melawan, bahkan ia hanya diam seraya memejamkan matanya erat-erat. Entah mengapa Valdo memilih untuk mencium bibir Velyn demi menenangkannya daripada Velyn berkata yang tidak-tidak padanya.
Apakah Valdo sejahat itu sampai Velyn berpikir bahwa ia akan membunuhnya. Tak terasa air mata jatuh dipelupuk mata Valdo, membuat Velyn membuka matanya dan mendorong tubuh Valdo saat ia menyadari akan hal itu.
__ADS_1
"Kamu jangan pernah berpikir kayak gitu Velyn, aku udah janji sama diri aku sendiri. Aku nggak akan nyakitin kamu. Aku nggak pernah pura-pura Velyn, aku perduli sama kamu, aku juga nggak akan ceraikan kamu" Valdo menyerah, air matanya yang tadinya jatuh ia usap begitu saja dengan kasar seraya menggenggam jemari Velyn dengan lembut.
Velyn hanya terdiam, tangisan dan juga sikapnya yang meronta tadi hilang bersamaan dengan pikirannya yang syok akibat apa yang dilakukan Valdo tadi. Velyn membuang muka seraya menghapus air matanya. Saat ini entah perasaan apa yang menjalar di hatinya. Entah Valdo benar-benar tulus padanya atau sekedar pura-pura, namun hati Velyn sedikit merasa lega.
"Maafin aku Velyn, maaf" Valdo meraih jemari Velyn. Ia mengecup punggung tangan gadis itu membuat Velyn buru-buru menarik tangannya dan beralih meringkuk memunggungi Valdo.
Tanpa disadari air mata Velyn kembali terjatuh. Velyn tak ingin kecewa lagi, ia tak ingin menganggap perkataan Valdo serius. Yang ada di kepalanya hanyalah Valdo seorang pembohong. Meskipun berulangkali Valdo membujuknya, itu takkan membuat kepercayaannya kembali.
Kepercayaan yang sudah Velyn beri namun dengan cepat dikhianati. Velyn terlalu sakit untuk merasakan semuanya. Masalah datang dengan bertubi-tubi, ditambah lagi Valdo yang kini masuk dan menambah apa yang dinamakan ketidak berdayaannya.
Velyn membiarkan Valdo yang kini memeluk tubuhnya dari belakang lagi. Bahkan Valdo menyandarkan dagunya di pundak Velyn, membuat gadis itu menahan isakannya yang hendak keluar.
"Aku minta kesempatan sekali lagi Velyn, aku butuh kamu buat percaya kalau aku nggak pura-pura. Karena aku bener-bener menyesal sama apa yang pernah aku lakuin. Aku pengen nebus semua kesalahanku. Tolong kasih aku kesempatan satu kali lagi. Aku pengen kamu jadi ibu buat Nino, dan aku janji bakal memperlakukan kamu baik-baik" Velyn hanya terdiam mendengar hal itu. Hatinya masih berat untuk percaya pada Valdo lagi.
__ADS_1
Velyn tidak ingin berharap pada Valdo lagi. Ia tak ingin bergantung pada perasaannya. Apalagi dirinya tidak pantas untuk Valdo. Velyn masih ingat jika ia menyimpan rahasia, rahasia yang pastinya akan membuat Valdo kecewa jika harapan yang dikatakannya memang benar adanya.