Velyn Love

Velyn Love
Keluarga yang direbut


__ADS_3

"Aku cuma nggak mau kamu salah paham. Aku minta maaf" mohon Valdo seraya memegang kedua tangan Velyn dan menciumnya.


"Oke, kalo kamu emang pilih aku, ceraiin dia mas!"


"Aku nggak bisa!"


***


Velyn meringkuk diatas bangsal, matanya sayu dengan beberapa tetes air mata yang masih sedikit tersisa. Ia mengingat perkataan Valdo padanya tadi. Keinginan dan hasrat Velyn untuk mengatakan segalanya pada orang yang sangat ia cintai sekarang tenggelam sudah, bersamaan dengan rasa kecewa yang menghancurkan hatinya.


Velyn cukup sadar, ia memang tidak berperan penting dan berharga untuk Valdo. Bagaimanapun, cinta pertamanya adalah Lisa, dan dia takkan tergantikan sampai kapanpun, terlebih mereka sudah mempunyai Nino ditengah kebahagiaan yang mereka miliki. Peran Velyn hanyalah seorang pengganti dan selamanya akan seperti itu.


Valdo sudah membuat pilihan, dan pilihan itu untuk mempertahankan Lisa. Velyn menghela nafas, mungkin ini memang takdirnya, takdir Velyn untuk tidak lagi berharap dan bergantung pada pria itu selamanya. Lagipula setelah pengobatan Velyn dijalani, ia takkan lagi memiliki wajah secantik ini. Ia akan berubah menjadi lebih kurus dan pucat, serta rambutnya yang perlahan-lahan rontok dan habis. Mengingat fisiknya yang gendut dulu amat dibenci oleh Valdo, apalagi kenyataan yang sedang menunggunya. Pastinya Valdo akan meninggalkannya cepat atau lambat.


Sedangkan kini, seorang pria tengah duduk di sebuah restoran. Pria itu seperti tengah menunggu


pesanan yang baru ia pesan di meja kasir. Wajahnya muram, pikirannya melayang kemana-mana. Ia tak bisa berpikir jernih sampai sekarang.


"*Kalau kamu mau ceraiin aku Do, aku bakal bawa Nino pergi jauh dari kamu. Aku yakin, dipengadilan nanti hakim akan ngasih hak asuh Nino ke aku, karena aku sebatang kara. Meskipun gitu, aku masih punya aset keluarga yang artinya aku masih bisa mencukupi kebutuhan Nino apapun itu."


"Ceraikan dia mas*!"


Kata-kata dari Velyn dan Lisa saling beradu dipikirannya. Valdo hanya mencintai Velyn seorang, tapi Nino. Ia takkan bisa hidup tanpanya, Nino adalah!


bagian terpenting dalam hidup Valdo, dan Velyn adalah separuh nafas yang selama ini selalu ia cintai. Velyn yang sabar, yang mau melayaninya meskipun Valdo telah banyak berbuat salah dan kejam padanya.


"Ini pak pesanannya" suara wanita yang memberikan satu kresek besar makanan pada Valdo membuat pikirannya buyar seketika.


"Oh iya, terimakasih" ujar Valdo seraya menerima kantong kresek itu lalu kemudian bangkit untuk kembali ke rumah sakit.


Velyn yang tadinya melamun kini terkejut akan kehadiran Valdo yang tiba-tiba masuk serta tersenyum ramah padanya. Senyuman seolah tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Namun berbeda dengan Velyn yang kini hanya mampu membuang muka, seolah memberikan tanda pada suaminya bahwa ia amat kecewa.

__ADS_1


"Makan dulu yuk, aku tau kamu nggak selera makan makanan rumah sakit, jadi aku sengaja beliin kamu health food" ujar Valdo yang mengeluarkan bubur dari dalam kresek itu, serta salad buah yang sudah ia pesan tadi.


Valdo seolah tak acuh dengan sikap Velyn yang masih terdiam tanpa kata. Setelah Valdo selesai memindah bubur diatas piring, ia kemudian beralih duduk dan mencoba menyuapi Velyn.


"Ayo sayang, makan" Velyn masih tak bergeming, ia bahkan tak menatap Valdo sedikitpun. Pikirannya seolah kosong, mencoba menalar dan menelaah keputusan Valdo yang amat berat baginya.


"Velyn? kamu kenapa? ayo makan dong, biar


kamu cepet pulih" Velyn masih bertahan untuk bungkam, ia melirik Valdo dengan tatapan sayunya.


"Kamu makan sendiri aja mas, aku lagi nggak selera" Velyn kemudian mencoba untuk berbaring, ia membelakangi tubuh Valdo yang kini hanya mampu menunduk seraya pasrah dengan sikap Velyn yang tiba-tiba dingin.


Valdo tau, ini semua salahnya sulit untuk menjelaskannya pada wanita yang begitu ia cintai itu. Disaat yang seperti ini Valdo tidak ingin bercerita dulu tentang alasan mengapa ia menolak untuk menceraikan Lisa. Tapi dengan begitu Valdo jadi tau, kini di hati Velyn sudah mulai tumbuh perasaan padanya. Buktinya Velyn ingin dirinya memilih, itu artinya dalam hati wanitanya ia masih berharga.


***


Kini Velyn sudah bisa pulang dari rumah sakit, ia keluar dari mobil Valdo, disusul pria itu yang buru-buru hendak menuntun Velyn untuk berjalan menuju rumah mereka.


"Tapi Lyn, keadaan kamu masih lemah, aku nggak bisa biarin kamu jalan sendiri" kata Valdo seraya mencoba meraih tangan Velyn, namun segera ditepis olehnya.


"Nggak perlu, makasih atas niat baik kamu, tapi aku bisa jalan sendiri" ujar Velyn yang kini buru-buru mendahului Valdo untuk masuk kedalam rumah. Sedangkan Valdo, ia menghela nafasnya, menatap punggung Velyn yang kini berjalan perlahan memasuki rumah besarnya. .


Velyn dengan perlahan masuk kedalam rumah tersebut, belum sempat menghela nafas lega tiba-tiba saja wanita itu dikejutkan oleh pemandangan yang tak menyenangkan. Foto yang sebelumnya menampilkan dirinya dengan sang suami, kini berubah menjadi foto Valdo dengan Lisa. Velyn mengepalkan jemarinya, ia memutar bola matanya seraya berdecak. Hatinya panas dan ngilu melihat foto didepan matanya yang terpajang tepat di ruang tamu.


Tak hanya itu, Velyn seperti mendengar suara tawa Nino dengan seorang wanita dari lantai atas. Dengan perlahan wanita itu berjalan keatas seraya memegangi dadanya yang tengah sesak. Ia perlahan menuju kamar Nino yang tepat berada disebelah kamarnya. Velyn mengintip sedikit pintu yang terbuka itu.


"Mama, sini tangkap Nino" tawa Nino pecah setelah wanita yang sudah ia tebak adalah Lisa itu kini mulai mengejar Nino dan menggelitiki perut pria keci


itu.


"Awas ya kamu, mama nggak akan ngelepasin Nino"

__ADS_1


"Ampun ma, ampun" mohon Nino seraya tertawa terbahak-bahak. Pemandangan apa ini? bahkan melihat ibu kandung dan anak lelakinya bermain, hati Velyn ikut sakit dan teramat perih. Velyn mencoba untuk menutup mulutnya, ia menahan derai air mata yang siap untuk jatuh.


Kini berakhir sudah semuanya, keluarga Valdo telah kembali. Tapi, apa kata bunda dan ayahnya nanti ketika Velyn kembali dengan status bukan istri


Valdo lagi. Apalagi mengingat kini ayah sedang menjalani perawatan, ayah tidak mungkin bisa menerima pukulan berat seperti ini.


Velyn melangkah kembali, ia berjalan menuju kamarnya, namun lagi-lagi pemandangan dihadapannya membuat matanya memerah kembali. Sebuah foto pernikahan Valdo dengan Lisa terpajang dihadapannya, menggantikan foto Velyn dan Valdo sebelumnya. Bahkan mata Velyn juga menangkap sebuah koper besar yang kini berada didepan lemari kaca yang biasanya digunakan oleh Valdo. Velyn melangkah ia dengan gemetar meraih gantungan resleting yang terdapat pada koper itu, dan benar saja foto keluarga kecil Valdo yang kini telah utuh kembali. Dengan foto Nino yang berada ditengah-tengah mereka.


Velyn menutup mulutnya, ia terduduk seraya terisak. Dadanya teramat sakit melihat kenyataan ini. Kenapa? kenapa Velyn selalu dikecewakan lagi dan lagi? apakah dia tidak pantas untuk bahagia. Tidak hidup, tidak cinta, takdir telah mempermainkannya.


"Oh udah pulang?" suara itu membuat Velyn menghela nafasnya, ia terdiam seraya menyeka air matanya. Velyn mengangkat pandangannya menatap Lisa yang kini bersandar di ambang pintu seraya tersenyum penuh kemenangan.


"Aku kira kamu nggak akan pernah balik


lagi kesini" Velyn mengeratkan giginya, tangannya mengepal seraya menatap Lisa dengan tajam.


"Kenapa aku nggak pulang, ini rumah suamiku"


"Kamu nggak tau ya? atau pura-pura idiot. Aku masih istri sah Valdo, dan istri pertamanya. Kamu itu cuma pengganti Velyn, seharusnya kamu sadar dari awal, Valdo nggak akan pernah suka sama kamu, dia cuma kasihan"


"Cukup! aku juga istri sah mas Valdo!" kata Velyn dengan tegas dan nada tinggi membuat Lisa berdecak dan tersenyum miring.


"Kamu itu udah pergi selama lima tahun, dan selama itu mas Valdo nggak pernah sama sekali menafkahi kamu. Seharusnya kamu sadar kalau pada hakikatnya pernikahan kalian udah nggak akan di akui lagi"


"Aku pergi itu semua juga gara-gara kamu kan! kamu jahat Lyn! kalau kamu nggak ada, aku dan Valdo pasti bahagia. Sekarang semuanya udah kamu rebut, sedangkan kamu punya orang-orang yang kamu sayangi. Aku? nggak ada satupun dari keluarga ku yang tersisa. Cuma Nino dan Valdo, mereka satu-satunya keluarga aku" Velyn terdiam mendengar ucapan dari Lisa. Apakah yang dikatakan Lisa semuanya benar? Velyn menggeleng, bagaimanapun juga ia takkan mudah menyerah. Lagipula Velyn dan Valdo sama-sama saling mencintai, ini mungkin hanyalah tipu muslihat dari Lisa.


"Nggak, aku nggak bakalan terpengaruh sama kamu Lisa, gimanapun aku sama mas Valdo udah menikah secara sah. Dan kami sama-sama cinta"


"Cinta? kamu pikir Valdo cinta sama kamu? cuma sekedar ngomong doang?" Lisa tertawa renyah, ia benar-benar suka melihat ekspresi Velyn yang begitu kesal saat ini.


"Kalau dia cinta sama kamu, terus kenapa dia nggak mau cerai dari aku? dia bahkan ngizinin aku buat pindah kesini dan tinggal sama-sama. Bahkan dia nyuruh aku buat sekamar sama dia"

__ADS_1


"Bohong!" Velyn benar-benar murka kali ini, nafasnya memburu dengan pandangannya yang membunuh. Ia tak mungkin percaya begitu saja dengan Lisa.


__ADS_2