
Velyn melangkahkan kakinya mendekat kearah Malia dan juga Gaisan yang kini nampak gugup dengan pandangan mereka yang menatap bawah. Berbeda dengan Valdo yang kini tampak santai memainkan ponselnya.
"Velyn, kamu pulang dulu aja ya nak" kata Malia yang kini menyadari jika Velyn sudah berada disana. Hal itu membuat Gaisan menatap putri sahabatnya itu dengan cemas karena terlihat sekali wajah gadis itu yang begitu pucat.
"Nggak apa-apa kok bunda, Velyn temenin bunda aja disini"
"Tapi kamu belum makan nak, liat muka kamu pucat gitu. Biar bunda sama om Gaisan aja yang jagain ayah, nanti kalau kamu udah baikan balik kesini lagi ya" bujuk sang ibu membuat Velyn terdiam sejenak. Bunda Velyn kini bangkit, ia menyentuh pundak anak gadisnya dengan penuh perhatian.
"Valdo, kamu anterin Velyn pulang ya" seru Gaisan yang kini menatap putra semata wayangnya dengan seksama. Mata Valdo yang tadinya fokus pada layar ponselnya kini beralih melirik Velyn yang tampak terdiam dengan tatapannya yang kosong.
"Pa-"
"Nggak perlu om, saya bisa pulang sendiri kok, nanti biar saya naik taksi aja" kata Velyn menghentikan ucapan Valdo yang hendak mengatakan sesuatu. Velyn tau, pria itu pasti juga malas kan mengantarnya. Lagipula ia juga tak mau menyalakan api di hati Valdo yang dari dulu terus membara untuknya.
"Nggak boleh, lagian kalian sebentar lagi mau nikah kan? ayo Valdo anterin Velyn pulang" Valdo menghela nafasnya, ia kemudian bangkit dan melangkah.
"Gue anterin" ujarnya datar disaat dirinya sudah berada sejajar dengan gadis yang kini menatap pandangan Valdo itu. Velyn mengangguk, ia berpamitan pada bunda dan Gaisan yang kini menatapnya dengan penuh senyuman.
Langkah Velyn mengekor pada Valdo yang kini masih fokus berjalan santai didepannya. Gadis itu merasa begitu canggung, tau begitu tadi ia menolak saja.
__ADS_1
Setelah sampai di parkiran Valdo membuka pintu mobil depan, disusul Velyn yang kini membuka mobil belakang membuat Valdo mengernyit.
"Lo kira gue supir lo apa?! duduk depan" perintahnya membuat Velyn menarik nafasnya dalam-dalam seraya menggeleng. Valdo benar-benar berbeda dengan yang dulu ia kenal. Mana Valdo yang ceria dan selalu mencubit pipinya itu? Valdo yang mengatakan akan menjaga Velyn untuk selamanya. Itu semua hanyalah obrolan anak kecil yang mustahil untuk ditepati saat dewasa.
Saat ini mereka tengah duduk di jok belakang, tatapan Velyn mengarah pada jalanan. Ia benar-benar enggan mengatakan sesuatu, bahkan suasana dalam mobil begitu hening tanpa percakapan diantara mereka.
"Tanggal pernikahan kita mau di ajuin" ujar Valdo tiba-tiba membuat Velyn melirik pria itu yang masih fokus menyetir.
"Kalo kak Valdo nggak setuju-"
"Gue udah janji sama papa bakal nikahin lo" ujarnya membuat Velyn merasa tertekan sekarang. Untuk apa juga Valdo mengatakannya pada dirinya, Velyn benar-benar tidak habis fikir.
Mata Velyn menajam, kalau saja bukan karena ayahnya Velyn pasti akan menikah dengan Andra bukan dengan dia.
Gadis itu diam seribu bahasa, malas juga menanggapi apa yang dikatakan pria jahat ini padanya. Ya, kini dihati Velyn tidak lagi ada Valdo seperti dulu, yang ada hanyalah kebencian yang ia rasakan. Bukan karena dirinya dulu ditinggalkan, tapi Valdo juga secara terang-terangan membuatnya sakit hati akan perkataannya. Bukannya malah simpati pada keadaan ayahnya, tapi dia malah membujuknya untuk membatalkan pernikahan ini.
"Stop! aku mau turun disini aja" ujar Velyn membuat pria disampingnya mengernyit seraya masih fokus menyetir.
"Aku bilang berhenti!" teriaknya sekali lagi membuat Valdo menghentikan mobilnya dengan tatapan tajamnya pada Velyn yang kini terdiam dengan mata yang penuh dengan amarah.
__ADS_1
Tak ada yang dikatakan Valdo sedikitpun, begitupun juga gadis itu yang kini keluar seraya membanting pintu mobil dengan kasar. Velyn berjalan maju diantara ramainya kota dan panasnya terik matahari. Sementara itu dari dalam mobil Valdo hanya bisa menghela nafasnya.
"Gue tau Lyn, lo nggak cinta sama gue, jadi gue nggak perlu maksa lo buat masuk dalam kehidupan gue sama Nino" gumamnya seraya mengacak rambutnya kasar.
Valdo sebenarnya masih mencintai mantan istrinya itu. Namun dalam keadaan sekarang ini, karena papanya ia juga harus menikahi Velyn. Padahal Valdo benar-benar tidak ada rasa sama sekali padanya. Meskipun Velyn terlihat cantik dan berbeda dengan Velyn yang ia kenal dulu, tapi rasa cintanya pada Lisa tidak akan pernah hilang.
Valdo meraih sebuah foto di dasbor mobilnya, ia menyentuh pelan wajah cantik dari mama kandung Nino itu. Keberadaannya pun masih menjadi sebuah misteri. Jika saja Lisa ada disampingnya, ia tak mungkin akan dijodohkan kembali dengan anak teman papanya itu.
"Lisa, kamu dimana sayang? anak kita udah tumbuh besar, apa kamu nggak mau lagi kembali sama aku?" gumamnya seraya mengusap wajahnya yang terasa panas mengingat kehidupannya bersama putra semata wayangnya itu.
Sampai saat ini pencarian demi pencarian selalu Valdo upayakan demi bersatu kembali dengan istrinya. Ia bahkan rela menikah dengan orang yang tidak ia cintai demi kehidupan Nino yang lebih baik lagi.
"*Kalau kamu nggak mau nikah sama Velyn, papa nggak akan ngasih kamu sepeserpun harta warisan papa. Jangankan kamu, Nino saja, papa nggak akan sudi buat ngasih warisan ke dia. Papa bakal kasih warisan itu ke Velyn"
"Pa?! sebenarnya yang anak kandung papa itu siapa sih?!"
"Kamu ingat Valdo, semenjak kamu kabur dan nikah sama orang lain, kamu bukan anak papa lagi dan kamu sudah kehilangan semuanya. Harta dan seluruh properti yang papa miliki nggak akan kita nikmati kalau bukan keluarga Velyn yang bantu kita*!"
Pertengkaran itu adalah sebuah boomerang untuknya dan Nino. Sebenarnya Valdo tidak masalah dengan harta itu, ia juga tidak menggebu untuk memiliki warisan dari papanya. Tapi untuk Nino, ia akan memberikan kebahagiaan yang lebih baik di masa depannya nanti.
__ADS_1