
Velyn melangkah masuk kedalam rumahnya, ia membanting tas berisi beberapa buku materi dari kampus. Gadis itu buru-buru masuk kedalam kamar, ia mengunci pintu kamarnya rapat-rapat. Meskipun ia tau tidak akan ada yang dapat mengganggunya karena keadaan rumah yang sepi, tapi ia hanya ingin sendiri saat ini. Meringkuk dan menangis sejadi-jadinya.
Velyn meraih buku putih tebal di atas nakas, ia memeluk buku tersebut seraya menangis sejadi-jadinya. Ia rindu Andra, Andra yang selalu membuatnya tersenyum, Andra yang tulus mencintainya dari dulu sampai saat ini.
"Andra, aku kangen kamu, maafin aku yang udah jahat sama kamu. Aku cinta sama kamu Andra, tapi aku nggak bisa jalani ini" Velyn menangis sesenggukan, ia menyentuh foto diatas meja belajarnya. Foto kenang-kenangannya bersama dengan Andra waktu mereka kencan untuk pertama kalinya disebuah pasar malam.
Kenapa kebahagiaan Velyn rasanya hanya sesingkat ini? jika saja ia tau semuanya akan berakhir. Maka Velyn tidak akan membiarkan semuanya berlalu begitu cepat. Ia akan menikmati saat-saat terakhir bersama dengan orang yang ia cintai.
Velyn merasakan pening dikepalanya, gadis itu mengusap air matanya seraya menghentikan tangisnya sejenak.
Tes
Setetes darah keluar dari hidung Velyn dan jatuh tepat difoto Andra dengan dirinya. Velyn buru-buru mengambil tisu, ia membersihkan noda darah dihidung dan juga frame tersebut.
Velyn hendak melangkahkan kakinya menuju ranjang, ia bahkan tak sengaja menjatuhkan buku yang diberikan Andra padanya. Pening dirasakan oleh Velyn, langkahnya lunglai dan begitu lemas disertai wajahnya yang begitu pucat. Ia mengambil buku itu dan dipeluknya.
"Aku nggak pernah tau apa yang terjadi nanti, tapi aku harap nggak akan ada orang yang cinta sama aku lagi setulus kamu Andra. Aku takut kamu kecewa karena nggak bisa seterusnya sama aku" bisiknya seraya duduk diatas ranjang dan memeluk buku itu dengan erat.
***
Malam yang dingin menerpa kulit putih gadis yang tengah terdiam di balkon atas. Tatapannya nanar tanpa bahagia sedikitpun.
__ADS_1
"Velyn" suara bunda membuat Velyn buru-buru bangkit, ia membalikkan tubuhnya seraya tersenyum tipis pada bunda yang tiba-tiba datang dan mengetahui keberadaannya.
"Bunda, bunda kok disini? ayah gimana?" tanya gadis itu seraya menutupi rasa sedihnya saat ini.
"Papa udah baik-baik aja kok, kamu gimana sama Valdo? kalian tadi udah ngobrol?" Velyn mengangguk, demi bunda dan ayahnya Velyn rela menyakiti hati sendiri. Lagipula harapannya yang dulu sudah ia kubur dalam-dalam.
"Kata kak Valdo pernikahan kita di ajukan ya bun?"
"Syukurlah kalo kamu nggak protes, bunda kira kamu bakal sedih" bunda memeluk putrinya itu, memberikan kehangatan layaknya seorang ibu pada anaknya.
"Maafin bunda ya nak, gara-gara bunda dan ayah kamu nggak bisa nikah sama laki-laki pilihan kamu" memang hati seorang ibu tak bisa dibohongi. Sekalipun Velyn menyembunyikan kegundahannya tapi tak dapat menyangkal jika ikatan batin Malia dan Velyn begitu kuat.
"Bunda jangan ngomong gitu, kalau ayah memang berharap aku nikah sama kak Valdo aku bakal turutin kok. Sekarang prioritas kita itu ayah, asalkan ayah seneng, dan itu bisa membuat ayah cepet sembuh" kata Velyn dengan lirih seraya tersenyum pada bundanya itu. Kini hati Malia begitu lega, rass khawatir dan gundahnya hilang karena ungkapan Velyn baru saja.
"Maafin bunda nak" suara yang sebelumnya lembut itu berubah menjadi isakan penuh luka. Velyn menarik diri dari pelukan bundanya, ia mengernyit seraya menghapus jejak air mata Malia.
"Bunda kenapa nangis? Velyn nggak apa-apa kok bunda" ujar Velyn seraya menahan tenggorokannya yang tercekat. Melihat bundanya menangis, hati Velyn ikut pilu dibuatnya.
"Nggak apa-apa kok. Inget ya nak, kalau nanti kamu udah jadi seorang istri harus nurut sama suami, layani suami kamu dengan baik. Bunda cuma berharap anak bunda satu ini bisa bahagia, jadi istri yang sholeha" tutur bunda membuat Velyn terdiam sejenak seraya mengangguk penuh kepastian. Apa yang dikatakan bundanya adalah nasihat yang selalu Velyn jaga dan ia ingat.
"Velyn pasti ingat kok bunda, makasih ya" kata Velyn seraya memeluk bundanya lagi dengan rasa tenang meskipun ada sedikit hal mengganjal dihatinya.
__ADS_1
Setelah berbincang sesaat, Velyn dan bundanya memutuskan untuk berangkat ke rumah sakit untuk menunggu Rahardian. Langkah kedua ibu dan anak itu menelusuri setiap lorong rumah sakit. Belum sempat mereka sampai masuk kedalam ruangan tiba-tiba saja dering ponsel Malia membuat langkah keduanya terhenti.
"Sebentar sayang, bunda angkat telfon dulu" kata Malia menghentikan langkah Velyn. Sambil menunggu bundanya menelfon gadis itu menatap sekeliling rumah sakit itu. Beberapa kali ia menatap bundanya yang tengah asik menelfon seraya mengelus dada.
"Siapa bun?" tanya Velyn usai bundanya menelfon tepat dibelakang gadis itu.
"Rega, katanya besok mau pulang, dia juga khawatir sama keadaan ayah" Velyn mengangguk. Ia tau cepat atau lambat, kakaknya satu itu akan pulang juga setelah setengah tahun bekerja di luar negeri sebagai arsitek.
Memang semenjak lulus kuliah di Amsterdam Rega direkrut perusahaan disana. Berbeda dengan Rega, Velyn adalah anak yang sedikit manja pada kedua orangtuanya. Maklum anak bungsu, jadi dia selalu menempel pada ayah dan bundanya.
Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya Velyn dan bundanya sudah sampai di ruangan sang ayah. Velyn juga agak terkejut karena didalam sana bukan hanya ayahnya yang sendirian berbaring di bangsal, tapi juga Isan yang tengah menunggu seraya tertidur pulas di atas sofa.
'Kenapa om Isan harus sebaik ini? dan kenapa kak Valdo bisa jadi anak om. Kalau aja anak om perempuan, pasti antara aku dan dia nggak akan jadi kaya gini' batin Velyn yang kini tatapannya terkunci pada sosok pria paruh baya yang masih tertidur pulas itu.
"Lyn? kok ngelamun?" Velyn membuyarkan lamunannya, tiba-tiba saja matanya mengarah pada sang ayah yang kini sudah dipasangi alat rumah sakit disekujur tubuhnya.
Velyn mengekor pada bundanya yang kini menata beberapa buah diatas meja sang ayah. Sedangkan Velyn beralih duduk disamping bangsal Rahardian yang kini terlelap tak sadarkan diri.
Jemari Velyn menggenggam tangan ayahnya yang terlihat sebuah infus menempel dipunggung tangannya.
"Bangun ayah, Velyn sama bunda kangen banget sama ayah. Velyn setuju kok buat nikah sama kak Valdo, jadi nanti kalau Velyn nikah, ayah harus sudah bangun ya" kata Velyn dengan suara seraknya seraya mencium punggung tangan ayahnya yang terasa dingin baginya.
__ADS_1
Malia mengelus pundak Velyn, tersenyum dan mencium kening putrinya dengan lembut.