Velyn Love

Velyn Love
Kedatangan Valdo 2


__ADS_3

"Nggak apa-apa kok bunda, Valdo nggak repot juga. Jarang-jarang Valdo kemari kalau bukan karena Velyn" mendadak bunda termenung ketika Valdo mengatakan hal tersebut. Bunda mengingat peristiwa tadi pagi yang membuat jarak antara dirinya dengan Velyn tercipta.


"Velyn pasti bahagia ya dapat suami baik kaya kamu. Maaf kalau Velyn belum bisa jadi istri yang baik buat kamu. Velyn masih belajar. Sebelumnya dia benar-benar nolak pernikahan ini, sampai mau kabur segala" bunda menghela nafasnya tatkala menceritakan apa yang terjadi sebelum Velyn setuju untuk menikah dengan Valdo. Lain halnya dengan bunda yang terlihat menggeleng seraya memijit pelipisnya akibat memikirkan anak gadisnya itu. Kini Valdo malahan hanya bisa menelan ludahnya. Valdo sedikit menunduk seraya masih menyimak perkataan bunda yang hendak melanjutkan perkataannya itu.


"Bunda tau, mungkin Velyn nggak terima sama pernikahan ini. Sebelumnya bunda takut Do, kalau waktu nikah nanti Velyn jadi tambah nggak suka sama kamu atau malah mencoba buat memberontak. Bunda takut semua itu terjadi, Velyn itu masih muda, tolong maafin dia kalau dia bersikap maupun berkata kasar sama kamu" Valdo hanya mengangguk seraya tersenyum tipis. Astaga! perkataan bunda sepertinya langsung menancap di dadanya. Padahal apa yang dikatakan bunda Velyn berbanding terbalik dengan apa yang terjadi. Selama ini Velyn selalu berbakti, tidak pernah sedikitpun berkata maupun berperilaku kasar. Valdo seperti tersindir, ia yang selama ini menyiksa Velyn sampai hampir merenggut nyawanya. Jika saja bunda tau akan kenyataan itu, tidak tau lagi apa yang akan Valdo lakukan.


"Velyn baik kok bunda, dia ngurus Valdo dan Nino dengan baik. Bunda tenang aja, dia nggak pernah ngelakuin apa yang bunda sebutkan tadi" bunda hanya bisa bernafas lega saat ini. Meskipun kenyataannya dihati bunda masih tersimpan rasa ragu, tapi dengan perkataan Valdo bunda akhirnya bisa menghilangkan sedikit rasa cemasnya.


"Alhamdulillah, bunda jadi lega. Bunda seneng kalo kalian hidup rukun. Bunda pikir setelah menikah Velyn akan minta cerai atau yang lainnya. Bunda bener-bener takut Valdo" Valdo mengernyit. Ia benar-benar tertampar oleh perkataan bunda barusan. Jelas-jelas Valdo sendirilah yang meminta Velyn untuk menandatangani surat perceraian. Kini raga Valdo seolah melayang, kelakuannya seperti tertangkap basah meskipun bukan dirinya yang dituduh.


"Bun-bunda, Rega sama ayah kemana?" tanya Valdo mengalihkan pembicaraan. Ia memang tidak ingin mendengar apa-apa lagi tentang pernikahannya dengan Velyn. Semakin dibicarakan, rasa bersalah itu semakin menggerogotinya hatinya. Lebih baik Valdo membicarakan yang lainnya daripada harus melanjutkan obrolan itu.


Namun entah mengapa ekspresi bunda yang tadinya biasa kinj berubah menjadi sendu. Matanya berkaca, bunda mengalihkan pandangannya dan mengusap air matanya yang menetes.

__ADS_1


"Kamu jangan pernah bilang ya sama Velyn nak. Bunda takut dia khawatir nanti, Velyn pasti bakal terpukul kalau dia sampai dengar kabar dari ayahnya" Valdo mengangguk. Meskipun ia sebenarnya tau jika ayah Velyn tengah sakit parah, namun ia belum tau jelas bagaimana keadaannya. Tapi setidaknya jika ia mengetahui maka dengan senang hati Valdo akan membantu nanti jika diperlukan.


Valdo mengangguk dan menatap bunda dengan mimik wajahnya yang terlihat ikut khawatir.


"Sebenarnya, ayah nggak akan lama lagi-"


"Maksud bunda apa?!" sontak saja mata Valdo membulat. Ia semakin tak percaya kala bunda mengatakannya dengan nada sumbang yang begitu ditahannya. Tidak boleh, Valdo tidak akan membiarkan ayah Velyn divonis seperti itu.


"Dokter sudah bilang Do, kalau ayah nggak bisa hidup dalam jangka waktu setahun kedepan. Ayah sakit kanker, sudah setahun ini menjalani pengobatan, namun hasilnya nihil. Ditambah lagi penyakit bawaan jantungnya."


"Doakan saja ya nak, ayah sekarang sedang menjalani pengobatan di Singapura. Keadaan ayah semakin tidak stabil, kalau tidak secepatnya ditangani dokter sendiri juga khawatir. Tapi janji ya sama bunda, jangan pernah bilang ke Velyn. Bunda mohon banget sama kamu" Valdo mengangguk. Tangisan bunda kini membuat Valdo tersadar begitu beratnya hidup Velyn dan cobaan yang diberikan pada keluarga ini.


Entah mengapa rasanya Valdo mendadak bersimpati pada istrinya itu. Ia begitu amat merasa bersalah kala mengingat betapa ia memperlakukan gadis itu dengan tidak baik.

__ADS_1


"Bunda" suara sumbang itu membuat Valdo dan bunda mengalihkan perhatiannya pada sosok Velyn yang kini tengah menangis seraya memegangi erat-erat tali tas yang ia kenakan. Bunda sampai tidak menyangka dan langsung bangkit kala putrinya tiba-tiba berada disana dan bisa ditebak jika ia telah mendengar apa yang mereka bicarakan.


"Dari kapan kamu sampai nak? kamu-" belum sempat bunda melanjutkan apa yang dikatakannya, Velyn buru-buru masuk dan menaiki anak tangga seraya menangis terisak tanpa mau mendengarkan penjelasan dari bunda. Valdo yang melihat hal itu langsung ikut bangkit. Rasanya ia tak tega melihat Velyn menangis seperti tadi.


Bunda terduduk lemas, air matanya kembali terjatuh. Ini yang tidak bunda inginkan, ia takut Velyn akan terpukul nantinya. Valdo kini hanya bisa menghela nafas seraya ikut duduk dan menenangkan bunda, mengusap punggung bunda yang terasa bergetar diiringi tangisan dari pelupuk matanya.


"Bunda tenang aja, Valdo bakal bicara sama Velyn. Bunda jangan khawatir, pasti Velyn bisa ngerti kok" kata Valdo membuat bunda hanya bisa mengangguk dan mengusap air matanya yang berlinang.


"Bunda minta tolong ya nak, tolong kasih pengertian ke Velyn" hanya itu pesan bunda yang bisa membuat Valdo tergugah. Pria itu kemudian melangkah menuju kamar Velyn yang kini tertutup rapat. Entah terkunci atau tidak, namun Valdo memutuskan untuk mengetuknya terlebih dahulu.


Sudah lima menit berlalu, namun tiada jawaban dari balik pintu itu. Valdo memutuskan untuk membuka pintu kamar Velyn. Dan benar saja, kamar Velyn tidak terkunci, yang ada suara isakan terdengar pilu ditelinga Valdo yang kini mulai mendekat kearah gadis yang tengah meringkuk diatas ranjang.


Valdo sedikit ragu ketika ia mulai memberanikan diri untuk mendekat. Langkahnya terasa berat saat ia mengingat ada ego dihatinya yang menolak. Tapi Valdo sadar akan pesan bunda, ia tak mungkin begitu saja menyepelekan apa yang bunda katakan tadi. Saat ini Velyn butuh sandaran, dan status Valdo adalah suami sahnya.

__ADS_1


Valdo memberanikan diri untuk mendekat dan perlahan berbaring disamping Velyn seraya memeluk tubuhnya dari belakang. Hal itu membuat Velyn agak terkejut, ia bimbang. Diam adalah jawaban ditengah perasaannya yang hancur tak karuan.


"Aku disini Lyn, kamu boleh tumpahin semuanya, kalo kamu mau marah, kamu bisa lampiaskan itu semua ke aku, asalkan hati kamu bisa lega."


__ADS_2