Velyn Love

Velyn Love
Ketahuan


__ADS_3

Kesibukan Adrian kini semakin bertambah kala dirinya memegang proyek yang harus ia tangani kemarin. Untung saja ada Velyn yang selalu membantunya. Meskipun Velyn hanya magang saja, tapi prospek kerja yang ia lakukan cukup baik dan memenuhi kriteria sebagai asistennya. Tidak kalah dengan Leni yang sudah profesional dan memegang beberapa pekerjaan penting lainnya.


"Kamu bawa ini ke kantor owner, minta tanda tangannya segera. Lantai sepuluh" kata Adrian tegas pada Velyn yang kini berdiri disampingnya. Velyn mengangguk patuh, membiarkan Adrian masih berkutat dengan pekerjaannya yang lainnya. Memang seperti inilah rutinitasnya sehari-hari, Adrian nampak begitu profesional dengan pekerjaannya. Ia juga tidak pernah memperlakukan Velyn dengan spesial di jam kerja. Meskipun jika diluar Adrian adalah teman yang baik dan selalu menemani Velyn kemanapun ia pergi.


Velyn melangkah keluar dari kantor manager, ia buru-buru menaiki lift dihadapannya. Sebenarnya ia merasa gugup kali ini, baru pertamakali ini Adrian menyerahkan berkas untuk diberikan pada atasan.


Meskipun bukan presdir atau CEO, tapi owner perusahaan juga bagian dari mereka. Velyn menghela nafasnya kala suara bunyi bel berdenting, menandakan dirinya sudah sampai dilantai sepuluh tepat dimana Adrian memberikan arahan tadi.


Velyn melangkah kearah wanita yang tengah duduk disamping sebuah ruangan. Ia menatap wanita itu dan sedikit melirik tulisan pada pintu yang terpampang dihadapannya.


"Permisi? ruangan owner ya?" wanita itu mengangguk seraya bangkit untuk menyambut Velyn. Bisa Velyn tebak jika wanita dihadapannya ini adalah asisten dari owner yang kini berada di dalam sana.


"Iya, ada keperluan apa ya?"


"Saya asisten General manager mau minta tanda tangan"


"Oh iya sebentar" tampak wanita itu mengetuk pintu ruangan owner beberapa kali sebelum ia masuk kedalam.


"Permisi"


"Masuk!" setelah terdengar suara samar-samar itu kini akhirnya wanita itu mempersilahkan Velyn untuk mengikuti langkahnya.


"Mari, ikuti saya" Velyn hanya mampu mengangguk. Dengan rasa canggung ia memilih untuk mengekor pada wanita yang kini perlahan membukakan pintu untuknya.

__ADS_1


"Permisi pak, asisten manager ingin menemui bapak"


"Iya" senyum Velyn yang semula terulas kini berubah menjadi tatapan mata yang sulit diartikan. Sama halnya dengan owner yang kini mengalihkan pandangannya dari layar komputer dihadapannya dan menatap Velyn dengan pandangan tidak percaya.


"Kalau begitu saya undur diri, silahkan mbak" ucap wanita itu yang kemudian meninggalkan Velyn dengan mengangguk seraya melempar senyum kaku.


Velyn masih terdiam seraya menunduk, ia mengeratkan jemarinya seraya menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Ve, Velyn" Valdo pun tidak menyangka dengan kehadiran Velyn yang tiba-tiba. Matanya bergerak melihat kartu magang yang dikalungkan ditubuhnya. Dan sekarang posisinya menjadi asisten bocah sialan itu. Mengapa Adrian tidak memberitahunya? dan Velyn juga sama, ia bahkan tidak memberitahunya sama sekali akan kegiatan magang yang dilakukan di perusahaannya sendiri.


"Maaf pak, sebelumnya saya mau menyampaikan, ini laporan yang diberikan oleh pak Adrian, tolong bapak cek jika ada kekeliruan" sekarang lihatlah, bagaimana Velyn bersikap, tenang seperti tidak pernah terjadi sesuatu pada mereka. Valdo benar-benar tidak mengerti sama sekali, ekspresi terkejutnya masih terlihat dan tertangkap oleh indera penglihatan Velyn yang kali ini hanya mampu terdiam seraya masih bertahan memberikan berkas ditangannya.


"Kenapa kamu nggak pernah bilang kalau kamu magang disini?" Velyn menarik kembali berkasnya. Sejujurnya ia tak tau harus mengatakan apa. Diluar jam kerja Valdo adalah suaminya, tapi ketika sudah seperti saat ini, Valdo adalah atasannya.


Mungkin Velyn sudah gila, jelas-jelas dihadapannya adalah Valdo suaminya. Tapi ia seperti berpura-pura tidak mengenal dan hanya bersikap profesional. Valdo yang kini mulai menatap Velyn dengan pandangan tak percaya mulai bangkit dan melangkah dari mejanya. Ia melangkah mengitari tubuh Velyn, membuat wanita itu hanya mampu menunduk dan sesekali memejamkan matanya.


"Aku ini suami kamu Lyn, seenggaknya kamu hargai aku sebagai suami kamu" Velyn hanya terdiam membisu kala Valdo memeluk tubuhnya dari belakang seraya berbisik di telinganya. Rasanya entah mengapa, hati Velyn semakin bergetar dibuatnya. Jantungnya berdetak kencang saat Valdo mencium lehernya. Velyn memejamkan matanya, merasakan aliran darah yang berdesir hangat dalam tubuhnya.


"Maaf pak" Velyn melepaskan pelukan Valdo dari perutnya, ia tak mau terlena lagi dengan rayuan Valdo. Setelah apa yang dilakukannya, bisikan mesra dan sensitif itu membuat Velyn akan lebih waspada lagi.


"Kenapa? kamu masih marah sama aku?! aku cuma minta dihargai. Aku ini suami kamu Velyn, kenapa sekarang kamu jadi kaya gini sih?!" Valdo mengacak rambutnya frustasi, ia kini beralih memegang kedua pundak Velyn dan mengangkat dagunya.


"Apa yang kamu fikirin tentang aku, itu semua nggak ada yang bener. Aku nggak pernah berkhianat dari kamu sayang, aku cuma butuh waktu buat siap cerita ke kamu. Aku mohon" Velyn menatap kedua manik mata itu. Manik mata keseriusan dari Valdo yang membuat hatinya kini hampir luluh jika saja ia tak mengingat kejadian malam itu.

__ADS_1


"Lisa!"


Velyn menggeleng cepat, ia melepaskan diri dari tangan Valdo yang masih bertahan mengangkat dagunya.


"Sebelum kamu ngomong soal menghargai, aku harap kamu tau arti dari menghargai itu. Seharusnya kamu udah tau kalau aku bakal magang mas, tapi kamu bahkan lupa. Sebelum kamu berangkat dinas bahkan kamu yang udah ngajarin aku" Velyn menghela nafasnya sejenak, ia tersenyum miring seraya menatap Valdo dengan senyuman nanar.


"Aku tunggu kabar dari kamu mas, tiap hari aku kirim pesan, aku telfon, tapi kamu seolah ngilang gitu aja. Bahkan semua perlengkapan yang udah aku sediain buat kamu, sengaja kamu tinggal di lemari. Sekarang aku tanya, siapa yang harus menghargai dan dihargai?"


"Maaf, maafin aku. Aku nggak bermaksud gitu sayang, aku punya alasan lain"


"Udahlah mas, seharusnya aku juga nggak perlu marah sama kamu. Seharusnya aku nggak perlu bingung, karena status aku cuma istri diatas kontrak. Maaf kalau aku nggak sadar diri" Rahang Valdo mengeras dibuatnya, mengapa Velyn selalu menyinggung tentang kontrak itu?. Valdo benar-benar tak ingin kehilangan Velyn. Kali ini Valdo mendorong tubuh Velyn dan menahannya di meja kerjanya, ia mencium bibir Velyn tanpa permisi.


"Sampai kapanpun, aku nggak mau pisah sama kamu! aku nggak akan ngelepasin kamu gitu aja" bisik Valdo tepat didepan wajah Velyn, membuat gadis itu membulatkan matanya saat Valdo mulai memaksa mencium bibirnya. Velyn mulai memberontak, namun tangannya ditahan oleh Valdo hingga membuat wanita itu hanya mampu pasrah seraya memejamkan matanya.


"Mas, lepasin! ini di kantor!" bisik Velyn seraya menahan geli saat ciuman Valdo mulai turun dileher jenjangnya. Namun Valdo tak bergeming, ia semakin brutal membuka paksa kancing baju kemeja Velyn membuat wanita itu hanya mampu menahan desahan seraya masih mencoba untuk memberontak.


"Do!" suara terbukanya pintu serta suara tak asing itu membuat kegiatan Valdo terhenti dan membalikkan tubuhnya sejenak.


"Eh eh sorry" Velyn sedikit mengintip Adrian yang kini tampak tersenyum kaku seraya hendak keluar lagi dari balik pintu itu, sedangkan wanita yang berdiri disampingnya tak lain dan tak bukan adalah asisten Valdo tampak memperlihatkan wajah tidak sukanya pada Velyn.


Valdo buru-buru memeluk tubuh Velyn dan segera menutup kancing Velyn yang terbuka. Ia menatap tajam kedua manusia yang masih melihat keadaan keduanya dengan tatapan kaget bukan main. Valdo tak ingin ada bagian sensitif dari Velyn yang terlihat orang lain. Hanya boleh dirinya seorang yang melihat itu.


"Keluar!" teriak kencang Valdo membuat Adrian buru-buru menutup pintu itu dengan tatapan ketakutan.

__ADS_1


__ADS_2