
Ceklek.
Suara pintu yang terbuka menggema, ia sadar kali ini dirinya terlambat untuk pulang, jadinya gadis itu mengendap-endap untuk masuk kedalam. Sejenak jantungnya berdetak kencang tatkala masuk kedalam rumahnya yang begitu sepi tanpa suara maupun cahaya lampu.
Gadis itu menutup pintu kembali, ia melangkahkan kakinya hendak menuju kamar, namun belum sampai lima langkah kakinya berjalan, ia dikejutkan oleh lampu yang tiba-tiba menyala membuat gadis itu mati kutu seketika.
Ia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk membiasakan retinanya menerima cahaya yang masuk. Pandangannya menjurus pada ayah dan bunda yang kini bergantian menatap Velyn dengan tangan mereka yang bersedekap dada.
"Ayah, bunda, maaf" kata Velyn seraya menunduk tanpa berani menatap kedua orangtuanya tersebut.
"Ini jam berapa Lyn? bukannya kamu tau peraturannya kan?" pertanyaan dari Malia membuat jemari Velyn bergetar. Ia merasa takut jika ibunya berkata dengan nada yang keras dari biasanya.
"Sekarang bunda tanya, kamu keluar sama siapa malam-malam begini? kemana aja sampai jam segini baru pulang, nggak biasanya" jelas Malia membuat Velyn tambah semakin menunduk dengan jantungnya yang semakin berdebar.
"Bun, aku" belum sempat Velyn menyelesaikan kata-katanya, namun suara sang ayah tiba-tiba membuat gadis itu sedikit lega.
"Udahlah bun, lagian kan ini pertama kalinya Velyn telat, lagian dia akhirnya juga pulang kan, jadi bunda jangan khawatir seperti itu. Mending kita istirahat dulu, Velyn kamu cepet ganti baju dan tidur juga ya nak."
"Tapi ayah" perkataan Malia membuat Rahardian kini mengangguk, seperti memberikan sebuah isyarat untuk wanita itu untuk membiarkan situasinya membaik sejenak.
"Oke, kali ini bunda ngalah, tapi kamu harus janji jangan diulangi lagi" kata Malia dengan tegas membuat gadis itu mengangguk dan berlalu menerobos kedua orang tuanya untuk kembali kedalam kamarnya.
Setelah Velyn melangsingkan kakinya menuju atas, Malia sempat memijit pelipisnya. Ia menggeleng seraya menatap Rahardian yang kini memilih untuk duduk disamping istrinya.
__ADS_1
"Ayah jangan terlalu manjain dia dong, Velyn itu anak cewek, kan ayah tau sendiri pergaulan jaman sekarang itu seperti apa. Bunda cuma nggak pengen nantinya Velyn jadi salah pergaulan, makanya setiap dia punya temen baru kita selalu harus tau, meskipun kita izinin dia berteman sama siapapun, tapi kits juga harus mencegah sesuatu hal yang tidak kita inginkan" jelas Malia panjang lebar membuat Rahardian menyentuh punggung tangan wanita itu seraya menenangkan hatinya yang tengah gundah.
"Bunda tau kan kalau anak kita udah dewasa, selama ini kita sudah mengawasi dia lebih dari 20 tahun. Ayah percaya Velyn pasti sudah tau mana yang salah dan mana yang benar, kita juga sudah berusaha untuk memberikan perhatian dan kasih sayang, begitupun dengan teman-temannya yang semuanya baik-baik aja. Jadi bunda jangan khawatir, lagipula ini kesempatan terbaik untuk membuat Velyn mengerti dengan apa yang kita ingin lakukan selanjutnya" perkataan Rahardian menyimpan seribu makna, namun meskipun begitu wanita itu masih memikirkan anak gadisnya yang kini mulai tumbuh dewasa.
Velyn kini tengah bersiap untuk tidur, ia baru saja mengganti pakaiannya dengan piyama hitam miliknya. Entah mengapa ia masih mengingat betapa manisnya perlakuan Andra padanya. Rasanya jantungnya madih terasa bergetar mengingat setiap bentuk mata, hidung maupun bibir tipis pria itu. Velyn menarik boneka teddy coklat kesayangannya. Ia memeluk boneka itu erat dengan senyuman dan juga rona merah dipipinya.
Tok tok tok.
"Velyn, kamu udah tidur nak?" suara sang ayah bahkan membuat gadis itu tersentak, ia buru-buru membukakan pintu untuk Rahardian yang kini tersenyum kearahnya. Begitupun Velyn yang kini juga membalas senyuman dari sang ayah.
"Ayah, ayah belum tidur?" pertanyaan itu membuat Rahardian menggeleng. Ia perlahan masuk kedalam kamar putrinya. Rasanya baru kemarin ia mengingat Malia melahirkan putri cantik yang kini tengah tumbuh dewasa.
"Apapun yang dikatakan bunda, kamu jangan marah ya, bunda cuma terlalu khawatir aja sama kamu" perkataan sanga ayah yang kini menatap tembok dengan terpampangnya foto-foto gadis itu dari bayi hingga tumbuh dewasa membuat Velyn tersenyum.
"Ayah percaya sama kamu, kamu sudah dewasa dan kamu pasti juga sudah tau mana yang benar dan mana yang salah. Boleh ayah tau kamu pergi kemana dan dengan siapa?" pertanyaan itu membuat Velyn menggaruk tengkuknya.
Sebenarnya ia belum siap jika menceritakan perihal Andra pada orangtuanya. Namun mengingat dulu bundanya pernah bilang "*bun, kalau aku pacaran nanti boleh nggak?."
"Sekarang kamu masih sekolah Lyn, ngapain sih mikirin pacaran segala. Anak sekolah itu harusnya belajar, kamu nih, masih kecil pacaran mulu" kata Malia seraya masih berkutat dengan baju yang hendak ia setrika yang masih begitu menumpuk.
"Aku juga nggak mau pacaran sekarang, aku cuma tanya nanti kalau aku udah kuliah atau kerja, boleh nggak pacaran?" pertanyaan Velyn membuat bundanya menghentikan aktivitasnya sementara.
"Seharusnya kalau kuliah kamu jugs nggak boleh pacaran sih, tapi kalau lihat-lihat umur kamu, boleh deh, asalkan jangan macam-macam, terus pacar kamu jangan cuma sembarangan pacaran, kalian juga harus mikirin masa depan."
__ADS_1
"Masa depan apa sih maksud bunda?" pertanyaan itu membuat Malia menghela nafasnya.
"Intinya gini, bunda bakal ngasih kamu izin tapi dengan satu syarat, pacar kamu harus kenalan dulu sama ayah sama bunda. Tenang aja, bunda nggak akan mempersulit kalian, kalau dia mau ketemu sama keluarga kita batu bunda bakal kasih restu. Kamu paham kan*?."
Velyn tersenyum sendiri mengingat percakapan antara dirinya dengan Malia. Memang apa yang dikatakan bundanya memang benar dan ia mulai merasakannya saat ini. Sebuah bentuk keseriusan dari pria itu 'Andra'.
"Kalau itu yang membuat orang tua kamu bisa merestui hubungan kita, saya akan sekalian melamar kamu Velyn, saya sungguh-sungguh."
Perkataan Andra membuat Velyn senyum-senyum sendiri, membayangkan hubungan mereka akan secepat itu membuat gadis dengan rambutnya yang lurus itu merasakan geli dihatinya.
"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri? ada sesuatu ya?" perkataan Rahardian membuat Velyn menggeleng. Ia beralih memegang pundak sang ayah dan mungkin ini saatnya gadis itu bercerita tentang keseriusan Andra padanya.
"Yah, aku mau kasih tau ayah, tapi ayah jangan kaget ya?" perkataan Velyn membuat Rahardian semakin penasaran.
"Apa sih?"
"Aku udah punya cowok yah" kata Velyn dengan matanya yang berbinar serta pipinya yang bersemu merah. Dilain pihak, Rahardian menaikkan sebelah alisnya, rasanya tak percaya dengan apa yang Velyn katakan barusan.
"A apa?"
"Tapi tenang aja yah, kita belum pacaran kok. Dulu bunda pernah bilang kalau Velyn harus pacaran sama orang yang bener-bener serius sama Velyn, dan dia bener-bener serius lo yah, dia bahkan mau ketemu sama bunda dan ayah, dia pengen sekalian ngelamar Velyn."
"Lyn, kayanya ini udah malam banget, ayah bakal balik ke kamar dulu ya, kamu juga harus cepetan tidur" kata sang ayah yang kini menyela perkataan Velyn membuat gadis itu menampakkan pandangannya yang sedikit kecewa.
__ADS_1
"Ah iya yah, selamat malam" kata Velyn disusul Rahardi yang kini keluar dari kamarnya dengan senyuman tulus itu.