Velyn Love

Velyn Love
Kebersamaan


__ADS_3

Makan malam telah tiba, kini Velyn memasuki rumahnya seraya memberikan salam. Gadis itu tampak tersenyum pada bundanya seraya melepaskan hak tingginya yang ia pakai seharian.


"Anak ini, hem seharian kemana aja kamu? katanya cuma sebentar kerumah Valdo kenapa sampai selarut ini?" tanya sang bunda membuat Velyn hanya bisa tertawa kecil seraya menyalami bundanya yang kini masih betah hendak mengomel padanya.


"Tadi mampir minum dulu di cafe sambil makan bun. Oh ya ayah mana sama kak Rega?" pertanyaan itu membuat bunda menggeleng seraya menyentuh anak rambut Velyn yang tergerai panjang.


Velyn sedikit menengok kearah ruang makan, ia mengangkat satu kresek besar keripik kentang pedas kesukaan keluarganya jika mereka tengah berkumpul dan melihat film saat malam tiba.


"Aku pengen malam ini kita liat film kaya dulu lagi bunda. Mumpung ada kak Rega" bunda menggeleng seraya mengambil kripik kentang yang berada ditangan Velyn.


Memang kebiasaan mereka ketika berkumpul adalah menonton film action bersama. Tak hanya itu, ditengah mereka menonton film pasti perdebatan antara Velyn dan Rega menjadi topik saat mereka tengah asyik-asyiknya menikmati kebersamaan. Jujur saja Malia juga begitu merindukan momen itu, dan pas sekali Velyn membangkitkan kebersamaan itu lagi.


"Ayah!" Malia bisa melihat Velyn yang kini tumbuh dewasa, namun sikapnya pada orang tua memang masih manja. Ia merangkul leher ayahnya dari belakang seraya mencium pipi Rahardian seperti ketika gadis itu masih kecil dulu.


"Wah, keripik kentang nih" celetuk Rega membuat Velyn mengerucutkan bibirnya seraya buru-buru menyerobot kresek besar itu dari tangan sang bunda.


Malia terkekeh, ia menggeleng seraya bersiap untuk mengomel pada kedua kakak beradik ini.


"Nggak boleh! kalau dibuka sekarang pasti kak Rega yang habisin. Nanti malam kita nonton film sama-sama baru keripiknya boleh di buka"


"Pelit amat nih cewek, minta dikit Lyn" bujuk Rega membuat Velyn menggeleng seraya menjulurkan lidahnya membuat Rega mengumpat habis-habisan.

__ADS_1


"Kalian ini udah gede lo, jangan kaya bocah berantem mulu" nasihat sang ayah yang kini duduk bersiap untuk menyantap makan malamnya.


"Tuh kasih tau yah, masa udah pada gede masih suka jail" tambah bunda yang kini duduk disebelah ayah membuat Velyn menyerah dan meletakkan kresek itu dibelakangnya. Kemudian ia duduk bersebrangan dengan sang bunda yang kini masih menatap kedua anaknya itu dengan pandangan menyindir.


"Si Velyn yang mulai duluan, makanya jangan pelit-pelit Lyn. Orang kalo pelit kuburannya sempit lo"


"Kak Rega jadi orang juga jangan serakah, orang yang serakah itu temennya setan" tukas Velyn membuat Rega membulatkan matanya. Dasar anak ini, bisa-bisanya dia membalas perkataan Rega tanpa merasa berdosa dan malah terkekeh geli menatapnya.


"Kamu ngatain kakak setan?!"


"Nggak kok, kalo kakak ngerasa ya salah sendiri baperan" ujar Velyn membuat Rega memanyunkan bibirnya. Velyn sangat puas menggoda kakaknya satu ini. Ia ingat saat mereka kecil mereka juga selalu berdebat soal makanan maupun hal lainnya.


"Udah dong, baru aja dikasih tau ayah sekarang malah diterusin berantemnya. Emang kalian nggak lapar apa?" celetuk bunda membuat kedua anak ini saling melirik dan memberikan kode.


***


Setelah selesai dengan acara makan malam, Velyn dan keluarganya kini berkumpul diruang TV. Mereka memulai acara nonton film bersama. Disofa ada ayah dan bunda, sedangkan dibawah mereka duduklah Velyn dan Rega dengan kaki bersila diatas karpet.


Velyn memperhatikan setiap orang yang ia sayangi. Inilah kebersamaan yang ia rindukan. Meskipun ia belum tau diagnosa dokter itu benar atau salah, tapi Velyn tidak ingin membuang waktunya diluar tanpa menyisakan kenangan pada keluarganya.


"Sst, eh gimana kamu sama Valdo, bentar lagi mau nikah nih ye" bisik Rega membuat mata Velyn membulat dengan pipinya yang sedikit merona. Rega menyerobot keripik kentang dihadapannya seraya menaikkan sebelah alisnya seraya tersenyum pada adiknya satu ini yang tengah malu-malu.

__ADS_1


Rega tau, dilihat dari kepergian Velyn tadi siang yang hendak menemui Valdo bisa ditebak jika hubungan diantara mereka sudah berjalan membaik. Namun entah mengapa, ada rasa sedikit tak rela maupun tak percaya pada pria itu.


"Ngapain sih kak Rega bahas dia? malesin deh" Velyn memanyunkan bibirnya, suasana yang tadinya mengharu biru kini berubah seketika kala Rega menyinggung masalah Valdo padanya.


"Ehem, Valdo juga nggak jelek-jelek amat buat kamu, tapi..." Velyn menatap tajam pada kakaknya satu ini. Valdo saja yang seperti itu dibilang jelek. Rega ini benar-benar sok ganteng sekali, jelas jika Valdo itu masih muda dan tampan.


Entah mengapa hati Velyn sedikit tidak terima dengan pernyataan Rega. Gadis itu buru-buru mencubit lengan kakaknya yang kini hendak mengatakan sesuatu membuat mata Rega membulat dan berteriak.


"Aw! sakit Lyn!"


"Kalian ini bisa diam nggak sih! nggak pas makan, nggak lagi nonton, berantem mulu" murka Malia yang kini menatap tajam kedua anaknya yang kini menoleh seraya mendongak.


"Velyn tuh bun, masa cuma gara-gara aku bilang kalo Valdo emmm" Velyn buru-buru menutup mulut kakaknya yang kini menatap tajam dirinya. Velyn terkekeh, awas saja kalau Rega sampai bilang yang tidak-tidak.


"Nggak apa-apa kok bun, kita lanjut liat film yuk kak" kata Velyn yang masih bertahan menutup mulut Rega yang kini beralih menggigit jemari Velyn.


"Aduh, sakit tau kak"


"Satu sama" Velyn terkekeh sendiri melihat kakaknya yang masih kekanak-kanakan. Tapi memang itu masa yang ia rindukan. Ia seperti kembali dalam dunia kecilnya. Bermain tanpa beban, seolah yang ia fikirkan hanyalah permainan.


Jika saja waktu bisa diputar kembali, ia ingin melewati masa itu lagi. Masa dimana ia masih senang bermain bersama Valdo. Menyenangkan rasanya punya dua kakak yang melindunginya. Apalagi Valdo yang selalu menemani Velyn bermain sepeda.

__ADS_1


Tak ada yang dibebankan diantara mereka, hanya keceriaan dan juga rasa saling nyaman. Velyn memeluk lututnya, ia menghela nafas lelah seraya tersenyum mengingat hari itu.


__ADS_2