Velyn Love

Velyn Love
Tugas pertama


__ADS_3

Sebenarnya Adrian hanya memancing sahabatnya saja. Ia juga tak mungkin merebut Velyn dari sisinya. Walaupun sebenarnya Adrian cukup tertarik dengan wanita itu. Kecuali kalau Valdo memang benar akan menyia-nyiakannya, maka saat itu Adrian akan maju untuk menggantikannya.


Saat ini posisi Adrian hanya ingin meyakinkan hati Valdo. Ia tidak mau Valdo memilih sesuatu yang salah dalam kehidupannya nanti. Terlebih alasannya karena termasuk kebahagiaan Velyn juga.


"Santai bro, gue cuma bercanda aja kok" kata Adrian seraya terkekeh membuat Valdo melepaskan cengkeramannya dengan tatapan tajam dari Valdo. Valdo kemudian beralih duduk seraya membenahi jasnya. Entah mengapa, jika itu tentang Velyn rasanya Valdo sedikit sensitif.


"Awas lo macem-macem sama istri gue" ujar pria itu dengan tatapan dinginnya.


***


Velyn kini tengah belajar sedikit demi sedikit dengan Leni. Tidak sulit juga untuk menjadi seorang asisten manager. Pekerjaannya hanya menemani manager setiap ada proyek baru dan mempersiapkan segala urusan yang berkaitan dengan pekerjaan manager.


"Makasih ya kak Leni, aku udah paham sampai segini"


"Oke, kalau ada yang belum kamu pahami tanya ke aku ya" Velyn hanya mengangguk seraya tersenyum pada Leni. Setelah Leni keluar dari ruangan, Velyn kemudian meneliti berkas-berkas dihadapannya lagi.


Jadi seperti ini rasanya bekerja di perusahaan?. Rasanya baru kali ini Velyn merasa sedikit damai. Entah mengapa, ingatannya kembali pada peristiwa tadi malam. Bayangan yang ingin ia lupakan, kini malah kembali Menghantui fikirannya.


Velyn meringis, ia menghentikan ketikan keyboard dihadapannya seraya menatap kosong pada file yang sedang ia kerjakan sekarang. Mungkin hatinya akan kuat ketika ia bertemu orang lain, tapi saat ia sendiri, rasanya hatinya begitu hancur dan teramat ngilu.

__ADS_1


Bagaimana tidak, suaminya sendiri memanggil nama wanita lain saat mereka tengah melakukan hal demikian. Velyn tau Valdo sedang tidak sadar, tapi ketika Valdo menyebutkan nama mantan istrinya, Velyn sadar betul jika yang dicintainya selama ini hanyalah Lisa seorang. Belum lagi Valdo tidak menghubunginya saat ia mengaku dinas, dan malah tidak membawa perlengkapan yang telah Velyn persiapkan.


Sebenarnya apa yang terjadi? ingin sekali Velyn bertanya langsung pada suaminya itu. Tapi rasanya mengingat wajahnya saja Velyn benar-benar merasa terluka. Seperti sebuah belati yang menyakiti jantungnya. Menghentikannya pada satu titik dimana Velyn akan mulai menyerah.


Suara dering telepon berbunyi disampingnya. Velyn terhenyak. Ia kemudian buru-buru mengangkat panggilan itu seraya menghapus jejak air matanya yang baru saja menetes sedikit.


"Halo, iya baik pak, saya kesana sekarang" dengan helaan nafas berat, Velyn buru-buru mengambil dokumen dihadapannya. Ia melangkah pasti dengan senyuman keterpaksaan yang ia buat untuk membuatnya lebih percaya diri. Saat ini semangatnya hanyalah magang ditempat ini. Selain ia harus menghindari Valdo terlebih dulu, Velyn hanya berharap agar tidak bertemu dengan suaminya itu hari ini.


"Permisi" suara itu membuat Adrian bangkit, ia menyerahkan buku nota untuk Velyn sebelum mereka keluar dari kantor. Kali ini tugas Velyn adalah menemani Adrian rapat dengan klien dari luar kota.


"Kamu ambil nota ini, tulis poin penting saat saya membahas proyek dengan klien nanti" Velyn hanya mengangguk patuh, ia kemudian mengikuti langkah Adrian yang kini dengan tegas melangkah mendahuluinya untuk masuk kedalam lift.


Setelah setengah jam berlalu dan sekaligus menunggu disebuah restoran, kini Velyn hanya mampu berdiri disamping Adrian dan tersenyum ramah pada klien yang ditemuinya. Velyn membalas jabatan tangan dari pria itu, saat Adrian memperkenalkannya sebagai asisten pribadinya.


***


"Gimana kesan kamu hari ini?" tanya Adrian tiba-tiba saat mereka tengah duduk di mobil berdua hendak kembali ke kantor. Velyn mengernyit, ia menatap Adrian yang kini tersenyum padanya seraya terkekeh.


"Maksud bapak?"

__ADS_1


"Udah lag Lyn, ini kan diluar kerja. Udah istirahat makan siang juga. Nggak perlu formal. Toh kita kan udah kenal sebelumnya" tukas Adrian membuat Velyn menahan tawanya seraya menatap Adrian dengan senyuman di wajah manisnya itu.


"Kamu serem banget sih kalo lagi kerja. Aku kira kamu bakal gitu terus ke aku, aku jadi canggung tau" ujar Velyn seraya memukul pelan punggung Adrian membuat pria itu tertawa renyah seraya menghentikan mobilnya karena memang dihadapannya tengah menyala lampu merah.


"Aku bukan tipe orang yang diskriminasi loh, kecuali sama Valdo" tawa Velyn mendadak berhenti saat Adrian menyebutkan nama suaminya. Ia kemudian mengalihkan pandangannya kearah jalanan membuat Adrian mengernyit. Bukankah Velyn dan Valdo hubungan mereka membaik? mengapa Velyn tampak menghindari pria itu?.


"Kamu-"


"Seharusnya kamu udah tau, dan aku juga nggak nyangka kalau kamu kenal sama suami aku"


"Setelah denger cerita dari kamu waktu itu, aku paham, kamu pasti masih sakit hati banget ya sama Valdo?. Aku kira hubungan kalian udah baik-baik aja" Velyn menghapus jejak air matanya yang kini sudah tak tertahankan lagi. Hal itu membuat Adrian buru-buru menjalankan mobilnya saat setelah lampu hijau sudah menyala dihadapannya.


Adrian menghentikan mobilnya sejenak, ia menatap Velyn dengan pandangan yang tidak tega.


"Lyn? apa Valdo nyakitin kamu? apa dia nyiksa kamu lagi?" Velyn menggeleng. Ia menatap Adrian dengan senyuman yang begitu menyakitkan. Mungkin tidak seharusnya Velyn mengatakan bagaimana Valdo bersikap semalam. Tapi setidaknya Adrian bisa paham dengan sisi lemahnya yang hanya ia ketahui.


"Dia baik sama aku Yan, aku bahkan semakin cinta sama dia. Tapi semakin aku cinta, semakin aku nggak pengen ada disisinya" Adrian memejamkan matanya erat-erat, ia menggenggam jemari Velyn seraya menguatkan kelemahan yang sebenarnya ada pada dirinya.


"Kenapa? bukannya kalian saling cinta? aku tau kok Valdo pasti juga nggak pengen kehilangan kamu"

__ADS_1


"Dengan penyakit ku yang kaya gini, gimana aku mau jalani ini semua sama dia?!. Waktu aku udah nggak lama lagi Ian" Adrian meraih tubuh Velyn dan memeluknya, mendekapnya saat tangis itu mulai pecah didalam dada bidangnya yang tersembunyi aroma mentol. Aroma yang dapat Velyn hirup meskipun tidak senyaman dipelukan Valdo.


"Kamu pasti bisa lewati ini Lyn, kalau Valdo tau, dia pasti akan mati-matian sembuhin penyakit kamu" bujuk Adrian yang kini menenangkan Velyn dalam dekapannya.


__ADS_2