
Perkataan Oca dan sumpah serapahnya terhadap Valdo membuatnya meringis. Oca saja sampai sadar jika Velyn mendapat masalah.
Bisa ditebak juga dari raut wajahnya yang dari tadi muram dan begitu irit dalam bicara. Seperti bukan Velyn yang biasanya.
Bukannya Velyn tidak mau cerita, tapi ia merasa masih belum tepat waktunya jika menceritakan permasalahannya saat ini. Apalagi ini tentang mantan istrinya Valdo. Tidak boleh ada yang tau mengenai itu.
"Udah deh Ca, dibilang gue nggak ada masalah kok. Perasaan lo aja kali!" elak Velyn lagi membuat Oca memutar bola matanya seraya menghela nafas.
***
Langkah kaki Velyn memasuki rumahnya. Tepatnya rumah Valdo yang masih tampak sepi. Hanya ada suara kecil dari tawa Nino yang terdengar dari lantai atas.
Gadis itu tersenyum, sambil membawa beberapa tumpuk buku dan tasnya ia melangkah, menapaki setiap anak tangga yang menghubungkannya pada kamar utama yaitu kamar Valdo dan Nino yang tepat bersebelahan.
Velyn melewati kamar Valdo, ia semakin mendekat kearah kamar Nino yang kini sudah ia tebak tengah bermain bersama baby sitternya. Tawanya semakin nyaring bersamaan dengan suara Mbak Marni, sang baby sitter yang telah dipanggil oleh Santi minggu lalu.
Perlahan tangan Velyn bergerak menekan daun pintu, membukanya perlahan seraya tersenyum pada bocah kecil yang kini sedang bermain mobil-mobilan ditangannya.
"Mbak Malni, itu mobil Nio"
"Ini mobilnya mbak Marni, Nino yang warna merah."
Velyn tersenyum tenang, meskipun dirinya tidak bisa bermain dengan Nino secara langsung tapi hatinya merasa lega kala melihat kebahagiaan terpancar di wajahnya.
"Mama" suara lembut Nino membuat gadis itu tersadar dari lamunannya. saking melamun dan memikirkan putranya satu itu. Velyn sampai baru sadar jika keberadaannya diketahui oleh Nino yang kini berjalan kearahnya.
"Nyonya, silahkan masuk" ajak Marni yang kini menyambut Velyn dengan hormat membuat gadis itu menggeleng seraya hendak menutup pintu kembali. Namun melihat pergerakan Velyn yang hendak pergi, Nino buru-buru berlari, menahan Velyn agar berhenti dan ikut masuk bersamanya.
__ADS_1
"Mama jangan pelgi, Nio mau main sama mama" Velyn mengerutkan keningnya. Ada rasa ragu dihatinya, mengingat waktu sudah semakin senja. Takut jika Valdo datang dan mengancamnya lagi.
Velyn masih bergelut dalam pikirannya. Berpikir keras seraya menatap atas langit-langit kamar Nino. Akhirnya gadis itu menghela nafasnya, ia menuruti Nino yang kini menarik tangan kirinya untuk masuk kedalam.
Kamar ini, dan semua mainan Nino, keceriaannya selama ini hanya bisa Velyn nikmati pada saat putra tirinya ini tertidur pulas di siang hari, maupun malam hari kala Valdo tengah lembur kerja. Setidaknya menghindari sesuatu yang kemungkinan bisa terjadi padanya.
"Ma, ini mobilnya mama" Velyn menerima mobil-mobilan Nino dengan senyuman mengembang di wajahnya. Gadis itu ikut duduk dan menaruh tumpukan buku disampingnya.
"Sayang, sini main sama mama" setidaknya bermain bersama Nino sebentar dapat membuat hatinya sedikit tenang dan merasa lega.
"Nyonya, saya tinggal dulu ya" izin Marni membuat Velyn mengangguk seraya masih memperhatikan Nino yang berkutat dengan mobil-mobilannya.
"Iya mbak Marni, sebentar lagi waktunya Nino buat tidur kan. Saya aja yang gendong dia nanti" kata Velyn seraya tersenyum pada Marni dan mempersilahkannya untuk pergi.
Lagipula jam masih menunjukkan pukul 17.00 kira-kira kepulangan Valdo juga masih lama dari jam yang seharusnya.
Gadis baik yang menerima suaminya apa adanya. Menerima statusnya sebagai duda, sekaligus mampu mengurus anaknya seperti anak sendiri. Tapi mengapa Valdo masih bersikap jahat padanya.
Terkadang Velyn juga berfikir, dimana letak kesalahannya sampai Valdo membencinya seperti itu. Seolah ia adalah penyebab dari kekacauan dalam hidupnya.
Jika dipikir-pikir lagi, kehidupan Velyn lebih kacau lagi. Kehidupan terpaksa yang ia jalani, tidak bisa memilih masa depannya sendiri, dan masih harus menerima dirinya yang arogan.
Setelah Velyn mengajak Nino untuk bermain, kini akhirnya putra kecilnya bisa tertidur dalam dekapannya. Velyn menidurkan Nino di ranjang miliknya. Ranjang dengan sprei berwarna biru dan hiasan bintang bulan disana.
Setelah dirasa Nino cukup pulas tertidur, Velyn kemudian mencium pipi Nino dan mengelus puncak kepala putranya itu.
***
__ADS_1
Velyn menuruni anak tangga, ia kemudian hendak masuk kedalam kamarnya. Namun belum sempat ia membuka pintu suara langkah kaki membuat gadis itu membalikkan tubuhnya. Gadis itu menatap Valdo sekilas kala pria itu menatapnya datar dan langsung pergi ke atas.
Velyn mengedikkan bahu, yah inilah yang terjadi selama stau minggu ini. Tiada kata yang terucap dari keduanya. Hanya lirikan maupun melihat sekilas seperti halnya bertemu orang asing.
Setidaknya Velyn sudah terbiasa, lebih baik begini daripada ia disiksa seperti malam itu. Velyn memasuki kamarnya, ia menaruh tasnya di atas ranjang dan segera berjalan ke kamar mandi.
Setelah selesai dengan acara mandinya, kini Velyn berjalan keluar seraya mengeringkan rambutnya menggunakan handuk dengan hanya memakai handuk kimono ditubuhnya.
Velyn menatap pantulannya di cermin, gadis itu dengan asal mengacak rambutnya menggunakan handuk putih yang berada ditangannya. Setelah selesai, ia mengambil beberapa obat dari dalam laci dan meminumnya dengan segelas air disamping mejanya.
Ini sudah menjadi rutinitasnya sehari-hari, minum obat untuk mengurangi rasa sakit dikepalanya dan mimisan yang tiap kali melanda.
Ketukan pintu yang begitu keras membuat gadis itu buru-buru menyembunyikan botol obatnya lagi. Velyn buru-buru membukakan pintu dan mendapati Valdo yang kini tengah menatapnya datar seraya melemparkan tumpukan buku milik Velyn yang tadinya tertinggal di kamar Nino.
Buku itu berhasil ditangkap olehnya sebagian, namun yang lainnya berserakan dilantai, membuatnya buru-buru memungut buku itu dan menatap tak suka pada Valdo.
"Udah aku bilang jangan dekati anak aku! kamu kenapa nggak ngerti-ngerti sih!" Velyn bangkit dengan pandangannya yang sinis. Ia juga tak mau diinjak-injak.
"Coba kamu jangan bilang ke aku aja, kamu pikir aku bakal deketin anak kamu kalau dia nggak minta sendiri" Velyn mencoba untuk menutup pintunya, namun Valdo buru-buru menghadangnya.
"Aku belum selesai bicara!"
"Tapi aku nggak mau denger kamu bicara kak! urus urusan kamu sendiri, dan jangan pernah libatin aku sama masalah kamu. Kalau kamu pengen aku pergi sejauh yang kamu mau, tinggal ceraiin aku dan kita selesai!" teriak Velyn seraya menutup pintu kamarnya dengan kencang tanpa memperdulikan tatapan mata Valdo yang kini menajam.
Velyn bukan gadis lemah, ia juga bisa marah ketika kesabarannya di pancing. Apalagi Valdo yang berulangkali membuat Velyn muak dengan sikapnya. Kalau saja bukan karena orangtuanya Velyn juga tak akan mau memilih Valdo sebagai pendamping hidupnya.
Bagi Velyn kini tiada lagi yang perlu ia sedihkan. Air matanya sudah habis, dan Valdo tidak pantas mendapatkan itu. Velyn hanya bisa bertahan, dengan kesempatan hidupnya yang tersisa bersama dengan harapannya yang benar-benar tipis untuk diwujudkan.
__ADS_1