
Velyn terlelap dengan matanya yang terpejam tepat di ranjang kasur kamar Oca yang memang hanya ada satu kamar dirumah kecilnya. Namun setidaknya itu cukup untuk menampung sahabatnya yang kini tengah dilanda musibah.
Sedangkan Oca, ia berkutat pada laptop dihadapannya seraya memainkan pena yang dari tadi menemaninya untuk menulis. Oca kembali mengetik tugas dari materi yang diberikan oleh dosen tadi siang. Buru-buru ia mencatat hal penting di buku dan kembali mengetik lagi.
Ditengah kesibukannya dengan malam yang semakin larut dan sepi, ia samar-samar mendengar getar ponsel Velyn yang berada di tas yang tadi ia bawa. Oca mengernyit, tas itu terlihat menggantung di gantungan baju pintu kamarnya.
Oca melirik Velyn yang kini terlihat pulas sekali tertidur. Mungkin ia lelah, ingin sekali Oca membangunkan sahabatnya itu, namun hal itu urung ketika mengingat peristiwa yang Velyn alami. Oca kemudian menghela nafas dan berjalan perlahan menghampiri tas Velyn. Ia merogoh ponsel Velyn yang berada didalam tas kemudian melihat layarnya. Dan betapa terkejutnya Oca mendapati jika Valdo telah menelfon di ponsel Velyn berulangkali. Bahkan panggilan tak terjawab ada hampir dua ratusan. Oca kemudian mengembalikan ponsel itu kedalam tas Velyn.
Lebih baik ia tak ikut campur, apalagi soal rumah tangga yang Velyn jalani. Oca hanya bisa memberikan saran, tapi tidak untuk tindakan. Lagipula Oca juga tidak ingin Velyn kenapa-kenapa lagi, biar saja suaminya itu menelfon terus menerus, anggap saja ini sebagai pelajaran untuknya agar bisa lebih menghargai wanita.
***
Valdo membanting setir mobilnya, sudah tiga jam lamanya ia mencari Velyn kesana kemari, namun gadis itu tak kunjung ia temui. Ia juga sudah menelfon bunda Velyn untuk tau apakah gadis itu pulang ke rumah orangtuanya. Namun hasilnya nihil! yang ada bunda Velyn malah semakin khawatir, untunglah Valdo punya alasan agar mertuanya itu tidak panik.
Ini juga salahnya, kenapa juga ia kembali ke kantor hanya demi mengambil data dari Lisa yang bisa ia ambil kapan saja, namun malah menunda untuk menemui Velyn dan menjemputnya dirumah sakit.
Berulangkali Valdo menelfon gadis itu namun tak kunjung diangkat. Valdo tak pernah tau dimana Velyn berada. Apakah dia aman atau tidak? Valdo benar-benar kacau. Bahkan jam sudah menunjukkan pukul 23.00 tapi Valdo benar-benar enggan untuk pulang jika Velyn belum juga ditemukan.
"Velyn! kamu sebenernya dimana sih?!" umpat kasar Valdo seraya memukul kepalanya sendiri akibat frustasi.
Valdo melajukan mobilnya lagi, ia memutuskan untuk pulang. Meskipun begitu, hatinya benar-benar gelisah jika Velyn tidak kembali dan menghilang.
__ADS_1
Apa Velyn berfikir semenjak ia dikunci dari luar berarti ia sudah di usir dari rumah? atau Velyn memang sengaja pergi karena takut pada Valdo yang bersikap begitu kasar padanya?. Valdo benar-benar tak mengerti, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan kembali ke rumah untuk menenangkan pikirannya.
Setelah sampai dirumah Valdo buru-buru memasuki rumahnya dan segera naik ke lantai atas untuk kembali kedalam kamarnya. Santi yang melihat mimik wajah Valdo kemudian melirik pintu yang baru saja tertutup. Ia memang sengaja tengah malam belum tidur karena kabarnya nyonya Velyn akan pulang malam ini. Kenyataannya dari balik pintu itu Santi tak menemukan siapa-siapa kosong dan tanpa bersuara.
Sebenarnya apa yang terjadi? apakah mereka sudah bercerai dan nyonya Velyn memutuskan untuk pulang ke rumah orangtuanya? atau tuan Valdo memang sengaja tidak mengizinkan nyonya Velyn untuk tinggal seatap dengannya. Pikiran Santi menerawang kemana-mana. Ia hanya berharap semoga nyonyanya baik-baik saja.
Valdo membanting pintu kamarnya dengan amat kencang. Ia kemudian mengacak rambutnya seraya duduk di sisi ranjang dengan wajahnya yang begitu gelisah. Rasanya ia tidak dapat tidur kali ini. Ia benar-benar khawatir dengan Velyn. Kalau Velyn kenapa-kenapa, bahkan bukan hanya orangtuanya yang akan membuat perhitungan padanya, tapi pasti juga papanya yang akan melakukan sesuatu pada Lisa.
***
Matahari menyeruak, memasuki celah jendela kamar Oca yang kini masih terbaring Velyn diatasnya. Velyn menggeliat kala berkas cahaya memantulkan cahayanya lewat korden putih milik Oca yang tampak transparan itu.
"Lyn" Velyn buru-buru bangun, ia kemudian melihat sekeliling kamar Oca yang tampak asing baginya. Ia baru ingat jika semalam dirinya menginap ditempat ini. Velyn menggaruk tengkuknya kala Oca sepertinya sudah siap hendak berangkat kuliah.
"Gila! udah siangan lo nggak ngebangunin gue!" teriak Velyn seraya bangkit, namun Oca menyentuh pundak Velyn ia tersenyum seraya memberikan pengertian pada sahabatnya itu.
"Lo dirumah aja, lagian semalam lo baru keluar dari rumah sakit kan? istirahat aja dulu sehari, besok gue bangunin kalo mau masuk" kata Oca membuat Velyn menggeleng seraya mengerutkan keningnya.
"Tapi Ca! udah tiga hari lo gue izin, gue pasti banyak ketinggalan pelajaran" kata Velyn dengan segenap kekhawatiran yang melanda dirinya.
"Tuh udah ada buku gue sama catatan buat lo. Lo tinggal salin aja, nanti gue bakal izinin deh, tenang aja" kata Oca membuat senyum Velyn berbinar dan segera memeluk sahabatnya dengan erat.
__ADS_1
Velyn benar-benar beruntung bisa memiliki sahabat seperti Oca. Pengertian dan baik hati padanya. Disaat seperti ini hanya Oca lah yang dapat memperbaiki hatinya yang gundah.
"Makasih ya Ca, gue bener-bener terimakasih banyak sama lo. Lo sahabat terbaik yang pernah gue milikin Ca" kata Velyn seraya memeluk erat sahabatnya membuat Oca menepuk pundak Velyn dan tersenyum.
"Lo selama ini juga selalu bantuin gue Lyn, ini saatnya bagi gue buat ngebales kebaikan yang lo kasih" Oca kemudian melepaskan pelukannya. Ia kemudian tersenyum disusul Velyn yang mengeratkan pelukan dan menempelkan pipi mereka bersama.
"Oh ya, kalo lo mau makan tinggal angetin aja makanan yang ada di kulkas, tunggu gue pulang dan jangan kemana-mana oke?" Velyn mengangguk patuh, ia kemudian tersenyum seraya kembali duduk di sisi ranjang.
"Kalo gitu gue berangkat dulu, kalo ada apa-apa jangan ragu buat telfon" kata Oca seraya hendak melangkah dan Velyn tersenyum kearahnya. Mungkin inilah awal yang baru untuknya. Ia ingin melupakan semua yang terjadi antara dirinya dengan Valdo.
Sementara Velyn belum punya tempat tinggal, ia hanya bisa menumpang ditempat Oca dulu. Velyn sempat berfikir sejenak hendak nengambil kamar kos dan mencari pekerjaan kecil-kecilan. Ia tak mau lagi bergantung pada Valdo, karena pada akhirnya ketika mereka berpisah nanti Velyn pasti tidak akan mempunyai cukup modal untuk biaya hidupnya.
Sepeninggal Oca, Velyn kini beralih duduk di meja belajar Oca. Pikirannya menerawang kesana kemari tentang apa yang akan ia lakukan setelah perpisahan itu tiba.
Velyn juga belum siap menemui Valdo lagi. Setelah nanti ia siap pun, Velyn juga akan segera meminta cerai. Velyn tidak akan mengatakan pada siapapun termasuk papa mertuanya maupun orangtuanya.
Itu akan mudah untuk keduanya, Velyn akan segera lepas dari Valdo dan Valdo bisa bebas rujuk dengan mantan istrinya.
Entah mengapa mengingat perpisahan yang akan ia putuskan membuat hatinya ngilu. Bahkan membayangkan Valdo kembali dengan keluarga kecilnya membuat mata Velyn kini berkaca dengan tenggorokannya yang tercekat.
Sebelum Valdo menunjukkan sifat aslinya, pria itu begitu perhatian pada Velyn. Senyuman manis dan tawa yang diberikan olehnya takkan mampu Velyn lupakan. Sebelum menikah rasanya adalah masa berharga yang selalu Velyn nantikan untuk menghabiskan waktu dan berdoa agar Valdo menjadi suami terbaik untuknya.
__ADS_1
Namun pikirannya salah, Velyn terjebak dalam lingkar rencana Valdo demi egonya. Sampai Velyn yang kecewa namun ia yang harus menderita.
"Kak Valdo, kenapa kakak berubah? kenapa kakak mengkhianati kepercayaan yang udah aku kasih ke kamu?" Velyn mengusap air matanya. Bahkan kepercayaan yang hilang itu pasti akan sulit kembali ketika Velyn sudah terlanjur dikhianati.