
Suara gemercik hujan membuat Velyn yang tengah asyik berendam air hangat di dalam kamar mandi menikmati suasana itu. Meskipun berada di negara lain, tapi dengan adanya bunda ia seperti berada dirumah setiap waktu. Setelah selesai, ia pun bangkit dan menggulung rambutnya menggunakan handuk, pun begitu dengan tubuhnya yang ia tutupi dengan kimono lalu keluar dari kamar mandi itu seraya menatap bundanya yang tengah sibuk menelfon seseorang.
"Iya, maaf ya tadi bunda cuma bisa kabari kamu lewat pesan aja. Soalnya pasti kamu juga udah tidur"
"Telfon siapa bun?" tanya Velyn seraya meraih hairdryer dihadapannya lalu menatap bunda yang menoleh seraya membisikkan sesuatu.
"Kakak mu yang telfon" bisik bunda membuat Velyn hanya ber 'oh' ria seraya melangkah ke kamarnya dan melewati bundanya untuk memberikan kode bahwa ia akan segera istirahat. Bunda mengangguk begitu Velyn berlalu, wanita itu kemudian masuk kedalam kamar apartemennya dan membuka korden di sore hari. Sore yang dingin diterpa hujan serta pemandangan daun berguguran dibawah sana.
Bunyi chat bergetar dari ponsel Velyn membuat wanita itu membalikkan tubuhnya, ia meraih ponsel diatas nakas dan segera melihat pesan teks yang tertera disana. Velyn menghela nafas, ternyata Rega yang mengirim chat untuknya.
"Gimana keadaan kamu disana? kata bunda kamu seneng habis jalan-jalan. Kalau kakak nyusul nanti kita jalan-jalan lagi ya"
Velyn tersenyum, semenjak keluarganya tau tentang penyakit yang ia derita mereka semakin perhatian pada Velyn, terlebih Rega. Kakaknya satu itu selalu memanjakannya. Rasanya hidup Velyn menjadi lebih positif lagi saat ini. Dengan hal baru juga kasih sayang dari orang-orang disampingnya membuat Velyn seperti enggan untuk menyerah seperti sebelumnya.
"Makanya cepet kesini, kalau berat ninggalin kak Megi bawa aja sekalian kesini."
Senyum terulas juga tawa yang ia tahan membuat Velyn tidak sabar melihat respon dari chat Velyn yang tengah menggodanya. Mungkin saja telinga kakaknya satu itu kini tengah memerah akibat godaannya yang menyangkut pautkan soal Mega. Megi adalah panggilan sayang Velyn pada wanita itu, meskipun mereka begitu dekat, tapi setahun belakangan ini Velyn juga tidak berani untuk menceritakan keluh kesahnya. Ditambah lagi kesibukan Mega yang tidak terkira setelah ditinggal oleh kakaknya keluar negeri.
"Apaan sih! udah ah, istirahat aja sana"
Velyn tertawa renyah seraya duduk di tepi ranjang, ia membaringkan tubuhnya perlahan dan menarik selimut untuk menghilangkan beban dalam pikirannya. Mungkin dengan begini sedikit demi sedikit ia mulai melupakan pria itu, pria yang sudah bahagia di pelukan wanita yang ia cintai.
Velyn masih enggan untuk memejamkan matanya, ia menatap langit-langit kamar seraya bergumam dalam hatinya. Kalau saja dulu ia tidak dijodohkan dengan Valdo, akankah ia bahagia dengan Andra yang selalu mencintainya. Tapi sejauh ini, Velyn memang lemah dalam perasaan juga lemah untuk melupakan.
Biasanya ketika ia hendak tidur, Velyn selalu berdoa untuk kebahagiaan Valdo, dan mengucapkan selamat malam untuk bantal kosong disampingnya. Tapi mungkin kini sudah tidak ada artinya lagi, perpisahan itu sudah terjadi. Mau berlari sejauh apapun Velyn dan Valdo pasti juga tidak akan pernah kembali sekalipun anak mereka lahir ke dunia ini.
***
Rega menarik nafasnya dalam-dalam, ia menarik rambutnya kebelakang saat ia duduk di kursi mejanya dan menghadap laptop seperti biasanya. Valdo melirik buku yang ia bawa kemarin saat bertemu dengan sahabatnya. Sampai saat ini, ia pun masih tidak menyangka jika Velyn dan Andra pernah menjalin hubungan. Kalau saja Rega tidak terlambat, mungkin saja ia bisa membuat dua insan itu bersatu.
Flashback on
"*Dewi yang selalu gue ceritain itu Velyn. Maaf Ga, gue emang nggak pernah cerita karena gue takut lo nggak dukung gue. Apalagi lo itu protektif banget-"
"Oh kayanya gue lebih dukung Velyn buat ninggalin lo deh" Andra mengangkat pandangannya menatap Rega yang kini melipat kedua lengannya dibawah dada seraya menatapnya penuh kekesalan. Sejujurnya Andra sendiri tidak pernah tau apa yang dipikirkan oleh Rega, pikirannya selalu tidak bisa ditebak bahkan pada akhirnya Andra selalu gagal untuk tau apa isi hatinya.
__ADS_1
"Gue tau, gue emang nggak pantes buat Velyn"
"Ya bagus kalo lo sadar. Lo tau nggak apa kelebihan Valdo daripada lo, dan kenapa gue bisa bandingin lo sama dia?" semua cerita Andra sudah tertampung di benak Rega, sehingga ia dengan tegas mampu menyadarkannya. Katakan saja jika Rega adalah pria dingin yang jahat, tapi itu semua karena pria itu terlalu sayang dengan adiknya. Bahkan kalau sifat Andra tidak keterlaluan mungkin saja Rega mampu untuk memakluminya.
"Gue tau, gue itu pengecut. Gue nggak bisa belain Velyn, gue kurang tegas sama keputusan yang harusnya gue ambil. Gue selalu lari dari masalah tanpa nyelesaiin masalah itu"
"Bagus kalo lo paham" Rega menghela nafas berat ketika mendengar hal itu. Sejujurnya tangannya sudah gatal ingin memukul pria dihadapannya itu, kalau saja pria itu bukanlah sahabatnya sudah habis Andra. Dari dulu, Rega tidak segan untuk menyakiti kalau ada seseorang yang menyakiti keluarganya. Tidak masalah ada orang yang menjatuhkannya, asalkan tidak untuk kedua orangtuanya maupun adiknya. Batasnya kali ini adalah Velyn dan Malia, karena keduanya adalah harta berharga bagi Rega.
"Udah nggak ada lagi yang mau gue omongin. Kayanya cukup sampai disini" Andra paham akan perkataan Rega, cukup sampai disini bukan hal dari arah pembicaraan yang telah selesai, tapi juga tali persahabatan yang mereka bangun selama ini juga runtuh begitu saja.
"Ga, gue tau gue salah, tapi semenjak hari itu gue berusaha buat berubah. Gue buang sifat pengecut gue, gue sadar dengan sifat yang kaya gitu hidup gue nggak akan pernah maju sampai kapanpun. Berkat Velyn, gue paham betul apa arti perjuangan. Toh nanti kalau gue udah nikah, gue pasti bakal belain istri gue, dan gue juga harus maju buat ngadepin hidup yang jahat ini. Kalau gue nggak tegas, gue pasti yang bakal susah. Gue sadar, berusaha itu lebih baik daripada diem dan pasrah. Makanya gue mau minta maaf ke elo" Rega yang hendak bangkit kini mengurungkan niatnya, ia terdiam seraya menatap Andra dengan tatapan kosong tanpa ekspresi. Andra hanya mampu menelan ludahnya kasar. Sesungguhnya ia juga tidak tau apa yang dipikirkan oleh pria dihadapannya itu, meskipun begitu Andra juga tidak ingin ambil pusing. Ia juga sudah meminta maaf duluan karena memang ia yang salah.
Mau Rega tetap kukuh memutuskan hubungan mereka atau tidak, yang jelas Andra sudah mengutarakan maksudnya agar keduanya tidak lagi ada kesalahpahaman. Berkat Velyn lah Andra menjadi seseorang yang lebih baik, ia hidup dengan aura positif juga tidak lagi bergantung pada takdir. Karena sesungguhnya takdir bisa diperbaiki asalkan kita mau. Velyn yang awalnya di siksa oleh Valdo pada akhirnya mampu menaklukkan hatinya.
"Velyn udah cerai sebelum ayah gue meninggal" mata Andra membulat mendengar Rega mengatakan hal demikian tanpa ekspresi sedikitpun.
"Apa?!"
"Dia hamil, dan sakit kanker" begitu mengetahui kenyataan itu Andra bahkan tidak sempat berkata sedikitpun. Ia tau dibalik diamnya Rega terdapat hati yang rapuh juga rasa sedih yang tak mungkin bisa diungkapkan dengan kata-kata. Menyakitkan sampai pria itu bingung harus berekspresi seperti apa. Sedangkan dia adalah penopang keluarga yang harusnya di tuntut untuk kuat.
Andra meraih satu-satunya foto dirinya dan Velyn saat mereka amsih bersama dulu. Velyn yang amat cantik dan selalu cantik dalam keadaan apapun. Senyuman indah juga mata yang selalu berbinar saat menyebutkan namanya, sedetik rasa ragu saat ia enggan bercerita tentang Valdo. Rasanya Andra ingin sekali memeluknya kalau saja ada kesempatan untuk kembali. Ia akan meminta maaf dan berjuang sekali lagi.
"Velyn, kalau dulu aku nggak bodoh, dan nggak penakut mungkin aku bakal bahagian kamu sampai sekarang. Aku kangen kamu Velyn ku" gumam Andra seraya menyentuh wajah Velyn dari balik lembar foto itu. Siapa juga yang menyangka jika orang yang dicintainya mengalami kepahitan yang luar biasa. Kalau saja wanita itu ada dihadapannya, pasti Andra akan selalu merengkuhnya. Ia bahkan tidak perduli keadaan Velyn, mau ia sudah hamil anak Valdo ataupun tubuhnya semakin kurus karena penyakit yang membuatnya tersisa. Andra ingin sekali merasakan apa yang ia rasakan, dan mengatakan bahwa ia masih sama. Mencintai Velyn dengan perasaan yang tidak bisa diungkapkan.
"Maaf Velyn" gumam Andra seraya terisak dan menjatuhkan foto itu dari tangannya.
***
"Excuse me, one warm chocolate and one iced cappuccino"
"Permisi, satu coklat hangat dan satu es cappuccino" ujar Velyn pada wanita yang kini menjaga stand di area jalanan yang dilewati Velyn dengan bundanya yang kini tengah duduk menunggu wanita itu disebuah teras toko.
"Do you want to add more food?"
"Apakah anda mau menambah makanan lagi?"
__ADS_1
"All right, I want one cheese bun and one serving chocolate peanuts."
"Baiklah, saya ingin satu roti keju dan satu porsi coklat kacang" ujar Velyn dengan penuh semangat. Awalnya Velyn tak pernah menyangka jika orang-orang disini tidak kalah ramah dengan di Indonesia. Meskipun ada perbedaan, tapi ia tetap saja nyaman. Sembari menunggu pesanan, Velyn melihat sekeliling.
Times Square adalah tujuan yang wajib dikunjungi oleh para wisatawan termasuk turis seperti dirinya. Tempat perdagangan sekaligus dimana orang-orang berkumpul untuk sekedar bersantai dan bermain. Keramaian ini membuang pikiran jenuh Velyn sesaat. Ia bisa melihat orang-orang berkreasi dan berjalan-jalan di jalan seramai ini.
Velyn bahkan tak pernah membayangkan ia bisa datang ketempat ini. Dulu ia bahkan dijuluki si kutu buku yang kesepian karena tak pernah menyukai keramaian, hobinya hanya membaca buku di perpustakaan seraya belajar dan belajar. Mungkin ini adalah yang pertama bagi Velyn menyukai keramaian sejak saat ia mengurung diri dari dunia luar.
"Excuse me, your order is complete"
"Oh yeah thank you"
Setelah selesai dengan pesanannya wanita itu kemudian berjalan mendekat kearah Malia yang kini duduk sembari menatapnya dengan senyuman seperti biasanya. Velyn kemudian mendaratkan bokongnya di samping bundanya seraya memberikan coklat hangat yang baru saja ia pesan.
"Ini musim gugur Velyn, dingin sayang. Masa kamu beli es sih" ujar Malia membuat Velyn yang menyedot cappucino miliknya berhenti dan terkekeh mendengar celoteh bunda. Entah sejak kapan ia menyukai minuman dingin meskipun udara disekitar sudah terasa dingin. Mungkin sejak Valdo tidak menghargai usahanya dan malah bersikap dingin padanya, sehingga wanita itu memilih untuk menelan rasa pahit itu dengan melampiaskan pada sesuatu yang tidak ia sukai.
"Ya nggak apa-apa dong bun, es itu enak. Nyegerin tau"
"Tapi kamu itu sejak kecil nggak pernah suka sama yang namanya es loh, kan aneh" Velyn hanya tersenyum mendengar omelan bunda, meskipun begitu bunda juga tidak melarangnya. Bunda hanya menasihati Velyn, tidak seperti dulu yang main rebut asalkan ia mau menuruti perintah ibunya itu.
Uhuk uhuk
Tiba-tiba saja Velyn tersedak, ia terbatuk dan mengeluarkan darah dari hidung dan mulutnya. Spontan saja Velyn menjatuhkan cappucino miliknya dan menatap bundanya yang masih tidak sadar akan keadaannya.
"Ve-Velyn!" bunda pun berteriak lantang saat Velyn mematung dengan wajahnya yang kini dipenuhi darah dan tubuhnya yang melemah. Pandangannya semakin lama semakin buram, kepalanya pening disaat Malia merengkuhnya dan seketika Velyn hilang kesadaran.
Dirumah sakit....
"Rega gimana Ga, bunda takut banget Velyn kenapa-kenapa nak. Velyn ngeluarin banyak darah dan hiks" suara Malia yang tengah gemetar ketakutan menelfon putranya diseberang sana. Bahkan Malia sendiri sampai tidak pernah berpikir hal itu akan terjadi tiba-tiba. Velyn awalnya yang terlihat baik-baik saja tiba-tiba memuntahkan banyak sekali darah dan pingsan seketika.
"Bunda yang tenang ya, Rega yakin dia pasti baik-baik aja. Udah sekarang bunda tenangin diri dulu, kalau perlu aku bakal kesana besok buat nemenin bunda ya?"
"Jangan nak, kamu juga harus mikirin perusahaan. Nggak ada yang bisa ngendaliin perusahaan kecuali kamu nak" Rega hanya mampu menghela nafas beratnya seraya menarik rambutnya kebelakang. Bagaimana ia bisa mampu untuk mendengar isakan dari bunda yang amat menyakiti untuknya, ditambah lagi adiknya yang kini masih tak sadarkan diri dan dirawat di sana.
Inilah yang Rega takutkan ketika ia tak ada disamping mereka. Karena alasan sudah lama cuti dan posisi CEO dibiarkan bekerja seadanya membuat pekerjaan Rega menumpuk. Mau bagaimana lagi, ketika ayahnya dulu sudah tidak memiliki harapan yang lebih, prioritas utamanya adalah Rahadian, dan sekarang berganti dengan keadaan Velyn dan dengan posisi yang sama.
__ADS_1