
Velyn mengusap air matanya yang terjatuh. Ia tak ingin menangis lagi. Bayangan Andra dihatinya sudah terhapuskan, dan tiada jalan lagi untuk kembali. Velyn melangkahkan kakinya menjauh dari perpustakaan. Ia memilih kembali ke kelas dan mengerjakan tugasnya disana. Toh tempat ini aman untuknya daripada harus diluar. Banyak anak juga tengah bercengkrama dan yang lainnya mengerjakan tugas sama seperti dia.
"Dari mana aja lo?" tanya Oca tiba-tiba yang datang dari arah belakang membuat Velyn mendengus kasar seraya menjitak kepala sahabatnya itu. Velyn benar-benar dibuat terkejut dengan kehadiran Oca yang baru saja datang dan duduk disampingnya.
"Ngagetin aja lo!"
"Sakit tau!" kata Oca seraya mengusap pelan keningnya yang memang tidak terlalu terasa sakit. Namun sengaja ia katakan agar Velyn menyesal akan perbuatannya. Alih-alih menyesal, sahabatnya itu malah kembali fokus berkutat pada layar laptopnya.
"Lo nggak liat gue lagi apa? kerjaan gue banyak tau Ca, baru aja dari perpustakaan buat ambil buku" Oca hanya manggut-manggut saja. Ia memperhatikan tugas Velyn yang memang selama empat hari ini belum ia sentuh sama sekali.
"Ca, gue mau jujur sama lo" pandangan Oca yang semula fokus pada tugas-tugas Velyn kini beralih menatap mata gadis dihadapannya yang terlihat serius. Membuat Oca semakin penasaran akan apa yang hendak sahabatnya itu katakan.
"Jujur apa? emang lo pernah bohongin gue?" pertanyaan itu membuat Velyn semakin bersalah saja. Selama ini memang dirinya belum siap untuk menceritakan kisahnya dengan Andra. Tapi melihat kondisinya saat ini, mungkin ini sangat penting untuk diceritakan meskipun kisah mereka telah berlalu.
"Enggak sih, cuma gue sengaja nyembunyiin ini dari lo. Gue harap lo jangan marah ya?" Oca menyipitkan matanya. Ia menatap Velyn dengan seksama yang kini sedikit menggigit bibir bawahnya. Sebenarnya apa yang dirahasiakan gadis itu hingga Velyn sepertinya takut padanya.
"Ya gimana gue mau marah kalo lo aja nggak cerita. Gue jadi penasaran nih, cerita gih!"
"Selamat siang!" belum sempat Velyn membuka suara tiba-tiba saja dosen tiba, membuat gadis itu urung dan menepuk jidatnya sendiri.
"Nanti aja, gue bakal tagih. Awas kalo nggak cerita!" ancam Oca membuat Velyn mengangguk seraya menghembuskan nafasnya yang dari tadi tersengal saking gugupnya.
***
__ADS_1
Velyn dan Oca melangkah keluar dari dalam gedung bertingkat itu. Seraya berjalan gadis itu membawa buku yang tadinya ia pinjam dari perpustakaan untuk bahan tambahan dalam mengerjakan tugasnya nanti.
"Lo tadi mau cerita soal apa?" tanya Oca tiba-tiba membuat Velyn menghentikan langkahnya sejenak. Oca ikut berhenti saat Velyn mulai serius menatapnya lagi. Padahal Velyn ingin menceritakannya saat mereka sudah berada dirumah nanti. Namun sepertinya bercerita saat ini juga tidak masalah bukan?, toh mereka juga punya banyak waktu nanti.
"Ya udah, ikut gue yuk! kita ngobrol dulu" ajak Velyn pada sahabatnya itu membuat Oca mengangguk dan mengikuti langkah Velyn yang kembali menuju gedung kampus dibelakangnya itu.
Velyn memilih taman kampus untuk mengajak Oca bicara. Lagipula di jam segini kampus juga agak sepi, karena memang jam berikutnya juga belum mulai sekaligus yang lain sudah pulang.
"Kayaknya serius banget ya?" Velyn hanya bisa menunduk, mempersiapkan apa yang hendak ia katakan. Padahal kisahnya sudah berlalu, namun mengingat bagaimana Oca mengagumi sosok Andra membuat Velyn takut sendiri.
"Ca, sebenernya gue, gue pernah pacaran sama-"
"Sama siapa?" tanya Oca seraya menatap tajam Velyn yang kini meremas roknya erat-erat.
"Siapa Lyn? gue kayaknya salah denger deh" tanya Oca lagi membuat Velyn semakin tak berani menatap sahabatnya itu yang terlihat menajamkan telinganya lagi.
"Lo nggak salah dengar kok Ca, gue emang pernah pacaran sama pak Andra. Maaf karena gue nggak cerita sama lo sebelumnya. Gue takut kalo lo kecewa sama gue, gue nggak mau lo ngejauh dari gue Ca. Dan kalo gue nggak cerita, gue kaya ngerasa bersalah sama lo" Oca tertegun sesaat. Kenapa juga ia harus marah, toh pak Andra juga sudah menikah. Lagipula perkataan Velyn tempo hari juga sudah menyadarkannya. Seharusnya tidak berharap lebih demi orang yang tidak bisa di miliki.
"Gue nggak marah kok Lyn, ngapain juga gue marah. Lagian pak Andra juga udah nikah kan? tapi Lyn? kalo lo sebelumnya pacaran sama do'i, artinya lo sebelumnya juga nolak pernikahan ini dong" Velyn akhirnya menghela nafas. Ia lega, akhirnya Oca tidak akan marah padanya. Namun cerita yang harusnya ia utarakan secara lengkap harus ia katakan saat ini juga.
Velyn menceritakan segalanya, berawal dari Andra yang mengaguminya semenjak gadis itu masih jelek dan gendut saat ia duduk di bangku SMP, sampai sekarang ini.
Oca sempat terdiam, yang tidak ia mengerti adalah kisah cinta mereka begitu tragis. Bahkan Velyn sendiripun terjebak. Apalagi Andra yang sudah tergila-gila pada Velyn selama ini. Cerita dari Velyn secara gamblang membuatnya menatap Velyn dengan datar.
__ADS_1
"Jadi, gara-gara lo pak Andra terpaksa nikah sama Angelita?! lo yang nyebabin dia nikah sama dia?" mata Velyn terbelalak tatakala Oca sepertinya berubah ekspresi yang tadinya tenang, kini sedikit terbawa emosi.
"Ca, tapi dia udah buat Angelita hamil. Dan gue, gue juga nggak ada pilihan."
"Pak Andra ngehamilin Angelita itu semua salah lo Lyn, dia terlanjur terobsesi sama lo. Dan dia ngelakuin itu karena lo udah khianati dia. Kenapa lo nggak jujur aja dari awal? kenapa lo sukanya nyembunyiin dari dia?!."
Velyn membeku ketika Oca mengatakan demikian. Apa yang Oca katakan memang benar. Tapi Velyn juga tidak punya pilihan akan hal itu.
"Denger ya Lyn, gue nggak ada masalah kalo lo mau pacaran sama dia ataupun mau nikah sekalian sama dia. Tapi lo juga harus sadar, pak Andra itu cinta mati sama lo, bahkan sebelum lo jadi cantik kaya gini. Lo bayangin senengnya dia kaya apa. Dan lo seenaknya matahin hati dia kaya gitu. Gimana dia nggak gila? gimana dia nggak kecewa dan ngelakuin itu atas dasar stress karena lo tinggal nikah. Seenggaknya bilang sama dia kalau lo itu dijodohin"
"Ca, tapi gue nggak mau Andra terus berharap sama gue. Gue dijodohin juga karena ayah sakit, gue-"
"Cukup Lyn! kayanya gue tau deh kenapa lo sampek tersiksa kaya gini dalam pernikahan lo. Lo udah kena karma Lyn, karma karena nyakitin orang yang paling sayang dan perduli sama lo" Velyn membulatkan matanya. Ia tak menyangka jika Oca akan mengatakan hal demikian. Bahkan matanya kini memanas dan menahan buliran air matanya yang hendak jatuh itu.
"Ca!"
"Gue nggak nyangka lo bisa setega itu sama pak Andra. Gue belain dia karena posisinya lo yang salah Lyn. Lo nggak mau terbuka! lo nggak mau bikin hati pak Andra jadi lega. Yang ada, dia jadi depresi dan ngelakuin itu semua" Velyn membeku, ia tak berani menatap Oca yang kini mulai bangkit dan juga enggan menatapnya. Sepertinya Oca benar-benar marah padanya. Oca sudah terlanjur menganggapnya jahat.
"Sorry Lyn, kayanya apa yang lo alamin saat ini, emang buah hasil dari apa yang lo lakuin di masa lalu. Gue nggak mau ngomong gini kalo lo emang nggak sejahat itu sama pak Andra. Tapi dia itu dosen kita, kalo lo nggak bisa ngehargai orang lain, lo juga nggak bakalan dihargai" pandangan Velyn menengadah, ia menatap kepergian Oca yang kini menjauh tanpa menatapnya.
Sedangkan Velyn, dia hanya bisa menangis. Terisak dalam diam. Apa yang dikatakan Oca memang benar, ini adalah karma. Karma dari dirinya yang tidak menghargai cinta seperti Andra. Dada Velyn mendadak sakit melihat Oca yang kini sudah hilang dari pandangannya. Sedangkan Velyn hanya bisa menangis untuk kesekian kalinya.
Oca tidak tau saja, meskipun waktu itu ia tak menghancurkan harapan Andra. Tapi cepat atau lambat, bahkan sebelum Andra memulai, Velyn juga akan mengecewakan pria itu. Dengan penyakitnya, tidak ada yang akan bahagia dengannya. Yang ada malahan, mereka akan kecewa dan sedih suatu hari nanti.
__ADS_1
Velyn menyeka air matanya. Sisi lain ia lega telah menceritakan kepada sahabatnya. Tapi sisi lain, ia juga menyesal telah menciptakan jarak antara dirinya dengan Oca.