Velyn Love

Velyn Love
Penjelasan


__ADS_3

"Bohong!"


"Kenapa aku harus bohong? aku ngomong yang sebenarnya, itu semua fakta. Valdo nggak akan pernah bisa ngelupain aku" Velyn masih tetap kukuh pada pendiriannya ia hendak melangkah dan mendekati Lisa, namun bunyi dering ponsel Lisa membuatnya menghentikan pergerakannya.


"Ini buktinya kalau Valdo emang nggak cinta sama kamu, dia bahkan ngabari aku kalau ada pekerjaan mendadak, apa kamu dikabari juga?" Velyn terdiam seribu bahasa mendengar pernyataan Lisa. Ia kemudian merebut ponsel Lisa dan segera mengangkatnya. Ia ingin membuktikan sendiri jika Valdo memang tidak mencintainya.


"Ha-"


"Lisa? gimana Nino, udah tidur belum? aku mungkin bakal pulang malam, tolong jagain anak kita ya" Velyn menutup mulutnya tak percaya. Tanpa sengaja, ia menjatuhkan ponsel Lisa dan menatap tajam Lisa yang kini tengah tersenyum penuh kemenangan.


"Gimana? udah denger kan? kamu itu-"


Plakkkk


"Pergi kamu dari kamar aku! pergi!" Lisa menatap tajam wanita dihadapannya ini. Berani-beraninya Velyn menampar dirinya. Memangnya Velyn siapa? dia hanyalah wanita pengganti tidak lebih dari itu.


"Emangnya kamu siapa beraninya nampar aku?! kamu cuma simpenan, pengganti. Bahkan percuma kamu ngusir aku. Kamar ini cuma cocok jadi kamar aku dan Valdo, buktinya dia ngizinin aku buat pindah"


,"Aku nggak perduli, aku cuma mau kamu pergi dari sini sekarang!"


"Aku nggak akan pergi, karena baju aku udah aku pindahin" Velyn benar-benar murka kali ini, ia membalikkan tubuhnya dan membuka lemari besar dihadapannya, ia menarik koper milik Lisa dan memasukkan baju-baju Lisa dengan cepat dan penuh amarah.


"Aku bantu kamu beresin semua barang kamu" Velyn kemudian melempar koper Lisa tepat dihadapannya. Wanita itu sama murkanya dengan Velyn. Namun yang dapat ia lakukan kali ini hanyalah menahan amarahnya.

__ADS_1


"Selama mas Valdo belum resmi ceraiin aku, aku nggak akan pernah nyerah buat mertahanin pernikahan ini!"


***


Velyn masih terdiam, ia duduk ditepi ranjang seraya menunggu kepulangan Valdo. Wanita itu ingin sekali cepat-cepat menyelesaikan semua ini. Tanpa perduli apapun alasan Valdo nantinya.


"Sayang? belum tidur?" tanya Valdo yang tiba-tiba masuk ke kamar dengan wajah lelahnya seraya menatap Velyn penuh senyuman dan cinta. Senyuman itu membuat Velyn benar-benar muak dengan perilaku Valdo.


"Darimana mas?"


"Aku dari kantor" jawab Valdo seraya mendekat kearah istrinya.


"Kenapa kamu nggak ngabarin aku dan malah ngabarin Lisa, aku ini istri kamu mas" Valdo merasa bersalah akan hal itu. Sebenarnya bukan dia tidak ingin menelfon Velyn, tapi ponsel Velyn memang tidak bisa dihubungi, begitupun dengan telfon rumah yang tadi tak sengaja diangkat oleh pembantu mereka.


"Kenapa kamu biarin Lisa tinggal disini? kenapa kamu izinin dia buat masang foto kalian dan gantiin foto kita?"


"Maafin aku sayang"


"Nggak apa-apa mas, waktu kita tinggal tiga bulan lagi, tiga bulan dan kita bakal pisah. Sesuai isi kontrak yang kamu buat malam itu"


"Aku nggak mau pisah Lyn, aku ada alasan tersendiri kenapa aku nggak bisa cerai dari Lisa" Velyn memejamkan matanya, tangannya mengepal sekuat tenaga.


"Aku nggak perduli mas, apapun alasan kamu, itu bukan urusan aku. Aku cuma minta, sebelum kontrak kita berakhir kamu hargai aku sebagai istri kamu"

__ADS_1


"Velyn! dengerin aku" Valdo menangkap kedua lengan Velyn dan menatap lamat-lamat wanita cantik dihadapannya. Wanita yang sudah ia permainkan selama ini membuat dirinya pun tersiksa sepanjang waktu.


"Kita bisa Lyn, kita lewati ini sama-sama. Aku bener-bener cinta sama kamu sayang"


"Kalau kamu cinta sama aku, kenapa kamu nggak mau ceraiin Lisa? aku nggak mau di madu mas. Kalo perlu kita cerai sekarang juga" ujar Velyn seraya terisak membuat Valdo memeluknya dengan erat.


"Jangan! jangan Lyn, aku mohon sama kamu. Jangan paksa aku kaya gini" Velyn mendorong tubuh Valdo dari pelukannya yang begitu erat, ia menghapus air matanya dan mendongak menatap pria yang dicintainya. Bagaimanapun Velyn tidak akan ikhlas berbagi cinta, ia tidak rela jika Valdo membagi cintanya dengan wanita lain.


"Egois kamu mas?! kamu nggak pernah mikirin perasaan aku, yang kamu pikirkan cuma ego kamu. Kamu nggak mungkin cinta sama aku, meskipun aku mati-"


"Stop sayang! jangan pernah bilang mati" Velyn terdiam ketika Valdo memeluknya lagi dan disusul air matanya yang kini semakin membanjiri.


"Aku nggak bakal bisa hidup tanpa kamu Velyn, kamu selamanya istriku. Aku juga bakal ikut mati kalau kamu mati. Maafin aku, alasan aku nggak bisa cerai dari Lisa adalah hak asuh Nino, pengadilan nggak bisa ngusahakan hak asuh Nino buat tinggal sama aku. Lyn, kamu segalanya buat aku, tapi Nino?" Valdo menghentikan perkataannya, ia terisak seraya memeluk Velyn dengan erat membuat Velyn terkejut dengan pengakuan Valdo.


"Aku juga nggak bisa jauh dari anak aku Velyn. Tapi, kalau itu mau kamu aku bakal ceraiin Lisa asalkan kamu jangan pergi dari aku selamanya" Velyn terisak mendengarnya, ia menenggelamkan wajahnya di dada bidang milik Valdo. Ternyata ini alasannya, alasan mengapa Valdo tidak bisa menceraikan Lisa dengan begitu mudah.


"Kenapa? kenapa kamu nggak cerita dari awal?" tangis Velyn pecah begitu saja, ia semakin mengeratkan pelukannya begitu juga Valdo. Entah mengapa rasanya begitu lega setelah menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


Ini memang kesalahan Valdo, sesuatu yang seharusnya ia katakan ia pendam dalam diam selama ini. Hingga membuat kesalahpahaman terjadi diantara mereka.


"Kita bisa mas lewati ini sama-sama, kita cari pengacara terbaik" Valdo mengangguk, ia tersenyum seraya menghapus jejak air mata Velyn yang menggenang di pipinya.


"Iya, aku tau kamu bakal ngerti. Ini semua salah aku Velyn, aku yang nggak terbuka sampai kamu ngalamin ini semua. Aku nggak pernah ngizinin Lisa buat gantiin posisi kamu, aku bahkan nggak tau kalau dia bahkan nginap disini"

__ADS_1


"Aku tau, aku percaya sama kamu mas" Valdo memeluk Velyn kembali, mungkinkah ini artinya Velyn sudah mencintai Valdo, wanita itu mulai membuka hatinya.


__ADS_2