Velyn Love

Velyn Love
Kejutan


__ADS_3

Velyn terisak saat ia menaiki sebuah taksi. Ia tak menyangka jika ayah mertuanya bisa setega itu terhadap kehidupan Valdo. Meskipun dulunya Valdo telah menyakitinya, tspi bukan berarti ini balasan yang setimpal terhadap apa yang telah Valdo lakukan. Ini tidak adil bagi mereka. Keluarga kecil yang bahagia tidak seharusnya Velyn renggut dari Lisa.


"*Dimana papa nyembunyiin Lisa?"


"Maafin papa Lyn, setelah kecelakaan malam itu-"


"Maksud papa, wanita yang kita tabrak malam itu adalah Lisa*?"


Velyn memegangi dadanya kuat-kuat, ia merasa ikut bersalah mengingat kejadian malam itu. Malam pengantinnya yang begitu mengejutkan untuknya ternyata baru ia ketahui sekarang. Pantas saja papa seperti mencoba untuk menjauhkan Velyn agar ikut mengurus pengobatan wanita itu.


Saat itu malam semakin larut, cahaya temaram dengan gelapnya jalanan membuatnya tak bisa mengenali wanita yang berlumuran darah. Tak disangkanya, tanpa sengaja Velyn ikut terlibat.


Tubuh Velyn seperti mati rasa. Apa yang akan Valdo pikirkan nanti? dan apakah yang terjadi semuanya adalah murni perasaannya yang terdalam. Atau ini hanyalah kepura-puraan lagi, agar papa bisa membebaskannya Lisa?.


Bagaimanapun juga pikiran Velyn begitu berkecamuk saat ini. Tiada lagi orang yang dapat ia percaya. Ditambah lagi masalah keluarganya yang masih diambang keterpurukan.


Velyn menghapus jejak air matanya. Ia tak ingin menjadi beban lagi dalam hidup orang lain. Biar saja semuanya berjalan dengan semestinya. Entah Valdo benar-benar mencintainya atau tidak, tapi yang jelas, tidak ada yang berhak memasuki keluarga kecil itu selain Lisa.


Lagipula, Velyn hanya tinggal menghitung waktu saja. Ia juga tidak ingin berharap terlalu tinggi. Semua kebahagiaannya yang telah diberikan Valdo kemarin, biarlah menjadi kenangan terindahnya sebelum ajal menjemputnya.


"Maafin aku kak Valdo, kamu emang pantes benci sama aku. Kamu pantes buat nyakitin aku. Karena akulah yang udah bikin kebahagiaan kamu menghilang" gumam Velyn serays memejamkan matanya.


***


Setelah Velyn sampai, wanita itu langsung masuk kedalam rumah. Tak disangkanya, sebuah surat berwarna pink tergeletak dihadapannya membuat Velyn mengernyit. Untung saja ia sudah menghapus air matanya sedari tadi. Kalau tidak pasti nanti Nino atau Valdo akan khawatir padanya.

__ADS_1


Velyn membuka surat itu, membacanya dengan seksama saat hanya satu kalimat saja yang tertulis disana.


"Ayo kita main-main mama" Velyn meringis seraya tersenyum melihat tulisan itu. Ini pasti Nino. Pikir Velyn seraya membuka surat yang terselip satunya lagi didalam sana.


"Jalan ke dapur, kotak warna biru" Velyn menggeleng, baiklah jika itu yang diinginkan putranya kenapa tidak. Toh ini hanya permainan saja bukan.


Velyn berjalan kearah dapur, dan benar saja, ia menemukan kotak biru dengan tulisan 'jangan dibuka' diatasnya. Namun ada satu kertas lagi yang membuat dirinya tersenyum. "Buka kulkas ma" begitu perintahnya.


Velyn hanya mampu membuka kulkas itu dengan patuh. Seolah memang ada orang yang mengawasinya agar tidak curang. Perlahan tangan Velyn membuka kulkas yang tak jauh dari pandangannya. Ia melihat boneka teddy kecil berwarna coklat dan ada sebuah tulisan dibawahnya.


"Sekarang mama naik ke atas, masuk ke kamar ku ya" Velyn mengulum senyum. Ia kemudian perlahan menaiki anak tangga dan berdiri tepat di depan kamar Nino. Tak lupa sebelum membukanya ada tulisan yang terpampang di daun pintu.


"Buka kotak biru" Velyn menggeleng, ada-ada saja Nino ini.


Velyn membuka kotak biru itu dengan antusias. Sebuah kunci kamar Nino membuat nafas Velyn berhembus. Ia pikir apa yang berada dalam kotak tersebut. Velyn kemudian membuka pintu kamar Nino dan membukanya perlahan.


Velyn menutup mulutnya tak percaya, gambaran masa lalu dengan kebahagiaannya saat ini seperti berada dalam satu masa.


"Mama!" suara itu membangunkan lamunan Velyn. Wanita itu sontak saja membalikkan tubuhnya menatap Nino yang membawa buket mawar, dengan Valdo yang membawa kue bertuliskan 'Im sorry'.


Velyn tersentuh, matanya mengerjab beberapa kali. Menatap putra dan suaminya yang kini mengulas senyum padanya. Velyn menutup mulutnya seraya berjongkok, menerima buket itu dan mengecup kening Nino dengan gemas.


"Makasih ya nak" Velyn kini beralih berdiri, ia tersenyum pada Valdo, dan tak pernah menyangka jika pria ini begitu manis.


"Maafin aku ya sayang, jangan marah lagi ya" Velyn mengangguk, ia benar-benar tersentuh dengan semua ini. Matanya semakin lama semakin memanas, membuat Valdo menaikkan sebelah alisnya.

__ADS_1


Valdo kemudian menaruh kue itu dimeja tepat dibelakangnya. Valdo tersenyum, ia kemudian menggendong tubuh Nino dan mengajak serta merta Velyn untuk berpelukan bersama.


"Mama jangan nangis, pasti papa nakal ya sama mama" ucap polos Nino membuat Velyn terkekeh seraya menghapus jejak air matanya.


"Papa selalu baik kok sama mama" kata Velyn seraya melirik Valdo yang kini hanya mampu tersenyum membalas.


***


Kini Valdo dan Velyn tidur bersama dengan Nino ditengahnya. Meskipun Velyn enggan mengatakan satu patah katapun sedari tadi tapi tak membuat Valdo menyerah untuk mengajaknya berbicara berdua. Seperti saat ini, ketika dirasanya Nino sudah terlelap oleh tepukan ringan di kaki Nino pada tangan Velyn, kini Valdo mencoba membuka suara.


"Jadi aku udah dimaafin nih?" Velyn melirik Valdo yang kini tampak antusias bertanya. Pasalnya Valdo benar-benar tak bisa didiamkan terus menerus oleh istrinya.


Velyn terkekeh, ia mengangguk seraya tersenyum lembut pada Valdo yang kini beralih menggenggam jemari Velyn.


"Aku udah maafin kamu kok kak" senyuman Valdo semakin mengembang, disertai punggung tangan Velyn yang dikecupnya.


"Aku cinta sama kamu Lyn" Velyn terdiam mendengarnya, namun sedetik kemudian ia hanya mampu tersenyum kecut seraya menarik jemarinya.


Valdo tau, istrinya belum siap untuk menerima hatinya. Namun hanya didekat Velyn saja bisa membuatnya bahagia seperti ini, ini sudah cukup baginya.


"Kalo kamu disuruh minta satu harapan, kamu bakal berharap apa?" tanya Valdo tiba-tiba seraya menatap langit-langit kamar Nino yang dipenuhi cahaya bintang-bintang diantara langit kamar yang di desain khusus menyerupai langit malam hari.


Mata Velyn mengerjab, matanya memanas sekali lagi. Rasanya ia ingin menangis kali ini, namun ia takut, suara sumbanganya membuat Valdo terkejut nantinya.


"Aku, aku cuma pengen papa cepet sembuh" begitu sederhana permintaan Velyn. Bahkan ia tsk memikirkan keinginannya sendiri. Valdo melirik Velyn yang masih menatap langit-langit kamar Nino dengan tatapan berharap, seperti pertanyaannya adalah hal sungguhan yang memang akan terealisasikan.

__ADS_1


"Permintaan aku sederhana Lyn. Aku cuma pengen lihat kamu selamanya, disebelah aku, nemenin kamu, waktu kamu lagi sedih maupun bahagia."


__ADS_2