Velyn Love

Velyn Love
Terulang


__ADS_3

47


Velyn mengeluh kesal saat kedua sahabatnya itu bermain di Timezone. Saat dirinya tengah hamil begini, kedua sahabatnya itu malah asyik bermain tanpa mengajaknya, bahkan Velyn dilarang untuk beraktivitas meskipun hanya memainkan sedikit permainan kecil saja. Velyn menyandarkan punggungnya ditepi pembatas seraya menghela nafas kesal sedari tadi.


Ide kekanak-kanakan Dira benar-benar tidak dipercaya, setelah selesai sarapan gadis itu mengajak mereka berdua kemari. Kedua sahabatnya itu sibuk melakukan dance, berbeda dengan Velyn yang kini segera mengeluarkan ponselnya dari dalam tas miliknya. Lama-lama bosan juga menjadi penonton setia dari tontonan yang tidak menghibur sama sekali.


"Dir, Christ! gue ke sana dulu ya cari minum. Nanti kalo kalian udah selesai cepet nyusul" ujar wanita itu membuat kedua sahabatnya saling menatap Velyn bergantian seraya masih fokus dalam permainan mereka.


"Iya, duluan aja sono. Bumil santai aja udah" kata Christyn membuat Velyn memanyunkan bibirnya seraya memutar bola matanya. Velyn melangkah kearah cafe terdekat seraya menaruh ponselnya kedalam tasnya lagi. Namun langkahnya seketika terhenti saat seseorang dari belakang tubuhnya menepuk punggungnya, membuat wanita itu membalikkan tubuhnya dan menatap seorang gadis dengan rambut seleher yang tidak asing baginya.


"Velyn? Ini beneran lo kan? Lyn, gue kangen banget sama lo-" gadis itu hendak memeluk tubuh Velyn, namun spontan Velyn memundurkan tubuhnya. Mata dan ekspresinya terlihat kecewa dengan perilaku Velyn, namun sedetik kemudian ia menyadari jika Velyn pastinya amat terluka dengan apa yang pernah ia lakukan dimasa lalu. Wajar Oca diperlakukan seperti itu, karena apa yang ia lakukan sudah kelewatan.


"Maaf, tapi... bisa ngobrol sebentar? ada hal yang pengen gue sampein ke lo" Velyn sempat terdiam sejenak seraya menatap Oca dengan tatapan sulit diartikan. Velyn sebenarnya tidak mau membuka luka lama, tapi tidak baik juga menyimpan dendam sampai seperti ini. Meskipun begitu Velyn juga tidak mudah untuk berlapang dada dengan apa yang terjadi di masa lalu.


"Kalo nggak boleh juga-"


"Gue yang traktir" ujar Velyn membuat gadis itu tersenyum menatap dinginnya aura Velyn padanya. Namun gadis itu tak perduli, mau bagaimanapun Velyn bersikap padanya, ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk berbicara dengan mantan sahabatnya walaupun hanya sebentar saja. Mantan? hal jahat apa yang merasuki Oca sampai bisa memutuskan persahabatan dengan wanita sebaik Velyn.


"*Kesel tau nggak Lyn, masa katanya bokap gue mau nikah lagi. Nggak bilang ke gue dulu"


"Bokap lo takut lo omelin kali, lo kan pernah bilang nggak pengen punya ibu tiri"


"Terus Lyn, kalo nanti gue nggak dianggap anak lagi sama bokap gimana, terus dia lebih milih istri dan anak-anak tirinya. Gue kan nggak punya siapa-siapa lagi Lyn"


"Ih, lo kebanyakan nonton sinetron unfaedah sih, mana ada bapak kandung yang nyia-nyiain anak kandungnya sendiri?"


"Banyak! yang bunuh anaknya, yang buang anaknya waktu masih bayi, bahkan ada lo yang merkosa anaknya sendiri-"


"Ya terus? bokap lo bakal ngelakuin kaya gitu ke lo?" Oca terdiam seraya memikirkan apa yang dikatakan Velyn barusan, walau perkataan Velyn ada benarnya tapi tidak menutup kemungkinan hal itu akan terjadi.


"Tuh kan, emang bener, harusnya gue buang tuh TV dirumah lo, biar nggak kebanyakan nonton berita bapak-bapak dajjal "


"Jangan ih, lo kira buang TV kaya buang tisu. Enak bener kalo ngomong lo ya"


"Hahaha lagian lo mikirnya jauh amat. Kalo pun hal buruk terjadi ke lo, gue pasti bakalan bantuin lo kok. Lo bisa tinggal sama gue, kita kan sahabat*".


Pikiran itu terus melayang dikepala Oca, bagaimana Velyn dulu sangat mendukung dan selalu ada untuknya, kini semua berubah. Apa yang ia katakan ternyata terjadi dan diwaktu yang sama Velyn sudah tidak ada untuknya karena Oca yang telah membuang Velyn jauh-jauh dari hidupnya.


Mata Velyn masih menatap Oca yang kini berdiam dengan dua cappuccino latte dihadapannya. Bisa Velyn tebak jika gadis dihadapannya itu bekerja sambilan di Timezone. Tanpa harus menjawab pun, pakaian gadis tomboy itu sudah menjadi jawaban akan pertanyaan Velyn yang dari tadi berada dibenaknya.


"Maafin gue ya Lyn, gue ngaku salah. Waktu itu gue cuma-"


"Emosi ya?" tanya Velyn dengan tatapan kesalnya. Velyn memang bukan tipe pendendam, tapi ia paling benci dengan pengkhianatan. Sejujurnya Velyn sudah memaafkan Oca, tapi ketika membahas masa lalunya rasanya hatinya begitu amat sakit, apalagi masa lalu itu adalah awal dari kebahagiaan yang kini menjadi kenangan untuknya.


"Gue nyesel Lyn, nggak seharusnya gue ngelakuin itu ke lo. Waktu lo bener-bener ngilang dari kehidupan gue, gue baru nyadar kalo lo bener-bener sahabat yang paling berarti buat gue. Lo udah kaya saudara, semua keluh kesah kita, kita selalu nampung bersama"


"Udahlah Ca, nggak perlu diterusin. Kalo diingat-ingat sakit hati gue. Gue emang terlalu baik sama orang, makanya orang gampang banget buat nginjek harga diri gue, tapi bukan berarti gue harus dendam dan nginget masalah itu terus. I also have a better life than that. Jadi please, jangan pernah ngomong soal masalah itu lagi, not now not forever " ujar Velyn seraya menyeruput cappucino dihadapannya dengan menatap Oca datar. Gadis itupun tertunduk, matanya memanas mengingat bagaimana ia menginjak harga diri Velyn. Bahkan meskipun ucapan tegas dan tidak biasa darinya, tapi Velyn masih bisa menjaga perasaan Oca yang sejujurnya sudah sakit dari awal.


Velyn selalu begitu, ia memikirkan kepentingan orang lain dahulu daripada perasaannya sendiri. Bahkan jika mau Velyn bisa saja mengusirnya dan menghindarinya, tapi itu tidak pernah ia lakukan.


"Papa gue ngilang Lyn, setelah nikah sama istri barunya dia jarang banget hubungi gue. Bahkan ngasih nafkah aja enggak, mungkin ini juga buah karma karena gue pernah nyakitin elo. Gue nyesel" ujar Oca dengan kedua matanya yang kini bercucuran air mata. Ia tidak sanggup melihat Velyn, ia tidak ingin Velyn melihat sisi lemahnya seperti ini.


"Dan lo yang nyumpahin gue waktu itu juga berhasil kok. Gue cerai, itu pasti juga buah karma karena gue nyakitin orang sebaik Andra sekaligus nyakitin para fans-nya. Yah, mungkin mereka semua pada nyumpahin gue kali, makanya diijabah kaya gini" Oca mengangkat pandangannya, ia menatap Velyn yang sepertinya tidak terlihat sedih sama sekali. Tapi rasa bersalah itu kembali muncul ketika mengingat kata-kata yang tidak pantas keluar dari mulutnya.


"Gue nggak pernah bermaksud gitu Lyn, gue-"


"Enggak apa-apa kok Ca. Gue tau kalau waktu itu Andra berarti banget buat lo, gue ngerti. So it's really easy for you to break our friendship at any time " ujar Velyn dengan segenap kejujurannya, ia mengatakan uneg-unegnya bukan karena membenci Oca, tapi ia hanya ingin mengungkapkan yang sejujurnya saja, sebelum ia pergi ia tidak mungkin memberikan teka-teki maupun tanda tanya menyakitkan bagi mantan sahabat itu.


"I'm sorry Velyn "


"No problem, aku udah lupain semua kok. Lo tau kan kalo gue paling nggak bisa dendam sama seseorang"


"Tapi lo paling nggak bisa lupain kesalahan orang, ya kan?" Oca terkekeh, namun tidak dengan Velyn yang membuang mukanya. Velyn memang amat kecewa, ia tidak mau lagi berurusan dengan pengkhianat, tetapi entah kenapa memikirkan kata-kata yang keluar dari mulutnya tadi benar-benar membuat dadanya sesak. Penyesalan karena telah mengatakan hal buruk itu mengganjal di hatinya.


"Maaf, gue kelepasan. Soalnya kebiasaan"


"Enggak apa-apa, gue tadi cuma ngomong tentang isi hati gue waktu itu jadi nggak perlu lo masukin ke hati. Lagipula itu juga uneg-uneg gue yang selama ini pengen gue sampein ke lo. Jujur aja gue udah ngelupain masalah itu, dan karena gue udah ngomong apa yang perlu gue omongin gue jadi tambah berlapang dada" ucap Velyn seraya menghela nafasnya dan menatap Oca dengan senyuman. Meskipun bukan senyuman persahabatan seperti dulu tapi itu cukup membuktikan bahwa ia sudah dimaafkan.


"Jadi, kita masih bisa sahabatan lagi kan?" tanya Oca yang menatap Velyn penuh harap. Velyn terdiam dan mematung, entah apa yang ia pikirkan. Mungkin Velyn bimbang, atau dia sudah terlanjur tidak percaya lagi pada Oca.


Oca beruntung memiliki sahabat seperti Velyn, namun karena keegoisannya ia lebih memilih untuk menghindari wanita yang selalu ada untuknya daripada membela pria yang tidak dapat ia genggam seutuhnya. Oca menyesal, seandainya dulu ia tidak melakukan hal keterlaluan pada wanita dihadapannya mungkin saja Velyn pasti akan senantiasa ada untuknya disaat seperti ini.


"Velyn! wah curang, udah beli minum aja lo, mana kita nggak dibeliin" ujar Dira yang langsung duduk di bangku dekat Velyn dan tanpa sengaja melirik Oca yang terlihat murung menatap kedekatan mereka berdua.


"Dira! curang lo!"


"Iddih, kalo kalah ya kalah aja" sahut Dira seraya meraih cappucino latte milik Velyn dan langsung meneguknya dalam sekali teguk. Begitu melihat minumannya di rebut oleh Dira Velyn memanyunkan bibirnya seraya menatap tajam Dira kesal.


"Woy! cappucino gue napa lo minum pe'a'" teriak Velyn membuat Dira terkekeh dan menaruhnya kembali diatas meja. Christyn pun ikut duduk dihadapan Dira dan menaruh dagunya diatas meja.


"Tenang, gue bayarin"

__ADS_1


"Dira kalo lagi laper, aus emang kaya orang kesetanan jadi jangan kaget kalo dia tiba-tiba berubah nggak tau diri"


"Dijaga mulut busuk lo itu ya, kebetulan gue lagi nggak pakek deodorant nih, mau loh gue sumpelin?"


"Jorok lo jadi cewek" perdebatan kedua sahabatnya itu membuat Velyn terkekeh, namun ia beralih menatap Oca yang terdiam membisu seraya tersenyum kaku. Velyn sampai lupa kalau masih ada Oca ditempat itu. Entah mengapa Velyn merasa tak enak hati melihat ekspresi Oca yang seolah tersisih dari pembicaraan teman-temannya yang begitu absurd.


"Oh ya guys, kenalin dia Oca. Temen gue waktu sebelum pindah dulu" ujar Velyn memecah keheningan, kedua sahabatnya itu hanya mampu menatap Oca dengan tatapan dingin tapi tak memberikan respon apapun. Sejujurnya Oca sendiri merasa tidak nyaman ditempat itu, tapi mau bagaimana lagi, ia sudah terlanjur diperkenalkan oleh Velyn.


"Ha-hay"


48


"Ha-hay, nama saya Oca" ujar gadis itu memperkenalkan diri, namun tetap saja tidak ada respon dari kedua sahabatnya, yang ada hanyalah lirikan dari Dira dan Christyn yang saling mengangkat bahu.


"Kenalin, Gue Dira sahabatnya Velyn" ujar Dira tanpa membalas jabatan tangan dari Oca yang kini menarik tangannya lagi dan menjauhkannya dari Dira . Rasanya amat canggung sekali, apalagi setelah itu Dira segera mengalihkan pembicaraan dengan memanggil pelayan Cafe.


"Mbak! mau pesen dong"


"Gue Christyn, salam kenal ya" ujar Christyn seraya menyomot kentang goreng yang tadinya ia pesan saat menyusul Dira. Christyn pun sama, ia bersikap tak acuh pada Oca yang kali ini terlihat tersudutkan diri. Entah mengapa hal itu membuat Velyn sedikit tidak nyaman dengan perlakuan kedua sahabatnya itu.


"Silahkan mbak, ini buku menunya"


Velyn hanya mampu terdiam tanpa respon, ia bahkan tak sadar jika pelayan telah datang dan memberinya buku menu. Kedua sahabatnya tentu saja antusias, namun Velyn masih mematung menatap Oca yang menunduk dengan perasaannya yang tak nyaman itu.


"Gue mau steak, terus dessert nya brownies"


"Katanya mau diet lo Christ, niat lo setengah-setengah banget. Padahal udah sarapan tadi"


"Ini tuh hari Minggu, free makan apapun. Termasuk brownies kesukaan gue iya nggak Lyn" ujar Christyn seraya melirik Velyn yang masih diam membisu.


"Lyn?!"


"Ah, iya" lamunan Velyn buyar seketika, wanita itu terperanjat akan pertanyaan Christyn yang tidak lagi ia perhatikan karena sibuk menatap Oca yang sepertinya semakin tidak nyaman dengan situasi ini.


"Lo nggak enak badan ya?"


"Eng-enggak kok" jawab Velyn seraya meraih buku menu dihadapannya, Velyn segera membuka buku menu tersebut. Namun tak lama Oca tiba-tiba bangkit dan menatap mereka bergantian. Wajahnya semakin tegang dan terlihat amat tidak nyaman dengan keberadaannya yang seolah tidak dianggap.


"Sa-saya balik kerja dulu ya, hem bye Lyn. Sampai jumpa, moga kita bisa ketemu lagi" ujar Oca membuat suasana menjadi hening kembali. Dira dan Christyn saling melirik satu sama lain ketika Oca melangkah pergi. Velyn tak memperdulikan dua sahabatnya itu, ia lebih memilih untuk membuka buku menu dan memilah-milah menu yang akan ia santap. Padahal baru saja sarapan tapi Velyn merasa lapar lagi, mungkin juga itu adalah salah satu efek karena ia tengah mengandung.


Namun sejujurnya dalam hati Velyn ia masih khawatir memikirkan Oca, dua sahabatnya itu bahkan mengabaikan keberadaan gadis itu. Velyn jadi merasa tak enak hati, padahal keduanya tadi sudah saling berdamai dengan keadaan.


***


Velyn sangat amat beruntung memiliki sahabat baru seperti Dira dan Christyn. Oca memang sangat bodoh, ia menghancurkan kepercayaan Velyn dan membuat wanita itu trauma akan masa lalunya. Masa saat ia menggilai Andra dan melihat Andra seperti segalanya baginya, padahal Andra tidak pernah memberikan kesan apapun padanya, membantunya, bahkan berbagi keluh kesah padanya. Tapi Oca malah lebih membela pria itu dan membalaskan dendam yang tidak perlu pada sahabat terdekatnya sendiri. Mungkin saja ini adalah karma baik bagi Velyn. Ia kehilangan sahabat brengsek seperti dirinya dan buah hasil dari kesabarannya dibalas dengan adanya Dira dan Christyn.


Oca menghela nafas, ia memutuskan untuk bangkit dan tidak mau mengingat hal itu lagi. Oca hendak keluar dari toilet tersebut namun tanpa sengaja ia mendengar suara yang tak asing baginya.


"Dir, lo liat kan tadi temennya Velyn yang satu universitas sama Velyn dulu. Gak tau kenapa gue jadi gedek gitu"


"Sama, pasti dulu di universitas lama Velyn nggak ada yang belain, ya termasuk si Oca itu"


Deg!, Oca menutup mulutnya dan duduk kembali diatas closet. Ia tak menyangka jika kedua sahabat Velyn itu benar-benar tidak menyukainya, awalnya Oca hanya merasa bahwa mereka masih tidak terbiasa dengan orang asing, tapi ternyata firasatnya benar. Kedua sahabatnya itu memang tidak menyukainya sejak awal.


"Lo tuh terlalu baik tau nggak Lyn, makanya orang gampang nindas lo. Coba lo itu galakan dikit kek, pasti orang mau bully lo bakal mikir-mikir lagi. Coba kalo gue dulu kuliah di kampus lo, gue pasti injek mulut tiap orang yang udah ngehina lo" ujar Christyn gemas membuat Velyn terkekeh dan bercermin menatap pantulan dirinya yang tengah membubuhi lipstik di bibir tipisnya.


"Udah lah guys, kan gue udah nggak mau inget-inget itu lagi. Lo kalo ada diposisi mereka denger berita yang enggak-enggak tentang gue pasti juga bakal naik darah" ujar Velyn seraya meletakkan lipstiknya di tasnya kembali. Dira memutar bola matanya dan menatap Velyn kesal dengan argumen dari Velyn yang tidak mendasar itu. Memangnya Dira dan Christyn tidak punya pikiran apa.


"Nalar Lyn, nalar!. Ya masak iya sih berita sampah kaya gitu nggak bisa dicari sebabnya dulu. Toh lo itu juga nggak mau dijodohin sama orang tua lo, lo kan cuma terpaksa demi menuhi permintaan terakhir bokap lo. Emang salah ya?! kalau mereka ada diposisi lo emang mereka nggak akan ngelakuin hal yang sama? ya kecuali kalo mereka nggak sayang sama bapaknya yang udah mau mati sekarat" Christyn menghela nafas seraya menahan emosinya yang kini mulai menggebu, ia melirik Velyn yang kini menghela nafas dan menatap kedua sahabatnya dibalik pantulan cermin dihadapannya.


"Sumpah demi apa gue juga kesel tau. Emang jasa Andra itu apa sih sampek dibelain kaya dewa gitu?. Fiks deh, satu kampus nggak ngotak semua. Norak! apalagi sahabat yang lo ceritain itu, dih bukannya belain malah ngerencanain buat bikin lo tambah susah. Gila tau nggak!"


"Guys, udah ya! kenapa sih kalian harus ngeributin masalah yang udah lalu. Gue itu nggak pengen bahas-bahas itu lagi, lagian bokap gue juga udah meninggal, jadi gue nggak bakal nyesel meskipun harus nerima perlakuan yang nggak pantes kaya gitu. Andra itu baik banget, dia cowok yang lembut bahkan dia udah jatuh cinta sama gue sebelum gue jadi kaya gini. Wajar sih banyak yang nggak suka kalau gue tiba-tiba nyakitin hatinya"


Deg! kata-kata yang keluar dari mulut Velyn membuat Oca menahan tenggorokannya yang tercekat. Hatinya amat sakit dan amat menyesal sekali mengingat apa yang dilakukannya dulu. Seharusnya jika semua orang memperlakukannya seperti itu ia harus ada di garis terdepan yang selalu ada untuk Velyn dan membelanya bukan malah merencanakan untuk semakin menyakitinya.


Hati Oca benar-benar sakit, ditambah kenyataan bahwa ayah Velyn sudah meninggal dunia. Ayah yang selalu dibanggakan oleh wanita itu ketika mereka berseteru. Ditambah Velyn juga sudah cerai dengan suaminya, itu semua juga akibat dari sumpah semua orang padanya. Kalau saja Oca tidak bertindak bodoh, mungkin hari ini ia juga tidak akan terpuruk sendiri.


***


49


"Gue nggak mau sahabat-sahabat gue jadi orang yang berfikiran negatif kaya gini, jadi daripada kalian ungkit-ungkit masa lalu yang nggak penting dan nyakitin hati lagi kita masih bisa berjuang buat masa depan kan?" kedua sahabatnya itu hanya bisa diam membisu ketika Velyn mengatakan hal demikian, memang benar harus melupakan masa lalu tapi luka Velyn yang teramat dalam membuat orang yang menyayanginya pasti juga akan merasakan penderitaannya ketika masalah itu terdengar.


"Ya udah yuk balik, gue udah capek juga nih"


"Dasar bumil, mentang-mentang bentar lagi mau liburan ke Amrik"


"Iya, atau jangan-jangan lo mau lahiran di Amerika ya?"


"Ya, eng-enggak tau juga sih" ujar Velyn membuat kedua sahabatnya itu menatap Velyn dengan pandangan tajam. Pasalnya Velyn hanya memberitahu jika ia akan ke Amerika hanya untuk jalan-jalan saja bukan untuk menetap disana.

__ADS_1


"Hey! kok nggak tau sih. Jangan-jangan bener ya, lo mau lahiran disana?" ujar Christyn membuat Velyn mengeluh seraya memutar bola matanya. Ia kemudian langsung pergi dan membiarkan keduanya mengikuti langkahnya dengan pandangan penasaran yang amat biasa dan kesal bukan main.


"Velyn! main nyelonong aja sih lo ah!" Oca yang mendengar itu semua kini mulai menghentikan tangisannya yang tanpa mengeluarkan suara itu, ia menghapus jejak air matanya dan keluar dari toilet tersebut. Betapa terkejutnya ia mengetahui jika Velyn sudah hamil setelah bercerai dari suaminya. Entah apa yang melatarbelakangi penyebab runtuhnya ikatan pernikahan itu, namun Oca bisa merasakan betapa Velyn dan suaminya amat mencintai satu sama lain.


Jika saja Oca bisa membantu apapun untuk menebus semua kesalahannya, maka Oca akan dengan senang hati melakukannya, demi sahabatnya itu.


***


Velyn menghela nafas seraya menunggu dua sahabatnya itu keluar dan menyusul langkahnya. Ternyata tempatnya berhenti dengan jarak kedua sahabatnya tadi lumayan agak jauh juga. Velyn melangkah kearah eskalator didepannya, namun sebuah tangan mungil menyentuh jemarinya membuat Velyn membalikkan tubuhnya dan terkejut dengan keberadaan Nino.


"Mama" suara getaran dari mulut bocah kecil itu membuat Velyn berjongkok dan tersenyum. Ia memeluk Nino dan tak terasa air matanya jatuh di pipinya. Begitupun dengan Nino yang kini menangis sesenggukan dan mengelus punggung Velyn dengan lembut.


"Nio kangen sama mama, Nio nggak mau tinggal sama tante jahat. Mama, Nio pengen kita sama-sama kaya dulu lagi ma" Velyn juga sama, ia amat merindukan keluarga kecilnya dulu. Waktu berjalan cepat, hingga membuat kenangan dan juga masa indah menjadi begitu singkat. Ditambah kali ini Velyn tengah berbadan dua, kalau saja ia masih bersama dengan Valdo, pasti semua itu akan lebih indah.


Langkah kaki Dira terhenti saat melihat pemandangan dihadapannya. Gadis itu menatap Velyn dan bocah kecil yang sudah pasti bisa ia tebak adalah anak Valdo yang pernah diceritakan oleh Velyn. Anak yang bukan darah daging Velyn tapi mampu menyayangi Velyn dengan ketulusan.


"Lyn-" Dira menghentikan langkah Christyn yang hendak melangkah melewatinya, ia memberikan kode untuk diam dan membuat Christyn menatap kedua ibu dan anak itu dengan senyuman.


"Itu anaknya Valdo?"


"Kayaknya iya, sementara jangan ganggu dulu. Tuh liat anaknya sampe nangis kaya gitu. Kasian ya liatnya" ujar Dira membuat Christyn mengangguk dan menghela nafas beratnya. Christyn menyenggol lengan Dira membuat gadis itu menatap Christyn dengan pandangan bertanya.


"Eh, btw kemarin gue ada tamu dari orangnya Valdo loh"


"Hah?! serius?!" Christyn membungkam mulut Dira yang membuatnya melotot seketika. Ia juga amat kesal saat Dira terkejut seperti itu.


"Jangan kenceng-kenceng Maemunah! tuh mulut mau gue sumpel pakek ****** gue?"


"Najis! eh tapi cerita dong, kok bisa sih orangnya Valdo ketempat lo? ngapain?" Christyn kemudian menceritakan awal mula permasalahan yang terjadi. Mulai dari Velyn yang memintanya untuk meminjam identitas, dan berakhir saat ia menolong Valdo yang dalam keadaan kritis karena perbuatan kakaknya.


"Nino sama siapa kesini? kam-kamu nggak kesini sama papa mu kan?"


"Nio kesini sama papa dan tante jahat" Velyn menghapus jejak air matanya dan menatap sekitar. Ia tidak melihat tanda-tanda keberadaan Valdo disana, tapi ia begitu khawatir saat melihat Nino yang berjalan sendirian menghampirinya. Meskipun awalnya Velyn sempat takut ketika Nino mengatakan pergi kemari dengan ayahnya, tapi entah mengapa ia masih merasa kesal saat mendengar mereka bertiga keluar bersama.


"Terus, papa kamu kemana sayang? kamu misah ya?"


"Nio main-main di Timezone ma, telus papa sama tante makan sambil ngawasin Nio, tapi Nio belhasil kabul. Nio nggak mau ma ikut tante jahat, Nio cuma pengen sama mama. Nio boleh kan ma ikut mama?" Velyn membulatkan matanya. Ia tidak mungkin mengabulkan permintaan Nino, bagaimanapun itu adalah hal yang sangat mustahil. Keluarga kandung Nino yang utuh dan kini sudah berkumpul kembali mana mungkin bisa0 Velyn usik sesuka hati.


"Tapi lo jangan bilang ke Velyn ya, gue udah bilang sama orangnya Valdo kalo gue nggak tau masalah identitas gue yang nolong bosnya. Gue juga nggak mungkin bilang kalo sebenernya identitas gue dipinjam Velyn buat ngelabuhi si Valdo. Makanya kemarin orangnya langsung gue usir"


"Lo bener sih, Velyn kan lagi hamil terus sebentar lagi dia juga bakal ke Amrik, kalo kita ceritain dia juga pasti bakal stress banget"


***


"Ca, besok bawain burger kaya biasanya ya?" ujar wanita dengan menggunakan seragam yang sama persis dengan Oca yang kini melangkah perlahan seraya meraih tas yang ia tinggalkan semenjak masuk ke toilet tadi.


Tempat istirahat diruang pojokan meskipun sempit tapi dapat membuat para karyawan bisa menghela nafas lelah ketika selesai bekerja. Kali ini Oca memutuskan untuk pulang saja, ia tidak mau berlama-lama di mall dengan hatinya yang masih terasa sakit itu.


"Iya, mau ori atau yang pedes kak?"


"Yang ori aja deh, kebetulan mood gue lagi bagus nih"


"Dih, tumben banget" ujar Oca seraya memakai sepatunya kembali dan hendak bangkit saat Riri teman satu shift nya tersenyum padanya. Senyum yang tidak pernah diperlihatkannya seperti biasanya membuat Oca sedikit curiga.


"Soalnya itu, ada babang ganteng. Dandanannya keren abis, sayang banget deh harus jadi papa muda, padahal istrinya juga nggak cantik-cantik amat. Masih cantikan aku" Oca ingin mual saja ketika Riri mengatakan hal demikian. Pasalnya wanita satu itu benar-benar mengunggulkan dirinya sendiri dan begitu centil ketika ada lelaki tampan yang datang ke Timezone.


"Tobat kak, tobat. Dia itu udah punya anak istri, masa mau lo incer juga" seolah tak mendengarkan apa yang dikatakan Oca, Riri memainkan anak rambutnya dengan senyuman yang tidak biasa. Hal itupun membuat Oca merinding setengah mati.


"Eh, keluar bareng yuk! nanti gue kasih tau mana cowok ganteng yang gue maksud"


"Ogah ah, bisa ketularan gila kaya kak Riri gue nanti"


"Ah, Oca ayo dong cuma sebentar aja" rengek Riri membuat Oca semakin jijik. Biasanya kalau Oca mengatakan hal kasar seperti itu Riri langsung menunjukkan taring dan juga tanduknya, tapi siapa sangka pria yang membuat Riri itu menjadi semakin tidak waras kini membuat Riri seperti seekor anak kucing yang memelas meminta bantuan kepadanya.


"Kenapa nggak sendirian aja sih? gue mau lewat lift belakang, males gue lewat kasir lagi"


"Ayo dong Ca, gue juga canggung tau kalo sendiri. Kan kalo ada elo gue jadi PD" Oca menghela nafas dan memutar bola matanya. Ada-ada saja kelakuan Riri, memang pemandangan indah itu adalah seorang pria tampan, bahkan Oca pernah mengalami hal itu hingga membuat dirinya mengkhianati sahabatnya sendiri. Dosa Oca bahkan tidak pernah ia maafkan sendiri atas kebodohan yang ia lakukan.


"Yaudah, coma lewat kan. Gue nggak mau berdiri diem kaya orang gila cuma karena mau liatin cowok beristri"


"Yeay, Oca emang terbaik. Nanti gue traktir makan deh"


"Oke, setuju!" kalau soal makanan pasti Oca akan berjalan di garis terdepan. Yah, setidaknya ia tidak dirugikan karena Riri membuang-buang waktu yang sangat berharganya. Pun sebetulnya Oca juga sedikit penasaran dengan pria yang diceritakan oleh Riri. Lelaki seperti apa yang membuat wanita gila seperti Riri menjadi gila sungguhan hari ini.


Langkah Riri berhenti dan menunjukkan sosok pria yang tengah duduk berhadapan dengan seorang wanita. Oca menghela nafasnya, dan melihat ekspresi senang dari Riri yang amat mendambakan belaian seorang pria yang ia mimpikan itu. Namun sedetik kemudian Oca menyadari pria yang tengah diamati oleh Riri adalah pria yang jelas tidak asing baginya.


"Kak, lo yakin mereka suami istri?"


"Yakinlah, orang tadi ceweknya bilang kalo si cowok itu suaminya kok pas mereka pesen minum"


Oca membulatkan matanya dan menutup mulutnya tak percaya. 'Valdo!' Oca masih mematung saat keduanya kini berdiri dan menatap arah permainan mandi bola dengan pandangan khawatir. Oca tidak fokus dengan apa yang mereka katakan, tapi satu hal yang pasti, ia pasti akan menemukan jawaban saat Riri mengguncang tubuhnya.

__ADS_1


"Ca! anak mereka ilang Ca. Aduh gimana nih?"


"Hah?"


__ADS_2