Velyn Love

Velyn Love
Jodoh ku


__ADS_3

Valdo melirik istrinya yang kini hanya mampu menunduk. Valdo tau Velyn pasti terkejut akan kedatangan Lisa yang secara tiba-tiba, bahkan dirinya pun sama, ia juga tak menyangka jika Lisa datang dipagi hari tanpa permisi sebelumnya.


Valdo meraih lengan Velyn, ia menggenggamnya dan tersenyum kearah Velyn saat wanita itu mulai mendongak menatapnya.


"Mau apa kamu kesini?' Lisa berdecak, ia kemudian melangkah mendekat saat Valdo dan Velyn melangkah bersama kearahnya.


"Jangan lupa tentang perjanjian kita, aku mau cerai asal aku bisa ketemu anak aku semau ku. Kamu nggak bakalan lupa kan Do?" bisik Lisa seraya mendekatkan wajahnya pada Valdo yang kini masih menggenggam erat jemari Velyn. Velyn yang mengetahui hal itu ia menatap tajam kearah Lisa seraya menggenggam jemari Valdo semakin kuat lagi.


Velyn menarik Valdo dan membuat tubuh lelaki itu kini berada tepat dibelakangnya. Ia kini menghadang Lisa seraya tersenyum penuh makna pada wanita dihadapannya.


"Biasanya orang yang punya akal akan mengetuk pintu dulu atau menekan bel saat bertamu. Dan kalo kamu tau malu, seharusnya nggak perlu bersikap seperti itu ke suami aku" ucap tegas Velyn membuat mata Lisa menajam, nafasnya memburu seraya tangannya yang mengepal kuat.


"Valdo juga suami aku, yang artinya rumah ini masih berhak aku masuki sesuai keinginan aku!"


"Cukup Lisa! kita bentar lagi cerai. Apa yang dibilang Velyn memang benar, seharusnya kamu datang nggak seenaknya kaya gini"


"Tapi Do, kamu kan-"


"Apapun alasannya kamu nggak ada akses buat keluar masuk ke rumah aku seenaknya. Aku nggak suka!"


***

__ADS_1


Velyn yang kini duduk ditempat makan terdiam seraya memainkan sedotan yang belum sempat ia minum sedari tadi. Pikirannya penuh dengan kejadian tadi pagi.


"Hey, kamu kenapa sayang? kok ngelamun?" jemari Valdo menyentuh punggung tangan istrinya. Ia menatap Velyn seraya menampakkan


wajah khawatirnya. Karena semenjak ia mengajak Velyn keluar, wanita dihadapannya itu hanya diam membisu seraya hanya keluar satu dua patah kata ketika Valdo bertanya.


"Kamu lagi mikirin apa sih? kuliah ya? kan aku udah bilang, aku udah izinin kamu buat cuti beberapa hari" Velyn hanya mampu terdiam seraya menampakkan senyuman tipisnya, ia beralih menyedot minuman yang sedari tadi belum ia minum sama sekali.


Memang Valdo sengaja meminta izin cuti untuk Velyn pada kampusnya. Ia tau Velyn pasti lelah selama ini, belum lagi salah paham yang mereka alami beberapa waktu lalu. Oleh sebab itu Valdo ingin memperbaiki hubungan mereka, setidaknya mereka bisa bersantai dan menghabiskan waktu bersama lagi seperti sebelumnya.


"Velyn? kenapa? kamu mikirin apa sih?" Valdo benar-benar tidak peka sama sekali. Padahal sejujurnya Velyn amat cemburu dengan kelakuan Lisa yang seolah memancing diri Valdo tadi pagi. Apalagi Valdo seolah diam tanpa perlawanan. Memang Velyn akui, Lisa lebih cantik dari dirinya. Pantas saja dulu Valdo sampai tergila-gila padanya. Mengingat hal itu semua membuat Velyn semakin kesal saja, ia mendengus seraya menatap Valdo yang masih berkutat menatapnya.


"Mas, kenapa sih Lisa harus kamu izinin buat ketemu Nino. Seenggaknya kita yang bawa Nino ke dia, jangan dia seenaknya keluar masuk ke rumah kita. Kaya maling aja tau!" ujar Velyn ketus seraya menghela nafas kasar. Valdo yang mendengar hal itu sontak mendongak, menatap Velyn yang amat kesal dengan kejadian pagi tadi. Diam-diam Valdo tersenyum seraya menahan tawa melihat wajah cemberut istri cantiknya itu.


"Tapi nggak perlu sampai kurang ajar segala dong mas, masa kamu juga diam aja pas dia deket-deket kamu!" Valdo menahan tawanya sekali lagi, ia benar-benar tak habis fikir jika Velyn ternyata bisa cemburu seperti itu. Saat ini bahkan Valdo sangat menyukai wajah istrinya yang begitu kesal dibuat cemburu olehnya.


"Mas!"


"Kamu cemburu ya sayang?" tiba-tiba saja wajah Velyn merona, ia menunduk seraya mengalihkan pandangannya dari Valdo yang kini masih tertawa akibat tingkah Velyn yang terlihat kikuk itu.


"Aku nggak cemburu kok! aku cuma-" Velyn berusaha keras untuk berfikir, berfikir tentang apa yang seharusnya ia katakan pada suaminya agar pria dihadapannya itu tidak mengejeknya seperti ini.

__ADS_1


"Aku cuma nggak nyaman kalau kita lagi ciuman tiba-tiba ada dia yang masuk kaya penyusup"


"Ya nggak apa-apa dong, kan aku emang cinta sama kamu" sahut Valdo seraya tersenyum dan mengangkat sebelah alisnya. Ia menyesap Americano yang ia pesan sejak duduk bersama Velyn di cafe.


"Malu tau, ih! aku juga nggak suka ya kalo dia masuk seenaknya kaya tadi pagi, emang rumah kita pasar apa"


"Sayang, aku kan juga nggak tau kalau dia bakal masuk sembarangan kaya gitu"


"Tapi waktu itu kamu juga nggak ngelarang dia kan buat datang ke rumah kita, dan ngobrak-ngabrik isi lemari aku" Valdo tertegun dengan pernyataan Velyn barusan. Bahkan dulu ia juga tidak tau menahu akan kejadian yang direncakan oleh Lisa setelah ia kembali dan tiba-tiba masuk tanpa permisi kedalam rumahnya.


Tapi yang ia tau, setelah kejadian itu Valdo langsung memarahi Lisa habis-habisan. Bahkan ia sampai memaki wanita itu dengan kasar karena perbuatan jahatnya. Tapi Valdo bahkan lupa untuk memikirkan perasaan Velyn, perasaan sakit dan kecewa yang Velyn pendam setelah kejadian itu.


"Maaf" setelah beberapa lama Velyn mengoceh, ia terdiam ketika melihat ekspresi Valdo yang sepertinya amat merasa bersalah padanya. Velyn mengerutkan keningnya, ia menatap jemarinya yang digenggam ringan oleh sang suami.


"Maaf karena aku terlalu banyak bikin kamu kecewa, aku libatkan kamu dalam masalah aku yang membuat kamu terluka"


"Maksud kamu ap-?"


"Kamu nggak perlu bilang pun aku seharusnya peka dari awal tentang perasaan kamu. Aku tau aku cuek, aku bahkan nggak pernah mikirin kalau Lisa hadir kembali kedalam hidup kita, dampak apa yang kamu rasain" Velyn tersenyum, ia menyentuh punggung tangan Valdo yang masih bertahan memegang jemarinya. Ternyata ini yang suaminya pikirkan selama ini. Mengingat kejadian itu memang sangat membingungkan bagi Velyn, bahkan ia sempat berfikir untuk mundur. Namun melihat kegigihan Valdo yang amat menyayangi dirinya, Velyn memutuskan untuk tidak akan kalah. Ia tau dirinya juga berhak bahagia, walaupun selama ini tidak ada derita yang ia alami sebelum menikah dengan Valdo.


"Aku udah lupain itu semua kok, yang terpenting sekarang gimana kita membesarkan Nino tanpa kekurangan kasih sayang sedikit pun. Aku nggak mau egois mas, hanya karena aku salah paham bisa membuat keluarga kita hancur. Aku nggak pengen itu semua terjadi" perlahan Valdo mulai menampakkan senyum hangatnya. Pria tampan itu kemudian mengecup jemari Velyn setelah ia merasa lega dengan kata-kata Velyn barusan.

__ADS_1


"Makasih ya sayang, aku bener-bener beruntung nikah sama kamu. Sekarang aku yakin, kalau perjodohan ini memang seharusnya terjadi, karena aku juga yakin kalau kamu memang jodoh ku."


__ADS_2