
"Wah, indah banget" ujar wanita yang kini menatap pemandangan indah dihadapannya, bunga yang bermekaran dengan sejuta cherry blossom yang ada didepan mata. Tentu saja Mega akan sangat menikmati honeymoon kali ini, karena sang suami yang selalu memeluknya dari belakang.
Seokchonhosu, salah satu danau yang populer di Seoul disaat musim semi tiba seperti saat ini. Padahal sebenarnya Rega ingin mengajak istrinya ke Hawaii untuk menikmati bulan madu mereka, tapi karena Mega yang memohon, maka mau tidak mau Rega mengikuti saran istrinya. Seperti yang Rega duga, pilihan istrinya tidak buruk juga, pemandangan yang memanjakan mata dihadapannya cukup membuat suasana romantis menjadi lebih indah saat Mega menyentuh bunga yang berjatuhan didepan matanya.
"Gimana? kamu suka?" wanita itu mengangguk dan membalikkan tubuhnya, ia memeluk Rega yang kini tersenyum dan menyatukan wajah mereka. Entah mengapa, Mega sendiri sulit untuk mempercayai kehidupan bahagia yang berada didepan matanya. Wajah tampan pria yang selalu tersenyum padanya itu seolah mengisyaratkan bahwa kisah cinta mereka sudah berakhir dengan bahagia.
"Aku nggak salah pilih kan, emang Korea itu paling cantik waktu musim semi kaya gini. Apalagi kalau liat Cherry blossom"
"Iya iya, percaya deh" Mega terkekeh seraya membalikkan tubuhnya lagi, ia kemudian mengajak Rega untuk duduk di kursi panjang di tepi danau tersebut. Rega tersenyum dan mengecup dahi istrinya, pelukan di lengannya dan kepala Mega yang bersandar di bahunya membuat Rega menghela nafas bahagia saat semua masalah yang terjadi akhirnya terselesaikan juga.
"Sayang, maafin aku ya. Kalau bukan karena aku yang egois, kebahagiaan kita nggak mungkin sempat tertunda dan mengalami banyak hal kaya gini" ujar Rega seraya menyentuh rambut Mega dan mengusapnya lembut. Padahal sudah berulangkali Rega mengatakan hal demikian padanya, dan ia sama sekali tidak mempermasalahkan hal tersebut. Yang ada malah Mega merasa bersalah karena ia tidak memahami posisi Rega saat ini.
"Ngapain sih dibahas lagi, udah ya suami ku kita itu lagi pacaran jadi ngomongin yang seneng-seneng aja. Kan aku udah bilang aku nggak apa-apa, sekarang kita udah bahagia-" kecupan dibibir Mega terasa amat lembut saat Rega memberikan kelembutan padanya. Wanita itu pun membalasnya dengan mengikuti alur dan melodi yang suaminya berikan untuknya. Meski begitu, hal yang membuat Rega trauma sampai saat ini adalah ketika Mega nyaris tak bernyawa di hadapannya. Bayang-bayang itupun kembali dalam sekejap, namun satu persatu lenyap dengan kenangan saat mereka berdua membuat cinta bersama.
Setelah seharian terlewati, kini mereka berdua kembali ke hotel untuk beristirahat. Senja melukiskan cahaya oranye dan masuk melalui celah jendela, menunjukkan pemandangan eksotis saat musim semi tiba di tengah kota Seoul. Mata Mega terpejam sesaat ketika menikmati aroma harum dari ruangan kamar tersebut. Aroma khas musim semi saat ia menatap kaca besar yang menjurus pada pemandangan tengah kota secara langsung.
Mega kemudian berjalan menuju lemari disebelah kanan pojok ruang, ia membuka lemari itu dan mengambil sebuah lingerie berwarna hitam untuk ia kenakan. Siluet tubuh kekar seorang pria yang kini mengguyur tubuhnya dibawah pancuran shower sedikit terlihat dari balik pintu berwarna putih yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Meskipun ia sudah berulangkal melakukannya bersama Rega, tapi hari ini adalah hari yang paling ia tunggu-tunggu. Semuanya sudah ia persiapkan dengan matang, aromaterapi yang menaikkan gairah, juga penampilannya yang harusnya membuat suaminya pasti akan betah bermain dengannya.
Mega menggigit bibir bawahnya, ia kemudian mengganti kimononya dengan lingerie yang berada ditangannya. Jemarinya bergerak menarik rambutnya dan membiarkannya terurai, riasan tipis dan natural diwajahnya dengan lipstik pink dan parfum yang ia semprotkan dibeberapa area vitalnya. Kini Mega sudah siap, ia bercermin sekali lagi untuk memastikan penampilannya. Sempurna, tepat setelah saat itu Rega keluar dari kamar mandi seraya menggosok rambutnya yang basah, handuk yang hanya melilit pinggangnya sampai lutut membuat Mega terkesiap untuk beberapa saat.
Tampan, benar-benar tampan sekali. Apalagi saat Rega menoleh padanya dan tersenyum seperti itu, meski sudah hampir sebulan mereka menikah, tapi jantung Mega tak bisa menghentikan getarannya. Mega menelan salivanya saat Rega tiba-tiba mendekat, ia benar-benar gugup. Padahal sewaktu mereka melakukan untuk pertama kalinya Mega malahan yang menggebu-gebu, meskipun hari itu ia merasa sakit tapi tidak setegang saat ini.
"Rega!" wanita itu sontak bangkit saat suaminya dengan sengaja menjatuhkan handuk yang hanya menutupi tubuhnya. Ia benar-benar terkejut saat Rega semakin mendekat kearahnya.
"Kamu cantik sayang, cantik banget" bisiknya lalu menggandeng jemari wanita itu untuk duduk di atas pangkuannya. Mega benar-benar tidak bisa mengontrol ekspresinya, wajahnya memerah saat Rega mengisyaratkan untuk duduk dipangkuan pria satu itu.
"Ayo sini, duduk. Kenapa diam aja?" Mega hanya menurut seraya melangkah dan mendaratkan bokongnya di paha suaminya, ia merangkul leher pria itu lalu tersenyum dan menatap mata Rega dengan binar yang sulit diartikan.
"Maafin aku ya Rega"
"Maaf?"
"Heum" Mega mengangguk lalu memeluk tubuh pria itu dengan erat. Ia tahu memang sulit untuk mengatakan hal ini, namun Mega amat menyesal karena tidak meminta maaf sedari awal.
"Maafin aku karena nggak bisa jaga keperawanan aku sampai kita nikah. Seharusnya aku ngasih kamu hak setelah kita sah kaya gini. Sekarang kesan pertama kita udah hilang gara-gara aku, aku-"
"Sayang, kamu ngomong apa sih. Aku tetap nikmati kok, aku bahkan bahagia karena aku yang pertama buat kamu, mau sebelum maupun setelah kita nikah, yang penting semua itu udah lewat. Aku suami kamu, dan aku juga lelaki pertama yang merenggut keperawanan kamu, kita melakukan itu semua tanpa paksaan jadi kamu jangan merasa bersalah ya. Ini cuma masalah waktu dan status, selama masih orang yang sama pasti nggak akan ada perubahan kan" Rega tiba-tiba menjatuhkan tubuh wanita itu, membuat Mega yang sebelumnya berkaca kini membulatkan matanya saat Rega dengan beringas merobek lingerie yang dikenakan olehnya.
"Re-Rega?"
__ADS_1
"Sekarang, kamu jangan nyesel udah buat aku kaya gini. Kamu tau kan seberapa kuatnya aku"
"Ah Rega! pelan-pelan" teriak wanita itu saat suaminya menyatukan tubuh mereka.
***
Seminggu berlalu, kini Velyn masih berbaring di ruangan intensif setelah menjalani operasi keduanya. Tubuh kurus kering yang semakin membuat Andra dan Malia khawatir kini terus saja tak terlihat perubahan sama sekali. Andra hanya berharap semoga Velyn lekas siuman, tidak perlu waktu yang lama jika ia masih diberi kesempatan maka Andra akan membahagiakan wanita itu semampunya.
"Andra, kamu yang sabar ya?" ujar Malia saat ia melihat tubuh Andra yang bergetar setiap kali mengintip tubuh Velyn dari balik pintu kaca dibelakangnya. Meski Andra hanya bungkam dan tersenyum sesekali padanya, tapi kecemasan juga ketakutan sangat tercetak jelas di wajah pria satu itu.
"Sa-saya nggak apa-apa kok tante, harusnya saya yang bilang gitu je tante"
"Kamu nggak perlu membohongi diri kaya gitu, tante tau apa yang kamu rasakan kurang lebih sama dengan apa yang tante khawatirkan. Walau begitu, tante benar-benar berterimakasih, karena kamu berusaha menguatkan tante meskipun kamu sendiri juga terluka" ujar Malia seraya menghela nafasnya dan menatap kakinya yang kini menapak lantai putih rumah sakit tersebut. Pikirannya melayang, mengingat bagaimana Andra bersikap dewasa dan menenangkannya setelah tiba di Amerika tanpa Rega disisinya.
"Maafin tante, kalau aja dulu om dan tante nggak melarang kamu menikahi Velyn, mungkin kamu sekarang dan Velyn akan bahagia meskipun Velyn sendiri sudah seperti itu" kata-kata ya g terucap dari bibir Malia yang bergetar serta air mata pilu yang ia keluarkan membuat Andra mengerutkan keningnya dan menepuk punggung Malia. Meskipun berjuta maaf dan juga penyesalan yang tersisa, namun Andra maupun Malia atau siapapun tidak dapat membalikkan waktu dan memperbaiki segalanya. Andra juga bersalah, karena ia tidak memperjuangkan Velyn dan langsung menemui orangtuanya saat Velyn dipaksa menikah dengan pria yang sama sekali tidak ia cintai. Andra memilih menyerah sebelum berjuang, itu membuktikan bahwa ia sudah kalah dari awal.
"Tante nggak perlu minta maaf, itu semua memang sudah takdir dan harusnya terjadi. Disamping itu saya juga salah karena melepas Velyn begitu saja. Sebagai laki-laki, seharusnya saya berusaha lebih keras meyakinkan kalian bahwa saya bisa membahagiakan Velyn karena saya mencintainya, bukan malah lari dan pergi untuk membenci. Saya pengecut tante, makanya Tuhan ngasih kesempatan Velyn bahagia lewat Valdo" Malia menggeleng seraya menyeka air matanya. Bagaimana dulu ia bisa buta dan menutup mata akan kebahagiaan putrinya. Bahkan pilihan putrinya amat baik dan sangat menyayanginya meskipun keadaan Velyn sudah tidak lagi cantik dan sempurna. Sedangkan ia tahu bahwa Valdo berani membatalkan perjodohan mereka karena Velyn yang tidak cantik dan tidak bersinar seperti mutiara sewaktu ia masih kecil dulu.
Hanya karena saham perusahaan yang anjlok dan terancam bangkrut, mereka rela menjual anak sendiri kepada pria yang dari awal sudah membuat keluarganya dipermalukan. Seharusnya sejak awal Malia sebagai ibu mengerti dan memahami keputusan Velyn. Egois, mungkin Malia baru menyadarinya akan hal itu setelah sekian lama. Wanita paruh baya itupun bangkit dengan air mata yang menetes dan merembes di pipinya ia kemudian berlari entah kemana, membuat Andra ikut bangkit dan hendak mengejarnya, namun urung.
"Tante mau kemana?!" teriak pria itu namun tak digubris sama sekali oleh Malia. Meski sejujurnya Andra sadar apa yang dirasakan oleh wanita itu, tapi tidak baik jika Andra mengatakan hal yang tidak-tidak, ia takut Malia akan semakin terpukul dan menyesal. Padahal bukan itu niatnya, ia hanya ingin mengutarakan perasaannya yang sebenarnya kala itu.
"Maafin aku Velyn!" Andra mengingat betul bagaimana Velyn mengejarnya di mall saat bertemu dengan sahabat lamanya. Nafas yang memburu, debaran jantung yang tidak dapat di kontrol walau jarak mereka sudah terlampau jauh. Kalau saja Andra mau mendengarkan apa yang dikatakan Velyn saat itu, kalau saja ia tidak menyerah semudah itu, mungkin saja keluarga Velyn mau mempertimbangkan karena mereka saling mencintai.
Segenggam masa lalu yang buruk karenanya membuat Andra tidak ingin mengingat masa lalu itu lagi. Mulai sekarang, ia berjanji akan selalu ada untuk wanita yang paling ia cintai, ia tidak akan mengulangi kesalahannya untuk kedua kalinya. Getar ponsel Andra membuat pria itu tersentak, ia kemudian keraih ponsel yang berada di saku celananya dan mendapati pesan dari Rega.
Rega: 'gimana kabar lo? Velyn sama bunda?'
Andra mengingat kembali sebelum Velyn masuk keruangan itu, saat Velyn yang tengah bertarung dengan rasa sakitnya sempat membuka mata dan menatap Andra dengan senyuman dan mata yang sayu.
"Jangan bilang kak Rega ya Andra, aku mohon"
Mungkin kata sederhana itu yang bisa Andra tangkap meskipun Velyn sudah tidak kuat lagi untuk berucap. Andra amat paham dengan perasaan Velyn yang beberapa waktu lalu sempat menginginkan kebahagiaan Rega. Kalau lelaki itu tau kondisi Velyn yang seperti ini, mungkin saja Rega tidak akan tinggal diam dan memilih untuk menyusul Velyn daripada honeymoon yang sudah ia rencanakan sebelumnya. Tak butuh waktu lama, Andra segera mengetik pesan untuk membalas chat dari sahabatnya itu meskipun ia tau rasanya ia sendiri seperti memikul beban karena telah membohongi Rega.
Andra: 'Mereka baik-baik aja kok. Lo nikmati bulan madu aja, balik kesini bawain ponakan. Gue bakal jaga Velyn sama Tante, lo bisa percaya sama gue.'
Andra menghela nafasnya, tidak mudah baginya ketika ia berbohong pada Rega perihal adiknya sendiri. Tapi mau bagaimana lagi, ia sudah memegang janji Velyn sebelum wanita itu tak sadarkan diri. Sudah hampir satu bulan rasanya, namun Velyn tak kunjung bangun dari koma nya.
Seorang suster keluar dari ruangan Velyn dengan berjalan cepat untuk pergi entah kemana. Rega hanya mampu menyandarkan punggungnya saat ia lagi-lagi tak mendapatkan informasi memuaskan dari perkembangan penyakit yang diderita wanita yang amat ia cintai. Namun, nafasnya yang berlangsung tenang kini tiba-tiba dikejutkan oleh dokter dan beberapa perawat yang berjalan menuju ruangan Velyn berada. Andra segera bangkit, ia mencegat salah satu suster lalu tanpa basa-basi bertanya tentang keadaan Velyn yang membuat matanya membulat dengan kerutan khawatir di dahinya.
__ADS_1
"Excuse me, did something happen?"
"Permisi, apa yang terjadi?"
"Sister Velyn is having convulsions after the medication. We don't know how it will go if the doctor doesn't check her soon. Please calm down, so far the patient is a strong person"
"Saudari Velyn mengalami kejang-kejang setelah pemberian obat. Kami tidak tahu bagaimana kelanjutannya jika dokter tidak segera memeriksanya. Tolong tenang, sejauh ini pasien adalah orang yang kuat"
Perawat itu kemudian melangkah kedalam setelah mengatakan hal tersebut pada Andra. Pria itu segera beranjak kearah pintu kaca untuk mengintip bagaimana keadaan Velyn setelahnya. Mata Andra memanas melihatnya, meski ia yakin dibalik para dokter dan perawat yang memakai jubah serba putih dan sebuah penutup kepala mengerumuni tubuh Velyn. Lalu seorang perawat menarik korden dan menutupnya, membuat Andra menjadi tidak bisa menatap kegiatan mereka.
"Velyn, kamu pasti kuat. Aku bakal nunggu kamu, berapa lama pun, asalkan kamu mau bertahan dan bangun, aku bakal terus ada disini" gumam Andra seraya mengeluarkan air matanya.
***
Dua Minggu berlalu dari bulan madu yang diinginkan Rega, kini Rega dan Mega bersiap untuk menuju bandara. Didalam mobil, wanita yang memakai jaket tebal berwarna dusty dengan syal yang menempel pada lehernya kini memeluk tubuh pria yang berada disampingnya. Ia tersenyum lalu memeluk lengan Rega erat. Begitupun Rega yang kini meraih jemari istrinya dan menggenggam erat seolah tak ingin terpisah lagi.
"Kamu nggak mau balik ke Indo dulu aja? yakin mau nemenin aku ke US?" kata Rega dengan senyuman, Rega hanya ingin mengunjungi Velyn yang kini menjalani pengobatan disana. Selama hampir setahun wanita itu menderita dengan keadaan tubuhnya yang kurus mengering. Sebagai seorang suami, pastinya ia tidak mau istrinya melihat sendiri bagaimana kondisi Velyn yang semakin kurus dengan wajahnya yang pucat. Meski bunda sudah mengatakan bahwa Velyn keadaannya mulai membaik, tapi tak menutup kemungkinan bahwa Rega ingin mengunjunginya walau hanya sepekan.
"Mas, aku kan udah bilang ke kamu. Aku bakal ikut kamu kemanapun kamu pergi. Kita hadapi semua
sama-sama ya, aku bakal nemenin kamu mau susah ataupun senang. Dan jangan pernah berpikir buat ninggalin aku lagi"
"Sayang, aku nggak bakalan ninggalin kamu kok. Aku kan udah janji" Rega memeluk tubuh istrinya dan mencium pipi wanita itu dengan gemas. Betapa bahagianya mereka saat ini, menjalani hari-hari berdua. Tidak ada lagi penyesalan maupun keinginan untuk berpisah seperti dulu lagi.
Enam belas jam berlalu, kini Rega dan Mega sudah sampai di Amerika bersama Mega yang berjalan bersamanya. Pria dan wanita itu keluar dari taksi yang mereka pesan dan segera masuk kedalam bangunan besar rumah sakit yang ada dihadapannya. Rega tersenyum pada istrinya, namun anehnya Mega malah tersenyum canggung. Hal itu membuat Rega sedikit merasa aneh pada istrinya.
"Kamu kenapa?"
"Enggak, ayo masuk sayang" jawab Mega meski tanpa ekspresi. Wanita itu sebenarnya sudah tau bagaimana keadaan Velyn satu jam lalu dari ponsel Rega yang ia bawa. Keadaan Velyn yang memburuk, serta operasi yang dilakukan beberapa kali dalam satu bulan berjalan membuat wanita itu koma hingga sekarang. Mega takut suaminya akan syok, apalagi pesan itu dikirim dari ibunya sendiri.
Setelah beberapa saat, mereka akhirnya melalui ruang koridor dan beberapa lorong serta lift yang membuat mereka naik keatas lantai lima. Mega hanya diam membisu tanpa bicara sepatah katapun, membuat suaminya sedikit bertanya. Sampai akhirnya, ia melihat bunda dan Andra yang duduk diruang tunggu lalu bangkit setelah melihat keduanya berjalan kearah mereka.
"Rega!" pria itupun berlari saat bunda memanggil namanya. Ia memeluk bundanya yang menangis, hal itu membuat hati Mega teriris. Bagiamana lemahnya ibu mertuanya saat ini ketika putranya sendiri baru hadir setelah apa yang dialami putrinya.
Bahkan isi pesan yang berisi ribuan kata maaf karena Malia merasa bersalah atas kebungakaman nya pada Rega perihal kondisi Velyn selama mereka berbulan madu. Tanpa sadar air mata Mega menetes saat melihat suaminya sendiri terduduk lemas mendengar apa yang dikatakan ibunya. Wanita itu buru-buru melangkah dan menepuk punggung suaminya yang kini mulai terisak karena keadaan Velyn sudah diujung tanduk.
"Maafin bunda ya nak"
"Kenapa bunda-"
__ADS_1
"Sudah mas, aku ada disini buat kamu. Nanti kita lihat Velyn sama-sama ya?" meski hanya itu yang bisa Mega katakan, tapi setidaknya kehadirannya bisa membuat Rega lebih tenang. Pria itu kemudian memeluk istrinya dengan erat. Pelukan yang penuh luka dengan tangis Rega yang tidak bisa dibendung. Begitupun Mega yang kini mulai meneteskan air matanya dengan hatinya yang ikut terluka.