Velyn Love

Velyn Love
Akhirnya


__ADS_3

Tubuh rapuh dengan mantel tebal yang ia gunakan untuk menghangatkan tubuhnya dari dinginnya musim dingin yang berkepanjangan, kini wanita tanpa rambut itu menatap kosong jendela dihadapannya. Jendela yang mengarah pada hujan salju yang membuatnya ingin menitikkan air mata lagi dan lagi.


"Lyn, makan dulu yuk nak" ajak bunda membuat wanita itu menggeleng.


"Kak Rega pasti udah sampai di Indo kan bunda?. Aku jadi ngerasa bersalah gara-gara udah marah-marah ke kakak. Kak Rega aja sampai nggak mau pamit aku dulu" sesal Velyn yang memutar kursi rodanya menghadap bunda yang tengah mempersiapkan makanan Velyn. Alhasil, bunda pun menghentikan aktivitasnya dan menaruh sendok itu kembali diatas meja seraya menatap putrinya.


"Rega nggak kecewa sama kamu Lyn, dia cuma takut kamu terpukul lagi" Velyn menghela nafasnya, ia ingat jelas apa yang dikatakan olehnya saat mengingat wajah tercengang Rega yang amat terkejut ketika Velyn dengan lantang memaki kakak kandungnya sendiri. Ia menyesal telah membuat Rega merasa seperti itu, padahal Rega tidak berniat untuk mencelakai bayinya.


Velyn membalikkan kursi rodanya lagi, ia menatap salju lagi dari balik jendela yang memantulkan pemandangan luar biasa itu. Kini Velyn sudah tidak lagi terluka, ia lebih memilih untuk menghadapi kenyataan yang ada dengan berpasrah akan kehidupannya yang tidak kunjung mendapat perubahan pasti.


"Bun, untungnya Andra dan Kak Valdo udah jauh dari Velyn ya. Jadi mereka nggak akan nyesel kalau Velyn jadi kaya gini. Apalagi kak Valdo, dia kan dari dulu benci banget sama aku. Pas waktu aku gendut pun kak Valdo natap jijik ke aku tiap kita ketemu" celoteh Velyn tanpa beban meskipun sesak masih terasa dalam hatinya. Tapi entah mengapa, sejak kapan ia tidak merasa sakit ketika mengingat kenyataan kehidupan berkeluarga yang telah gagal bersama Valdo. Mungkin karena ia sibuk berobat juga memikirkan bayinya, maka ia tidak lagi merasa sesak ketika tiap kali teringat kehidupan Valdo yang sudah bahagia.


"Padahal dulu Andra nerima Velyn apa adanya, meskipun Velyn gendut dan jelek tapi Andra tetep sayang sama Velyn. Tapi sekarang, Velyn kurus bun, Velyn udah nggak punya rambut sebagai mahkota lagi. Apalagi dengan status Velyn yang kaya gini, jangankan Andra, mana ada orang yang mau-. Loh!"


"Kamu tetep cantik kok" ujar pria yang kini memakaikan rambu palsu pada kepala Velyn. Velyn membalikkan kursi rodanya, ia terkejut saat melihat Andra yang tersenyum padanya. Senyum hangat dan juga wajah tampan yang teringat di memorinya kini kembali dalam dunia nyata yang terpampang jelas didepannya.


"Andra!"


"Mau gimana pun bentuk kamu, mau gendut kek, kurus kek, sampai nggak berambut, kamu bakal tetap jadi Velyn" wajah Velyn memerah mendengarnya, detak jantungnya berpacu begitu Andra berlutut dan menarik jemarinya, ia mencium punggung jemari Velyn, membuat wanita itu terperangah tak percaya.


"Cantik" satu kata yang tak pernah berubah, sampai membuat pipi Velyn bersemu merah. Andra yang tersenyum padanya saat pertamakali menyatakan cinta padanya dulu kini seperti hadir kembali dalam keadaan sepi juga hatinya yang terasa kosong. Velyn masih bungkam dalam pandangannya yang tak berpaling sedikit pun dari wajah Andra yang kini beralih mencium keningnya.


"Andra, kok kamu bisa ada disini?" tanya Velyn setelah ia menyadari bahwa mereka berada di ruangan itu tanpa adanya Malia.


"Rega yang minta ke aku buat ngasih support ke kamu. Sekaligus, kalau aku diijinkan aku pengen mulai semuanya dari awal"


"Ndra? aku-"


"Aku tau mungkin ini buru-buru, setelah apa yang terjadi sama kamu, nggak seharusnya aku bicara terang-terangan kaya gini. Tapi, aku cuma pengen ngikat wanita yang benar-benar pengen ada buat aku selamanya. Aku pengen kamu sadar, bahwa meski kamu kehilangan apapun, sekalipun itu nyawa kamu, kamu tetap jadi wanita yang paling aku cintai Velyn"


"Andra!" teriak Velyn lantang membuat Andra menatap wanita itu dengan pandangan kecewa. Mungkin kata-kata Andra terlalu spontan dan tiba-tiba. Disaat Velyn masih terpuruk, ia mengutarakan keseriusannya. Andra bisa memaklumi, pria itu kemudian bangkit dan tersenyum getir. Senyum yang pernah ditujukan olehnya saat Velyn akan menikah dengan pria lain setelah putus dari Andra.


"Maaf ya, nggak seharusnya aku lancang. Aku-"


"Ndra, aku bukannya mau nolak kamu.Tapi hidup aku nggak lama Ndra, aku bisa aja mati kapanpun-" kata-kata Velyn terhenti saat jemari telunjuk Andra menutup mulut wanita itu. Bukan hanya ketakutan, tapi tubuh Andra yang gemetar tiap kali mendengar kabar buruk dari Velyn membuat ia merasa tersiksa, apalagi jika Velyn sendiri mengatakan hal yang tidak-tidak tentang masa depannya yang belum pasti.


"Kamu nggak berhak ngomong kaya gitu Lyn, setiap yang bernyawa pasti bakal mati, tapi masalah kapan, kamu nggak berhak buat nentukan. Kita berusaha sama-sama ya? aku bakal selalu ada buat kamu, aku bakal dampingi kamu walaupun hasilnya nggak sesuai dengan harapan" tangan Andra terbuka dan dan menengadah didepan wajah Velyn, ia hanya berharap jika Velyn mau menerima uluran tangannya meskipun itu berat untuknya. Velyn yang bimbang pun terdiam cukup lama, ia menatap jemari Andra yang terulur untuknya. Tidak lama setelah ia berpikir panjang, Velyn pun meraih jemari itu dan tersenyum kearah Andra dengan senyuman merekah.


"Makasih Ndra" isak Velyn setelahnya. Ia bahkan tidak menyangka jika masih ada orang yang mau padanya meskipun kini dirinya tak lagi sempurna. Tangis dirasakan olehnya dengan haru yang penuh senyuman lega dari Andra. Pria itu kemudian memeluknya, memeluk tubuh kecil Velyn yang hanya tersisa tulang belulang saja.


"Aku cinta kamu Velyn"


***


Rega menghela nafasnya saat ia sudah sampai di ibukota dengan selamat setelah menempuh perjalanan dalam dua puluh jam lamanya. Ia kemudian masuk kedalam taksi yang sudah ia pesan beberapa menit lalu.


"Sudah pak?" tanya pria paruh baya yang menyetir mobil itu membuat Rega mengangguk dan segera meraih ponsel dari dalam sakunya.


"Iya, sesuai aplikasi ya pak" ujar Rega membuat sang supir hanya mengangguk, menyetujui kata Rega. Pria itu menscrol layar ponselnya ke kanan dan ke kiri, mengecek beberapa email yang masuk beberapa waktu lalu. Namun seketika ia mengganti layar email dengan galeri yang berisi foto-foto yang begitu ia rindukan.


Kali ini Rega pulang untuk gadis itu, gadis yang terlambat ia dapatkan setelah sekian lama ia menjaganya juga cinta yang masih tertanam di hatinya. Rega mengeluarkan kotak beludru dari dalam sakunya, ia membuka kotak berwarna merah tersebut. Kilau berlian tampak terlihat semakin indah jika saja ia tidak terlambat untuk melamar Mega.


Rega menutupnya kembali, ia menarik nafas dalam-dalam seraya menyimpan kotak tersebut kembali kedalam sakunya.


"Putar balik pak, kita ke pantai saja sekarang" ucapnya tiba-tiba membuat pria paruh baya itu mendelik terkejut mendengar perkataan Rega.

__ADS_1


"Tapi pak, pantai kan masih jauh dari sini. Ada biaya-"


"Nggak apa-apa pak, saya pasti bayar. Nanti sekalian tungguin saya ya. Saya cuma sebentar aja kok, nanti saya bayar lima kali lipat, buat ongkos nungguin saya" senyum merekah ditujukan pria paruh baya yang menyetir taksi itu. Tanpa basa-basi, mobil pun putar balik menuju pantai yang diinginkan Rega. Entah mengapa, ada hasrat ingin mengunjungi tempat kesukaan Mega saat dulu mereka masih bersama. Setidaknya saat ini, Rega ingin mengulang kembali masa-masa yang telah hilang itu dengan suasana baru.


Tak butuh waktu lama, perjalanan menuju pantai memakan waktu sekitar setengah jam. Rega turun dari mobil itu seraya melangkah diatas pasir putih yang masuk sebagian kedalam sepatunya. Hawa sepi tanpa pengunjung seperti biasa saat hari senin tiba. Suasana yang sepi ini membuat ia rindu akan wanita itu, wanita yang berlarian di atas pasir dan ombak yang menyapu pantai.


Rega semakin mendekat kearah bibir pantai, ia membuang nafasnya beberapa kali saat angin yang menerpa wajah tampannya tak sengaja membuatnya menatap sebuah tangan yang melambai ditengah laut. Rega menajamkan pandangannya, tidak salah lagi. Ada orang yang hampir tenggelam dihadapannya. Rega buru-buru melepaskan jasnya, ia melempar sepatunya kesembarang tempat dan tanpa aba-aba langsung terjun ke laut. Pria itu berenang bebas, ia dengan cepat berenang ketengah laut dan segera menggapai wanita berambut panjang itu.


"Hosh hosh... hosh... Mega! bangun!" Rega yang mendapati Mega tenggelam segera menariknya ke tepi pantai dan langsung menjauhkannya dari air. Rega menekan dada Mega beberapakali, namun Mega tak kunjung bernafas sedikitpun.


"Mega! kamu harus bertahan!, aku nggak bisa tanpa kamu Mega. Bangun!" teriak Rega frustasi. Pria itu kemudian segera menarik nafas dalam-dalam dan memberikan pertolongan PCR untuk gadis yang kini bibirnya semakin membiru itu. Dengan sekuat tenaga Rega tak henti-hentinya memberikan nafas buatan untuk Mega dengan tangis yang tanpa sengaja tertumpah ruah begitu saja.


"Mey, bangun! hiks!" Rega benar-benar panik, Mega tak bergerak sedikitpun meskipun ia telah memberikan nafasnya beberapa kali. Rega buru-buru mengambil nafas dalamnya lagi dan memberikan nafasnya kuat-kuat untuk Mega.


"Uhuk uhuk!" tubuh Rega bergetar, ia dengan kuat memeluk tubuh Mega yang tampak lemah dipelukannya. Namun Rega sangat amat bersyukur gadis yang ia cintai telah bernafas lagi.


"Re-Rega" ucap pelan gadis itu membuat Rega mengangguk dan menangis tanpa henti. Tubuhnya yang bergetar masih dapat Mega rasakan dalam pelukan yang erat.


"Kalau nggak ada aku gimana Mey?! kamu kenapa nekat kaya gitu! aku khawatir Mey, aku takut" Meskipun tubuh Mega amat lemah, tapi ia bersyukur jika Rega kembali dan menyelamatkannya.


"Aku cinta kamu Mey, kamu nggak boleh pergi" mendengar perkataan Rega, kesadaran Mega sedikit demi sedikit hilang. Gadis itu pingsan dalam pelukan Rega yang amat mencintainya, meskipun ia akhirnya tak sadarkan diri dengan senyuman yang menjadi akhir dalam ingatan terakhirnya.


Setelah drama yang dilakukan Mega di pantai, kini pria itu membawa gadis itu ke apartemen miliknya. Rega memang sengaja tidak ingin ada orang yang tahu tentang kejadian ini, termasuk pembantunya dirumah. Ia tidak ingin Malia mendengar kabar tidak menyenangkan darinya setibanya di Indonesia.


"Gimana keadaannya dok?"


"Pasien sudah mulai membaik, mungkin dia pingsan karena syok. Untung anda menyelamatkannya diwaktu yang tepat, kalau tidak bisa saja air akan masuk kedalam paru-parunya, itu adalah hal fatal yang mungkin terjadi jika anda terlambat sedikit saja. Tapi untunglah, anda berhasil menariknya ke pantai" hela nafas Rega tak terelakkan mendengar pernyataan dokter. Ia pun tak menyangka jika dirinya akan datang diwaktu yang tepat. Kalau saja ia tidak datang ke pantai, mungkin ia akan mengunjungi rumah duka untuk saat ini, mengingat pantai itu masih sangat sepi.


"Saya beri vitamin dan juga obat agar dia pulih dari syok nya serta memulihkan energinya. Vitamin cukup diminum sekali sehari, obatnya tiga kali sehari sehabis makan" Rega mengangguk seraya menerima obat yang diberikan dokter padanya. Ia pun mempersilahkan dokter untuk keluar setelah pemeriksaan terhadap Mega selesai.


"Sebenarnya apa yang terjadi sama kamu Mey, kamu hampir tenggelam kalau aku nggak ada ditempat itu. Kamu nggak mungkin kan jalan dipantai dan tiba-tiba tertarik ombak. Kamu-" Rega terdiam saat gadis yang berbaring dihadapannya itu mulai menggeliat dan membukanya matanya perlahan.


"Mey? kau udah sadar? kamu perlu apa? mau minum?"


"Re-Rega" suara samar yang terdengar itu membuat Rega menelan salivanya.


"I-iya Mey, gimana perasaan kamu? pusing? atau-" Mega melihat sekeliling kamar tersebut, kamar asing yang membuatnya paham jika Rega tidak membawanya ke rumah sakit. Ia pun hendak bangkit lalu berhasil di raih oleh Rega sebelum tubuhnya ambruk.


"Kamu mau kemana? udah istirahat aja dulu" ujar pria itu yang membantu tubuh Mega untuk menyandarkannya di sandaran ranjang. Mega melirik tubuhnya yang sudah memakai kemeja putih kebesaran, yang ia yakini milik pria yang kini hendak bangkit itu, namun dengan segera Mega menarik lengannya.


"Ga, kamu mau kemana? jangan tinggalin aku sendiri lagi" ujar gadis itu membuat Rega membalikkan tubuhnya lagi dan menatap Mega dengan hasrat membara jika gadis itu tidak bisa diam sedikit saja. Bagaimana hasrat Rega tidak bangkit jika Mega yang memakai pakaian transparan itu menggenggam erat jemarinya.


"Aku nggak bakalan ninggalin kamu kok. Aku cuma mau ngambil makanan buat kamu" Rega menepis jemari Mega dengan lembut, membuat gadis itu buru-buru bangkit dan memeluk tubuh Rega dari belakang saat pria itu hendak menghindarinya.


"Rega! aku cinta kamu" isak tangis gadis itu terdengar jelas saat wajahnya tenggelam di punggung pria itu. Rega yang mendengarnya pun hanya mampu berdiam, ia tidak mau terbawa suasana lagi. Meskipun sebenarnya ia juga masih sangat mencintai gadis itu, namun saat ini bukanlah hal yang tepat untuk dibicarakan.


"Mey, nggak seharusnya kamu ngomong gini ke aku. Ini nggak benar, aku udah tau semuanya. Kamu udah tunangan kan, dan sebentar lagi kamu bakal nikah. Aku-"


"Hiks! aku tau kamu kan yang gantiin aku baju, kamu juga yang bawa aku ke sini, kamu yang nyelametin aku. Aku juga denger, kamu bilang cinta ke aku, tapi sekarang kamu malah pura-pura nggak peduli gini!" Rega mendengus, pria itu membalikkan tubuhnya dan melepaskan pelukan erat dari Mega padanya. Ia menatap Mega yang tengah rapuh dan menunduk tanpa mau menatapnya itu. Tangisannya yang terisak sangat membuat batinnya tersiksa.


"Mega, aku peduli karena aku manusia biasa. Meskipun aku begitu ke kamu, tapi itu cuma batas kewajiban aku sebagai manusia liat kamu yang hampir mati tenggelam. Tapi aku sadar betul status kita gimana jadi-"


Cup! satu kecupan yang amat dalam mendarat di bibir Rega. Rega hanya mampu mendelik saat Mega ******* bibirnya dengan hangat. Tanpa sadar kini Rega pun terbawa suasana, apalagi dengan keadaan mereka sekarang. Mega segera menarik Rega dan menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, alhasil mereka kini ambruk serta tubuh Rega yang tanpa sengaja menindih gadis dihadapannya yang kini antusias melepaskan kancing baju Rega satu persatu tanpa melepaskan pagutan di bibir mereka.


Kini baju Rega sudah lolos dari tubuh bidangnya, hal itu membuat Mega tersenyum nakal dan melepaskan pagutannya dan segera mencium pipi Rega. Gadis itu tak henti-hentinya menggoda membuat telinga Rega memerah menahan hasrat .

__ADS_1


"Mey!" Rega tanpa sengaja mendorong tubuh gadis itu, ia kemudian bangkit dari ranjangnya dan menatap Mega dengan pandangan tajam.


"Kenapa Ga?"


"Kita salah Mey, nggak seharusnya kita kaya gini!" meskipun adik Rega sudah bereaksi, tapi akalnya masih bisa berpikir normal tanpa hambatan. Terlihat sekali raut wajah kecewa dari gadis yang terduduk di ranjang miliknya itu. Meski begitu Rega tidak mungkin melakukan hal nekat yang jelas bukan haknya.


"Rega, kamu nggak nanya gimana aku bisa ada di pantai itu? atau kamu nggak nyesel kalau aja kamu nggak datang waktu aku hampir mati" Rega terdiam sejenak, ia hendak membalikkan tubuhnya untuk menghindar dari Mega. Tentu saja ia ingin tau, tapi Rega sadar ia amat tidak siap mendengar apapun yang berkaitan dengan musibah yang dialami Mega. Hal itu justru membuat hati Rega sakit dan tak hentinya menyalahkan dirinya sendiri. Namun, Mega melanjutkan perkataannya, ia mengatakan keadaannya yang tengah terpuruk dan hancur.


"Apa? kenapa?! kamu udah gila ya?!-"


"Iya aku gila!, gimana aku nggak gila kalau kamu ninggalin aku, aku yang dijodohin tapi aku nggak mampu buat nolak karena aku udah pasrah. Dan ternyata tunangan aku sendiri punya wanita lain. Aku cinta sama kamu Rega, aku bingung harus gimana kalau nggak ada kamu. Berpikir kalau kamu bakal nemuin wanita selain aku aja itu rasanya sesak, aku udah nggak punya jalan lain selain-" cup, Rega melanjutkan kecupannya yang sempat tertunda. Ia tidak sanggup mendengar apapun tentang Mega yang tengah terpuruk. Rega menyesal, ia amat menyesal karena tidak menyatakan keseriusannya terlebih dulu, hingga membuat gadisnya menderita.


Jemari Rega bergerak melepaskan kancing baju Mega. Rega sejujurnya sudah tidak tahan sedari tadi, akalnya sudah tercuci oleh pemandangan indah dihadapannya. Ia menindih tubuh Mega dan kecupannya turun. Desahan Mega membuat pria itu bersemangat lagi dan lagi.


"Re-Rega! ahh!"


"Kamu tahan ya sayang, aku pasti bakalan pelan-pelan kok" Mega mengangguk dan menuruti perintah Rega untuk melebarkan kakinya, kemudian Rega memulainya dengan lembut dan sangat hati-hati. Terlihat sekali wajah Mega yang memerah serta menggigit bibirnya dan matanya yang tertutup rapat. Ini adalah hal yang pertama bagi Mega dan tentu saja Rega tahu akan hal itu.


"Arrhggt!" Permainan pun di mulai dengan panas, darah segar pun keluar dari milik Mega membuat Rega puas karena mendapatkannya untuk pertama kali.


Bisikan cinta dari Rega membuat gadis yang kini sudah sah menjadi wanita itu tersipu. Mega yang awalannya merasakan sakit itu kini semakin lama menikmati permainan yang Rega berikan untuknya.


Waktu bergulir begitu saja, tak terasa langit yang bersinar terang, kini berganti dengan langit yang petang dan awan gelap yang menggantung di cakrawala. Setidaknya itu yang bisa Rega dan Mega nikmati saat kaca apartemen Rega terbuka dan memperlihatkan pemandangan menakjubkan saat mereka berpelukan seperti saat ini.


"Makasih sayang, aku cinta kamu" bisik Rega tepat ditelinga wanita itu, meskipun Mega merasakan bahagia karena melakukan pertama kalinya dengan pria yang amat ia cintai, tapi hatinya kembali sesak mengingat Rega yang tak ada niatan untuk menikahinya. Wanita itu mengangguk dan tersenyum, senyuman getir yang hanya mampu ia telan mentah-mentah seiring berjalannya waktu.


"Kamu kenapa Mey? kamu nyesel ngelakuin ini sama aku?" Mega menggeleng, ia menyentuh jemari Rega yang tengah menangkup wajahnya. Pria tampan yang selalu ia banggakan ini kini telah merenggut mahkota berharganya, itu membuktikan bahwa Rega lebih berharga daripada kehormatannya. Tidak mungkin ia menyesal karena sesuatu yang sama-sama mereka nikmati.


"Mana mungkin aku nyesel Ga, kamu itu laki-laki yang paling aku cintai makanya aku ngasih mahkota berharga ku buat kamu. Aku nggak perduli mau kita bakal hidup sama-sama atau nggak suatu saat nanti, kamu nggak perlu nikahin aku kalau itu buat kamu nyaman. Yang penting kamu jangan pergi lagi dari hidup aku Rega, itu udah cukup" ucapan Mega membuat Rega lagi-lagi merasa bersalah. Rega segera bangkit, ia kemudian duduk ditepi ranjang seraya meraih kotak beludru di laci nakasnya. Ini mungkin agar terlambat, tapi setidaknya ia bisa memberikan apa yang Mega impikan. Tidak perduli waktu yang telah bergulir maupun apa yang baru mereka lalui sekarang, tapi inilah saatnya dimana Rega akan mengutarakan keseriusannya secara nyata.


"Maafin aku Mega, selama ini aku nggak pernah ngertiin apa mau kamu. Meskipun terlambat buat bilang, tapi aku berharap kamu mau jadi pendamping hidup aku untuk selamanya. Mega Calista, will you marry me?" sontak saja mata Mega membulat, ia menutup mulutnya tak percaya saat setelah Rega membuka kota beludru dihadapannya, dan dengan terpampang indah sebuah cincin berlian sebagai mata ditengahnya. Mega buru-buru mengangguk, air matanya menetes begitu saja, tak sanggup menahan haru bahagia yang bercampur aduk menjadi satu.


.


"Iya, aku mau" Rega tersenyum bahagia, ia kemudian meraih jemari Mega dan menyematkan cincin itu di jari manis wanita yang ia cinta. Setelah itu Rega memeluk tubuh wanita itu dengan erat dan mencium keningnya seolah tak ingin kehilangan Mega. Rasa hangat juga bahagia menjalar di tubuh Mega yang kini larut dalam dekapan pria itu. Pria yang amat ia cintai sampai ia tidak bisa melupakannya.


...Rega Mega Special edition...


...



Rega Putra Chandra...


...



Mega Calista...




Edisi spesial karena sebentar lagi bakal tamat 😭😭

__ADS_1


__ADS_2