
"Velyn!"
"Ah, Andra udah Ndra, lepasin gue, ini sakit Ndra ah!" suara itu terus-menerus berdengung ditelinga Velyn. Teriakan juga desahan dari pria dan wanita disebrang sana yang tanpa sengaja ia dengar lewat ponsel yang menyambungkan telfon itu.
Velyn menutup mulutnya tak percaya, padahal dirinya tertidur dengan pulas. Namun mendengar ponselnya berdering dan melihat panggilan itu dari Andra membuat dirinya mengangkat panggilan itu segera. Tak disangkanya, ia mendapati suara mereka tengah berhubungan intim.
Begini cara Andra membalas dendam, bahkan Velyn tak setega itu ketika menyakiti Andra tanpa sengaja waktu itu. Tapi dengan tega, Andra sengaja menelfonnya dan memperdengarkan hubungannya dengan Angelita. Velyn benar-benar salah mengenal pria itu, pria lembut dengan aksennya yang baik hati. Kini dimatanya nilai Andra berubah seketika. Amarah bercampur jijik, kini Velyn rasakan kala mendengar suara mereka yang semakin brutal menikmati hubungan terlarang itu
Velyn menitikkan air mata, tangannya hendak bergerak mematikan ponsel itu namun suara disebrang sana membuatnya menunda.
"Hal-halo Lyn? ini lo? tolongin gue Lyn, gue udah nggak sanggup buat ngelayanin Andra. Andra bener-bener gila!" Velyn membulatkan matanya. Apa sebenarnya yang terjadi? suara Angelita bahkan sampai terbata dan lemas seperti itu. Velyn semakin tak mengerti dengan situasi macam ini.
"Aku nggak ada urusannya sama kamu, maaf aku lagi sibuk"
"Lyn! gue mohon tolongin gue, gue udah nggak sanggup lagi. Andra maksa gue, dan dia lagi mabuk. Gue nggak tau kenapa ponselnya Andra bisa terhubung ke lo, tapi cuma lo yang bisa bantuin gue. Gue mohon, bentar lagi Andra pasti maksa gue lagi" bujuk Angelita seraya menangis sesenggukan disebrang sana. Velyn merasa tak tega, meskipun dadanya begitu sesak tapi ia juga wanita. Apalagi sekarang Angelita tengah berbadan dua.
Setelah Angelita mengirimkan dirinya alamat bar, Velyn buru-buru berganti baju dan segera memesan taksi. Tidak ada waktu lagi, kalau tidak Velyn khawatir dengan bayi yang dikandung Angelita.
Memang rasanya tak adil, tapi jiwa kemanusiaan Velyn tergugah. Kali ini ia tidak hanya memikirkan soal perasaan tapi juga kepeduliannya. Daripada hatinya yang terluka, kini kekhawatirannya terhadap Angelita lebih penting.
__ADS_1
Velyn menggigit jemarinya, jantungnya semakin berdebar kala mobil taksi sudah terparkir tepat di depan bar yang ia tuju. Gadis itu buru-buru keluar, ia mengeratkan jemarinya. Baru pertamakali ini Velyn berhadapan dengan dunia malam seperti ini. Sebelumnya ia adalah gadis yang begitu terjaga, tidak pernah sedikitpun melihat maupun membayangkan hal hina yang disebut hiburan malam.
Velyn menguatkan hatinya, ia buru-buru masuk kedalam, menerobos beberapa pria dan wanita yang saling berjoget ria dibawah lampu disko yang berputar bersamaan dengan irama musik yang berdentum memekakkan telinga. Fak hanya itu, bau alkohol bercampur dengan asap rokok membuat indra penciumannya menajam, ingin ia menghindar. Velyn buru-buru masuk lebih dalam keruangan yang dimaksud Angelita. Ia melihat ruangan VIP bernomor 5 dan buru-buru membukanya.
Velyn membulatkan matanya, ia melihat adegan ini dengan mata kepalanya sendiri. Angelita berteriak seraya menahan kesakitan ditubuhnya kala Andra memperkosanya habis-habisan.
"Andra! stop! gue udah nggak kuat" teriak Angelita seraya menangis menahan tubuh Andra yang menindihnya. Hati Velyn begitu sakit melihat ini sekaligus amarahnya memuncak. Andra benar-benar kejam sekali, Velyn melangkahkan kakinya, ia menarik tubuh Andra yang telanjang bulat dan melemparkan pakaiannya agar menutupi sebagian tubuhnya.
Entah mengapa jiwa Velyn begitu ingin sekali memukul pria satu ini. Velyn menampar wajah Andra, hingga tubuhnya tersungkur di atas lantai. Sedangkan Angelita buru-buru bangkit dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Ia memeluk lengan Velyn erat-erat, matanya melotot ketakutan.
"Brengsek kamu Andra!" teriak Velyn yang kini membantu Angelita untuk memakai bajunya yang berantakan diatas ranjang. Sedangkan Andra, ia menatap wajah Velyn tak percaya, tak percaya jika Velyn sendiri datang untuknya.
"Aku cinta sama kamu Lyn! dia, dia cuma tempat pelampiasan aku doang. Aku cuma pengen kamu" ujar Andra yang kini melangkah maju hendak menyentuh lengan Velyn. Namun gadis itu buru-buru mengibaskan tangannya, Andra mengacak rambutnya. Terlihat Angelita yang masih lemas dengan isakannya yang masih tersisa.
Velyn semakin jijjk pada Andra yang tidak tau malu ini. Andra bahkan dengan berani menyentuh wajah Velyn membuat gadis itu murka dan menampar Andra sekali lagi.
Plakkkkk
"Jangan sentuh aku Andra! aku jijik sama kamu! aku kecewa sama perbuatan kamu yang hina ini! apa kamu tau, Angelita lagi hamil, dan itu anak kamu" mata Andra yang kini memerah semakin memanas. Apa? Angelita hamil? Andra bahkan tidak menyangka jika perbuatannya sampai membuat gadis itu hamil. Padahal niatnya hanya bermain-main saja.
__ADS_1
Andra memegang erat kedua pundak Velyn seraya menatapnya tajam. Pandangannya membuat Velyn tambah takut kali ini. Apalagi dikamar ini hanya ada dirinya dan Angelita. Sedangkan Angelita masih lemah, ia takut Andra melakukan sesuatu yang diluar batas saking gilanya.
"Aku nggak perduli Velyn! kalau dia hamil tinggal gugurin aja. Aku cuma mau anak sama kamu sayang" Andra hampir menerobos bibir Velyn jika saja Velyn tidak cepat menendang bagian bawah pria itu. Kini pikirannya sudah tidak karuan lagi. Seraya membantu Angelita untuk segera memakai bajunya lagi, Velyn mengawasi Andra yang kini mengaduh kesakitan seraya masih tersungkur diatas lantai.
Setelah selesai memakai bajunya lagi, Velyn buru-buru membopong tubuh Angelita untuk keluar dari ruangan itu, membiarkan Andra berteriak kencang memanggil namanya.
Velyn tak menggubrisnya, apalagi penampilan Andra begitu hina untuknya. Kini hilang sudah rasa kepercayaan serta perasaannya kala melihat bagaimana perubahan Andra seketika. Namun dihatinya, Velyn tetaplah sakit hati.
Kini dirinya dan Angelita sudah berada didalam satu taksi. Hening menerpa keduanya yang kini tengah berkelut pada pikirannya masing-masing.
Velyn memejamkan matanya, tangisnya pecah begitu saja mengingat perbuatan Andra yang begitu bejat. Asing dirasakan olehnya kala mengingat betapa indahnya kisah mereka berdua. Namun ditengah itu Velyn juga merasa bersalah, ini juga salahnya karena dia Andra jadi seperti ini dan membuat Angelita menjadi korbannya.
Velyn memeluk lengannya erat, ia masih membuang muka menatap jalanan seraya menangis tanpa bersuara.
"Kenapa lo yang nangis? disini lo udah tau kan siapa yang paling sakit?" gumam Angelita seraya menatap Velyn dengan pandangan nanar.
Velyn menggeleng, ia menghapus jejak air matanya.
"Maafin aku, ini semua berawal dari aku. Kalau bukan karena aku ninggalin Andra, dia nggak akan mungkin berbuat itu sama kamu" kata Velyn seraya terisak.
__ADS_1