
"Kalo kamu sampai ceraikan Velyn, papa nggak akan segan-segan buat nyakitin dia Valdo!"
Pikiran Valdo kini melayang mengingat ancaman dari papanya. Ini semua salah Velyn, kalau saja Valdo tidak menikah dengannya, ia tidak mungkin kehilangan jejak soal Lisa.
Begitu bodohnya Valdo selama ini ketika dirinya baru mengetahui keberadaan Lisa ternyata ada dibalik konspirasi dari papanya. Dan itu semua karena gadis itu, gadis yang kini secara sah menjadi istrinya.
Mengingat Gaisan saja yang selalu membela Velyn membuat Valdo tambah muak dan membenci gadis itu. Padahal Velyn tidak tau apa-apa, ia hanya gadis polos yang juga berperan sebagai korban. Tapi tetap saja, ketika Valdo melihatnya, ia begitu membenci san semakin jijik terhadap istrinya itu.
Katakanlah jika Valdo begitu kejam. Tapi ini semua juga bukan semata-mata ulahnya. Tapi ulah papanya yang terlalu menyayangi gadis itu. Jika saja Velyn tidak ada di dunia ini, mungkin saja Gaisan akan berhenti untuk menyakiti maupun menyandera Lisa.
Valdo menyandarkan punggungnya dikursi kerjanya yang terdapat dilantai bawah rumahnya. Pria itu memijit pelipisnya seraya sesekali mengusap rambutnya ke belakang.
"Sialan!" umpatnya dengan suara keras seraya membuang berkas-berkas di atas mejanya hingga terjatuh di lantai.
***
Derap langkah kaki Velyn memasuki rumah besar itu, namun langkahnya tiba-tiba terhenti kala sebuah benda terjatuh dan terdengar nyaring tepat diruangan sebelah anak tangga.
Buru-buru Velyn melangkah dengan tergesa, tangannya hendak meraih daun pintu dimana tempat ruang kerja Valdo berada. Gadis itu membuka pintu dengan segera, tanpa memikirkan apapun saking khawatir dengan keadaan Valdo didalamnya.
Namun ketika pintu terbuka, ia dikejutkan oleh tatapan mata Valdo yang begitu tajam. Seolah ingin membunuh siapa saja yang berada di depan matanya. Termasuk Velyn yang kini berdiri mematung seraya menahan tubuhnya yang gemetar.
Terlihat barang-barang berserakan diatas lantai, menandakan bahwa Valdo benar-benar dikuasai amarah kali ini. Perasaan Velyn benar-benar tidak karuan, campur aduk serta pikirannya melayang kemana-mana.
Velyn memundurkan tubuhnya, ia hendak pergi saja dari tempat itu. Namun pergerakannya kalah cepat dengan Valdo yang kini menarik rambutnya membuat gadis itu meringis kesakitan.
__ADS_1
"Ah! kak Valdo, sakit" teriak Velyn yang kini memejamkan matanya karena tak berani menatap mata merah milik suaminya yang kini tengah menarik kuat rambutnya.
"Dasar perempuan pembawa sial!" teriak Valdo seraya menghempaskan tubuh Velyn hingga tersungkur di atas lantai. Gadis itu terisak, temperamen Valdo benar-benar buruk. Ia sampai tak bisa mengenali lelaki yang kini berdiri di hadapannya ini.
Velyn mencoba untuk bangkit, ia benar-benar taku saat ini. Melihat dari ekspresi dan tingkah Valdo, Velyn benar-benar ketakutan hingga dirinya ingin cepat-cepat keluar saja dari tempat ini.
"Mau kemana kamu ha?! aku belum bikin perhitungan ke kamu. Ikut aku sekarang!" Valdo benar-benar murka, ia meraih lengan Velyn seraya menariknya ke sebuah kamar mandi yang berada di dalam ruang kerja ini. Velyn masih mencoba memberontak, bahkan tangisan maupun isakannya diabaikan begitu saja oleh Valdo.
"Kak! kakak mau ngapain? sadar kak! aku ini istri kamu!" teriak gadis itu seraya masih bertahan memberontak. Namun Valdo tak ambil pusing, pria itu melemparkan Velyn kedalam bath tub dan menyiramnya dengan shower seraya menarik rambutnya agar Velyn tidak bisa bergerak.
"Aku benci sama kamu Lyn! kamu penyebab semua ini terjadi! aku benci sama kamu!" Velyn tidak dapat berbicara satu patah kata pun. Gadis itu masih menangis didalam guyuran shower dan menahan sakit di kepalanya akibat ulah Valdo.
Velyn mencoba untuk mencubit lengan Valdo, ia benar-benar tak tahan. Nafasnya seperti hendak hilang saja kala Valdo terus-menerus mengguyurkan air didepan wajahnya.
"Ah!" teriak Valdo saat menyadari Velyn mencoba untuk kabur dengan mencubit lengannya.
Saru tamparan keras mendarat di pipi Velyn saat gadis itu menahan nafasnya yang tersengal akibat kesulitan karena air yang sudah masuk banyak kedalam lubang hidungnya. Velyn meringis kesakitan, Valdo benar-benar sudah gila.
Velyn sama sekali tak mengerti dengan jalan pikiran pria ini yang baru saja melakukan tindakan kekerasan padanya. Perih hatinya mengingat kehidupannya yang seperti di neraka.
"Perempuan ******! kamu berani sama aku!"
"Kamu yang gila kak! kamu nggak waras! aku nggak pernah sedikitpun nyinggung kamu, tapi kamu nindas aku kaya gini, aku-"
"Diam!" Valdo mencekik leher Velyn, amarahnya benar-benar tak bisa dikontrol saat ini. dengan kekuatannya bahkan Valdo menenggelamkan wajah Velyn kedalam air bath tub yang hampir memenuhi tubuhnya itu.
__ADS_1
"Mati aja kamu Lyn!" Velyn benar-benar tidak bisa bernafas saat ini. Ingin sekali Velyn mati saja daripada harus merasakan penderitaan seperti ini.
Setelah Velyn pasrah, tiba-tiba Valdo menghentikan tangannya, ia membiarkan Velyn yang kini terbatuk-batuk seraya memegangi lehernya yang tengah memerah akibat ulah Valdo padanya.
Valdo segera pergi dari tempat itu, ia sudah gila saat ini. Demi seorang Lisa ia sampai tega menyiksa Velyn sampai sebegitu parahnya.
Tapi ini juga balasan terhadap papanya. Sudah bertahun-tahun ia menyandera Lisa dan kini sekarang giliran Valdo yang akan membalaskan dendamnya lewat Velyn.
Velyn meringkuk, ia memeluk lututnya didalam bath tub. Memar ditubuhnya seolah bisa menjadi bukti bagaimana kekejaman Valdo padanya. Bisa saja Velyn membawanya ke kantor polisi untuk membuat laporan. Tapi Velyn tidak mau melakukan itu. Itu sama saja dengan membuka aib keluarganya sendiri.
Velyn menangis sesenggukan, mengapa orang yang ia sayangi dan ia kagumi menjadi seperti ini? Velyn tidak pernah terlibat apalagi berurusan dengan Lisa. Tapi Valdo selalu menyalahkannya. Bahkan kini Velyn sampai menerima perlakuan yang tidak pantas.
Velyn memeluk tubuhnya, ia melangkah kekuar dari ruang kerja Valdo. Wajahnya memucat, menggigil serta bergetar akibat kedinginan.
"Ya ampun nyonya! nyonya kenapa? mari saya bantu" suara Santi beserta tangannya yang kini bergerak membantu Velyn untuk melangkah ke kamarnya membuat Velyn hanya bisa terdiam. Tatapannya dingin bersamaan dengan keadaannya yang sudah tidak seperti saat tadi dirinya tiba di rumah.
Setelah Velyn mandi dan mengganti pakaiannya, Santi dengan telaten mengeringkan rambut Velyn dengan hairdryer. Santi menatap miris pada Velyn yang kini masih menunduk seraya pandangannya yang kosong.
Kasihan sekali majikannya satu ini, padahal nyonya Velyn adalah majikan yang begitu baik, cantik dan rajin pula. Bisa-bisanya tuan Valdo memperlakukan istrinya seperti ini.
Santi sebenarnya tau saja keributan yang terjadi didalam sana. Tapi ia tak berani, hanya bisa menguping seraya menutup mulutnya. Mendengar isakan dan teriakan Velyn yang menyakitkan membuat hati gadis Santi ikut sakit.
"Mbak Santi" suara gemetar dan lemah itu membuat Santi yang melamun kini menghentikan aktivitasnya sejenak.
"Iya nyonya"
__ADS_1
"Kalau mbak Santi tau soal ini semua, janji ya sama saya jangan pernah bilang ke siapapun."