
Sebuah mobil berhenti di depan rumah sederhana bernuansa pastel itu. Jemari yang bergetar juga wajah cemas menunduk yang Rega tatap kini membuat hatinya tergugah untuk menyentuh jemari Mega yang kini beralih menatapnya.
"Mau aku antar sampai kedalam sekalian?" tanya Rega dengan penuh perhatian juga mengerti akan perasaan wanitanya saat ini. Bagaimana mungkin Mega tidak takut jika mamanya murka, selama tiga hari ini bahkan mereka tinggal bersama tanpa mengabari siapapun. Ponsel Mega pun hilang setelah ia lempar di pantai.
Mega hanya ingin menenangkan diri, begitupun hatinya yang terasa bahagia saat melihat Rega untuk pertamakali setelah enam bulan perpisahan mereka.
"Enggak perlu Rega, aku udah bertekad buat ngomong sama Mama" gumam Mega seraya tersenyum dan spontan mencium pipi Rega, membuat wajah pria itu merona. Setidaknya hati Mega sedikit lebih tenang karena ada Rega yang selalu ada disisinya.
Setelah mencium pria itu, kini Mega membuka pintu mobil dan hendak keluar dari mobil itu yang pasti membuat wajah Rega enggan untuk menatap lainnya.
"Mey"
"Iya?"
"Aku bakal berjuang buat dapetin kamu lagi, sekalipun mama kamu nggak setuju. Kalau perlu kita kawin lari aja" ujar Rega membuat Mega terkekeh dan memukul pelan dada bidang pria yang kini mendekat kearahnya. Pria yang membuatnya merasa hangat tiap kali mereka bersama, dan juga pria yang membuatnya nyaman setiap ada didekatnya. Akhirnya pria itu berani memberikan komitmen untuknya.
"I love you Ga"
"I love you too" begitupun perpisahan mereka saat Mega keluar dari mobil Rega dan menatap pria itu dengan pandangan yang penuh cinta.
Sesaat nafas Mega yang berhembus lega kini terasa berat kembali saat ia harus melangkahkan kakinya memasuki bangunan yang sudah ia sebut sebagai rumahnya. Sejujurnya Mega takut untuk kembali, apalagi membuka pintu gerbang itu. Setelah mobil Rega pergi, rasa was-was selalu muncul di hati Mega. Ia tidak mungkin mengatakan apa yang sebenarnya terjadi padanya begitu saja. Harus ada hati yang ia jaga, mungkin begitu pikirnya.
Mega berdehem, ia kemudian melangkahkan kakinya menuju kedalam rumah saat hawa pekarangan yang begitu sepi tak seperti biasanya. Mega melangkahkan kakinya ke teras, ia mengetuk pintu beberapakali dan akhirnya tak lama pintu pun terbuka.
"Ma-ma"
"Calista!" wanita setengah baya itu terdiam sejenak setelah matanya berkaca-kaca. Belum berlangsung sepuluh detik, saat Mama Mega memastikan dengan benar bahwa apa yang berada dihadapannya bukanlah khayalan semata.
Mama memeluk erat Mega, tangisannya yang menjadi membuat Mega merasa bersalah dan terluka. Ia ikut terisak mendengar mamanya menangis tersedu-sedu. Setidaknya Mega merasakan kasih sayang mamanya yang luar biasa sebelum ia menyadari bahwa kehidupannya tidak penting lagi karena seorang lelaki. Mega bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya mama jika saja ia nekat untuk bunuh diri dan tidak ada satupun orang yang menyadarinya.
Mama hanya memiliki Mega seorang, bukankah Mega begitu egois saat ia memilih jalannya tanpa memperdulikan perasaan orang lain. Mega amat menyesal, juga sakit saat mama semakin memperdalam pelukan mereka.
"Maafin Lista ma"
"kamu kemana aja Lista?! mama bingung nyari kamu! mama sampai nggak bisa tidur ingat kamu yang belum juga pulang. Mama takut kamu kenapa-kenapa?" isakan Mama membuat Mega ikut terisak, perih hatinya saat ia merasakan rindu yang membuncah saat bertemu mamanya. Mega menyesal, tidak sepatutnya ia bersikap egois.
"Maaf ma"
"Kamu kemana aja sayang? kamu di culik? atau kamu emang kabur? kamu punya masalah ya sama mama sampai kamu nggak pulang kaya gini"
"Ma, itu semua nggak bener. Nanti Calista ceritain pelan-pelan ya, kita masuk dulu sekarang okay" ujar Calista yang melepaskan pelukan mamanya dan mengajak mamanya untuk masuk kedalam rumah.
Setidaknya Mega sudah mempersiapkan dirinya untuk berkata jujur. Ia hanya berharap semoga mama menyetujui apa yang ia mau.
"Mama" gumam Mega seraya menatap jemari mamanya yang menggenggam erat jemarinya saat ini. Bahkan tubuh mama masih terasa bergetar saat Mega kembali memenangkan mamanya yang masih enggan melepaskan pelukannya sedari tadi.
"Devan?"
"Ada apa Lista? jangan-jangan kamu belum kabarin nak Devan ya? kamu harus cepat kabarin Devan nak, dia khawatir banget sama kamu" Mega terdiam dalam lamunannya, padahal Devan lah yang menyakitinya tapi pria itu malah semakin menyakiti Mega lagi saat ia begitu terang-terangan berpura-pura didepan mamanya. Bukannya seharusnya dia senang jika mendapatkan kabar buruk tentang Mega, dengan begitu Devan cepat atau lambat akan bersatu dengan orang yang dicintainya.
Memang tidak sepatutnya Mega menceritakan hal yang sebenarnya jika Devan sendiri masih berpura-pura baik seperti itu. Yang jelas mama bahkan tidak akan percaya dengannya jika Mega tidak memiliki bukti bahwa Devan adalah pria brengsek yang telah menipu mereka.
"Kenapa kamu ngelamun gitu nak? kamu mikirin apa? katanya mau cerita, sebenarnya kamu selama ini kemana Lista?" mama melepaskan pelukannya dari tubuh Mega, ia kemudian menatap lamat putri satu-satunya itu dengan pandangan penuh harap akan mengetahui semuanya tanpa ada yang ditutup-tutupi dari Mega sendiri.
"Ma, aku mau istirahat dulu boleh kan. Nanti kalau aku udah tenang, pasti bakal aku ceritain"
"Tapi-"
"Please ma, mama cukup tau kalau aku selama ini nggak apa-apa. Aku cuma pengen sendirian, maaf udah bikin mama khawatir" mama mengangguk, wanita itu kemudian mencium kening putrinya dan memeluknya sekali lagi. Bagi Mama yang terpenting saat ini adalah Mega sudah kembali dalam keadaan selamat. Tidak perduli apapun, mama hanya bisa memberikan waktu untuk Mega berbicara dengan sendirinya, karena mama tahu jika Mega pasti tidak akan bungkam selamanya.
Mega masuk kedalam kamarnya lalu mengunci pintu dari dalam, ia kemudian meraih frame foto pertunangannya bersama dengan Devan dan segera membuangnya ke tempat sampah. Tidak ada alasan lagi bagi Mega untuk peduli pada pria itu. Kini pendiriannya sudah kukuh untuk berpisah. Yang harus dipikirkan oleh Mega hanyalah bagaimana cara untuk memberitahukan mamanya.
Mega merogoh ponselnya dari dalam saku celana jeans-nya. Ia tersenyum menatap foto dari wallpaper yang terpampang wajah Rega dengan dirinya. Ponsel baru yang diberikan Rega kemarin agar ia mudah untuk dihubungi.
Mega merebahkan tubuhnya, ia kemudian menempelkan ponsel itu ke telinganya seraya menunggu panggilan itu tersambung.
"Halo sayang" ujar pria tampan itu diseberang sana membuat Mega menggigit bibir bawahnya dan kemudian bangkit untuk meraih boneka pandanya.
"Ga, kayanya aku nggak bisa cerita dulu ke mama"
"Kenapa?"
"Aku ngerasa waktunya belum tepat. Aku masih mau ngumpulin bukti dulu kalau dia bener-bener udah nipu keluarga aku"
"Mau aku bantu?"
"Nggak perlu sayang, ini urusan aku dan dia. Aku bakal selesaikan sendiri" Mega menarik nafasnya dalam-dalam saat ia bergerak bangkit ketika sebuah mobil terdengar dari balik pagar rumahnya. Ia kemudian mendekat kearah korden dan mengintip sedikit mobil siapa yang terparkir didepan rumahnya. Mega membulatkan matanya saat ia melihat mobil Devan, pria itu kemudian turun dari mobil dan bergegas menuju teras rumahnya.
"Sayang, kayanya dia kesini deh! pasti mama yang kasih tau" ujar Mega dengan wajah kesal bukan main setelah menutup kordennya. Ia kemudian duduk di kursi didekat meja belajarnya serta menahan kekesalannya sejak melihat wajah yang ingin ia hindari.
"Santai aja Mey, kamu nggak perlu keluar kamar. Kita ngobrol aja dulu, nyalain dong kameranya, aku pengen liat wajah calon istri aku nih" ujar Rega sensual membuat Mega terkekeh dan menyetujui apa yang pria itu katakan padanya. Mega kemudian mengganti panggilan biasa dengan panggilan video. Tampak wajah segar dari pria yang ia cintai kini tengah duduk di ranjang tanpa memakai baju atasan.
Sontak saja telinga Mega memerah menatapnya, apalagi wajahnya yang merona terlihat sangat amat cantik ketika Rega mengamatinya semakin dalam.
"Sayang, aku kangen kamu" gumam Rega membuat wajah Mega semakin memerah saja. Mega tau apa yang dimaksud pria itu dengan kata 'kangen'. Pasti ada maksud lain di dalamnya bukan.
"A-ku juga kangen kamu" balas Mega saat ia menatap pria itu yang tiba-tiba menjauhkan kameranya dari tubuhnya dan menaruhnya di tripod.
__ADS_1
"Rega! apaan sih!" tentu saja Mega terkejut karena pria itu ternyata tidak memakai baju sehelai benangpun, pria dengan rambutnya yang sedikit basah dan hanya menutupi bagian bawahnya dengan selimut tebal.
"Kok kamu kaget gitu? bukannya kamu udah liat semuanya ya?"
"Rega! jangan mulai ah!" kesal Mega saat wajahnya semakin memerah saat ia menatap dada bidang Rega diam-diam. Tubuh Mega memanas saat menatap Rega yang hanya diam dengan senyuman mautnya.
"Ya gimana, tadi kamu telfon pas aku selesai mandi"
"Ya kan pakek baju dulu bisa dong"
"Nggak mau! sengaja aja biar kamu pengen"
"Pengen apa?! jangan macem-macem ya kamu Rega. Aku ini dirumah" Rega terkekeh, ia kemudian menarik rambutnya kebelakang dan menatap wanitanya dengan amat sensual. Bibir bawah yang ia gigit, serta sebelah mata yang berkedip membuat Mega menelan ludahnya.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuat wanita itu menghela nafasnya kasar. Mengganggu saja, padahal baru saja mengobrol tapi mood Mega dikacaukan begitu saja. Pastinya tak lain dan tak bukan ini akibat dari Devan yang datang.
"Lista? kamu udah tidur?"
"Mama ngetuk pintu" gumam Mega dengan kesal seraya menatap Rega yang tak memperdulikan apapun dan hanya tersenyum dengan andalannya seperti biasa.
"Sebentar ya-"
"Hey mau kemana? nggak usah di gubris sayang. Katanya kamu mau nunjukin aku sesuatu"
"Apa, aku nggak bilang apa-ap-" Mega nyaris berteriak saat Rega tiba-tiba membuka selimut tebalnya. Ia menutup matanya rapat-rapat saat Rega terkekeh diseberang sana. Wajah Mega merah padam dengan pemandangan yang baru saja ia lihat didepan mata.
"Rega!"
"Udah masuk kedalam kamar mandi aja. Kunci pintu rapat-rapat" ujar Rega dengan senyuman jahilnya membuat wanita itu hanya mampu geleng-geleng kepala dan mengangguk menuruti perintah gila itu dengan perasaan berdebar.
"Gimana tante?" tanya Devan dengan jemarinya yang keringat dingin. Tante Indri hanya mampu menggeleng, hal itu justru membuat Devan sedikit lega. Pria itu sebenarnya hanya ingin datang berkunjung saja, tapi siapa sangka berita mengejutkan dari Mega membuatnya merinding juga takut.
Pasalnya, penyelidikan dari polisi sudah mengidentifikasi jika Mega hilang karena tenggelam di laut. Tentu saja Tante Indri pu tidak mengetahui kabar itu, barang bukti juga semua rekaman cctv telah membenarkan kejadian tersebut. Devan hanya ingin memberikan Tante Indri ruang lega sebentar saja. Tapi tidak disangka ternyata Mega malah kembali.
"Mungkin Calista lagi tidur, dia bilang mau istirahat tadi"
"Maafin Devan ya tante-"
"Kamu nggak salah Devan, Calista seharusnya bilang kalau mau pulang duluan nggak perlu kabur. Tapi tante yakin, dia kaya begitu pasti ada alasannya. Kamu tenang aja, Calista itu anak baik"
"Ah i-iya tante" ujar Devan dengan wajahnya yang pucat pasi. Setelah mimpi buruk yang ia alami selama ini, Devan sedikit merasa lega sekaligus tak bisa berpikir dengan jernih. Tapi, terlihat dari apa yang dikatakan Tante Indri sepertinya Mega belum mengatakan apapun tentang masalah mereka berdua. Setidaknya Devan harus bertemu dengan Mega terlebih dahulu sebelum masalahnya semakin membesar.
"Ah ah ah! Regaa!" lenguhan wanita yang kini menenggelamkan kepalanya di bathtub membuat pria yang berada dalam panggilan video itu puas bukan main. Meskipun hanya dengan melihat Mega mengalami pelepasan tanpanya, Rega sendiri senang karena Mega membayangkannya saat Mega memuaskan dirinya sendiri.
Meskipun begitu, sulit bagi Rega melupakan tubuh indah wanitanya yang terlihat amat jelas dari balik air yang menenggelamkan seluruh tubuh Mega itu. Rasanya Rega ingin meminta lebih dan segera mempercepat hubungan mereka agar segera menikah. Kalau saja Rega tahu rasanya bercinta begitu luar biasa seperti ini, sudah dari dulu ia meminang wanita pujaannya. Meskipun tujuan menikah bukan untuk itu saja, tapi Rega juga bahagia jika Mega selalu ada disisinya.
"Kamu seksi Mey, aku jadi kangen" ujar Rega membuat wajah Mega memerah. Ia tau apa yang dimaksud kangen pada ucapan Rega, padahal mereka baru berpisah beberapa jam lalu dan kini pria itu dengan gembiranya menggodanya seperti itu.
"Kamu sebenernya belajar dari mana sih?!"
"Video lah" mata Mega membulat mendengarnya. Rega benar-benar terlalu transparan, membuatnya tak habis fikir dengan apa yang dikatakannya barusan.
"Besok aku jemput ya..."
***
"Lyn, kamu nggak apa-apa mau keluar dari rumah sakit dengan keadaan kaya gini? diluar masih turun salju lo" kata Andra yang khawatir dengan keputusan Velyn. Memang bukan pilihan yang tepat untuk keluar dari rumah sakit dengan suasana seperti ini, tapi mau bagaimana lagi? Velyn juga amat bosan dan muak jika harus tinggal dirumah sakit. Lagipula ia juga sudah melahirkan meskipun anaknya harus gugur, jadi tidak ada alasan perawatan khusus untuknya sementara waktu.
"Kan ada kamu" ujar Velyn dengan senyuman membuat Andra mengerutkan dahinya. Sejenak ia terlena dan berdebar, namun apa yang ia pikirkan membuatnya sedikit ragu dengan perasaan Velyn sesungguhnya.
"Aku seneng bisa nemenin kamu, dan aku harap kamu bisa sembuh" setidaknya Andra bahagia melihat keadaan Velyn yang sudah membaik pasca putrinya meninggal. Tapi kali ini ia akan benar-benar menjaga Velyn sendiri, karena Malia sudah pulang ke Indonesia karena ada urusan mendadak. Tentu saja ia percaya dengan Andra, karena Rega sendiri percaya pada pria itu.
Meskipun sedikit ragu, tapi akhirnya Malia luluh dan melepaskan Velyn bersama Andra karena keadaan putrinya sudah mulai membaik, dan tinggal perawatan jalan saja.
"Kalau semisal aku nggak bisa sembuh, apa kamu bakal nyesel nemenin aku" Andra menggendong tubuh Velyn dan menaruhnya di atas kursi roda yang sudah ia siapkan.
"Nggak!" jawab spontan Velyn saat ia sudah duduk dengan benar dan menatap Andra dengan tatapan datar serta penuh pertanyaan dibenaknya.
"Aku nggak akan pernah nyesel selama itu tentang kamu. Bagi aku, mau hasilnya baik ataupun buruk, aku akan bahagia kalau berjuang buat kamu" ucapan Andra membuat mata Velyn menjadi sayu dan berkaca. Pria yang tidak pernah goyah padanya selama ini ternyata masih menyimpan harapan lebih, dan Velyn menyia-nyiakannya dengan mau menikah bersama orang yang tidak mencintainya. Mungkin apa yang dibilang Oca benar, ini semua adalah karma, karma karena ia telah menyakiti Andra yang begitu mencintainya.
"Ndra, kalau aku nggak bisa bertahan. Tolong bahagia ya" Andra yang mendengar perkataan Velyn kini menghela nafas berat. Wajah wanita yang menunduk itu membuat amarah Andra tidak tertahankan. Andra lalu mengangkat tubuh Velyn dan menggendongnya ala bridal style. Wanita itu terkejut bukan main ketika mata mereka bertemu lalu menyiratkan sesuatu.
"Ndra?"
"Aku pernah bilang kan, kamu nggak boleh nyerah dulu sebelum kita tau hasilnya. Jadi, jangan pernah bermimpi buat pergi Lyn" ujar Andra seraya melangkah keluar dari kamar tersebut. Velyn yang awalnya menyentuh punggung Andra dengan ragu kini mulai mempererat jemari pada leher jenjang Andra. Ia menenggelamkan wajahnya di dada bidang pria itu.
Mata Velyn memanas, namun senyuman di bibirnya tidak dapat membohongi perasaannya. Rasanya kini hatinya bercampur aduk, ia amat bersyukur jika Andra mau menerimanya kembali bahkan membuatnya untuk tidak menyerah.
***
"Besok aku jemput ya, jangan lupa dandan yang cantik. Kita bakal check in hotel Victoria"
Hati Mega terasa berdebar saat ia mengingat perkataan Rega yang amat sensual. Ia sampai memeluk guling dengan begitu erat seraya menggigit bibir bawahnya. Wajahnya yang memerah membuat tubuhnya terasa panas dan menegang. Apa mereka akan melakukannya lagi kali ini?.
Meskipun begitu, hati Mega terasa janggal. Apa yang dilakukan mereka tentu saja salah, melakukan hal tersebut di luar nikah. Kalau saja Rega mengutarakan niatnya terlebih dahulu, mungkin Mega akan menolak atau bahkan ia tidak akan menggoda Rega duluan.
__ADS_1
Tok tok tok
"Lista, makan malam yuk nak" ajak Mama dari balik pintu Mega membuat wanita itu terbangun dan segera berjalan kearah ambang pintu.
Ceklek
"Baru bangun ya?" Mega hanya mengangguk dan tersenyum saat mamanya mengatakan hal tersebut dengan tenang, seolah apa yang terjadi padanya tidak pernah ia alami. Tapi raut khawatir juga wajah yang amat gelisah tidak dapat ditutupi dari wanita setengah baya itu.
Mega mengikuti langkah mamanya menuju ruang makan, seperti biasa ia mengambil alih tempat duduk tepat didepan mamanya dan membalikkan piring yang sudah tertata didepan mata.
"Calista, jangan makan dulu ah!"
"Loh kenapa ma? bukannya biasanya langsung makan aja ya?" suara klakson mobil membuat wajah wanita itu langsung menegang sesaat. Tidak mungkin apa yang ada dipikirannya menjadi jawaban bukan? kalau benar maka Mega tidak bisa berbuat apa-apa.
"Itu-"
"Iya, nak Devan mau makan malam sama kita. Katanya dia khawatir banget sama kamu, siang tadi dia aja kesini-"
"Mama yang suruh dia kesini ya?" mama langsung terdiam saat Mega memotong pembicaraannya. Ia menatap putrinya, mata Mega yang membulat sempurna dengan wajah tegang juga ketakutan membuat Mama bertanya-tanya.
"Enggak, memang biasanya nak Devan selalu kesini semenjak kamu hilang. Kenapa memangnya Ta?"
"O-oh, nggak apa-apa kok ma, cuma tanya aja" suara bel yang berbunyi membuat Mega tersentak, ia menatap Mama yang memberikan kode untuk membukakan pintu. Mega menggeleng, ia benar-benar tidak tau harus mengatakan apa, tapi kali ini ia benar-benar ingin meledakkan emosinya pada pria satu itu.
"Kamu sebenernya kenapa sih sama Devan? kalian berantem ya?" tanya mama membuat Mega menggeleng seraya menghela nafasnya. Rasanya tidak tepat sekali jika ia harus mengatakan yang sebenarnya. Bagaimanapun Mega juga harus memberikan bukti agar mama percaya padanya.
Dengan terpaksa Mega kini bangkit dan melangkahkan kakinya menuju pintu depan. Ia dengan malas berjalan mendekat kearah pria itu yang tengah menunggu didepan pintu. Mega sedikit mengintip dari balik korden, ia menghela nafas seraya memutar bola matanya saat terlihat tampang tanpa disa yang ditujukan oleh pria busuk itu.
Ceklek!
Mata mereka bertemu, Devan diam seketika saat Mega menatapnya dengan pandangan tajam. Namun berbeda dengan Devan yang menatap wajahnya sayu. Jemari Mega mengepal saat menatap senyuman tanpa dosa dari balik topeng busuk Devan. Ia benar-benar ingin menghajar pria itu dengan pukulannya yang sangat keras yang telah diajarkan Rega padanya.
"Lista!" Devan yang hendak merengkuh tubuh Mega kini terdiam saat wanita itu melangkah mundur dari tubuhnya. Tatapannya masih sama tajamnya dengan tadi. Mega segera melangkah pergi meninggalkan Devan yang hanya mampu menelan salivanya saat ia yakini bahwa Mega telah menyimpan benci padanya.
Setelah beberapa saat mengalami hal ketegangan, kini akhirnya mereka duduk di ruang makan. Tak terkecuali Mega yang sedari tadi menatap tajam Devan yang tak menggubris pandangannya. Jujur saja, Mega benar-benar kehilangan nafsu makan saat ia duduk bersama pria yang ia benci itu.
"Calon menantu tante ganteng banget malam ini"
"Tante bisa aja, kan biasanya juga kaya gini tan"
"Nggak kok, hari ini kamu keren. Pasti karena mau tampil didepan anak tante ya, makanya dandan rapi kaya gitu" Mega hanya cuek seraya mengambil nasi yang berada didepannya. Ia bahkan tak menggubris piring yang di sodorkan Devan padanya agar Mega mau mengambilkan nasi untuknya. Raut wajah pria itu berubah muram, ia kemudian mengurungkan niatnya lalu beralih mengambil nasinya sendiri.
"Calista! kamu ada masalah apa sama Devan? kalian berantem ya"
"Enggak kok tante" ujar Devan tiba-tiba membuat mata Mega menajam. Wanita yang hendak memasukkan makanan kedalam mulutnya itupun urung, berganti dengan wajah kekesalannya yang kini menatap Devan yang masih tidak tahu malu tersenyum padanya.
"Mama itu tanya ke aku! kenapa kamu yang jawab?"
"Lista" suara mama bahkan tak digubris oleh Mega yang kini bangkit dan menggebrak meja dengan wajahnya yang penuh emosi.
Braakkk!
Bahkan sendok yang tadinya berada diatas piring kini terjatuh. Wajah Mega menunjukkan amarah yang mungkin selama ini dipendamnya. Ia sudah tak perduli lagi dengan tatapan mama yang membunuh itu.
"Kamu ini-"
"Mama tanya aku kan, kenapa aku bisa kaya gini? kenapa kemarin aku pergi tanpa pamit dan hilang beberapa hari. Itu semua karena si brengsek ini ma! dia mainin hubungan ini! dia bohongin kita ma!" mama terdiam seraya menatap putrinya dengan pandangan tak percaya. Mata mama berkaca saat Mega menunjuk-nunjuk wajah calon suaminya ya g hanya bisa memasang wajah pucat pasi tanpa bicara sepatah katapun.
"Maksud kamu apa Calista? kenapa kamu ngomong kaya gitu?"
"Devan udah bohongi kita ma, dia punya pacar selama ini. Dia mau nikah sama aku karena bujukan dari tante Ria!"
"Calista!" suara mama membangunkan lamunan Mega yang memikirkan hal konyol tersebut. Ia kemudian melirik Devan yang kini masih memegang piringnya dan meminta Nega untuk mengambilkan untuknya.
"Kayanya aku lagi nggak mood makan. Aku mau keluar cari angin dulu" ujar Mega yang kini bangkit dan meninggalkan mama juga Devan yang diam mematung dalam keheningan.
Mega tidak tahu emosinya akan jadi apa kalau ia tetap melanjutkan makan malamnya tadi. Ia tidak ingin terbawa oleh emosi sesaat karena kebenciannya. Langkahnya kini menuju gerbang rumahnya, ia keluar dari sana dan menghela nafas saat setelah Mega menyandarkan punggungnya. Mega lelah harus seperti ini, ia ingin semuanya berakhir dan hanya tersisa Rega yang selalu ada disisinya. Matanya membulat saat sebuah mobil berhenti tepat dihadapannya dan kaca mobil pun terbuka.
"Hay sayang!"
"Rega! kok tiba-tiba-"
"Aku memang sengaja mau ngintipin kamu. Eh nggak taunya kamu malah keluar rumah" Mega tersenyum mendengarnya, ia kemudian menghampiri pria satu itu dan memberikan kecupan kecilnya.
"Tante, Devan nyusulin Lista dulu ya. Kayanya dia lagi nggak mood makan" mama hanya mengangguk, mengiyakan perkataan Devan. Meskipun ada seonggok pertanyaan yang berada dibenaknya, tapi sejujurnya ia juga tidak ingin membebani putrinya. Yang terpenting Mega sudah pulang, kalau ia siap maka ia akan menceritakan semuanya termasuk masalahnya dengan Devan.
Devan pun kembali melangkah saat ia yakini bayangan Mega yang terlintas dihadapannya menghilang dari gerbang tinggi tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia kemudian memanggil nama Mega namun hasilnya nihil.
"Calista!" Devan kemudian hendak keluar dari gerbang tersebut, namun niatnya urung saat wanita yang tak asing baginya itu mencium seseorang lelaki tampan dari balik mobil berwarna hitam. Ia tak berani menunjukkan diri, yang mampu ia lakukan hanyalah mengintip wanita itu meskipun hanya dari jauh.
Pria itupun keluar, pria yang memakai setelan kemeja bertubuh tinggi itu kemudian memeluk tubuh wanita yang sksn menjadi istrinya. Deg! mata Devan membulat melihat pemandangan itu. Entah mengapa tiba-tiba dadanya sesak, seperti ada yang mengganggu perasaannya. Padahal ia sudah mempunyai Mila, gadis pujaannya yang akan ia nikahi setelah cerai dari Mega nanti.
Tapi melihat kenyataan didepan matanya, mata Deban memanas melihatnya. Ia seakan tidak terima dengan apa yang diperbuat Mega padanya. Mereka berdua akhirnya berjalan kearah keluar kompleks, dan dengan sengaja Devan membuntuti keduanya dari jarak yang cukup jauh.
__________________
Part ini dan selanjutnya akan kebanyakan ngeship Mega dan Rega, karena mereka masih ada satu masalah yang harus segera kelar. Untuk full part Velyn nanti akan author tambahkan di ending-nya ya. Kali ini author emang sengaja ngeship Rega dulu karena takut ngegantung di akhir cerita. Meskipun begitu masih ada bagian Velyn didalamnya kok, jadi kalian jangan khawatir bakal kehilangan jejak Velyn ya guys. Happy reading! ❤️❤️
__ADS_1