Velyn Love

Velyn Love
Hampir terlihat


__ADS_3

Tangan Velyn terulur hendak mengambil buku bersampul biru di rak atas yang berjarak setengah meter darinya. Gadis itu kini mencoba untuk meraihnya, namun ia begitu kesulitan. Saat ini Velyn berada di perpustakaan. Harinya benar-benar suntuk dan hendak mengerjakan sebagian tugasnya disini saja.


Ketika Velyn telah berhasil menyentuh bagian buku itu, gadis itu akhirnya bisa bernafas lega. Namun siapa sangka, sebuah jemari menyentuhnya dan membantu Velyn untuk mengambilkannya. Velyn mendongak, memastikan pria yang kini sepertinya tersenyum padanya.


Posisinya kini Velyn masih memunggunginya dan pria itu menunduk untuk menatap Velyn yang berada dibawahnya. Detak jantung Velyn berdebar semakin kencang, merasakan atmosfer kecanggungan yang ia ciptakan.


Buru-buru gadis itu menarik jemarinya, memundurkan tubuhnya saat Andra memberikan buku tersebut padanya. Velyn hanya bisa menunduk, ia memalingkan wajahnya.


"Ma-makasih" ucapnya seraya meraih buku itu dan berlalu pergi, meninggalkan senyuman Andra yang kini masih terlihat jelas menyukai pipi merah gadis itu.


Andra menatap punggung gadis itu yang lams kelamaan menjauh. Ia mulai mengekor dan menatap Velyn dari kejauhan yang tengah buru-buru membuka buku tadi dan fokus mempelajarinya.


Kini Andra memilih untuk duduk, tempatnya tidak terlalu jauh dari Velyn duduk sehingga ia masih bisa memperhatikan wajah cantik gadis itu seraya menyangga wajahnya dan tersenyum hangat meskipun Velyn tidak memperhatikannya.


Untungnya Ditempatnya kali ini tiada mahasiswa yang lewat maupun ikut duduk ditempat itu. Karena memang jarang sekali mahasiswa menghabiskan waktunya di tempat membaca seperti ini. Mungkin mereka hanya sesekali meminjam buku lalu kemudian membacanya ditempat lain.


Velyn yang tengah fokus dengan buku dibawahnya kini merasa gerak-geriknya di awasi. Gadis itu mencoba untuk mengangkat pandangannya, dan benar saja tiga meja dari tempatnya duduk kini terlihat Andra yang tersenyum seraya mengamatinya.


Velyn menggeleng, ini tidak benar. Tidak seharusnya Andra memperhatikannya sampai seperti itu. Apalagi status mereka sudah berbeda saat ini. Andra adalah suami Angelita, bagaimana jika orang lain tau tentang ketertarikan Andra padanya.

__ADS_1


Velyn kini bangkit, tanpa berbicara sepatah katapun, ia membalikkan tubuhnya seraya hendak melangkah pergi. Namun ketika Andra menyadarinya, ia buru-buru bangkit dan menahan lengan Velyn yang belum jauh darinya seraya menarik tubuhnya hingga Velyn hampir saja menghimpit tubuh Andra.


"Lepasin pak! saya mau keluar dari sini" kata Velyn dengan lirih, takut jika orang-orang dari sebelah bilik perpustakaan itu mendengar suaranya yang tengah bertengkar dengan Andra.


"Kenapa kamu ngehindar Lyn? aku nggak bisa berhubungan sama kamu, tapi aku cuma pengen lihat wajah cantik kamu aja" kata Andra seraya menyentuh wajah Velyn menggunakan jari telunjuknya membuat Velyn membuang muka.


Andra benar-benar gila, padahal ini ditempat umum, kalau ada yang lihat pasti mereka salah paham. Velyn menggeleng, ia buru-buru menghindar lagi setelah tangannya terlepas dari Andra. Namun tidak semudah itu terlepas dari pria yang sudah tergila-gila padanya ini.


Andra malahan menarik lengan Velyn sekali lagi dan menghimpitnya di bilik perpustakaan membuat gadis itu membulatkan matanya. Entah mengapa, perasaan Velyn jadi semakin takut kali ini. Ia menunduk, takut jika Andra melakukan hal yang tidak-tidak padanya.


"Pak, pak Andra tolong jangan begini, ini di perpustakaan" Velyn benar-benar ketakutan dengan keadaannya saat ini, ia memilih untuk menunduk saja kala Andra semakin mendekatkan wajahnya dan Velyn memejamkan matanya erat-erat.


"Aku bakal lepasin kamu, asalkan kamu mau bicara sama aku sebentar" bisikan Andra barusan membuat Velyn akhirnya bisa menghela nafas seraya memberanikan diri untuk membuka matanya. Terlihat Andra yang sudah tidak lagi menghimpitnya dan memilih untuk menatapnya dengan santai daripada yang tadi.


Velyn hanya mengangguk, memberikan kesempatan bagi Andra untuk mengatakan suatu hal padanya daripada akan ada masalah nantinya.


Setelah Velyn merasa lebih tenang, gadis itu akhirnya menuruti perintah Andra untuk duduk kembali dan bicara baik-baik. Kalau saja Andra tidak terlalu agresif mungkin Velyn tidak akan menghindarinya seperti ini.


"Lyn, jawab jujur pertanyaan aku. Apa kamu bener-bener bahagia sama kehidupan kamu yang sekarang?" Velyn terbelalak, ia menatap Andra yang tengah menelisik setiap ekspresi yang ia buat. Seakan Andra mengerti apa yang dirasakan Velyn saat ini, seakan Andra mencoba menebak-nebak kejujuran dari matanya.

__ADS_1


"Apa kamu nggak liat gimana perlakuan suami aku waktu di rumah sakit? aku bahagia, dan kamu nggak perlu mempertanyakan kehidupan aku Andra" Andra berdecih, dia seperti menertawakan kebohongan Velyn yang begitu terlihat saat ia mengatakan tentang kebahagiaan.


"Bohong! aku bisa liat Lyn, semua yang dia lakuin itu cuma pura-pura didepan aku. Dan kamu sebenernya tau itu" Velyn mengerutkan keningnya, darimana Andra tau apa yang ia rasakan saat ini. Yang tau permasalahannya hanyalah Oca seorang, dan Oca tidak mungkin mengatakannya pada siapapun.


"Jangan bicara omong kosong Ndra! udah aku bilang, aku bahagia, dan suami aku baik. Udahlah Ndra, nggak usah bahas masalah rumah tangga aku. Kamu nggak berhak buat ikut campur" Velyn kini bangkit, ia sudah lelah dengan apa yang hendak Andra tanyakan. Daripada nanti Andra malah mendesaknya, itu jauh lebih tidak baik untuknya.


"Lyn! aku emang nggak berhak buat ikut campur! tapi aku nggak terima kalo orang yang paling aku cintai disakiti!" dada Velyn berdebar kala Andra mengatakan hal itu. Ia yang awalnya hendak melangkah, kini berhenti sejenak seraya menatap Andra yang tengah menatapnya penuh arti.


"Aku tau Lyn, pasti Valdo itu ngelakuin kekerasan kan sama kamu? aku bisa liat bekas memar di leher kamu waktu di rumah sakit. Memar itu bekas pukulan, bukan memar karena jatuh. Kamu tau Lyn gimana khawatirnya Rega waktu aku cerita kalau kamu sakit dan dirawat" Andra menjeda kalimatnya kala Velyn mulai mencerna kalimatnya dengan seksama. Dilihat dari wajahnya Velyn benar-benar seperti pencuri yang ditangkap basah oleh pemiliknya.


Matanya membelalak dengan dahinya yang berkerut. Tangannya basah karena keringat membasahinya. Ia bahkan tak menyangka jika Andra bisa mengetahui semuanya dengan hanya melihat bekas memar yang sudah samar-samar menghilang.


"Aku nggak bilang semua hal yang aku ketahui, karena aku yakin kalau Rega sampai tau, bukan cuma rumah tangga kamu yang terancam. Tapi ayah dan bunda kamu pasti bakal sedih nantinya" Velyn membeku, apa yang dikatakan Andra semuanya memang benar. Velyn tidak bahagia, ia hanya menyembunyikannya karena memang ini adalah masalahnya. Tidak sepatutnya orang lain tau.


"Kamu ngomong apa sih Ndra?! jangan pernah macem-macem ngomongin soal keluarga aku! kamu nggak tau gimana kehidupan aku. Dan aku juga nggak perduli kamu cerita tentang masalah rumah tangga aku yang kamu karang itu ke kak Rega. Karena nyatanya, aku nggak pernah diperlakukan kasar seperti apa yang kamu bilang!" Velyn mencoba untuk menutupi semua. Baginya ini yang terpenting, ia tak ingin Andra mengharapkannya lagi. Lebih baik berpura-pura bahagia dan pergi selamanya daripada ada yang mengharapkannya namun berujung kecewa.


Velyn meninggalkan Andra yang kini tengah menatap punggung Velyn dengan mata yang berkaca. Tatapannya nanar pada gadis yang kini menahan tangisnya itu.


'Bukan aku nggak mau cerita Ndra. Kalo pun kamu tau aku bakal cerai suatu hari nanti, aku takut kamu kembali. Aku takut Angelita dan anaknya terlantar. Aku takut kamu kecewa karena aku nggak akan bisa hidup lebih lama. Ndra, kamu pantes bahagia. Aku bersyukur kamu mendapatkan wanita seperti Angelita, itu berarti kita nggak perlu berjuang lagi. Percuma berjuang Ndra, kalau akhirnya aku nggak bisa nemenin kamu selamanya."

__ADS_1


__ADS_2