
Suara burung yang berkicau serta cahaya matahari yang masuk melalui celah jendela kamar Valdo dan Velyn membuat wanita itu terganggu. Velyn menggeliat, ia menguap seraya menatap wajah Valdo yang berselimut dengannya. Tubuh mereka yang sama-sama polosnya membuat Velyn mengingat kegiatan mereka semalam.
Wajah Velyn bersemu merah, ia menatap lelaki yang masih tertidur lelap disampingnya seraya tersenyum. Wajah indah dan tampan pria itu begitu membuat Velyn terpesona, bahkan mungkin sekarang hati Velyn sudah terikat dan tidak bisa lepas dari cinta Valdo untuknya.
'Semoga kita selalu bersama selamanya ya mas, aku akan berusaha buat kuat dan nggak akan pernah nyerah ngelawan penyakit ini. Karena ada alasan aku hidup, yaitu untuk kamu' Velyn mendekat, ia kemudian mengecup pipi Valdo dan tersenyum.
"Ternyata kamu bisa gitu juga ya" senyuman terulas di pipi Valdo disusul dengan matanya yang terbuka. Hal itu lantas membuat wanita yang kini berada disampingnya segera menyembunyikan wajahnya dibawah selimut. Velyn menutupi wajahnya yang kini bersemu merah, ia merutuki apa yang baru saja ia lakukan. Debaran jantungnya bertambah semakin kuat saat Valdo memeluk pinggangnya dengan mesra.
"Curang kamu mas!"
"Kok curang?"
"Sejak kapan kamu bangun?"
"Sejak istriku ngeliatin wajah aku dong" ujar Valdo spontan membuat wajah Velyn semakin memerah saja. Entah mengapa, perbuatan Valdo yang begitu sensual membuat tubuh Velyn semakin menegang saja. Sedangkan ini masih pagi, bisa di pastikan jika sentuhan Valdo dapat membuat pikiran Velyn terbang ke awang-awang. Membuat bulu romanya merinding akibat setiap kecupan yang diberikan oleh pria yang begitu ia cintai itu.
"Sayang, kalo kita nanti punya anak, kamu pengen anak cowok atau cewek?" mata Velyn membulat mendengarnya, ia membalikkan tubuhnya seraya mencubit pelan perut Valdo, membuat pria itu mengaduh kesakitan.
"Sakit sayang, aduh" meskipun kenyataannya Valdo tidak merasakan sakit sama sekali dan hanya untuk menggoda istrinya, namun harapannya pun hilang seketika saat Velyn menjulurkan lidahnya.
"Bodo amat!"
"Kok gitu sih sayang, kan aku tanya beneran"
"Nino itu masih kecil mas, nanti aja kalo dia udah agak gede"
"Tapi aku pengen" ujar Valdo manja seraya membenamkan wajahnya diantara dada Velyn.
__ADS_1
"Mas, geli ah!" Valdo kemudian menghimpit tubuh Velyn membuatnya menegang dibawahnya. Valdo membungkam bibir Velyn ketika ia hendak mengatakan sesuatu.
"Mass um, um"
"Ini hukuman karena kamu nggak anggap serius kata-kata aku" Valdo kemudian semakin memperpanas kegiatan mereka, membuat Velyn tak berdaya dibuatnya. Ia hanya mampu mendesah dibawah permainan Valdo yang begitu panas pagi itu.
Tubuh mereka sama-sama bermandikan keringat, seolah hawa dingin dari luar tak menyentuh kulit mereka. Begitupun dengan Velyn yang kini terengah-engah akibat permainan panjang dari Valdo yang begitu kuat.
Setelah mereka sama-sama melepaskan getaran cinta, Valdo pun ambruk di atas tubuh Velyn membuat Velyn menghela nafas panjang setelahnya.
"Aku pengen perempuan, anak perempuan yang cantik seperti ibunya. Kita bakal punya buah hati, dan kamu bakal wujudkan, iya kan?" tak seperti biasanya, kali ini Valdo seperti memohon kepadanya. Entah mengapa ada rasa ragu dalam benak Velyn. Ia sempat berpikir sejenak seraya mengerutkan keningnya.
"Kenapa sayang?" tanya Valdo seolah ekspresi Velyn sangat ketara jelas mengganggu harapannya. Entah mengapa Velyn hanya diam seraya menggeleng, pandangannya tak berpihak pada Valdo. Apa mungkin Velyn tidak menganggap serius perkataannya.
'Atau mungkin Velyn belum siap punya anak untuk aku? tapi kenapa?' pikir Valdo dalam hatinya seraya menatap keraguan Velyn yang masih membisu. Velyn hanya menggeleng, serta tersenyum tipis. Ingin sekali Valdo bertanya, namun ia sepertinya tak akan mendapat jawaban dari pertanyaannya nanti. Terlebih, Velyn masih sedikit tertutup padanya.
2 hari kemudian...
Setelah kejadian hari itu Velyn menjadi begitu pendiam terhadap Valdo. Wanita itu selalu banyak berpikir dan terdiam tanpa alasan. Bahkan setiap Valdo membahas perihal anak, Velyn seolah mengalihkan pembicaraan.
Namun tidak untuk hari ini, istrinya itu menjadi semakin bersemangat saat ia menjemput dirinya pulang dari kampus. Tak seperti kemarin, senyuman yang terulas jelas dipipi manisnya membuat Valdo terkekeh. Bahkan Valdo mulai sekarang juga tak akan membahas perihal anak jika Velyn tidak nyaman.
"Mau mampir makan dulu?" tawar Valdo yang membuat Velyn seketika menggeleng dan menggandeng tangan Valdo yang tengah fokus menyetir. Jalanan yang terbilang cukup padat membuat keduanya berfokus pada pikiran masing-masing.
Cahaya jingga yang menelisik masuk terpantul oleh celah kaca menembus dan memberikan cahaya emas untuk keduanya. Hal itu membuat Valdo menatap Velyn yang tersenyum padanya, Velyn pun mencubit hidung Valdo dengan gemas.
"Ganteng" bisik Velyn ditengah lampu merah yang menyala, membuat Valdo terpesona dibuatnya.
__ADS_1
"Kamu juga cantik" balas Valdo seraya mendekatkan wajahnya pada istrinya yang tengah menutup mata, seolah ia mengerti suasana dan apa yang sedang is inginkan. Namun belum sempat bibir mereka bertautan tiba-tiba saja suara klakson mendominasi, seolah mencegah mereka untuk melakukan hal tersebut.
Velyn terkekeh dengan ekspresi terkejut Valdo, tanpa pikir panjang lagi Valdo pun menancap gas dan segera pergi dari sana untuk pulang.
Entah mengapa semenjak masuk kedalam mobil, Velyn begitu antusias menggenggam jemari Valdo. Bahkan wanita itu tersenyum senang kali ini. Membuat Valdo terheran-heran oleh tingkah laku Velyn yang tak biasa.
"Kamu kenapa Lyn? ada kabar bagus ya?" Velyn menggeleng, ia kemudian menyembunyikan wajahnya diantara lengan Valdo membuat pria itu menggeleng pelan.
"Eum, mas?"
"Heum?"
"Kalo kita punya anak perempuan nanti, kamu mau ngasih nama siapa?" Valdo membulatkan matanya seraya menatap Velyn penuh pertanyaan dibenaknya. Apakah Valdo tidak salah dengar?.
"A-anak?" anggukan Velyn pun dibalas senyuman oleh Valdo.
"Emmm siapa ya?" pikir Valdo dengan keras seraya masih fokus dengan setir mobilnya. Entah mengapa mendengar Velyn menyinggung soal anak membuat Valdo merasa senang bukan main. Pasalnya ia sendiri pun juga takut untuk membicarakannya. Atau apakah Velyn memang sudah siap memiliki anak bersamanya?.
"Sandra, kalo laki-laki kita kasih nama Vano" Velyn sempat berpikir sejenak, ia melepaskan genggamannya lalu menatap Valdo dengan pandangan bertanya.
"Sandra?"
"Iya, Gaisan dan Chandra" Velyn pun tersenyum, ia semakin mencintai Valdo dengan gayanya yang begitu tampan dan amat keren itu. Bisa-bisanya Valdo memikirkan nama anak mereka dengan cepat dan nama penggabungan dari kedua keluarga yang begitu indah.
"Mas! kamu bisa aja deh! tapi.... em boleh juga, Sandra emang bagus sih, tapi..."
"Tapi apa?" Velyn menghentikannya gayanya yang tengah berpikir itu, ia kemudian mencium pipi Valdo membuat pria itu membulatkan matanya seraya menatap Velyn dengan intens.
__ADS_1
"Aku suka, oke sepakat, kalo perempuan Sandra, kalo laki-laki Vano."