
Setelah selesai dengan acara mandinya, kini Velyn keluar dengan hanya mengenakan kinomo handuknya. Melihat situasi Valdo, sangat mungkin jika malam pertama kali ini akan lewat begitu saja.
Velyn mencoba menggosokkan handuk pada rambutnya yang tengah basah sehabis keramas. Ia menghentikan langkahnya kala Valdo tiba-tiba berdiri dihadapannya seraya menyodorkan secarik kertas padanya.
Velyn mengernyit, is menatap Valdo yang kini pandangannya tampak datar seraya memberikan isyarat untuk menerima surat itu darinya.
"Apa ini kak?"
"Tanda tangan surat ini!" perintahnya membuat Velyn yang baru saja keluar dari kamar mandi dibuat heran seraya segera meraih kertas itu dari tangan Valdo.
Velyn menelan salivanya kasar, ia membaca dengan seksama surat tersebut dengan teliti. Bahkan rasanya tenggorokannya tercekat tatakala mengetahui maksud dari Valdo memberikannya secarik kertas yang membuat hatinya tambah hancur saja.
Sebuah surat perjanjian kontrak pernikahan, Velyn mengangkat pandangannya. Ia menatap lamat-lamat Valdo yang terlihat masih sama, datar tanpa ekspresi.
Velyn hanya bisa menyunggingkan senyum miring, berlawanan dengan hatinya yang remuk akan kenyataan yang harusnya ia terima.
"Setelah satu tahun pernikahan kita, aku bakal ceraikan kamu" kata-kata singkat namun bisa mengiris hati Velyn begitu dalam, sampai-sampai ia harus menahan sesak di dadanya saat ini.
Velyn tidak mau terlihat lemah, ia memang tidak tau apa alasan Valdo sebenarnya. Padahal hubungan mereka terlihat baik-baik saja beberapa hari ini.
__ADS_1
"Alasannya?" tanya Velyn yang kini mulai membuat Valdo mengacak rambutnya seraya mundur beberapa langkah untuk duduk di sisi ranjangnya. Valdo juga merasa kacau, pikirannya seakan berhenti untuk berputar sekarang. Tapi apa yang ia lakukan sekarang adalah sebuah keharusan.
"Aku nggak cinta sama kamu, aku masih cinta sama mantan istri aku dulu dan aku mau rujuk sama dia" ungkapnya membuat Velyn mengangguk saja. Jangan ditanya lagi bagaimana perasaannya saat ini, tapi tak apa memang lebih baik Valdo tidak pernah ada dalam hidupnya begitupun sebaliknya.
"Tapi kamu tenang aja, selama kita nikah, aku akan tetap menafkahi kamu. Aku akan ngasih uang ke kamu tiap bulannya, termasuk biaya kuliah kamu" sambung Valdo membuat Velyn mengangguk seraya masih menatap surat itu dengan seksama.
"Ada satu hal lagi kak, aku pengen nambahin kontrak ini" dengan senyuman dipipinya gadis itu mencoba untuk menutupi air matanya yang hendak jatuh.
"Apa?"
"Aku pengen diantara kita jangan ada yang jatuh cinta, baik kakak maupun aku" ucapan Velyn memang sangat ringan dan hanya itu tambahan yang ia inginkan. Namun entah mengapa hati Valdo amat sakit ketika mendengarnya mengatakan demikian. Seolah apa yang dikatakannya tadi tidak lebih menyakitkan daripada permintaan Velyn satu ini.
Valdo memejamkan matanya erat-erat, kenapa juga ia harus memberatkan permintaan Velyn kali ini yang begitu mudah. Valdo mengangguk lemah, ada rasa lelah dihatinya yang kacau bukan main.
Velyn mengangguk, ia membawa kopernya yang semula terbuka. Meskipun Velyn tidak mengerti situasi apa yang dialami oleh Valdo, tapi dirinya sedikit merasa lega. Andaikan Valdo tidak ada niatan untuk rujuk dengan mantan istrinya, entah apa yang harus Velyn lakukan untuk menjelaskan bagaimana kondisinya saat ini.
"Kak, kita nggak perlu tidur sekamar, dengan kamu ngasih surat kontrak nikah, itu sama halnya kamu menjatuhkan talak ke aku. Tapi kamu tenang aja, kewajiban aku adalah melayani kamu sebagai seorang istri, meskipun kamu nggak ngasih aku nafkah batin, dan begitupun sebaliknya. Tapi aku nggak akan pernah lupa dan lepas dari tanggungjawab aku buat menjadi istri kamu secara lahir" Velyn mengangkat kopernya. Ia mencoba untuk kuat, menahan kecewa dihatinya meskipun teramat sakit.
"Kasih aku kesempatan buat jadi istri yang baik, dan aku nggak akan minta apa-apa lagi setelah ini" tambah Velyn membuat Valdo memejamkan matanya erat-erat. Matanya semakin memanas mengingat kata-kata Velyn barusan. Gadis baik yang menerima ia apa adanya kini ia sia-siakan begitu saja. Katakan jika Valdo bodoh, tapi apa yang harus ia lakukan.
__ADS_1
Bahkan Velyn tidak meminta sepeserpun dari hartanya, hanya meminta permohonan yang begitu sederhana. Sebegitu sederhanakah keinginannya? tak sadar air mata Valdo menetes. Ia enggan menatap Velyn yang kini mencoba untuk tegar dibelakangnya.
"Kamar tamu ada dibawah, kamu bisa pindah kesana malam ini" lanjut Valdo membuat Velyn mengangguk seraya melangkah untuk keluar.
Setelah terdengar langkah gadis itu keluar bersamaan dengan menutupnya pintu dibelakangnya Valdo kini mulai membalikkan tubuhnya. Terbesit dalam ingatannya gadis yang baru saja berdiri dibelakangnya dengan senyuman tanpa beban. Apakah Velyn memang tidak pernah menganggapnya? atau ia sebenarnya juga tidak menginginkan pernikahan ini?.
Pikiran Valdo melayang kemana-mana, ia bahkan melemparkan selimut putih yang sudah dihias kelopak mawar merah yang di siapkan khusus untuk malam pertama mereka. Kini bunga-bunga itu berhamburan, mengingat bagaimana santainya Velyn menanggapi itu semua. Valdo bingung, ingatannya kembali saat ia melihat mata indah yang begitu ia rindukan.
"*Lisa tunggu Lis! jangan tinggalin aku dan Nino" langkah wanita yang hendak kembali berlari itu tiba-tiba terhenti, ia membalikkan tubuhnya menatap sang mantan suami yang kini tengah lengkap memakai setelan untuk menikah.
"Kenapa Valdo? kamu udah nikah! aku dan kamu nggak mungkin bisa sama-sama lagi" Valdo segera menarik lengan Lisa, memeluknya dalam dekapan hangat dan aroma mint yang begitu menjadi ingatan batin bagi wanita dihadapannya.
"Aku terpaksa Lis, aku cuma cinta sama kamu. Bahkan aku belum tanda tangan surat cerai kita, kita belum cerai Lis. Aku dan Nino butuh kamu! kamu kemana aja selama ini Lisa?!"
"Aku-aku-" Lisa berhenti berkata saat ponselnya berdering. Gadis itu buru-buru mundur dan mematikan ponselnya sepihak.
"Kalau kamu cinta sama aku Valdo, aku tunggu janji kamu. Temuin aku jika memang Nino butuh aku. Karena aku nggak bisa ngasih tau alasannya. Satu tahun Valdo! aku tunggu kamu cerai satu tahun sama istri kamu" kata Lisa seraya mundur dan berlari membuat Valdo mengikutinya dan buru-buru mengejar Lisa yang kini tampak menaiki taksi dan menghilang begitu saja*.
Hanya itu ingatan yang ia punya selama bertahun-tahun ia merindukan kehadiran Lisa. Hanya sebentar dan Valdo tidak bisa melacak keberadaannya yang hilang entah kemana.
__ADS_1
Valdo memukul kepalanya keras-keras, ini mungkin tidak adil bagi Velyn. Tapi ia juga memikirkan Nino dan Lisa.
Valdo memejamkan matanya, ia menarik frame yang berada diatas nakasnya. Menarik foto dirinya bersama dengan Nino dan juga Lisa disana.